ADELIA YHOSEP yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan kakanya ADELIN YHOSEP yang seorang model papan atas. Wajah mereka bak pinang dibelah dua tapi nasip mereka berdua sangatlah jauh berbeda bagaikan langit dan bumi, Adelia selalu jadi nomor dua. Semua orang hanya memuji kakaknya, Adelin—padahal Adelin yang jahat dan sering bikin masalah, tapi Adelia yang harus menanggung salahnya. Saat hari pernikahan Adelin dengan Gyantara—pria paling tampan, kaya, dan terkenal sangat mencintai kakaknya—Adelin malah kabur. Agar keluarga tidak malu, Adelia dipaksa menggantikan posisi kakaknya. Dia harus menikah dengan pria yang hatinya milik orang lain. Bisakah dia menyembunyikan kebenaran selamanya? Dan mungkinkah hati Gyantara yang dingin perlahan berubah pada dirinya? ---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
.
Minggu pagi datang tanpa gangguan telepon pekerjaan, tanpa kunjungan mendadak, dan tanpa bayang-bayang ancaman yang menyelimuti hari-hari sebelumnya. Udara di luar terasa segar, matahari bersinar lembut menyinari halaman rumah yang hijau, dan untuk pertama kalinya sejak menyamar menjadi kakaknya, Adelia bangun dengan perasaan ringan seolah beban di pundaknya telah diangkat sementara waktu.
Saat ia melangkah ke dapur, ia tertegun melihat Gyantara sedang berdiri di depan kompor dengan celemek bermotif bunga yang agak kekecilan. Wajahnya yang biasanya tegas kini tampak bingung melihat panci berisi adonan tepung. Rama yang berdiri di pintu dapur hanya bisa menahan tawa melihat tuannya yang tampak kaku.
"Mas Gyantara?" panggil Adelia pelan, membuat pria itu menoleh kaget.
"Ah, kamu sudah bangun!" seru Gyantara sambil tersenyum malu. "Aku mencoba membuat panekuk. Dulu kamu pernah bilang ingin sarapan panekuk buatan sendiri, kan? Tapi sepertinya aku salah takaran susu."
Adelia tertawa renyah, suara yang jarang terdengar begitu lepas di rumah ini. Ia berjalan mendekat, lalu mengambil alih sendok dari tangan Gyantara. "Biar aku saja ya. Kamu pegang wajan pelan-pelan saja. Nanti kita buat bersama."
Momen itu terasa begitu sederhana namun membuat hati bergetar bahagia. Gyantara yang biasanya memimpin ribuan karyawan dan mengambil keputusan bernilai miliaran rupiah, kini dengan patuh mengikuti instruksi Adelia: memanaskan wajan, mengoles sedikit mentega, dan menuangkan adonan dengan hati-hati. Sesekali adonan tumpah ke pinggir, atau panekuknya terbalik dengan bentuk aneh, dan mereka berdua akan tertawa bersamaan. Rama yang melihat dari jauh pun ikut tersenyum, perlahan mundur keluar membiarkan mereka menikmati waktu berdua.
Sarapan sederhana itu terasa paling nikmat yang pernah mereka makan. Mereka menyantap panekuk yang bentuknya tidak beraturan dengan selai stroberi dan madu, sambil saling bercerita tentang hal-hal konyol yang pernah terjadi di masa kecil. Tidak ada pembicaraan soal uang, soal proyek, atau soal rahasia yang berat. Hanya ada tawa dan kebersamaan yang hangat.
Setelah beres-beres dapur, Gyantara mengajak Adelia ke gudang belakang yang sudah lama tidak terpakai. "Aku melihatmu sering menatap sudut halaman kosong itu," katanya sambil membuka pintu gudang berdebu. "Aku ingin kita buat taman kecil tempatmu bisa menggambar atau menanam bunga yang kamu suka. Bagaimana?"
Mata Adelia berbinar cerah. "Benarkah? Aku boleh melakukannya?"
"Tentu saja. Ini rumahmu juga," jawab Gyantara lembut.
Seharian itu mereka habiskan bersama di halaman belakang. Mereka memakai pakaian santai, memakai sarung tangan kotor, dan mulai mencangkul tanah, menanam bibit bunga matahari, melati, dan beberapa tanaman hias yang Adelia sukai. Keringat menetes di dahi mereka, baju mereka terkena noda tanah, tapi wajah mereka tidak pernah lepas dari senyum bahagia.
