Selama tiga tahun, Anisa menjadi istri pengganti Galang Gondokusumo—menggantikan posisi cinta pertamanya yang menghilang. Tiga tahun melayani, tiga tahun diabaikan, tiga tahun diperlakukan seperti bayangan orang lain.
Sampai akhirnya, Galang melemparkan surat cerai ke wajahnya.
"Tanda tangani. Sherly sudah kembali."
Malam itu, Anisa ditabrak mobil yang dikirim oleh Sherly Permata—perempuan yang merebut suaminya. Darah membasahi aspal. Galang melintas di lokasi kecelakaan tanpa menoleh.
Dia pikir Anisa sudah mati.
Tapi yang mati malam itu bukan Anisa.
Yang mati adalah **kebohongan**.
Karena benturan itu mengembalikan seluruh ingatannya. Nama aslinya bukan Anisa.
**Namanya Keira Hartono.**
Pewaris tunggal Hartono Group—konglomerat terbesar di Indonesia. Nona besar yang diculik empat tahun lalu dan dianggap hilang selamanya. Perempuan yang dicari oleh sepuluh kakak laki-laki, kakek yang menguasai setengah Jakarta, dan seorang pria misterius yang sudah menunggunya sejak dia berusia satu tahun.
Pria itu bukan Galang.
Pria itu adalah **Rayhan Tanuwijaya**—kepala keluarga Tanuwijaya, penguasa empat keluarga besar Jakarta. Dingin kepada semua orang. Kecuali kepada Keira.
Sekarang Keira kembali. Dengan ingatan yang utuh, identitas yang sesungguhnya, dan daftar panjang orang-orang yang harus membayar.
Sherly Permata? Akan kehilangan segalanya.
Galang Gondokusumo? Akan berlutut memohon.
Dan dunia yang pernah menginjak-injaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26: Kekacauan
"Siapkan semua bukti. Kita akan membuat pertunjukan."
Kalimat itu jatuh pelan di ruang kerja kecil, tetapi layar di depan Keira langsung hidup seperti kota yang lampunya menyala bersamaan.
Phoenix membuka peta penyebaran berita.
Titik pertama berwarna merah.
`Akun sumber: @sosialita_bisik. Unggahan pertama pukul 11.07.`
Garis-garis tipis menyebar dari titik itu ke akun kedua, ketiga, lalu ke puluhan grup WhatsApp yang tidak bisa dibuka langsung, tetapi jejak tangkapan layar dan waktu unggahan membuat polanya terbaca.
Keira duduk tegak di depan meja. Cincin Giok terasa dingin di balik kerahnya. Di luar pintu, Aqil berjaga. Di dalam ruangan, hanya ada suara pendingin udara, ketukan kuku Keira di meja, dan suara Phoenix yang datar.
`Sumber konten berasal dari satu nomor pribadi. Nomor terhubung dengan perangkat milik Sherly Permata.`
Keira tidak terkejut.
"Tampilkan jalur uang."
Layar berubah.
Dua transfer muncul. Nominalnya tidak terlalu besar untuk ukuran Sherly, tetapi cukup untuk membuat dua orang menjual etika.
`Penerima pertama: reporter lepas infotainment. Penerima kedua: admin kanal gosip lokal. Keduanya menerima dana melalui rekening perantara pada pukul 08.42 dan 09.13.`
"Rekening perantara atas nama siapa?"
`Atas nama sopir kontrak lama keluarga Permata. Dana masuk dari dompet digital yang biasa digunakan Sherly Permata.`
Keira menatap angka-angka itu.
Sherly selalu merasa dirinya rapi.
Padahal orang yang panik cenderung memilih jalur lama, orang lama, dan kebiasaan lama.
"Simpan semuanya. Waktu, perangkat, akun, rekening, tangkapan layar. Buat versi yang bisa dibaca publik dan versi lengkap untuk hukum."
`Diproses.`
Keira membuka folder kedua.
Nama folder itu tidak memakai hiasan apa pun.
`Hotel.`
Di dalamnya ada tangkapan layar pemesanan kamar, percakapan Sherly dengan seseorang yang mengatur akses kartu, dan foto botol minuman yang dulu tidak pernah diperhatikan Anisa. Phoenix menampilkan potongan rekaman lobi yang buram, lalu memperjelas wajah orang yang membawa minuman ke lantai kamar.
Keira menonton tanpa berkedip.
Malam itu pernah menjadi lubang hitam dalam ingatannya. Banyak hal masih berupa potongan kabur, rasa mual, pintu hotel yang terlalu berat, dan tubuh yang tidak mau mengikuti perintah. Namun kini setiap potongan diberi tanggal, jam, nama, dan jalur uang.
Rasa sakit berubah bentuk.
Dari luka menjadi bukti.
"Masukkan sebagai bukti kategori satu," kata Keira. "Motif dan pola."
`Kategori satu: perencanaan hotel.`
Folder berikutnya terbuka.
`Kecelakaan.`
Suara rekaman telepon memenuhi ruangan.
`Pastikan dia tidak kembali. Kalau gagal, jangan hubungi aku lagi.`
Itu suara Sherly.
Pelan, bersih, tanpa histeria.
Keira menyandarkan punggung ke kursi. Di layar, muncul transfer ke rekening pengemudi, riwayat lokasi mobil, dan foto jalan tempat darahnya pernah menyatu dengan hujan.
