Rosetta Luwig di hidupkan kembali setelah mengalami sebuah kecelakaan dimana ia sedang mengandung anak kakak tirinya. Dia mencintai Jhonatan Maxiliam, namun ternyata pria itu justru mencintai adiknya. Dengan berbagai cara dia menjebak Jhonatan hingga mengandung anaknya, namun sayang ternyata anaknya tidak di akui bahkan keluarganya membencinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan
Tok
tok
tok
Lili mengetuk pintu di depannya. Dia membawa sebuah nampan. "Albert ini aku Lili."
Albert yang sedang belajar, ia membuka pintu dengan paksa. "Iya apa?!" tanya Albert dengan nada ketus.
"Kakak membawakan jus untuk mu, ini minumlah."
Albert mengambil jus di depannya. Ia curiga pada wanita di depannya. "Kenapa kau masih di sini?"
"Aku ingin melihat mu menghabiskan minuman ini," ucap Lili.
Albert semakin curiga, bagaimana kalau jus di depannya ada sesuatu. "Aku akan meminumnya nanti, aku masih mengerjakan tugas kuliah ku."
Brak
Lili sontak terkejut, ia mengepalkan kedua tangannya. "Lihat saja nanti, aku akan membuat mu menangis dan memohon-mohon pada ku."
Albert menatap jus di depannya. Ia membuka pintu kamarnya dan melihat seorang maid yang sedang ke lantai atas. “Apa kau melihat kak Lili?”
“Saya melihat nona Lili ke kamarnya tuan.”
“Buatkan aku jus jeruk, kamu antarkan ke kamar ku.”
“Baik tuan.”
Albert menunggu dengan setia di depan kamarnya, selang beberapa saat ia melihat maid yang ia suruh tadi membuat sebuah jus jeruk. “Terima kasih.”
Albert meneguk jus jeruk itu hingga tandas, kemudian ia membawa jus jeruk tadi dan menuju ke kamar Lili. “Kakak.”
Ceklek
“Iya Albert?” Tanya Lili.
“Aku sudah meminum jusnya, tapi aku membuatkan jus untuk kakak, maid tadi yang mengantarkan pada ku.”
Lili menatap gelas yang ia lihat tadi, memang ia menghiasi gelas itu dengan jeruk di samping gelasnya. “Terima kasih.” Lili langsung meneguk jus jeruk tersebut.
“Albert kau mau kemana?” Lili menahan lengan Albert. “Temani aku di sini, aku ingin berbicara sesuatu pada mu.”
Albert mengangguk, ia akan mengikuti alurnya dan membuatnya sad ending. Ia pun duduk sambil mengedarkan pandangannya. Ada beberapa foto Lili dan Maxiliam.
Namun ia tak melihat foto Lili dan kakaknya. “Sepertinya memang benar, kakak tidak di anggap saudara.”
“Kak Lili mau berbicara apa?” Tanya Albert. Dia tidak ada waktu meladeni Lili.
Lili duduk di samping Albert. “Albert sebenarnya kakak ingin dekat dengan kak Rosetta, tapi Kakak tidak tau bagaimana melakukannya.”
Kenapa tidak bereaksi batin Lili
Albert mengangguk, ia masih menunggu ucapan Lili selanjutnya.
“Kenapa aku merasa tak nyaman?” Lili bergumam. Ia merasa pusing dan tubuhnya terasa panas.
Ia menatap Albert dengan tatapan menggoda. Albert terlihat tampan, kedua matanya melihat ke bawah. Rasanya ia ingin membukannya dan memainkannya.
"Kak." Albert memegang bahu Lili.
Lili menatap tangan Albert dan menggenggam tangannya. Dia beranjak dan berhadapan di depan Albert. Ia pun mendorong Albert.
"Kak apa yang mau kau lakukan?" tanya Albert. Ia memundurkan tubuhnya. Wanita di depannya bagaikan singa buas yang gelap akan nafsu. Ia pun menuruni ranjangnya. "Kak aku pergi dulu."
"Tunggu Albert!"
"Lepaskan aku Kak!" Dia akan berpura-pura tak berdaya.
Lili tak sadar, ia hanya melihat sosok Maxiliam di sepannya. "Sayang kau tidak akan bisa kemana-mana." Lili mengambil sebuah dasi dan mengikat kedua tangan Albert.
"Tolong!" teriak Albert. "Hentikan Kak! Ini aku Albert, adik mu."
"Tolong!" teriak Albert.
