Target gue cuma satu,Lulus Skripsi. Tapi, gara-gara Abang kurir salah kirim paket barang ilegal, gue malah berurusan sama Arka, bos mafia paling ditakuti.
Bukannya dihabisin, gue malah disandera dan dipaksa jadi asisten pribadinya dengan ancaman gila, "selesaikan skripsimu, atau hidupmu tamat detik ini juga!"
Asli, kepala gue rasanya mau pecah, udah pusing mikirin revisian dosen killer, ditambah harus ngadepin bestie halu, Bara si bodyguard sedingin kanebo kering, dan Dino yang otaknya suka buffering pas lagi genting.
"Mas, tolong dong, mas.."Suara gue bergetar nahan nangis."Gue cuma mau revisi, bukan mau cari mati."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tembakan di Lorong Gelap
"Gue nggak salah denger, kan? Barusan bos mafia galak lo bilang apa?" Beby histeris di ambang pintu apartemennya. Matanya melotot ngeri ke arah empat preman yang sudah tergeletak tak bernyawa di lantai lorong. "Itu... itu mereka beneran mati dibunuh?!"
"Kalau lo masih nanya yang jelas-jelas keliatan, kepala lo yang bakal nyusul mereka mati, Beby!" seru Rara setengah stres, menarik pergelangan tangan sahabatnya itu sekuat tenaga. "Bisa nggak usah banyak omong dulu?! Nyawa kita lagi di ujung tanduk, bego!"
Belum sempat Beby membalas, suara deru mesin van berat mendadak menggelegar dari arah basemen, disusul suara hantaman keras dari pintu utama lobi. Suara logam berderit nyaring, menandakan gembok pengaman lantai bawah baru saja dijebol paksa.
"Bos, dua unit van Naga Hitam sudah masuk ke area parkir. Mereka mengurung jalur lift dan tangga utama depan," lapor Dino panik. Pemuda itu menekan-tekan tombol BlackBerry tebalnya dengan jari gemetar hebat, muka lolanya benar-benar pucat. "Jalur evakuasi utama kita sudah terpotong!"
Arka mendengus tajam, otot rahangnya mengetat keras. Tanpa buang sedetik pun, pria berdarah dingin itu menyambar tangan Rara dan menyeretnya mendekat ke arah tangga darurat belakang.
"Kita lewat jalur darurat belakang," perintah Arka mutlak, suaranya dingin tapi penuh kuasa. "Bergerak sekarang atau kalian berdua jadi umpan peluru."
"Eh, tunggu! Tas makeup sama dompet gue ketinggalan di meja nakas!" pekik Beby histeris, berniat melepaskan pegangan Dino untuk kembali ke dalam apartemen.
Bara dengan sigap menahan bahu Beby menggunakan satu tangan kokohnya, ekspresinya sedatar tembok beton tanpa ampun. "Kalau nyawa lu mau utuh sampai besok pagi, jangan banyak tingkah, Nona. Jalan atau saya patahkan kaki lu sekarang juga."
Beby langsung kicep, mingkem begitu menatap sorot mata Bara yang mirip algojo haus darah.
"Udah, Beb, nggak usah mikirin bedak!" Rara mendorong punggung sahabatnya paksa. "Lo mau dandan cantik di hadapan malaikat maut, hah?!"
Mereka berempat langsung ngibrit lari menyusur lorong sempit apartemen yang mulai remang karena aliran listrik darurat sengaja diputus total oleh Dino untuk mengacaukan sistem keamanan musuh. Langkah kaki mereka bergemuruh di atas lantai semen. Arka memimpin di depan sambil mengacungkan pistol Glock-nya waspada, sementara Bara mengawal di barisan paling belakang untuk mengantisipasi sergapan mendadak.
Duar! Duar!
Suara tembakan keras mendadak meledak dari ujung loromenembusng sebelah kiri. Peluru kaliber besar mengamuk dinding plesteran tembok, membuat serpihan semen dan debu berhamburan ke udara, nyaris merobek kepala Beby.
"Mama! Gue mau pulang! Gue belum sempat nikah sama cowok ganteng!" Beby terpekik kencang, langsung menjatuhkan diri ke lantai, tiarap sambil memeluk kepalanya rapat.
"Bangun, bego! Jangan malah leyeh-leyeh di lantai!" Rara setengah menyeret tubuh Beby yang mendadak lemas ketakutan. Keringat dingin sudah mengucur deras membasahi punggung Rara.
Arka mendesis geram. Tanpa menoleh ke belakang, tubuh tingginya berputar setengah lingkaran, mengarahkan moncong pistolnya ke sudut gelap lorong.
Duk! Duk!
Dua kali letusan tertahan dari peredam senjata Arka meluncur presisi. Di ujung lorong, dua preman bayaran Naga Hitam yang baru saja muncul langsung ambruk seketika dengan luka tembakan fatal di dada.
"Bara, habisi sisa tikus di belakang. Dino, singkirkan perempuan berisik itu sekarang juga!" perintah Arka tanpa ampun, suaranya mengiris keheningan lorong.
