Wen Sekar tidak pernah suka dengan keramaian.
Di usia 26 tahun, dia hanyalah karyawan administrasi biasa di Kota Angin — gaji pas-pasan, tidak punya teman dekat, dan lebih memilih menghabiskan waktu sendirian di kamar kos-nya. Satu-satunya kenangan berharga adalah kasih sayang Kakek dan Nenek Wen yang membesarkannya sejak bayi, setelah ia ditemukan di pinggir jalan oleh mereka.
Suatu malam, tusuk konde mutiara peninggalan Nenek tiba-tiba memberikannya kemampuan luar biasa: sebuah ruang penyimpanan ajaib di mana waktu berhenti, dan mimpi-mimpi yang menunjukkan bencana dahsyat yang akan melanda dunia.
Sekar tidak menunggu. Dia mulai menimbun — beras, minyak goreng, obat-obatan, alat pertanian, senapan berburu, empat buku panduan bertahan hidup. Semua disimpan dalam ruang ajaibnya. Ketika orang lain masih tertawa, Sekar sudah siap.
Dan bencana datang. Satu per satu: banjir besar, gempa dahsyat, pandemi global, dan akhirnya — letusan Supervulkan Yellowstone yang menyelimuti bumi dalam musim dingin vulkanik selama sepuluh tahun.
Sendirian di dataran tinggi Pulau Karang, lalu di kedalaman Hutan Damai di Kalimantan, Sekar bertahan. Dia belajar menanam singkong, berburu babi hutan, membuat tempe, membangun rumah dengan tangannya sendiri. Dia menghadapi perampok, binatang buas, dan kesunyian yang tak berujung — dan menang.
Tapi kisah ini bukan hanya tentang bertahan hidup.
Di usia 46 tahun, Sekar menemukan seorang bayi perempuan yang dibuang di depan gerbang kota. Dan saat itu, dia teringat dirinya sendiri — bayi yang pernah dibuang di pinggir jalan, lalu diselamatkan oleh cinta tanpa syarat.
Sekar mengambil bayi itu dan menamainya Anin.
Dari seorang gadis pendiam yang bertahan sendirian, Sekar menjadi seorang Mama — meneruskan warisan cinta yang dulu diterimanya dari Kakek dan Nenek Wen.
Ini adalah kisah tentang seorang perempuan yang tidak membutuhkan siapa pun untuk hidup — tetapi menemukan alasan untuk hidup demi seseorang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 026
Pelabuhan yang Penuh
Sekar meninggalkan Desa Lembah dan melaju menuju pelabuhan.
Jalan menuju kota pelabuhan tidak langsung runtuh, tetapi ia juga tidak lagi seperti jalan biasa. Di beberapa titik, aspal terangkat seperti kulit yang mengelupas. Bekas ban truk membentuk alur dalam berisi air cokelat. Polisi dan warga berdiri di dekat jembatan kecil, mengatur kendaraan agar lewat satu per satu.
Sekar tidak berhenti lebih lama dari perlu.
Ia makan satu potong kue apem dari Bu Sari saat menunggu antrean jembatan. Kelapa parut dan gula merah menempel di lidahnya. Rasa manis itu membuatnya ingin menoleh ke arah Desa Lembah, tetapi ia menahan kepala tetap lurus.
Semakin dekat ke pelabuhan, jalan semakin padat.
Motor, mobil bak terbuka, truk kecil, dan orang berjalan kaki memenuhi bahu jalan. Sebagian membawa koper. Sebagian membawa karung. Ada yang mengikat kasur tipis di atas mobil, ada yang membawa ayam dalam keranjang bambu. Anak-anak menangis karena panas. Orang dewasa bicara terlalu keras, seolah suara yang lebih keras bisa membuat kapal datang lebih cepat.
Gerbang pelabuhan penyeberangan terlihat menjelang sore.
Di depannya, kerumunan sudah pecah menjadi beberapa garis yang tidak rapi. Satu barisan untuk kendaraan. Satu barisan untuk penumpang jalan kaki. Satu lagi bukan barisan, hanya kumpulan orang yang marah karena tidak tahu harus berdiri di mana.
"Kendaraan roda dua penuh! Tiket motor tunggu kapal berikutnya!"
Suara petugas dari pengeras suara langsung disambut teriakan.
"Saya sudah antre dari pagi!"
"Anak saya sakit, Pak!"
"Kalau bayar tambahan bisa masuk, kan?"
Petugas di pagar besi tidak menjawab. Wajahnya kusut, bajunya basah oleh keringat. Dua anggota keamanan berdiri di sampingnya, tangan memegang tongkat, mata terus bergerak.
Sekar memperlambat motor.
Jika ia masuk barisan kendaraan, ia bisa terjebak berjam-jam. Jika kapal berikutnya tidak pasti, motor yang terlihat justru menjadi beban. Orang akan mengingatnya, mengawasinya, mungkin bertanya apa isi box belakangnya.
Ia memutar ke arah deretan kios tua di luar pagar pelabuhan.
Sebagian kios tutup. Beberapa pintunya rusak bekas banjir. Bau amis laut, solar, dan sampah basah memenuhi udara. Di belakang kios penjual es yang sudah tidak berjualan, ada lorong sempit menuju gudang kosong. Sekar mendorong motor masuk pelan-pelan, mesin dimatikan agar suaranya tidak menarik perhatian.
Ia menunggu.
Satu menit.
Dua menit.
Di luar, orang berteriak. Di dalam lorong, hanya ada air menetes dari atap seng dan seekor kucing kurus yang lari saat melihatnya.
