Shen Ran adalah definisi dari kesialan. Sebagai Permaisuri dari Kekaisaran Yan, ia memiliki segalanya di atas kertas, namun tidak di dunia nyata. Dikhianati oleh keluarga sendiri, diabaikan oleh Kaisar yang kejam, dan menjadi bahan tertawaan para selir di Istana Belakang. Puncaknya, ia dijebak dan dibiarkan membeku hingga tewas di Istana Dingin yang terpencil.
Namun, takdir memiliki selera humor yang gelap. Saat mata itu terbuka kembali, tubuh rapuh Shen Ran telah diambil alih oleh Clara, seorang pengacara korporat jenius sekaligus ahli strategi perang bisnis dari abad ke-21. Clara tidak tahu apa itu tunduk, dalam kamus hidupnya tidak mengenal kata tunduk dan mengalah.
"Kalian menginginkan boneka yang bisa diinjak? Maaf, kalian salah membangunkan jiwa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Bluetherine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua
Dua kasim itu tidak berani membuang waktu sedetik pun. Aura menindas yang dipancarkan oleh Shen Ran, atau Clara, begitu pekat, hingga atmosfer di dalam Istana Dingin terasa mencekik leher mereka. Tanpa sepatah kata pun, mereka langsung meringkus Qiao’er yang masih menangis kesakitan sambil memegangi jemarinya yang bengkak, lalu menyeretnya keluar dari sana seolah-olah pelayan itu adalah seonggok daging tak berharga.
Suara jeritan dan kutukan Qiao’er perlahan menjauh, menyisakan kesunyian malam yang kembali menyelimuti ruangan bobrok tersebut. Shen Ran mengembuskan napas panjang. Tubuh ini benar-benar sangat lemah, hanya dengan memberikan satu tamparan dan sedikit tekanan psikologis, dadanya sudah naik turun karena kelelahan. Ia berjalan menuju cermin perunggu buram yang terletak di atas meja rias berdebu.
Melalui pantulan yang samar, ia melihat wajah barunya. Wajah itu luar biasa cantik, tipe kecantikan klasik yang lembut dengan mata bulat besar dan bibir ceri. Namun, karena kurang gizi dan siksaan batin, wajah itu tampak pucat pasi seperti mayat hidup.
"Sayang sekali... Wajah secantik ini disia-siakan hanya untuk menangisi pria brengsek," gumam Shen Ran sambil mengusap pipinya yang tirus.
Shen Ran membalikkan tubuh, mengabaikan rasa lapar yang mulai melilit perutnya. Di dunia modern, Clara adalah seorang pengacara yang selalu selangkah lebih maju dari lawannya. Langkah pertamanya di dunia ini jelas bukan memohon ampun pada Kaisar, melainkan mengamankan aset dan mengumpulkan informasi.
Dari memori asli Shen Ran, ia tahu bahwa meskipun ia dibuang ke Istana Dingin, ia masih memiliki sebuah kotak mahar rahasia yang disembunyikan di bawah papan lantai dekat ranjangnya. Kotak itu berisi beberapa perhiasan emas murni pemberian mendiang Ibu Suri sebelum beliau wafat, satu-satunya orang yang tulus menyayangi Shen Ran. Shen Ran berlutut, mengabaikan debu yang mengotori gaunnya, lalu mulai mengetuk-ngetuk papan kayu di bawah ranjang.
Tok. Tok. Dug.
Suara yang berbeda terdengar. Ia tersenyum tipis. Dengan sisa tenaganya, ia mencongkel papan kayu tersebut dan berhasil mengeluarkan sebuah kotak kayu cendana berukir kecil. Saat membukanya, kilau emas dan seuntai kalung giok darah langsung memanjakan matanya.
"Bagus. Modal awal yang cukup untuk menyuap beberapa penjaga," bisik Shen Ran. Di istana mana pun, baik modern maupun kuno, uang adalah hukum tertinggi yang bisa membeli kesetiaan terendah.
Sementara itu, di Istana Istana Barat yang megah dan hangat, aroma dupa gaharu yang mahal menyeruak di setiap sudut ruangan.
Selir Agung Chu, Chu Xinyue, sedang duduk santai di atas kursi santai yang dilapisi bulu rubah putih. Wajahnya yang jelita tampak merona, dipenuhi kepuasan setelah mendengar bahwa Permaisuri telah diasingkan ke tempat paling kumuh di kekaisaran. Namun, ketenangannya hancur berantakan saat pintu kamarnya diketuk dengan tergesa-gesa.
"Masuk," titah Chu Xinyue, suaranya yang lembut kini bernada malas.
Pintu terbuka, memperlihatkan Qiao’er yang bersujud di lantai sambil menangis tersedu-sedu. Rambutnya berantakan, sudut bibirnya robek dan membiru, sementara tangan kanannya dibalut kain yang mulai merembeskan darah.
