Violet adalah gadis desa yang diusir oleh pacar setelah melahirkan bayinya, dia yang Luntang lantung dijalan tepaksa menjadi ibu susu seorang CEO tampan yang mendapatkan kutukan. Ternyata CEO itu adalah paman dari mantan pacar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4.
Violet merasa tidak nyaman, saat Romeo memperhatikan wajah dan tubuhnya secara intens dari atas kebawah.
"Tuan Meo," sahut Violet dengan nada suara terbata.
Bahkan dia sudah tidak berani menatap ke arah bola mata hazel milik Romeo.
"Bagus juga," sahut Romeo singkat, tanpa menunggu jawaban Violet, dia pergi begitu saja.
Violet hanya memandang punggung Romeo yang menjauh dengan bingung.
......
Ke esokan paginya.
Romeo masuk ke dalam kamar Violet.
Violet sendiri sudah mandi dan sedang menyapu kamarnya.
"Kamu ngapain?" tanya Romeo memastikan.
"Lagi nyapu," jawab Violet bingung.
Apakah mata Tuan Romeo bermasalah, sehingga gak lihat aku sedang apa? Pikir Violet dalam hatinya.
Lalu tatapan Violet beralih menatap ke arah tangannya yang memang sedang memegang sapu.
Romeo melihat sekeliling. Kamar Violet terlihat rapi tanpa debu.
"Aku kesini cuman mau menyerahkan baju SMA ini. Sekalian mau ritual," kata Romeo dengan nada canggung.
Violet mengigit bibir bawahnya seraya mengangguk.
Ritual pun akhirnya dilakukan.
"Apakah gak bisa kalau pakai penyedot ASI?" tanya Violet ragu.
Jika harus meminum langsung seperti ini, Violet benar-benar merasa tidak nyaman.
"Gak bisa," sahut Romeo dengan nada kecewa.
'Kalau bisa, aku pasti memilih untuk menggunakan alat pompa ASI,' gumam Romeo dalam hatinya.
Sebenarnya bukan hanya Violet saja yang merasa canggung dan juga aneh, Romeo juga merasakan hal yang sama.
Tapi dia memang tidak bisa berbuat lebih.
Memang dari awal perintah madam Gie untuk meminumnya langsung sebagai penawar.
Setelah mendengar jawaban Romeo, Violet memilih untuk tidak banyak bertanya.
Dia berusaha menekan kuat-kuat rasa tidak nyamannya.
Setelah 15 menit berlalu. Ritualpun akhirnya selesai dilakukan.
"Tolong nanti kalau lagi minum. Jaga giginya," celetuk Violet yang mana membuat Romeo mengernyit.
"Apa maksudmu?" tanya Romeo pura-pura tidak mengerti.
"Tuan Meo, ini sakit banget kalau digigit. Nanti lama kelamaan bisa putus," sahut Violet seraya menitihkan air mata.
Romeo yang ingin mengerjai Violet akhirnya menghentikan aksinya.
Melihat wajah Violet yang menahan sakit.
"Maaf, aku sudah berusaha untuk menjaga gigiku. Tapi gigiku ini sulit dikendalikan," jawab Romeo dengan nada datar.
Tapi yang aneh, Violet yang sebelumnya menangis malah tertawa.
"Kamu ini aneh, malah tertawa gak jelas. Barusan nangis," tegur Romeo, dia merasa suasana hatinya dipagi hari ini sangatlah baik.
Mengingat semalam dia dengan mudah dapat mengendalikan kakinya.
"Habisnya kata-kata mu lucu," sahut Violet dengan ekspresi yang sulit untuk dideskripsikan.
Dia nampak tertawa dan menangis secara bersamaan. Tatapan Violet yang murni, ditambah pantulan cahaya dari cermin.
Hal itu sungguh membuat kecantikannya bertambah berkali- kali lipat.
Bahkan siluet wajah Violet mengingatkan Romeo akan cinta pertamanya.
Romeo yang baru kali ini melihat ekspresi natural seperti itu sontak menyunggingkan seulas senyuman.
Walaupun dihadapkan pada ekspresi konyol, tapi wajah Violet benar-benar terlihat sangat cantik.
Ntah kenapa Romeo bisa terpesona.
Padahal banyak sekali wanita disekelilingnya yang mendekatinya, termasuk beberapa kolega bisnis wanita muda kelas atas.
