Dewi seorang istri yang di tinggal merantau suaminya Abi ke Kalimantan dan harus tinggal di kampung merawat mertua dengan uang kiriman seadanya dari sang suami, Dewi pun harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup dengan sang mertua.
Hingga suatu ketika Dewi mendapati sebuah rahasia besar dari teman Abi, ternyata Abi diam-diam menikah lagi, hati Dewi hancur dan dia pun nekat ke Kalimantan untuk memastikan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundae safiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dewi akan menyusul Abi
Tak terasa waktu terus berlalu, sudah sebulan lamanya Abi tiada kabar setelah ibunya keluar dari rumah sakit.
Pagi itu Dewi seperti biasa pergi ke pasar untuk bekerja, dengan mengayuh sepeda ontel dan semangat 45 dia berangkat, di tengah jalan ada penjual sayur keliling sedang berhenti dan di kerumunin para ibu-ibu yang sedang berbelanja.
Dewi menghentikan sepeda ontelnya karena dia juga ingin berbelanja.
"pagi bu-ibu" sapa Dewi saat turun dari sepeda.
"Lah si Dewi, tumben ikut belanja Wi" tegur salah satu ibu-ibu yang sedang berbelanja.
"Iya bu, mau beli lauk buat makan siang nanti, tuh botok lamtoro kesukaan Dewi...kang botoknya 2 bungkus ya kang!" ucap Dewi.
"oke mbak" jawab kang sayur dan langsung mengambilkan pesanan dewi.
"nih mbak 5 ribu" ucap kang sayur sembari memberikan barang pesanan Dewi.
"Makasih kang nih uangnya" jawab Dewi sembari menerima bungkusan tersebut dan memberikan uang pada kang sayur.
"Bu-ibu saya duluan ya, mari!" pamit Dewi dengan sopan pada para tetangganya tersebut.
"Eh si Dewi kasihan ya, di tinggal merantau masih harus bekerja sendirian lagi dan juga masih harus ngerawat mertuanya, kalau aku yang jadi Dewi ogah banget, laki-laki kayak si Abi itu ke enakan kalau dapat istri macam si Dewi" bisik-bisik para ibu-ibu sepeninggal Dewi.
"Sudahlah, kita bisa apa, orang si Dewi yang ngejalani aja nggak keberatan kok" sahut ibu-ibu yang lainya.
"Dewi!" panggil seseorang saat Dewi sedang mengayuh sepedanya pelan.
"Eh...iya kang, akang panggil saya?" tanya Dewi saat sepedanya terhenti dan menoleh pada seorang pemuda yang memanggil nya.
"Tunggu Wi, ada yang mau aku bicarain sama kamu!" ucap pemuda tersebut.
"Eh tunggu-tunggu, bukanya akang pergi merantau ya, kapan pulan" tanya Dewi balik.
"Iya kamu benar, baru kemarin aku sampai, dan kamu tau nggak apa yang aku dapat di perantauan" ucap pemuda tersebut pada Dewi.
"Ada apa memangnya?" tanya Dewi penasaran.
Pemuda itu adalah Karsiman, orang yang pernah memergoki Abi bersama Wulan.
"Abi punya istri di Kalimantan!" ucap Karsiman dengan sangat yakin.
Dewi pun langsung syok dan terkejut, kedua bola matanya terbelalak, hatinya hancur berkeping-keping bak di sambar petir di siang bolong.
"Ka...kamu nggak sedang bercanda kan?" tanya Dewi mencoba tak mempercayai ucapan Karsiman.
"Sumpah demi Tuhan Dewi, berani saya di samber geledek sekarang juga kalau saya berani bohong sama kamu,waktu itu aku sama pak Dhe pergi nganter barang ke sebuah perusahaan, dan tak sengaja ketemu Abi, lalu aku menyapanya...kamu tau Wi, di samping Abi ada cewek cantik memperkenalkan diri padaku sebagai istri Abi, namanya Wulan" jelas Karsiman pada Dewi dengan sangat yakin, Dewi pun memandang mata Karsiman yang terlihat jujur, kaki Dewi langsung lemas seketika, dia pun ambruk bersama sepeda ontelnya.
Brrruuuukkkk!
"Astagah Wi...kamu nggak pa pa Wi?!" Karsiman segera membantu Dewi berdiri.
"Ah..enggak pa pa...makasih kang sudah ngasih tau Dewi soal ini, Dewi mau berangkat kerja dulu!" pamit Dewi setengah melamun pada Karsiman.
"Iya Wi..hati-hati ya, kamu yang tabah, jangan sampai terpuruk karena pria bajingan macam Abi itu!" ucap Karsiman sembari menepuk bahu Dewi 2 kali.
Dewi tanpa kata kembali mengayuh sepedanya menuju toko bu Mandor.
Tak berapa lama kemudian Dewi pun sampai di tempat tujuan, dia pun memarkir sepeda setelah itu dengan langkah gontai Dewi pun berjalan menuju toko bu Mandor.
Brrruuuukkkk!