Chu Xinyue langsung menegakkan tubuhnya, matanya membelalak tak percaya. "Qiao'er? Apa yang terjadi dengan wajahmu?! Bukankah aku menyuruhmu memberi 'pelajaran' pada wanita jalang di Istana Dingin itu?"
"S-Selir Agung... tolong hamba!" ratap Qiao’er sambil membenturkan dahinya ke lantai. "Permaisuri... Permaisuri telah gila! Dia... dia berani memukul hamba!"
"Apa?!" Chu Xinyue berdiri dari kursinya, wajahnya berkerut murka. "Bagaimana mungkin? Shen Ran adalah wanita penakut yang bahkan tidak berani menatap mataku! Bagaimana bisa dia memukulmu?!"
Qiao’er gemetar hebat saat mengingat kembali tatapan mata Shen Ran yang sedingin es. "Hamba bersumpah demi langit, Yang Mulia! Dia bukan lagi Shen Ran yang dulu. Dia tidak takut sama sekali. Dia bahkan... dia bahkan mengatakan bahwa Anda hanyalah seorang pelayan kelas atas yang naik ranjang, dan menyuruh Anda menyiapkan peti mati jika ingin bermain-main dengannya!"
Prang!
Chu Xinyue menyapukan tangannya ke meja di sebelahnya, menghancurkan cangkir teh porselen mahal hingga berkeping-keping di lantai. Napasnya memburu, matanya memancarkan kilat kebencian yang amat sangat.
"Wanita sialan! Sudah di ambang kematian pun masih berani bersikap angkuh!" desis Chu Xinyue tajam. "Dia pikir karena dia memegang gelar Permaisuri, aku tidak bisa menghabisinya?"
Chu Xinyue berbalik menatap kasim pribadinya yang berdiri di sudut ruangan dengan wajah tegang. "Pergi temui Panglima Pengawal Istana. Katakan padanya, potong seluruh pasokan makanan dan arang ke Istana Dingin mulai malam ini. Aku ingin melihat, berapa lama lagi lidah tajam Permaisuri itu bisa bertahan sebelum dia membeku dan mati kelaparan!"
Kembali ke Istana Dingin, Shen Ran sama sekali tidak tahu, dan tidak peduli, dengan kemarahan Chu Xinyue. Ia telah selesai menghitung perhiasannya. Dengan cermat, ia menyembunyikan sebagian besar emas itu kembali ke tempat rahasia, dan hanya menyisakan dua buah gelang emas tebal di dalam lengan bajunya.
Tiba-tiba, terdengar langkah kaki yang sangat pelan dari arah luar jendela yang rusak. Langkah kaki itu tidak seberisik Qiao'er dan dua kasim tadi; ini adalah langkah kaki seseorang yang terlatih.
Shen Ran tidak panik. Ia justru duduk dengan tenang di kursi kayu, menuangkan air dingin dari teko yang tersisa ke dalam cangkir kecil, lalu menyesapnya perlahan.
"Karena Anda sudah datang jauh-jauh, mengapa tidak masuk lewat pintu saja, Tuan?" ucap Shen Ran dengan nada datar, matanya menatap lurus ke arah jendela yang gelap.
Suara gesekan kain terdengar, dan sesosok bayangan hitam tinggi melompat masuk dengan gerakan yang luar biasa ringkas dan tanpa suara. Pria itu mengenakan pakaian malam serba hitam, wajahnya setengah tertutup topeng perak, namun sepasang matanya yang tajam bak elang menatap Shen Ran dengan ketertarikan yang mendalam.
Pria itu adalah musuh bebuyutan Kaisar, sekaligus pangeran pemberontak yang ditakuti seluruh negeri, Pangeran Berkuda Hitam, Kaisar Bayangan.
"Aku tidak menyangka," suara pria itu berat dan serak, terdengar sangat memikat namun berbahaya. "Permaisuri Kekaisaran Yan yang terkenal lemah lembut dan bodoh, ternyata bisa menjinakkan anjing-anjing Istana Barat dengan begitu mudah."
Shen Ran meletakkan cangkirnya, lalu menatap pria misterius itu tanpa rasa takut sedikit pun. Sebuah senyuman penuh kalkulasi terukir di bibir indahnya.
"Di dunia ini, tidak ada wanita yang bodoh, Tuan. Yang ada hanyalah wanita yang terlambat menyadari nilai dirinya. Dan sekarang, setelah saya sadar... saya sedang mencari mitra bisnis yang tepat untuk meruntuhkan kekaisaran ini. Bagaimana? Apakah Anda tertarik?" sahut Shen Ran tenang. Ia menopang dagunya dengan satu tangan.