Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:
Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.
Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.
Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.
Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.
Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."
"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10: Perjanjian
Naomi datang ke pesta itu dengan perasaan bahwa ia sedang memakai pakaian orang lain.
Gaun biru gelap yang dulu ia simpan di dasar lemari akhirnya ia keluarkan. Tidak terlalu terbuka, tidak terlalu mahal, hanya cukup rapi agar ia tidak tampak seperti orang yang tersesat di rooftop lounge hotel kawasan Sudirman. Rambutnya ia ikat setengah, wajahnya diberi bedak tipis, bibirnya memakai lip tint murah yang warnanya hampir habis.
Di cermin kamar kos, ia terlihat baik-baik saja.
Di dalam lift hotel, dikelilingi orang-orang dengan parfum mahal dan sepatu mengilap, ia kembali merasa seperti Naomi yang sama. Gadis dari Tebet, dengan saldo yang sudah menipis, pinjol yang menunggu tujuh hari lagi, dan undangan pesta yang sebenarnya tidak tahu harus ia terima atau tidak.
Brandon menjemputnya di depan lift.
"Kamu datang," katanya, tersenyum seperti benar-benar senang.
Naomi menggenggam tas kecilnya. "Kak Brandon bilang cuma makan kecil."
Brandon tertawa pelan. "Awalnya memang begitu. Tapi teman-teman BEM gabung, lalu ada farewell Celine juga. Maaf, jadi lebih ramai dari rencana."
Naomi melihat ke dalam ruangan.
Ramai adalah kata yang terlalu sederhana.
Lampu kuning hangat, musik rendah, meja panjang berisi makanan kecil, mahasiswa yang tidak tampak seperti mahasiswa karena jam tangan dan tas mereka bisa membayar kos Naomi setahun. Dari sisi kaca, lampu Jakarta terbentang seperti perhiasan yang dijatuhkan sembarangan.
Lalu ia melihat Kelvin Hartono.
Kelvin berdiri di dekat pagar kaca, memakai kemeja putih dengan dua kancing atas terbuka, satu tangan memegang gelas soda, wajahnya datar seperti semua keramaian ini tidak berhubungan dengannya. Di sampingnya, Danny sedang berbicara dengan ekspresi terlalu hidup.
Naomi langsung ingin pulang.
"Santai saja," kata Brandon, seolah membaca kegugupannya. "Kamu tamuku. Kalau ada yang membuatmu tidak nyaman, bilang aku."
Kalimat itu seharusnya menenangkan.
Naomi mengangguk.
Ia mencoba berdiri di dekat meja makanan, mengambil segelas soda jeruk, lalu berpura-pura sibuk menatap city light. Beberapa orang mengenali Brandon dan menyapanya. Beberapa menatap Naomi dengan rasa ingin tahu yang sama seperti komentar IG Confessions, hanya saja kali ini mereka memakai senyum.
"Itu yang kerja di rumah Hartono?"
Bisikan itu tidak cukup pelan.
Naomi menahan gelas lebih erat.
"Cantik juga. Pantas."
"Pantas apa?"
"Ya tahu sendiri."
Naomi mengangkat gelas ke bibir, tapi tidak jadi minum.
Sinta tidak ada di sini untuk marah menggantikannya. Brandon sedang berbicara dengan dua orang sponsor acara. Felix tidak ada untuk menempelkan kepala ke telapak tangannya. Dan Kelvin, orang yang namanya selalu menjadi pusat semua bisik-bisik itu, berdiri beberapa meter darinya tanpa melihat.
Naomi merasa dirinya seperti masuk ke panggung cerita yang tokoh utamanya bukan dia, tapi semua orang menunggu ia melakukan kesalahan.
Di sisi ruangan, tawa tiba-tiba mengecil.
Celine Tanuwijaya baru datang.
Naomi pernah melihatnya dari jauh di kampus, tapi dari dekat Celine tampak lebih tidak nyata. Rambutnya jatuh rapi, gaun hitamnya sederhana tapi jelas mahal, dan langkahnya tenang seperti seseorang yang sejak lahir tahu semua pintu akan dibukakan untuknya.
Celine berjalan ke arah Kelvin.
Beberapa orang langsung memperhatikan.
"Kel," sapa Celine.
Kelvin menoleh. "Celine."
Tidak ada pelukan. Tidak ada adegan patah hati. Hanya dua orang dari keluarga besar yang sama-sama tahu cara berdiri di depan publik.
Celine tersenyum tipis. "Aku sudah bicara dengan Papa Mama. Bulan depan aku berangkat."
Danny bersiul pelan. "Akhirnya jadi juga?"
"Jadi." Celine menatap Kelvin. "Jadi kamu tidak bisa pakai namaku lagi kalau keluargamu mendorong perjodohan."
