Laki-laki muda yang menikah karena perjodohan dengan wanita yang tak ia kenali dan wanita yang sedang sakit akibat kecelakaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yushang-manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
Khaulah tengah duduk bersama dengan para santriwati. Mereka duduk melingkar mendengar cerita Sirah Nabawiyah yang dibawakan oleh khaulah. Senyuman bahagia senantiasa terpatri dibibir mereka. Rindu telah melebur tergantikan dengan rasa bahagia. Ya, selama ini para santriwati begitu merindukan khaulah. Tapi sekarang rindu mereka telah hilang.
"Waallhu'alam, hanya Allah yang tahu segala sesuatu. Sampai sini ada yang mau ditanyakan?"
Khaulah mengakhiri cerita nya dengan mengajukan pertanyaan. Karena sering kali beberapa di antara mereka mengajukan pertanyaan.
"Ning, saya mau tanya." Nisa mengangkat tangannya. Khaulah mengangguk mempersilahkan Nisa mengajukan pertanyaan nya. "Kenapa yah ning kita dilahirkan saat akhir zaman? Kenapa kita tidak dilahirkan saat masa nabi Muhammad Saw. Saja?"
"Alasan Nisa bisa berfikir demikian kenapa?"
"Karena Nisa iri sama para sahabat Nabi, juga para perempuan yang hidup di zaman Nabi, mereka bisa dekat dengan Nabi Muhammad, kenal dengan beliau, tahu wajah tampannya, tahu suara merdu nya, diimamin sholat sama beliau, di dakwah i oleh beliau juga. Jadi, Nisa berfikir kalau alangkah indahnya jika bisa hidup di zaman itu."
"Maa syaa Allah, jadi, itu alasan Nisa memilih pertanyaan ini?" Nisa mengangguk semangat. "Temen-temen dengar, memang indah jika kita bisa hidup di zaman yang sama dengan Nabi Muhammad. Tapi temen-temen tahu tidak?" Khaulah menjeda ucapannya dengan melempar pertanyaan. Hal itu disambut gelengan bersamaan dengan seruan mereka "Tidak" menjawab pertanyaan khaulah.
"Yang lebih indah adalah saat ini, umat Nabi Muhammad di akhir zaman ini. Karena apa coba ada yang tahu alasannya?" Khaulah kembali bertanya. Namun seperti pertanyaan pertama tidak ada yang tahu jawabannya. "Karena kita dirindukan oleh Nabi Muhammad Saw. Sejak Nabi Muhammad Saw. Masih hidup, hingga akhir hayatnya. Hal itu membuat beliau sedih, begitupun dengan para sahabatnya."
"Bahagia gak sih dirindukan sama Nabiullah? Kalau saya sih bahagia yah.."
"KITA JUGA BAHAGIA NING."
"Alhamdulillah, kita harus tetap bersyukur atas takdir yang sudah Allah tetapkan. Walaupun tidak hidup di zamannya, tapi kita bisa mengetahui ciri-ciri Nabi kita Nabi Muhammad Saw."
"Kalau kita tidak bertemu di dunia, maka berusahalah untuk bisa bertemu kelak di Yaumil akhir, dan berkumpul di surganya Allah SWT. Kalau kumpulnya di surga kan jauh lebih indah daripada di dunia yah kan? Enak nanti bisa menikmati wangi surga, buah surga, bersenda gurau dengan Nabi Muhammad, dengan Nabi-nabi yang lain. Jauh lebih indah Iyah tidak?"
Mereka mengangguk, senantiasa mendengarkan setiap kata yang diucapkan khaulah.
"Baiklah, karena sudah sore, saya akhiri pertemuan ini. Insyaallah kita ketemu lagi di waktu yang terbaik menurut Allah. Nisa, Syukron sudah bertanya. Pertanyaan nya bagus sekali."
Nisa tersenyum malu. "Ning bisa aja, Syukron Ning penjelasannya."
"Sama-sama, oke, saya tutup, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
Saat perjalanan pulang khaulah bertemu Eva yang memang sedang mencari dirinya. Eva berlari kecil menghampiri dirinya.
"Eva, jangan lari-lari." Tegur khaulah. Saat Eva sudah mulai dekat.
"Afwan Ning." Napas Eva tidak beraturan akibat berlari kecil tadi.
"Atur napas dulu, baru ngomong."