"Siap, Bos!" Dino langsung merangkap lengan Beby, menarik paksa tubuh sahabat Rara itu yang sudah pasrah sambil menangis sesenggukan.
"Heh, mas intel, pelan-pelan dong! Tulang pinggul gue mau copot nih!" protes Beby di tengah isakannya, meski kakinya terpaksa melangkah cepat mengikuti tarikan Dino menuruni anak tangga beton yang curam.
Mereka berempat berkejaran menuruni lima lantai tangga darurat dalam tempo yang sangat singkat. Udara di dalam tangga beton itu terasa panas, pengap, dan bau mesiu mulai pekat tercium begitu mereka semakin mendekati lantai dasar.
Begitu pintu besi darurat terbuka menuju area basemen bawah tanah, situasi di luar ternyata jauh lebih mengerikan dari perkiraan. Dua unit van hitam milik Naga Hitam sudah terparkir melintang, menurunkan selusin preman bertubuh kekar yang memegang senapan serbu otomatis.
"Sial, kita terkepung dari depan," maki Dino tertahan, bersembunyi di balik pilar beton bersama Beby yang terus menutup telinganya.
Arka sama sekali tidak gentar. Alih-alih mundur, sorot mata pria itu justru berubah makin tajam layaknya predator yang melihat mangsa empuk. Ia melirik sekilas ke arah SUV lapis baja hitam miliknya yang terparkir tidak jauh dari posisi mereka.
"Bara, hancurkan konsentrasi mereka dari sisi kiri. Kita butuh waktu sepuluh detik buat masuk mobil," bisik Arka dingin.
"Dilaksanakan, Bos," jawab Bara singkat.
Tanpa aba-aba lagi, Bara melompat keluar dari balik pilar, memberondongkan tembakan membabi buta ke arah kelompok preman di dekat van, berhasil merobohkan tiga orang sekaligus dan membuat sisanya kocar-kacir mencari perlindungan.
"Sekarang! Lari ke mobil!" bentak Arka keras.
Arka menarik tangan Rara erat-erat, membimbing gadis itu berlari menembus hujan peluru yang mulai berdesing liar di udara basemen. Rara memejamkan mata rapat-rapat, mengandalkan sepenuhnya tarikan tangan Arka yang kokoh dan tidak tergoyahkan.
Ceng!
Peluru musuh sempat menghantam bodi mobil sebelah kiri, memercikan api kecil.
Begitu sampai di samping SUV, Arka langsung membuka pintu belakang dan melemparkan Rara masuk ke dalam, disusul Beby yang langsung menyungsep ke lantai mobil karena kakinya sudah tidak sanggup menopang tubuh. Dino melompat masuk ke kursi depan sebelah Bara, sementara Arka masuk paling akhir, menutup pintu mobil dengan bantingan logam yang sangat keras.
"Jalan, Bar. Injak dalam-dalam," perintah Arka tajam, langsung menarik selongsong senjatanya sekali lagi.
Bara membanting setir mobil lapis baja itu dengan brutal. SUV hitam legam tersebut melesat seperti banteng mengamuk, menabrak pembatas parkiran beton hingga hancur berkeping-keping, lalu menerobos keluar basemen menuju jalanan kota pagi itu dengan kecepatan penuh.
Meninggalkan sisa asap mesiu, peluru berserakan, dan kekacauan total di belakang mereka.
Di dalam kabin mobil yang kedap suara, napas semuanya terdengar memburu. Rara merosot lemas di jok kulit, dadanya naik-turun menahan sisa syok yang luar biasa.
Di lantai bawah jok, Beby masih meringkuk sesenggukan sambil memeluk lututnya sendiri, wajahnya basah oleh air mata dan sisa masker yang luntur.
Arka duduk tegak di sebelah Rara. Pria itu menyandarkan punggungnya dengan tenang, merapikan lengan kemejanya yang sedikit kusut seolah-olah barusan dia tidak baru saja melewati medan perang sungguhan.
"Udah... udah aman, kan?" cicit Beby gemetar dari lantai mobil, memberanikan diri mendongak menatap punggung Arka di depannya. "Mas... mas mafia yang ganteng tapi serem banget tadi, makasih ya udah nolongin gue..."
Arka bahkan tidak sedikit pun menoleh ke bawah. Pria itu menatap lurus ke depan dengan wajah datar, mengabaikan total ucapan absurd Beby.
Rara mengusap wajahnya yang basah oleh keringat, menatap Arka tajam dengan sisa emosinya. "Lo tuh ya, bener-bener gila, Arka! Mau bikin jantungan gue copot, hah?!"
Arka menoleh perlahan. Sudut bibirnya terangkat sebelah membentuk senyuman tipis yang sangat sinis. "Kalau kamu terus-terusan protes, saya bisa mengantar temanmu yang tidak berotak itu kembali ke apartemennya sekarang juga."
Mendengar itu, Beby langsung mendelik panik dari bawah, buru-buru menutup mulutnya rapat dengan kedua tangan. Sementara Rara cuma bisa mendengus sebal, merutuki nasib sialnya karena harus terjebak bersama bos mafia paling menyebalkan di muka bumi ini.