Warning !! Kalau nggak suka sama cerita ini bisa langsung SKIP saja yaa..
Attarazka Desta Firmansyah menikah dengan gadis yang berprofesi sebagai Dokter bernama Clara Adelin. Setelah enam tahun menikah mereka belum di karuniai keturunan.
Sikap Clara mulai berubah saat diri nya kembali bertemu dengan mantan kekasihnya yang berprofesi sebagai dokter juga di Rumah Sakit tempat dia bekerja.
Dalam gejolak Rumah Tangganya , Attar di pertemukan dengan Gendhis Anindita Nastiti yang menjadi sekretaris barunya.
Dalam konflik rumah tangga nya Attar membuat keputusan untuk menikahi Gendhis dengan sebuah kesepakatan.
Bagaimana akhir nya jika pernikahan Attar dan Gendhis di ketahui Clara dan nyatanya dua istri Attar adalah sahabat dari masa SMA.Apa Gendhis akan mundur setelah tahu jika kakak madunya adalah orang yang dulu dia anggap sahabat namun nyatanya pernah mengecewakan dia di masalalu?
ikuti kisahnya ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Arum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu??
Bukan madu selama seminggu di gunakan Attar dan Gendhis saling mengenal dan Gendhis pun tak sungkan lagi di hadapan Attar saat memakai pakaian yang minim atau bahkan Gendhis sampai nekat untuk memamerkan keindahan tub*hnya untuk Attar.
Attar pun hanya bisa pasrah dan harus berakhir dengan bermain di dalam resort. Di segala penjuru kamar dan juga ruangan resort digunakan Attar dan Gendhis untuk cangkul cangkul cangkul yang dalam, sampai nantinya akan ada benih dalam diri Gendhis.
"Hahhh...Hahhh..hahhh.."
Dua orang yang sudah sampai puncak nirwana itu pun terkapar di sofa ruang tamu di resort itu.
Benar-benar Attar lupa akan Clara.
Sementara Clara pun demikian, dia disibukkan dengan urusan Andre dan sedang menyusun schedule untuk Andre bisa bersamanya seharian.
" Jadi kamu sama istri kamu yang menyusahkan itu akan pergi ke Bangkok selama seminggu?" tanya Clara dengan memanyunkan bibirnya.
" Iya, jadi..kamu jangan pernah keluar jauh-jauh dari apartemen. Aku nggak mau kamu itu kenapa-kenapa disini." ucap Andre.
"Lagian kamu ngapain sih sama istri kamu itu, mau bulan madu, nggak kan?"
Ucapan Clara barusan membuat Andre kelabakan.
"Jawab Ndre, nggak kan, kamu nggak bulan madu sama dia !!" sentak Clara mambuat Andre semakin kelabakan.
"E_nggak lah, aku cuma ada urusan keluarga di sana. Kamu disini hati-hati sayang." ucap Andre dan memeluk tubuh Clara dan mencium kening dan akhirnya mendarat di bibir manis Clara.
Mereka pun saling melepaskan hasr*t dan akhirnya Andre di buat tak berdaya oleh Clara dan mereka pun kembali mendayung sampan yang begitu lama mengelilingi danau yang terlihat besar dan tak tahu harus menepi atau tetap lanjut , atau bahkan menunggu waktu untuk tenggelam.
...----------------...
Andre dan istrinya pun akhirnya berangkat ke Bangkok Thailand.
Mereka melakukan trip untuk berbulan madu kembali.
Atas inisiatif Andre, dia mengajak Olive istrinya untuk kembali berbulan madu. Tentu saja Olive menyambut bahagia rencana suaminya.
Karena memang kurangnya kebersamaan mereka selama beberapa bulan ini. Apalagi, saat Andre di Indonesia, dia sangat susah untuk dihubungi.
Yah, bagaimana nggak susah di hubungi, karena Andre sedang menikmati kekhilafan nya itu.
Kepergian Andre bersama istrinya membuat Clara uring-uringan. Apalagi sekarang Clara tak bebas untuk menghubungi kekasih gelapnya itu.
"Bosan sekali aku, CK...aku coba hubungi Attar deh.."
Clara pun langsung menghubungi Attar. Dua kali dia menghubungi suaminya itu, namun tak ada jawaban dari Attar.
Dia melihat jam di tangannya saat ini di Korea baru jam sembilan malam, otomatis di Indonesia masih jam tujuh malam. Korea dan Indonesia hanya punya selisih waktu dua jam.
"CK..kemana sih dia, nggak mungkin kan dia sudah tidur."ucap Clara dengan kesal karena panggilan nya serasa di abaikan.
Clara pun menulis pesan untuk Attar, namun tetap sama. Tak ada balasan dari pesan yang dia kirimkan.
Clara akhirnya tak patah semangat untuk menghubungi suaminya. Dia menghubungi nomer Attar kembali.
Sedangkan di sisi Attar, saat ini laki-laki itu baru saja masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Gendhis baru saja selesai membersihkan diri. Dia melihat ponsel Attar yang terdengar berdering nyaring. Saat melihat layar ponsel suaminya tertera nama Clara.