Sekar membuka box motor. Bungkusan kue dari Bu Sari ia keluarkan dan masukkan ke tas punggung kecil. Dokumen, uang tunai, ponsel, powerbank, botol minum, satu jaket, obat dasar, dan sebungkus biskuit tetap ia bawa di badan. Sisanya tidak perlu terlihat.
Ia menyentuh setang motor.
Motor bebek hitam itu lenyap tanpa suara ke Ruang penyimpanan ajaib.
Lorong mendadak terasa terlalu kosong.
Sekar menarik napas cepat. Setiap kali ruang itu bekerja, ia masih merasakan sensasi seolah dunia mengedip. Tetapi tidak ada waktu untuk takut pada keajaiban yang menyelamatkannya.
Ia merapikan jaket, menutup tas punggung, lalu keluar dari lorong sebagai penumpang jalan kaki.
Tanpa motor, ia menjadi satu tubuh kecil di antara ratusan tubuh lain.
Di loket penumpang, antrean bergerak lambat. Seorang ibu di depannya memeluk balita yang wajahnya merah. Seorang lelaki di belakang terus menelepon, suaranya panik.
"Pokoknya cari kapal apa saja. Di sini sudah penuh. Kalau besok tutup, kita bagaimana?"
Sekar menunduk, memperkecil keberadaannya.
Ketika gilirannya tiba, petugas loket tidak mengangkat wajah lama-lama.
"Tujuan?"
"Pulau Karang."
"KTP."
Sekar menyerahkan kartu identitas.
Petugas mengetik dengan jari cepat. "Penumpang jalan kaki satu?"
"Satu."
"Barang?"
"Tas satu."
Petugas melihat tas punggungnya, lalu mencetak tiket tipis. "Kapal malam. Kalau cuaca buruk, bisa tertunda. Masuk ruang tunggu sebelah kiri. Jangan keluar lagi kalau sudah masuk."
Sekar menerima tiket itu dengan telapak tangan dingin.
Ia berhasil mendapatkan tempat.
Belum aman.
Di ruang tunggu, kursi plastik sudah penuh. Orang duduk di lantai, di atas kardus, bahkan di dekat pintu toilet. Bau keringat bercampur minyak angin dan nasi bungkus yang mulai basi. Seorang bayi menangis tanpa henti. Di sudut lain, dua laki-laki hampir berkelahi karena satu koper dianggap menghalangi jalan.
Sekar memilih tempat dekat tiang, punggung menempel pada beton. Dari sana ia bisa melihat pintu masuk, loket, dan gerbang menuju dermaga.
Ibu dengan balita tadi duduk tidak jauh darinya. Anak itu terus merengek, bibirnya kering. Ibu itu membuka botol minum, tetapi isinya tinggal sedikit.
Sekar memandang sebentar.
Jangan menarik perhatian.
Tetapi suara anak itu mengingatkannya pada Dek Bayu saat demam.
Sekar mengeluarkan satu botol kecil air mineral dari tas. Bukan dari ruang, melainkan dari bekal yang memang terlihat.
"Bu," katanya pelan, "ini. Untuk anaknya."
Perempuan itu menoleh, curiga dan lelah bercampur di wajahnya.
"Tidak apa-apa?"
"Saya masih ada sedikit."
Perempuan itu menerima dengan dua tangan. "Terima kasih, Mbak."
Sekar hanya mengangguk, lalu kembali diam. Ia tidak memberi apa pun lagi. Di tempat seperti ini, satu kebaikan harus tetap kecil agar tidak berubah menjadi pengumuman.
Menjelang malam, pengeras suara berderak.
"Penumpang tujuan Pulau Karang, harap bersiap menuju pintu tiga. Penumpang kendaraan menunggu instruksi berikutnya. Kapasitas kendaraan terbatas."
Ruang tunggu langsung bergerak seperti air tumpah. Orang berdiri, mengangkat tas, memanggil keluarga, mendorong dari belakang. Sekar menyelipkan tiket dan KTP di saku depan jaket, lalu mengikuti arus tanpa membiarkan siapa pun menyentuh tasnya terlalu lama.
Di pintu tiga, seorang lelaki berteriak karena keluarganya boleh masuk tetapi motornya tidak.
"Motor saya di luar! Saya sudah bayar!"
Petugas menjawab dengan suara lelah. "Kendaraan tunggu kapal berikutnya, Pak. Kalau mau ikut sekarang, masuk sebagai penumpang."
"Barang saya di motor!"
Sekar melewati mereka dengan kepala menunduk.
Ia bersyukur motornya tidak lagi ada di dunia luar.
Angin laut menghantam wajahnya begitu ia keluar ke dermaga. Kapal feri tampak besar dan kusam, lampunya bergetar di antara kabut tipis dan sisa hujan. Papan besi menuju kapal licin. Di bawah, air laut gelap memukul tiang dermaga, mengeluarkan suara berat seperti seseorang mengetuk dari dalam.
Sekar menggenggam tali tas punggung.
Di belakangnya, gerbang pelabuhan masih penuh teriakan. Di depannya, kapal menunggu dengan perut terbuka.
Ia naik pelan-pelan.
Satu langkah.
Dua langkah.
Begitu kakinya menyentuh lantai kapal, pengeras suara di dermaga kembali berbunyi.
"Kapal berikutnya belum dapat dipastikan. Penumpang yang sudah masuk diminta tetap di dalam area kapal."
Sekar berdiri di dekat dinding, menatap lampu pelabuhan yang kabur oleh hujan tipis.
Java masih di belakangnya.
Laut ada di bawah kakinya.
Kapal feri mulai bergerak.