Rio Mahadipa adalah Korban bully di sekolahnya semasa dia Berada di sekolah menengah, tetapi saat dia tidur dirinya mendapati ada yang aneh dengan tubuh nya berupa sebuah berkat lalu dia berusaha membalas dendam nya kepada orang yang membully nya sejak kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xdit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Dan Batasan
Saat bel masuk berbunyi, Rio dan Rivaldo akhirnya masuk ke kelas. Suasana kelas langsung berubah lebih tegang dari biasanya. Meja dan kursi tersusun rapi, tas-tas sudah diletakkan, dan beberapa murid terlihat membuka alat tulis dengan wajah malas.
Rio duduk di bangkunya seperti biasa, tepat di depan Rivaldo. Ia masih menguap kecil, jelas belum sepenuhnya siap menghadapi hari ini.
Tak lama kemudian, pintu kelas terbuka. Seorang guru perempuan masuk dengan langkah tenang. Rambutnya rapi, ekspresinya datar, dan sorot matanya tajam. Rio langsung melirik ke depan papan tulis dan mengernyit.
"Hah kenapa gurunya perempuan?, bukankah wali kelas ku laki-laki?."
Guru itu berdiri di depan kelas dan meletakkan map di atas meja. Suaranya terdengar jelas dan tegas.
"perkenalkan para murid sekalian..,aku adalah Saki ,guru pengawas kalian dalam ujian."
Rio langsung sedikit mengangguk, matanya terpejam dan tenang.
"ohh sepertinya menggantikan pak Dani."
Namun wajahnya mendadak berubah. Ia berhenti sejenak, lalu matanya membesar.
"Huh!! pengawas ujian?!!... Sejak kapan? aku tidak menyadarinya, ternyata ujian telah di mulai?.."
Rio mulai banyak bergerak di kursinya, tangannya mengacak rambut, dan mukanya panik. Rivaldo yang duduk tepat di belakangnya memperhatikan tingkah itu dengan heran. Rio menoleh ke belakang dengan wajah aneh, suaranya diturunkan.
"Hey sekarang benar-benar..u-ujian?.."
Rivaldo menatap wajah Rio yang setengah panik dan bodoh itu, lalu menahan tawa.
"pfft ,ha ha." katanya pelan."Kan Sudah ku bilang kemarin.."
Rio langsung cemberut dan menoleh ke depan lagi.
"Aku tidak tahu jika itu di lakukan hari ini,...sialan!."
Tiba-tiba suara Bu Saki meninggi, memotong suasana kelas.
"SIAPA YANG BERBISIK??!!."
Beberapa murid langsung tegang dan menunduk, kelas mendadak sunyi. Bu Saki mengedarkan pandangan tajam ke seluruh ruangan, tapi tak ada yang berani bersuara. Rio langsung membeku di kursinya.
Mata Rio berubah kosong, bahunya jatuh pasrah.
"Yasudah lah ,biar nilai yang berbicara."
Ia menarik napas panjang, mengambil pulpen, dan menatap kertas Dengan pasrah.
Ujian berlangsung panjang dan melelahkan, dari pukul 07:00 pagi hingga 15:00 sore. Kepala Rio terasa berat, matanya lelah menatap lembar soal yang rasanya tidak ada habisnya.
Saat bel akhir berbunyi, masih tersisa dua jam sebelum waktu pulang resmi, tapi Rio tidak berniat kembali ke kelas atau berkeliaran tanpa arah. Dengan langkah pelan dan bahu sedikit jatuh, ia langsung menuju ruang klub.
Pintu ruang klub terbuka dengan bunyi pelan. Rio masuk dengan wajah lesu, rambut sedikit berantakan, jelas belum pulih sepenuhnya dari hari-hari sebelumnya.
Di dalam, Kris, Arya, Riko, Liam, dan Eliza sudah duduk di tempat biasa mereka. Meja lonjong itu masih menyisakan tiga bangku kosong. Rio melirik sekeliling, lalu bergumam pelan,
"Wah sepertinya bukan aku saja yang kepusingan Dengan ujiannya.."
Kris langsung menoleh ke arahnya.
"Hah kau sudah datang?."
Riko menyusul dengan nada sedikit kaget. "Rio, sudah datang?. Kemarin kemana saja kau?."
Arya tersenyum kecil, menatap Rio lebih lama.