Gendhis tersenyum miring melihat ada beberapa panggilan tak terjawab di ponsel milik Attar dan juga ada beberapa pesan dari Clara untuk Attar yang belum di baca.
"Aku ingin lihat sampai mana kamu menghubungi Attar. Sekarang dia bersamaku dan dia akan menjadi milik ku. Lihat saja, apa yang akan aku lakukan untuk membuat kamu memohon pada ku untuk meminta kembali suamimu itu."ucap Gendhis dalam hati.
Bukan sekedar dendam secara pribadi namun saat tahu Clara adalah kakak madunya dan orang di cintai Attar dengan begitu besar, pada akhirnya Gendhis hanya bisa menjadi yang kedua. Biarlah saat ini dia akan egois untuk memiliki Attar sepenuhnya sebelum Clara mengacaukan semua kebahagiaan nya lagi. Dia akan berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk Attar.
"Telpon dari siapa sayang?" tanya Attar dan membuat Gendhis langsung menoleh ke arah Attar.
"Clara." jawab Gendhis singkat.
Dia beranjak dari tempat tidur dan mengarah ke kopernya.
Attar menyipitkan matanya menatap ke arah Gendhis. Lalu dia menghela nafas panjang melihat ekspresi istri keduanya itu.
"Angkat saja mas, sedari tadi ponsel kamu berdering terus !!' teriak Gendhis dari ruangan ganti.
Attar pun akhirnya dengan malas mengangkat panggilan dari Clara.
"Hallo Cla..."
"Akhirnya kamu angkat juga panggilan aku. Kamu kemana saja sih, kenapa harus lama banget aku nungguin kamu angkat panggilan nya. Jujur sama aku, kamu lagi ngapain? kamu jangan macam-macam ya Attar !!"
Attar mendengar penuturan istri pertamanya itu hanya bisa membuang nafasnya dengan berat.
"Sebenarnya kamu telpon aku buat marah-marah doang, kalau kamu cuma mau marah-marah doang, mendingan nggak usah telpon. Aku capek, kamu nggak mau ngerti juga !!"
"Kok kamu ngomong gitu, aku cuma khawatir kamu kenapa-kenapa. Aku takut kamu macam-macam,itu saja."
"Macam-macam gimana, kalau kamu memang benar-benar khawatir aku berbuat macam-macam, kamu dari awal batalkan rencana kepergian kamu ke Korea. Nyatanya bahkan kamu menolak permintaan ku buat cancel rencana kamu itu."
"Iiihhh...kenapa harus bahas itu lagi sih, aku nggak bisa batalin rencana untuk melanjutkan studi ku. Lagian semua sudah di siapkan di sini. Sebenarnya niat aku telpon kamu itu ,hanya mau bilang ke kamu kalau aku kangen sama kamu. Kalau nggak keberatan, kamu datanglah ke Korea buat ngobatin rindu aku.."
Mendengar ucapan Clara yang manja itu membuat Attar tersenyum kecut. Lain halnya dengan Gendhis yang mendengar suara Clara yang sengaja Attar loud speaker karena Attar sedang merapihkan tampilan nya.
"Rindu, kamu nggak salah? Bahkan kamu sudah berani jauh dari aku itu tandanya sudah siap dengan keadaan apapun kan, jadi jangan pernah menuntut aku untuk datang kesana. Aku sibuk dengan pekerjaan ku saat ini. Apalagi sebentar lagi akhir tahun." ujar Attar membuat alasan.
"Kamu tega banget sih, kenapa kamu jadi berubah gitu. Kalau kamu benar-benar cinta sama aku.. Pertengahan bulan nanti kamu harus ke Korea !!"
"Aku nggak bisa, sudah dulu yaa..aku ada pekerjaan penting.Bye...!"
Attar mengakhiri panggilan telpon nya saat melihat Gendhis yang keluar dari ruang ganti. Attar mengernyitkan keningnya melihat penampilan Gendhis.
"Lho, kok belum siap? Kita kan aku jalan-jalan kan, katanya mau makan di restoran pinggir pantai. Kenapa sekarang masih belum siap bahkan kamu masih pake daster gini."
"Kayaknya aku batalin rencana kita deh mas, aku nggak enak badan . Kalau kamu sudah bosan, kamu bisa kok keluar dari resort."ucap Gendhis dengan melangkah mendekati arah tepat tidur.
Melihat respon istri kedua nya itu membuat Attar mendes*h pelan. Lalu dengan cepat Attar memeluk tubuh Gendhis dari belakang.
"Kenapa hemm? Ada masalah apa sampai mood kamu hancur gini? Apa karena Clara telpon?"
Pertanyaan Attar pun membuat Gendhis terdiam dan tak mampu untuk mengatakan bahwa memang dia merasa kurang suka jika Clara mengganggu suaminya. Walaupun memang, nyatanya Clara juga istri Attar.
Bersambung