"Eh kalau jalan pakai mata dong!" teriak seseorang yang bertabrakan dengan Dewi, Dewi pun jatuh ke tanah dan bajunya pun menjadi kotor.
"Ma...maaf saya nggak sengaja" ucap Dewi pada orang yang di tabraknya.
"Ah sudahlah...makanya kalau jalan jangan ngelamun!" tegur orang tersebut pada Dewi.
"I..iya..sekali lagi saya minta maaf!" ucap Dewi lirih dan pasrah, kemudian Dewi pun bangkit dan berdiri sembari membersihkan bajunya setelah itu Dewi masuk ke toko bu Mandor.
Bu Mandor melihat Dewi yang wajahnya pucat, berjalan sembari melamun masuk ke dalam toko, Bu Mandor pun merasa penasaran.
"Wi...kamu sakit?!" tanya bu Mandor pada Dewi. Dewi langsung duduk di lantai kemudian lututnya di tekuk setelah itu dia pun terisak-isak.
"Eh eh eh haiyah nih anak kesambet dedemit mana lagi, datang-datang langsung nangis!" ucap Bu Mandor dengan cemas kemudian mendekati Dewi.
"Ada apa hah, ngomong sama ibu Wi!" Bu Mandor mengusap-usap kepala Dewi.
"hikz ..hikz...hikz.., apa salah Dewi bos...kenapa mas Abi jahat banget sama Dewi..Hikz...hikz...hikz!" keluh Dewi.
"Abi kenapa, dia jahat gimana sama kamu, coba ngomong yang jelas Wi biar ibu tau!" pinta Bu Mandor dengan pelan, kemudian Dewi pun menghentikan tangisnya dan mengusap air matanya. Dewi menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya, setelah di rasa hatinya sedikit tenang, Dewi pun mulai bercerita pada Bu Mandor.
"Tadi Dewi ketemu kang Karsiman, dia baru pulang dari merantau di Kalimantan, lalu dia bercerita kalau di sana dia ketemu mas Abi, dan.....dan hikz...hilz ...hikz.." Dewi menghentikan kata-katanya dan malah kembali terisak-isak saat mengingat suaminya menikah lagi.
"Abi kenapa..ngomong yang jelas jangan bikin ibu makin penasaran!" ucap Bu Mandor dengan tidak sabar.
"Mas Abi...dia menikah lagi bu bos...mas Abi jahat sekali hikz...hikz...hikz...!!!" Dewi menagis dan langsung memeluk bu Mandor.
"A....apa, Astagah..dasar laki-laki bajingan, tega sekali kamu Abi, kamu nghak tau bagaimana menderitanya Dewi di sini, malah kamu di sana menikah lagi, dasar pria nggak tau di untung, sudah-sudah Wi...jangan di tangisi laki-laki macam dia itu, nggak pantas!" ucap Bu Mandor dengan geram.
"Dewi nggak terima Bos...Dewi mau nyusulin mas Abi, Dewi mau mastiin sendiri!" ucap Dewi dengan sangat yakin dan tekat yang bulat.
"Ya...kamu benar, kamu memang harus susulin Abi dan pastiin semuanya, kalau dia memang punya istri lagi kamu jangan mau Wi, tinggalin laki-laki itu. Masa depan kamu masih panjang Wi!" ucap Bu Mandor menyemangati Dewi.
"Dewi...Dewi boleh pinjam uang enggak bu bos, Dewi enggak punya Uang buat beli tiket ke sana!" ucap Dewi memberanikan diri.
"Jangan cemas, ibu akan pinjamkan kamu uang...berangkatlah dengan tenang, jangan pikirin soal uang, nanti ibu bantu kamu!" ucap Bu Mandor dengan tulus.
"Terima kasih bu Bos, nanti kalau Dewi sudah punya uang pasti Dewi ganti" ucap Dewi dengan perasaan lega.
"Nggak usah di pikirin, ibu enggak akan nagih sampai kamu punya, sekarang pulanglah dan segera beli tiket, pergilah kejar itu si Abi dan minta pertanggung jawaban atas perbuatanya sama kamu, jangan kasih ampun kalau perlu penjarakan dia!" bujuk bu Mandor pada Dewi.
"Baik, terima kasih bu Bos, Dewi akan siap-siap dan beli tiket pesawat, Dewi nggak mau nunda-nunda lagi!" jawab Dewi dengan yakin.
"Sebentar, ibu ambil uangnya dulu ya, nanti sebagian ibu transfer ke rekening kamu buat pegangan" Bu Mandor segera ke dalam dan mengambilkan uang untuk Dewi beberapa juta untuk beli tiket pesawat.
Dewi merasa beruntung punya majikan sebaik Bu Mandor yang rela meminjamkan uang padanya dan perduli padanya di saat sedang dalam kesulitan. Setelah mendapat uang dari sang majikan, Dewi pun segera pulang ke rumah, Dewi masih bingung alasan apa nanti yang akan dia katakan pada sang mertua saat sampai di rumah, Dewi juga tak tega untuk mengatakan yang sebenarnya pada Bu Raminah.
cinta boleh wi gobloogg jangan