Setelah napas teratur Eva berkata. "Ning Salma ditunggu Abi dan umi di ndalem, ada tamu juga."
"Oh, na'am, Syukron Eva."
"Sama-sama Ning."
Khaulah melanjutkan langkahnya dengan Eva di sampingnya. Selama perjalanan Eva banyak memberikan informasi, terkait siapa yang datang berkunjung ke rumahnya. Hingga tanpa disadari kini mereka telah sampai di ndalem.
"Ya ampun Ning, saking asiknya ngobrol kita udah sampai aja, heheh."
"Iyayah cepet banget, makasih yah sudah menemani saya..., senang sekali. Lain kali kita ngobrol lagi, oke?"
"Siap Ning, kalau gitu Eva ke belakang dulu Ning, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam." Setelah melihat kepergian Eva. Kemudian khaulah mengetuk pintu rumahnya yang tertutup. Di depan rumahnya sudah ada dua mobil yang terparkir. Membuat khaulah menghela napas pelan. Pintu terbuka menampilkan fatemah.
"Assalamu'alaikum umi." Diciumnya tangan fatemah.
"Wa'alaikumussalam nak. Yuk masuk." Khaulah menahan tangan fatemah.
"Ada tamu yah umi? Boleh tidak aku lewat belakang saja?"
"Iyah, ada keluarga kyai Ahmed. Kenapa harus lewat dari belakang hm? Dari sini saja yahh.., ayok." Ajaknya dengan menarik pelan tangan khaulah.
Mereka yang tengah menunggu seketika menoleh bersamaan saat yang ditunggu telah datang. Ditatap oleh banyak orang membuat khaulah canggung.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi."
"Salma, sini nak." Pinta Alie. Menepuk tempat duduk disampingnya. Khaulah hanya diam di tempat menatap fatemah seolah berkata.
"Umi, umi duluan yang duduk." Dengan isyarat matanya.
Begitupun dengan fatemah yang memutar matanya. "Ayo, tinggal duduk aja."
Khaulah menggeleng samar. "Umi duluan..."
Dan pada akhirnya fatemah mengalah, karena merasa tidak nyaman diperhatikan oleh tamunya. Fatemah duduk disamping Alie, sedangkan khaulah duduk disampingnya.
Yasmine hanya diam tak ikut bersuara sejak kedatangan khaulah. Hal itupun disadari oleh khaulah saat melihat kehadiran Yasmine dihadapannya sekarang. Pandangannya kosong, namun saat ia sadar jika sedang ditatap oleh khaulah dengan cepat ia mengalihkan pandangannya.
"Baiklah, karena semuanya sudah berkumpul. Maka acara ini bisa kita mulai, silahkan Ahmed." Alie mempersilahkan Ahmed menyampaikan maksud kedatangannya.
"Sebelumnya saya sebagai kepala keluarga dari pihak Al, saya ucapkan terimakasih kepada keluarga Alie yang sudah menyambut hangat kami dan menerima kedatangan kami yang mendadak ini." Ahmed menjeda ucapannya. "Maksud dan tujuan kami datang kemari akan disampaikan oleh anak saya Al barra'. Silahkan nak."
"Bismillahirrahmanirrahim, hari ini saya yang meminta Uma dan Aba saya untuk mengantarkan saya ke rumah paman dengan maksud dan tujuan yang jelas." sebelum kembali bicara Fatih menghela napas lebih dulu. "Tujuan saya membawa keluarga saya datang ke sini karena saya ingin mengutarakan maksud saya yakni. Bismillah, saya Al barra' Fatih Ahmed Zainuddin berniat untuk mengkhitbah Ummu Salma Hayek Khaulah Alie Zafeer. Untuk menjadi istri saya, teman hidup dan mati saya kelak in syaa Allah hingga di surganya."
"Di luar perjodohan ini, saya sadar tentang satu hal, yaitu.. Saya sendiri telah mencintaimu lebih dulu sebelum perjodohan ini ada ya khaulah. Apakah kamu mau menjadi teman hidup saya?"
Hati mereka bergetar mendengar khitbah dari Fatih. Khaulah meremas abayanya menghantarkan rasa gugupnya. Telinganya berdenging, pikirannya masih mencerna setiap ucapan yang diucapkan oleh Fatih bersamaan dengan perkataan laki-laki yang ia dengar kemarin berputar begitu saja dalam pikirannya.