Untuk beberapa detik, ruangan kerja itu berubah menjadi aspal malam.
Lampu mobil.
Bunyi rem yang terlambat.
Jari yang berusaha meraih ponsel.
Nama Galang di layar yang tidak pernah menolong.
Keira menarik napas sekali. Cukup.
"Kategori dua," katanya. "Percobaan pembunuhan."
`Kategori dua: percobaan pembunuhan.`
Folder ketiga membuat udara terasa lebih berat.
`Yumi.`
Foto-foto dari rumah lama Permata muncul satu per satu. Kamar lembap. Lemari plastik. Bekas biru di pergelangan tangan. Percakapan Sherly dengan penjaga rumah. Bukti pembayaran kepada orang yang menahan Yumi. Foto acara tertutup yang membuat wajah Yumi terlihat seperti seseorang yang sudah keluar dari tubuhnya sendiri.
Keira menahan rahangnya.
Ia tidak akan menjadikan luka Yumi sebagai tontonan murah.
"Pisahkan bagian yang menyangkut privasi Yumi," katanya. "Publik hanya perlu tahu Sherly mengurung dan mengancam adiknya. Detail yang mempermalukan korban tidak ditampilkan."
`Dipahami. Versi publik akan melindungi identitas traumatis korban. Versi hukum tetap lengkap.`
Untuk pertama kalinya malam itu, Keira mengangguk puas.
Di luar pintu, ada ketukan pelan.
"Masuk."
Aqil membuka pintu tanpa melangkah terlalu jauh. "Nona, perimeter aman. Dua orang dari kelompok tadi terlihat berputar di jalan utama, tapi belum mendekat. Kami sudah kirim tim untuk mengikuti dari jarak aman."
"Jangan tangkap dulu."
Aqil tidak tampak terkejut. "Ingin melihat mereka melapor ke siapa?"
"Ya."
"Baik, Nona."
Sebelum keluar, Aqil melirik layar sekilas. Ia tidak membaca detailnya, tetapi cukup melihat wajah Sherly di beberapa folder. Rahangnya mengeras.
"Nona," katanya pelan, "kalau nanti perlu pengamanan terbuka, kami siap."
Keira menatapnya. "Nanti akan terbuka."
Aqil menunduk. "Saya mengerti."
Pintu tertutup lagi.
Phoenix menampilkan kalender acara Surabaya selama dua minggu ke depan. Gala, makan malam bisnis, peluncuran butik, ulang tahun sosialita, dan satu acara yang langsung membuat Keira berhenti.
`Malam Lelang Amal Surabaya. Tiga hari lagi. Tuan rumah: yayasan sosial yang didukung beberapa keluarga bisnis. Daftar tamu mengandung Sherly Permata, Galang Gondokusumo, perwakilan Hartono Group, dan media resmi.`
Keira membaca daftar itu dua kali.
Tempatnya sempurna.
Bukan sekadar media daring.
Bukan ruang tertutup.
Sebuah acara amal besar, dengan kamera, sosialita, pengusaha, wartawan, dan orang-orang yang tadi sore ikut menyebarkan fitnah sambil berpura-pura peduli moral di depan umum.
Phoenix membuka denah acara. Aula utama memakai dua layar besar untuk menampilkan video yayasan dan daftar donatur. Ada meja registrasi media di sisi kiri, ruang kontrol audio visual di belakang panggung, dan sesi lelang utama yang disiarkan langsung oleh dua akun resmi.
`Akses visual tersedia melalui panitia. Perwakilan Hartono Group memiliki slot sambutan tiga menit sebagai sponsor pendamping.`
Tiga menit.
Cukup untuk membuat orang melihat.
Tidak cukup untuk membiarkan Sherly menyela.
Keira mengetuk nama panitia, lalu daftar tamu VIP. "Pastikan undangan Hartono tidak dibatalkan. Kirim konfirmasi ke panitia besok pagi. Pakai jalur resmi."
`Diproses.`
Jika Sherly ingin membuat panggung, Keira akan memberinya panggung yang lebih terang.
"Siapkan paket pertunjukan," kata Keira.
`Format?`
"Urutkan seperti cerita. Pertama, fitnah yang dia sebarkan. Kedua, bukti jalur uang media. Ketiga, hotel. Keempat, kecelakaan. Kelima, Yumi. Tutup dengan laporan hukum dan transfer data ke pihak berwenang."
`Risiko emosional korban Yumi?`
"Lindungi wajah dan detail personalnya. Aku tidak akan mengorbankan dia untuk menghancurkan Sherly."
`Dipahami.`
Keira membuka folder kosong baru dan menamai file itu:
`Pertunjukan Sherly Permata.`
Nama itu tampak kejam.
Tetapi jauh lebih lembut daripada apa yang pernah Sherly lakukan.
Jam di dinding menunjukkan pukul dua lewat sebelas menit dini hari ketika semua kategori selesai disusun. Keira tidak terlihat lelah. Matanya justru makin tenang, seperti permukaan air yang terlalu gelap untuk dibaca.
Phoenix menampilkan hitungan mundur.
`Tiga hari.`
Keira mematikan sebagian layar, menyisakan satu jendela kecil berisi wajah Sherly dari unggahan gala terakhir.
"Tiga hari lagi," katanya pelan, "dunia Sherly Permata akan runtuh."