Beberapa orang tertawa kecil, mengira itu lelucon.
Kelvin hanya mengangkat gelasnya sedikit. "Selamat."
"Datar sekali." Celine menggeleng, tapi tidak tampak tersinggung. "Aku serius, Kel. Aku pergi, jadi urusan keluarga kalian cari calon menantu baru bukan masalahku."
"Memang tidak pernah."
"Bagus."
Celine menoleh pada Danny. "Pastikan dia tidak membuat drama setelah aku pergi."
Danny menunjuk dirinya sendiri. "Gue? Mengurus Kelvin? Mending gue mengurus buaya."
Tawa pecah, lebih ringan.
Namun bagi Naomi, percakapan itu terasa seperti pintu yang terbuka sedikit.
Perjodohan.
Calon menantu.
Nama Celine yang selama ini menempel pada Kelvin ternyata bisa dilepas begitu saja, seperti gantungan burung yang jatuh di minimarket dan tidak dicari pemiliknya selama berhari-hari.
Naomi menatap gelas soda di tangannya.
Di ponselnya, notifikasi bank masuk beberapa menit lalu. Honor Felix belum cair karena jadwal transfer keluarga Hartono dilakukan akhir minggu. Klien terjemahan belum membayar. Cicilan pinjol berikutnya tinggal tujuh hari.
Di ruangan ini, orang-orang membicarakan perjodohan seolah itu masalah yang merepotkan.
Di hidup Naomi, uang dua ratus ribu saja bisa menentukan apakah nomor kontak daruratnya akan diteror penagih.
"Naomi?"
Brandon sudah kembali ke sisinya. "Kamu pucat. Mau duduk?"
"Tidak apa-apa."
"Kalau mau pulang, aku antar."
Naomi menatap Brandon. Wajahnya baik. Suaranya baik. Semua tentang Brandon selalu terasa aman.
Dan justru karena itu, Naomi tiba-tiba sadar kebohongan apa yang paling mudah ia pakai untuk melindungi rahasia paling memalukan di hatinya.
Ia tidak bisa mengatakan bahwa ia menyukai Kelvin.
Tidak pada Brandon.
Tidak pada siapa pun.
Menyukai Kelvin Hartono adalah hal yang terlalu jauh, terlalu tinggi, terlalu tidak tahu diri.
Tapi ia bisa memakai nama lain.
Nama yang masuk akal. Nama yang membuatnya terlihat seperti gadis biasa yang menyukai senior baik hati.
Naomi meneguk soda jeruknya. Rasanya terlalu manis sampai tenggorokannya sedikit sakit.
"Kak Brandon," katanya pelan. "Kalau nanti saya melakukan sesuatu yang aneh, maaf."
Brandon mengerutkan kening. "Maksudnya?"
Naomi tidak menjawab.
Kelvin keluar ke area parkir terbuka beberapa menit kemudian, mungkin bosan dengan keramaian. Naomi melihatnya dari balik kaca. Ia berdiri sendirian di dekat mobil hitam, menunduk menyalakan ponsel.
Ini kesempatan bodoh.
Kesempatan yang seharusnya tidak ia ambil.
Namun kata-kata IG Confessions, komentar di kampus, tagihan pinjol, dan wajah dingin Kelvin saat Celine melepas urusan perjodohan semuanya bertumpuk menjadi satu dorongan yang membuat Naomi sulit bernapas.
Ia meletakkan gelas di meja.
Lalu berjalan keluar.
Udara malam di area parkir lebih lembap. Musik dari dalam terdengar teredam. Kelvin mengangkat kepala saat mendengar langkahnya.
"Kamu?"
Naomi berhenti dua meter darinya.
Semua keberanian yang tadi terasa ada mendadak menyusut.
Kelvin memasukkan ponsel ke saku. "Tersesat lagi?"
Naomi menggenggam tas kecilnya. "Saya mau bicara."
"Tentang Felix?"
"Bukan."
"Tumitmu?"
Naomi terkejut.
Jadi dia benar-benar melihat.
"Bukan juga."
Kelvin menatapnya lebih lama. "Lalu?"
Naomi menarik napas. Jantungnya terlalu cepat, tapi kata-kata sudah tidak bisa kembali lagi.
"Kamu butuh pacar."
Alis Kelvin bergerak sedikit.
Naomi hampir mati karena malu, tapi ia memaksa lanjut. "Bukan pacar sungguhan. Pacar yang bisa kamu tunjukkan ke keluarga kalau mereka memaksa perjodohan lagi."
Kelvin diam.
Diamnya membuat udara malam terasa lebih dingin.
"Dan kamu?" tanyanya.
"Saya butuh uang."
Kalimat itu keluar bersih. Lebih bersih daripada yang Naomi bayangkan.