Tapi semuanya tidak pernah membuat Romeo tertarik.
Tapi dengan Violet.
"Kalau gitu kamu siap-siap dulu! Ini pakai seragam baru dan ini ponsel buat komunikasi sama aku. Ingat gak boleh nyimpan nomor lain selain aku," kata Romeo tanpa sadar.
"Oke," sahut Violet patuh.
Romeo pun pergi.
Violet menghela napas berat saat menggenggam seragam sekolah yang masih terlipat rapi.
Ada kekhawatiran yang tergambar jelas di wajahnya.
Cermin di kamarnya memantulkan bayangan seorang gadis muda dengan mata sembab, sisa tangis malam sebelumnya.
Dia masih teringat betul bagaimana Felix, yang pernah dia anggap sebagai pelabuhan hatinya, tiba-tiba berubah arah layaknya kapal yang menemukan daratan baru dalam pelukan Marina.
"Sudah siap, Violet?" suara Romeo yang lembut menyentuh gendang telinganya, mengembalikan Violet ke kenyataan.
Mata Romeo sedikit berbinar, melihat betapa cantiknya Violet saat ini.
Padahal cuman berganti baju, dia terlihat sangat berbeda dengan rambut lurus panjang yang digerai.
Violet mengangguk tanpa suara, seragam itu akhirnya dikenakan dengan rapi.
Dia memandang sekali lagi pada cermin, berusaha mengumpulkan keberanian yang tersisa.
"Nanti ke sekolah kamu diantar sama Asisten pribadi ku Yasa, dia yang akan mengurus kepindahan mu kesana," kata Romeo.
Violet lagi-lagi hanya bisa dibuat mengangguk patuh.
....
Langkahnya menuju sekolah SMA Taruna terasa berat. Setiap detak jantungnya berirama dengan kekhawatiran.
Sesampainya di gerbang sekolah, beberapa pandangan langsung tertuju padanya.
Bisikan-bisikan tidak ramah mulai terdengar, memotong udara pagi yang sejuk.
Violet merasa setiap kata yang diucapkan adalah seperti jarum yang menusuk-nusuk kepercayaan dirinya.
"Mantan ibu muda sudah balik nih," celetuk salah satu siswa dengan nada mengejek.
Violet merasa darahnya membeku, namun dia berusaha keras untuk tidak menangis di depan mereka.
Langkah kakinya terus bergerak, walaupun setiap langkah terasa semakin berat.
Di koridor, dia berpapasan dengan Felix dan Marina yang sedang berjalan mesra.
Felix menatapnya seolah ia adalah semut yang tidak layak berada di hadapannya, sementara Marina memberikan senyuman sinis.
Violet menundukkan kepala, berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan kekuatan yang ia bangun sepanjang pagi.
Namun, di saat yang paling tidak terduga, seorang guru yang ia hormati, Bu Anita, menghampirinya dan memberikan senyuman hangat.
"Selamat datang kembali, Violet. Kami semua tahu kamu kuat, dan sekarang ibu yang akan menjadi pembimbing mu. Ibu, harap kamar janan kecewakan ibu lagi," ujar Bu Anita dengan lembut, memberikan kekuatan baru bagi Violet.
Perlahan, Violet mengangkat kepalanya, mengusir segala ketakutan dan keraguan yang sempat menerkam hatinya.
Sekarang, dia tahu tidak semua orang di sekolah itu akan memandangnya dengan pandangan yang sama seperti Felix dan Marina.
Ada harapan, ada kesempatan untuk memulai kembali, meskipun perjalanan itu tidak akan mudah.
Sematara Felix yang berjalan menuju kantin sekolah ekspresinya sedikit berubah.
"Kak Felix, bukankah Violet sudah diusir dari rumahmu? Kenapa dia memakai pakaian bagus dan bisa bersekolah disini lagi? Kalau tidak memakai koneksi, tidak mungkin dia bisa kembali bersekolah setelah hamil dan melahirkan," ucap Marina polos.
Tatapan Marina terlihat murni, tapi di sudut matanya tersembunyi kilatan licik.
Setiap ucapannya terdeng
ar seperti bensin yang menyiram kobaran api yang ada didalam diri Felix.
"Atau jangan-jangan Violet sekarang menjadi sugar baby!" tebak Marina, dia melirik ke arah Felix dengan senyuman penuh kemenangan. .
Felix merasa darahnya malah mendidih.