NovelToon NovelToon
Menikahi Sang Pewari

Menikahi Sang Pewari

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta setelah menikah
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14

Menyesuaikan Diri

Kabar Rayhan akan dinas ke luar negeri disampaikan Pak Hadi saat sarapan.

"Tuan muda terbang ke Singapura pukul sebelas. Dua malam," katanya sambil meletakkan segelas air hangat di samping mangkuk bubur.

Senja menatap kursi kosong di ujung meja. "Oh."

Hanya itu yang keluar.

Dia tidak tahu harus merasa apa. Lega karena dua malam tidak perlu menghadapi tatapan dingin Rayhan? Atau kosong karena rumah sebesar Wijaya Mansion akan terasa lebih asing tanpa suara langkahnya?

Pak Hadi seperti biasa tidak mengomentari wajahnya.

"Tuan muda berpesan Nyonya tetap sarapan sebelum ke sanggar. Ramuan Tante Lian diminum setelah makan. Jadwal latihan dikirim ke saya. Jika ada acara di luar selain sanggar, beri tahu lebih dulu."

Senja menatapnya. "Dia menitipkan semua itu?"

"Iya, Nyonya."

"Sebelum berangkat?"

"Tadi subuh."

Senja mengaduk buburnya. Ada jahe tipis di dalam kuah, hangat dan tidak terlalu tajam. Menu baru mengikuti catatan Tante Lian, dan entah kenapa, itu membuatnya lebih sulit untuk sepenuhnya marah pada Rayhan.

"Baik," katanya.

Namun begitu Rayhan tidak ada di rumah, telepon dari keluarga Liem datang lebih cepat daripada yang dia kira.

Pukul sepuluh lewat, saat Senja baru selesai mengirim jadwal latihan ke Pak Hadi, nama Papa Liem muncul di layar.

"Datang ke rumah sore ini," kata Papa Liem begitu telepon tersambung.

Tidak ada salam.

Senja memegang ponsel lebih erat. "Aku ada latihan sampai sore."

"Setelah latihan."

"Ada apa, Pa?"

"Kamu sudah menjadi istri Rayhan Wijaya. Jangan berpura-pura tidak mengerti. Ada beberapa hal yang harus dibicarakan."

Perut Senja langsung mengeras.

"Aku tidak yakin Rayhan suka jika urusan bisnis dibicarakan melalui aku."

Papa Liem tertawa pendek. "Kamu belum mencoba sudah bicara begitu? Apa gunanya kamu menikah kalau tidak bisa membantu keluarga?"

Keluarga.

Kata itu selalu muncul ketika mereka membutuhkan sesuatu darinya.

"Aku akan datang sebentar," jawab Senja akhirnya.

Latihan hari itu tidak bisa menyelamatkannya sepenuhnya. Tubuhnya bergerak, tetapi pikirannya berkali-kali kembali ke telepon Papa Liem. Lara menyadari kegelisahannya, tapi tidak memaksa. Hanya saat istirahat, dia menyodorkan roti isi telur.

"Makan. Jangan bikin sinse keluarga konglomerat itu datang ke sanggar karena kamu jatuh lagi."

Senja tertawa kecil. "Kamu sudah bisa bercanda tentang itu?"

"Aku masih kesal. Tapi aku lebih kesal kalau kamu pingsan."

Roti itu terasa seperti perdamaian kecil.

Sore menjelang malam, Pak Hadi mengantar Senja ke rumah Liem. Begitu mobil Wijaya berhenti di depan pagar, dua tetangga yang sedang berjalan pelan langsung menoleh. Senja bisa merasakan tatapan mereka mengikuti sampai dia masuk ke halaman.

Rumah Liem tidak berubah. Sofa krem, lukisan bunga di ruang tamu, aroma pewangi ruangan yang terlalu manis. Tetapi setelah beberapa hari tinggal di Wijaya Mansion, rumah itu terasa lebih sempit daripada ingatannya.

Serena duduk di sofa, memainkan ponsel. Dia mengangkat wajah dan tersenyum.

"Wah, Nyonya Wijaya akhirnya pulang."

Senja melepas sepatu. "Papa memanggilku."

"Tentu. Kalau tidak dipanggil, mana ingat rumah lama."

Papa Liem keluar dari ruang kerja, membawa map biru. "Duduk."

Senja duduk di sofa seberang. Pak Hadi menunggu di luar rumah sesuai permintaannya. Dia tidak ingin keluarga Liem merasa dia membawa pengawas dari Wijaya, meski sekarang dia menyesali keputusan itu sedikit.