"Kamu tahu?" kata Adelia saat sedang menanam bibit terakhir. "Dulu aku sering bermimpi punya sepetak tanah kecil di mana aku bisa menanam apa saja tanpa takut dimarahi atau dibilang buang-buang waktu. Rasanya seperti punya tempat sendiri untuk berharap."
Gyantara berhenti bekerja sejenak, menatap wajah istrinya yang ceria. Ia menyeka keringat di pelipis gadis itu dengan punggung tangannya. "Semua mimpimu perlahan akan menjadi kenyataan, Sayang. Aku akan pastikan itu."
Siang berganti sore, dan mereka beristirahat di bawah pohon rindang dengan segelas jus buah segar. Adelia menyandarkan kepalanya di bahu Gyantara, memejamkan mata menikmati hembusan angin sepoi-sepoi. Rasanya damai sekali—begitu damai hingga ia lupa bahwa ia sedang menyembunyikan identitasnya. Untuk hari ini, ia merasa cukup, merasa dicintai, merasa berharga.
Sore itu Sofia Morens berkunjung sebentar membawa camilan. Melihat mereka berdua yang tampak bahagia dan saling menyayangi, Sofia tersenyum lebar hingga matanya menyipit. Ia langsung memeluk Adelia erat. "Terima kasih ya, Adelin. Kamu berhasil membuat anakku yang kaku ini kembali ceria. Sudah lama aku tidak melihat Gyantara tertawa sebanyak ini."
Mendengar panggilan 'Adelin' itu, hati Adelia sedikit tersentak kembali ke kenyataan. Namun melihat tatapan tulus Sofia dan senyum bahagia Gyantara, ia memilih untuk menikmati momen itu sebentar lagi. Ia membalas pelukan ibu mertuanya dengan hangat. "Terima kasih juga, Bu. Kalian sudah membuatku merasa seperti keluarga sungguhan."
Malam harinya, setelah Sofia pulang dan taman kecil mereka sudah rapi, Gyantara mengajak Adelia duduk di beranda lantai atas. Ia membawa gitar akustik tua yang ternyata disimpannya sejak kuliah. "Dulu aku sering bermain gitar untuk menghilangkan stres," katanya sambil menyetel senar. "Kamu mau dengar lagu?"
Tanpa menunggu jawaban, ia mulai memetik senar dengan lembut dan bernyanyi pelan sebuah lagu tentang rumah dan tempat pulang. Suaranya tidak sempurna, tapi penuh perasaan dan tulus. Adelia terpaku mendengarkan, matanya berkaca-kaca terharu. Tidak pernah ada orang yang melakukan hal sesederhana dan seindah ini untuknya.
Saat lagu selesai, Adelia bertepuk tangan pelan. "Kamu menyanyi dengan sangat indah, Mas."
"Hanya untukmu," jawab Gyantara sambil tersenyum. Ia meraih tangan Adelia, menggenggamnya erat. "Kamu tahu apa yang aku pelajari hari ini? Bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal-hal besar atau mahal. Kebahagiaan ada di momen sederhana seperti ini: membuat panekuk yang gagal, menanam bunga bersama, atau sekadar duduk diam mendengarkan suara napas satu sama lain."
Adelia mengangguk setuju. "Iya... aku baru tahu rasanya pulang itu seperti apa hari ini."
Malam itu mereka tidur dengan hati yang penuh dan tenang. Tidak ada mimpi buruk, tidak ada rasa takut. Momen sederhana ini menjadi kenangan paling berharga bagi Adelia—sebuah kenangan yang akan ia simpan rapat di dalam hatinya, sebagai bukti bahwa pernah ada waktu di mana ia benar-benar bahagia, meski hanya untuk sesaat.
Dan bagi Gyantara, hari ini menguatkan tekadnya: apa pun rahasia yang disembunyikan istrinya, apa pun masa lalu yang menyakitinya, ia akan berjuang untuknya. Karena kebahagiaan yang mereka rasakan hari ini terlalu nyata, terlalu indah, untuk dibiarkan hilang begitu saja.