Sialan! Kenapa tidak ada yang kesini? Geram Albert. Seandainya saja ia tak berpura-pura, mana mau ia seperti ini.
"Tolong!" teriaknya sekali lagi.
Lili sudah mendekat, dia hendak mencium Albert. Sedangkan di dalam hati Albert, ia merasa jijik jika memang tak ada yang menolongnya, terpaksa ia harus melakukan kekerasan dari pada ia di nodai.
Brak
"Lili!" teriak daddy Agam. Dia langsung menarik Lili menjauh dan menghempaskan tubuhnya ke lantai. Seorang maid menganga denga lebar melihat kelakuan Lili.
"Daddy."
Nyonya Diane menganga dengan lebar. Ia melihat pakaian Lili setengahnya terbuka kamudian ia melihat Albert yang berada di atas ranjang dengan ikatan di kedua tangannya dan suaminyalah yang membukannya.
"Apa yang terjadi?"
"Mommy, kak Lili dia tidak sadar siapa aku. Dia ingin melakukan tak senonoh pada ku."
Lili menggelengkan kepalanya. Rupanya obat untuk di jadikan mejebak Albert berdosis tinggi. "Sayang kau mau kemana? Mommy, Daddy kenapa di sini kalian mengganggu saja."
Plak
Nyonya Diane langsung menampar Lili hingga tubuh wanita itu jatuh ke lantai. Lili merasakan panas dan sakit di pipinya. Ia memegang pipinya yang terasa terbakar.
"Lili apa kau tidak sadar apa yang kau lakukan? Dia adik mu!" teriak nyonya Diane.
Lili menoleh ke arah ranjang dan melihat Albert yang turun dari ranjangnya. "Mommy dia ingin melecehkan ku, Albert melakukannya."
"Cukup! Justru kau yang ingin melakukan tak senonoh pada Albert. Untung saja dia berteriak."
Lili menatap tajam ke arah Albert. Seharusnya Albert yang di tampar bukan dirinya. "Tidak Mom, Albert menjebak ku."
"Bohong! Kakak yang membawa ku kesini. Kakak bilang ingin berbicara dengan ku."
"Apa?" Lili menggelengkan kepalanya, ia teringat sebuah jus. "Mommy percayalah pada ku, Albert memberikan jus pada ku."
Albert menggelengkan kepalanya. "Bohong Mommy, aku memberikan jus pada kak Lili karena dia memberika ku Jus, aku menyurh maid tadi. Coba Mommy dan Daddy tanyakan pada maid itu." Tunjuk Albert. Kebetulan maid itu berada di depan pintu.
"Benar Nyonya, Tuan, saya yang membuatkan jus jeruk tersebut."
"Tidak Mom, Dad percaya pada ku. Aku tidak pernah berbohong pada kalian. Kalau memang aku tidak di jebak kenapa tidak menghentikan ku."
"Memangnya kau pikir aku harus berbuat kekerasan pada mu, hah!" Albert menatap kedua orang tuanya. Ia harus meyakinkan kedua orang tuanya. "Kalau Mommy tidak percaya, Mommy harus memeriksa kamar ku dan kamar ini juga, mungkin ada sesuatu yang bisa di jadikan bukti siapa yang bersalah."
Lili terkejut, ia menggelengkan kepalanya. Ia teringat bahwa obat itu berada di lacinya dan belum sempat ia membuangnya.
"Tidak Mom, Dad kalian harus percaya pada ku."
Daddy Agam menyuruh maid itu menggeledah kamar Lili tentu saja dengan di awasi oleh mereka. "Kau geledah kamar ini."
Nyonya Diane ikut menggeledah dan maid tadi memperlihatkan sesuatu.
"Nyonya tuan, saya menemukan sesuatu."
Nyonya Diane bergegas ke arahnya dan mengambil sebuh botol cairan. "Apa ini Lili? Kau masih mau mengelaknya."
Lili menggelengkan kepalanya. Kedua matanya berkaca-kaca. "Tidak Mommy, aku di jebak pasti dia yang menaruhnya."
"Kakak, bisa-bisanya Kakak menuduh ku. Apa kakak belum puas menuduh kak Rose? Jadi Kakak sekarang menuduh ku?"
Lili bersimpuh di kedua kaki nyonya Diane. Ia tidak ingin kehilangan kasih sayang mereka. "Aku putri mu Mommy. Dada ku terasa sakit."
"Kau! Kemasi barang-barang Lili dan jangan pernah biarkan dia menginjak lagi rumah ini, ternyata selama ini aku di tipu oleh wajah palsunya."