Papa Liem membuka map. Di dalamnya ada proposal kerja sama antara PT Liem dan salah satu anak perusahaan Wijaya Group.

"Berikan ini kepada Rayhan."

Senja menatap map itu. "Pa, aku tidak bisa."

"Belum dibaca sudah menolak?"

"Aku bukan bagian dari Wijaya Group."

"Kamu istrinya."

"Itu tidak sama."

Serena tertawa pelan. "Senja, jangan naif. Semua istri konglomerat membantu keluarga asalnya. Tinggal bisikkan ke suami saat makan malam."

Senja menatap map itu, lalu Papa Liem. "Pernikahan ini bukan untuk membuka akses bisnis."

Papa Liem menampar meja dengan telapak tangan.

Senja tersentak.

"Jangan lupa siapa yang membesarkanmu."

Kalimat itu datang seperti selalu. Rapi. Terlatih. Tepat di tempat yang paling sakit.

Senja menunduk. "Aku tidak lupa."

"Kalau tidak lupa, bawa proposal ini. Sampaikan dengan baik. Tidak perlu memaksanya. Cukup buat dia membaca."

"Rayhan tidak suka urusan seperti ini."

"Kamu sudah tahu apa yang dia suka setelah menikah beberapa hari?" Serena menyela. "Atau dia bahkan belum benar-benar melihatmu?"

Wajah Senja memanas.

Papa Liem tidak menegur Serena.

Senja menghela napas pelan. "Aku bisa membawa map itu. Tapi aku tidak janji apa pun."

Papa Liem tampak puas karena mendengar bagian pertama dan mengabaikan bagian kedua. Dia mendorong map ke arah Senja.

"Bagus."

Serena menyandarkan tubuh ke sofa. "Besok kamu ikut aku ke butik. Ada charity luncheon minggu depan. Tante-tante arisan ingin melihat Nyonya Wijaya tampil pantas."

"Aku ada latihan."

"Latihanmu selalu bisa menunggu."

"Tidak."

Ruangan hening.

Serena menatapnya, senyum hilang sedikit. "Apa?"

Senja sendiri terkejut mendengar jawabannya. Tetapi setelah hari-hari penuh aturan, ada satu hal yang tiba-tiba tidak ingin dia serahkan begitu saja.

"Latihanku tidak selalu bisa menunggu. Aku bisa ke butik setelah latihan selesai."

Papa Liem mengerutkan kening. "Jangan keras kepala."

"Aku tidak keras kepala. Aku hanya punya jadwal."

Serena menatapnya seperti melihat benda yang baru belajar bicara.

"Jam enam," katanya akhirnya. "Jangan terlambat."

Senja mengangguk. "Baik."

Ketika dia keluar membawa map biru itu, Pak Hadi langsung membuka pintu mobil. Matanya turun ke map di tangan Senja, tetapi dia tidak bertanya.

"Pulang, Nyonya?"

Senja menatap rumah Liem di belakangnya. Dari jendela ruang tamu, Serena masih berdiri, memperhatikannya dengan ponsel di tangan.

"Pulang," jawab Senja.

Di dalam mobil, dia meletakkan map biru di pangkuan. Beratnya tidak seberapa, tetapi rasanya seperti batu.

Pak Hadi melirik dari kursi depan. "Nyonya ingin saya menyimpan map itu di ruang kerja Tuan muda nanti?"

Senja menunduk menatap logo PT Liem di sampul. "Jangan dulu."

"Baik."

"Pak Hadi," panggilnya setelah beberapa detik, "kalau Rayhan bertanya, bilang aku yang akan menjelaskan sendiri."

Pak Hadi memandangnya melalui kaca spion. "Nyonya tidak perlu menanggung tekanan keluarga Liem sendirian."

Kalimat itu terlalu lembut untuk malam yang sudah berat. Senja hampir tidak tahan mendengarnya.

"Aku hanya tidak ingin dia mengira aku menikah untuk membawa proposal bisnis."

"Saya mengerti."

Tidak ada jaminan di sana. Hanya pengertian. Untuk saat itu, pengertian saja sudah terasa seperti tempat duduk yang tidak ikut berguncang.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Serena.

Serena: Jangan lupa besok. Kalau kamu mempermalukan keluarga Liem di depan orang-orang, Papa tidak akan tinggal diam.

Senja mematikan layar.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, dia berharap Rayhan ada di Jakarta, bukan karena dia ingin berlindung di belakang namanya, melainkan karena sendirian menghadapi keluarga Liem ternyata jauh lebih melelahkan daripada menghadapi daftar aturan Wijaya.

1
D..
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!