Mungkin karena ia sudah terlalu lelah pura-pura tidak butuh.
Kelvin tidak tampak terkejut. Ia hanya memandangnya seperti sedang menilai benda yang baru ditemukannya di tempat yang tidak masuk akal.
"Berapa?"
Naomi menelan ludah. "Sebanyak yang menurut kamu pantas untuk dua bulan."
"Dua bulan?"
"Iya. Kalau setelah itu kamu tidak butuh lagi, kita selesai. Saya tidak akan mengganggu."
"Kenapa aku harus percaya kamu tidak akan mengganggu?"
Karena aku sudah menyukaimu sejak lama dan selama itu juga aku tidak pernah berani mengganggu hidupmu.
Kalimat itu berteriak di dada Naomi.
Yang keluar dari mulutnya adalah kebohongan.
"Karena saya suka orang lain."
Kelvin menatapnya.
Naomi meremas tali tas. "Kak Brandon."
Nama itu jatuh di antara mereka.
Kelvin tidak langsung bicara. Matanya berubah sedikit, begitu kecil sampai Naomi tidak yakin ia benar-benar melihatnya.
"Brandon?"
"Iya." Naomi memaksa dirinya tetap menatap area di sekitar bahu Kelvin, bukan matanya. "Jadi kamu tidak perlu khawatir saya akan salah paham. Saya cuma butuh uang. Kamu butuh alasan untuk keluarga. Kita bisa saling membantu."
"Brandon tahu?"
"Tidak."
"Kamu ingin membuat dia cemburu?"
Naomi tidak memikirkan bagian itu. Tapi jika ia berkata tidak, kebohongannya terdengar terlalu kosong.
"Mungkin," jawabnya.
Kelvin tertawa pelan.
Bukan tawa hangat. Lebih seperti ia baru menemukan sesuatu yang cukup menghibur untuk ditonton.
"Kamu berani juga."
Naomi menunduk. "Kalau tidak mau, lupakan saja. Maaf sudah mengganggu."
Ia berbalik.
"Naomi."
Langkahnya berhenti.
"Aturannya."
Naomi menoleh perlahan.
Kelvin bersandar pada sisi mobil, tangan terlipat di depan dada. Wajahnya masih tenang, tapi ada sesuatu di matanya yang membuat Naomi tidak bisa bergerak.
"Dua bulan," katanya. "Selama itu, kamu datang saat aku butuh. Acara keluarga, pertemuan teman, apa pun yang perlu pacar palsu."
Naomi mengangguk pelan.
"Kamu tidak menghilang tanpa kabar."
"Iya."
"Tidak bawa perasaan."
Jantung Naomi seperti ditusuk jarum kecil.
"Iya."
"Setelah selesai, aku bayar. Tidak ada drama."
"Iya."
Kelvin berjalan mendekat satu langkah. Jarak mereka tinggal satu meter. Naomi bisa mencium aroma sabun dingin yang sudah terlalu dikenalnya.
"Dan selama dua bulan itu," lanjut Kelvin, suaranya turun, "kalau ada orang bertanya, kamu pacarku."
Naomi menahan napas.
Palsu.
Semua ini palsu.
Tapi satu kalimat itu tetap membuat dunia di sekitarnya bergetar.
"Baik," ucapnya.
Kelvin menatap wajahnya, lalu sudut bibirnya naik sedikit.
"Kalau begitu, mulai sekarang belajar jangan kelihatan takut tiap lihat aku."
"Saya tidak takut."
"Bohong."
Naomi tidak bisa membantah.
Pintu kaca rooftop terbuka di belakang mereka. Suara Danny terdengar dari kejauhan memanggil Kelvin. Naomi refleks menoleh, tapi Kelvin justru mengangkat tangan, menyentuh ringan bagian belakang bahunya, mengarahkan tubuhnya agar berdiri di sampingnya.
Sentuhan itu singkat.
Cukup untuk membuat Naomi lupa cara bernapas.
Danny berhenti beberapa langkah dari mereka. Matanya bergerak dari Kelvin ke Naomi, lalu kembali ke Kelvin.
"Gue mengganggu?"
Kelvin tidak melepas pandangannya dari Naomi.
"Tidak."
Naomi merasa tangan Kelvin turun ke punggungnya, ringan tapi jelas, seperti tanda yang sengaja ditunjukkan.
"Kenalkan," kata Kelvin dengan suara malas. "Pacarku."
Danny membuka mulut.
Naomi menunduk, wajahnya panas sampai telinga.
"Biasakan, Baby," ucap Kelvin pelan, cukup dekat untuk hanya didengar Naomi. "Dua bulan itu tidak sebentar."
Di bawah lampu parkir yang basah oleh sisa hujan, Kelvin menatap punggung Naomi yang tegang, lalu tertawa kecil.
"Menarik."