"Kau sudah lebih baik?."
Liam menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menambahkan, "Ya ,asal kau tau ,saat itu kau seperti hantu yang hidup."
Eliza langsung bereaksi, wajahnya sedikit ketakutan. "Haah menakutkan. Jangan membuat wajah yang aneh!."
Rio menunduk sebentar, merasa canggung menghadapi perhatian itu. Ia mengusap tengkuknya pelan sebelum menjawab, "Ya aku sudah Lebih baik.., terimakasih untuk kalian semua.."
Kris pun berdiri dari kursinya, mendekat sedikit, lalu tersenyum lebar memperlihatkan giginya. "Yang penting kau sudah lebih baik dari kemarin.."
Saat suasana mulai tenang, pandangan Rio tanpa sadar tertuju pada Riko. Seketika, King’s Sense miliknya bereaksi. Penglihatannya berubah samar, dan tubuh Riko terlihat berbeda.
Di seluruh badan Riko, seperti ada lapisan warna merah tipis yang menyelimuti, tidak stabil, tapi jelas terasa asing. Rio mengernyit, lalu langsung bertanya, "Hey Riko ,apa tubuhmu terasa aneh?."
Riko terkejut, matanya melebar. "Kau bisa tahu?, memang ada yang aneh dengan tubuhku sejak saat itu..."
Ucapan itu menggantung di udara. Rio terdiam, tatapannya tetap tertuju pada Riko.
Siang itu ruang klub terasa lebih tenang dari biasanya. Sisa rasa lelah setelah ujian masih terasa, membuat suasana jadi agak malas. Cahaya matahari masuk dari jendela dan jatuh tepat di meja lonjong tempat mereka biasa berkumpul.
Tidak ada yang berbicara duluan, sampai akhirnya Rio memecah keheningan.
Rio menoleh ke arah Riko dengan wajah serius, tapi tidak terlihat menekan. "Hmm jadi kau sudah melewati batasan ya?,Riko?."
Ucapannya terdengar sederhana, tapi cukup membuat yang lain langsung memperhatikan.
Riko tampak bingung, refleks menggaruk kepalanya. "Batasan?."
Ia jelas tidak mengerti maksud Rio, dan wajahnya menunjukkan itu tanpa ditutup-tutupi. Rio berjalan ke kursinya lalu duduk santai, seolah ingin membuat suasana tetap ringan.
Ia menatap mereka satu per satu sebelum berbicara lagi. "Duduklah kalian,aku sepertinya punya sedikit informasi tentang batasan, seperti Riko.."
Nada suaranya tenang, tidak dibuat-buat. Mereka pun ikut duduk. Suara kursi yang digeser terdengar jelas di ruangan yang sepi.
Kris langsung tersenyum dan sedikit condong ke depan. "Sepertinya ini hal yang menarik.."
Raut wajahnya menunjukkan rasa penasaran yang jelas..Riko menunduk sebentar, mengingat kembali kejadian saat tubuhnya terasa aneh setelah bertarung.
Arya memperhatikan dengan serius, sementara Liam dan Eliza memilih diam dan mendengarkan. Mereka semua sadar, pembicaraan ini ada hubungannya dengan hal-hal aneh yang terjadi belakangan.
Rio menarik napas pelan. Ia sendiri belum sepenuhnya yakin dengan apa yang akan ia katakan.
Wajah Rio berubah serius, bukan ekspresi bercanda seperti biasanya. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, pandangannya menurun ke meja seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat.
Suasana ruang klub yang tadinya santai perlahan terasa lebih tenang, bahkan sedikit tegang. Tidak ada yang memotong pembicaraan, semua menunggu apa yang akan ia katakan. Rio lalu mengangkat kepalanya, matanya terlihat fokus.
"Jadi aku masih belum tau ingin menyebut kondisi ini sebagai apa.."
Arya yang duduk di samping sedikit memiringkan kepalanya. Ekspresinya jelas menunjukkan kebingungan, bukan karena tidak mendengar, tapi karena mencoba memahami maksud Rio.
Tangannya menyentuh dagunya, tanda ia sedang berpikir. Ia menatap Rio tanpa berkedip, berharap penjelasan lanjutan.
"Jadi?,apa maksudnya?."
Rio menghela napas panjang,mencari cara paling sederhana untuk menjelaskan. Ia tidak ingin terdengar sok tahu, karena dirinya sendiri belum sepenuhnya yakin. Tangannya bergerak pelan saat ia mulai berbicara, menyesuaikan dengan alur pikirannya.
"Perubahan pada tubuh muncul saat seseorang benar-benar hampir kalah tetapi memiliki rasa atau tekad yang kuat untuk menang , mungkin seperti itu..,dan Setiap orang memiliki kemapuan yang berbeda-beda.."
Kris menyilangkan lengannya, wajahnya tampak serius. Ia memperhatikan setiap kata Rio, lalu menoleh sedikit sambil berpikir. Nada suaranya terdengar lebih hati-hati dari biasanya.
"Jadi,.. kau pun masih belum yakin?."
Rio langsung menggeleng pelan.
"Aku juga tidak tahu,aku hanya melihat sesuai yang terjadi..."
Kris mengangguk kecil.
"Jadi seperti itu."
Namun rasa penasaran Kris jelas belum hilang. "Contohnya seperti apa?."
Rio mengalihkan pandangannya ke arah Riko. Suasana langsung berubah, karena semua mata ikut tertuju ke sana. Rio mengangkat tangannya dan menunjuk Riko tanpa ragu.
"Seperti Rivaldo dan Riko.."
Riko langsung terkejut, matanya melebar.
"Hah jadi Rivaldo juga mengalaminya?.."
Rio mengangguk sambil membuka kedua tangannya sedikit, nadanya tetap tenang.
"Tentu saja ,kan aku yang melawan nya.."
Lalu Rio menatap Riko lebih serius.
"Apa bisa kau contohkan?, lakukan seperti yang kau rasakan saat itu.."
Riko menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi ragu. Ia melirik ke sekitar, memastikan semua benar-benar menatapnya.
"Aku? ,di sini?."
Kris langsung menegakkan badan, alisnya menajam. "Tentu saja!. memangnya mau di mana lagi?.."
Riko tertawa kecil, mencoba menutupi kegugupannya.
"He he ,akan ku lakukan..."
Riko berdiri tegak di tengah ruangan. Ia memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Pikirannya kembali ke pertarungan sebelumnya, rasa terdesak, rasa takut kalah, dan dorongan kuat untuk menang. Beberapa detik berlalu tanpa perubahan.
"Tidak terjadi apapun?." kata Kris.
Namun tak lama kemudian, tubuh Riko mulai terasa panas. Ia mengangkat tangannya setinggi dada dan membuka mata. Asap tipis perlahan muncul dari tubuhnya.
"Apa ini?, terakhir kali tidak seperti ini..."
Arya langsung berdiri setengah dari kursinya, wajahnya jelas terkejut.
"Ini benar benar terjadi?, memangnya ada hal seperti itu di dunia?."
Kris, Liam, dan Eliza hanya bisa menatap Riko tanpa berkata apa-apa.
"Bagaimana cara mu melakukannya?,Itu ternyata benar." kata Kris, suaranya penuh rasa penasaran.
Riko tersenyum lebar, semangatnya terlihat jelas. Tubuhnya terasa ringan, seolah siap bergerak kapan saja.
"Tubuhku menjadi ringan,dan rasa ingin bergerak pun memenuhi pikiran ku. Bagaimana ini?Rio?."
Rio menatap ke atas, menutup matanya sejenak, lalu membuka kembali. Nadanya berubah lebih tegas.
"Riko , cobalah untuk santai, Atur nafas mu dan rileks!."
Riko mengikuti instruksi itu. Napasnya diperlambat, bahunya mulai turun. Asap tipis di tubuhnya perlahan menghilang. Namun begitu efeknya hilang, tubuhnya langsung terasa lemas dan ia membungkuk.
"Apa ini ?, rasanya seperti tenaga ku menghilang seketika..."
"Jadi ada bayaran di balik kondisi tersebut ya?." tanya Liam.
"Mungkin saja." jawab Arya dan Kris bersamaan.
Kris lalu menoleh ke Rio dan tersenyum lebar, ekspresinya seperti anak kecil yang menemukan mainan baru.
"Hey Rio ,kau bisa mengajarkan ku,bukan?."
Rio menyipitkan matanya tanpa ragu.
"Jangan senyum seperti itu ke arah ku,itu menjijikan."