NovelToon NovelToon
Karma Datang Dalam Wujudmu

Karma Datang Dalam Wujudmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta pada Pandangan Pertama / Teman lama bertemu kembali / Office Romance
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: diamora_

Cayra Astagina, sudah terlalu sering patah hati. Setiap hubungan yang ia jalani selalu berakhir dengan diselingkuhi.
Saat ia hampir menyerah pada cinta, seorang peramal mengatakan bahwa Cayra sedang menerima karma dari masa lalunya karena pernah meninggalkan seorang cowok kutu buku saat SMA tanpa penjelasan.

Cayra tidak percaya, sampai semesta mempertemukan mereka kembali.

Cowok itu kini bukan lagi si kutu buku pemalu. Ia kembali sebagai tetangga barunya, klien terpenting di kantor Cayra, dan seseorang yang perlahan membuka kembali rahasia yang dulu ia sembunyikan.

Takdir memaksa mereka berhadapan dengan masa lalu yang belum selesai. Dan Cayra sadar bahwa karma tidak selalu datang untuk menghukum.
Kadang, karma hadir dalam wujud seseorang yang menunggu jawaban yang tak pernah ia dapatkan.

Kisah tentang kesempatan kedua, kejujuran yang tertunda, dan cinta yang menolak untuk hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diamora_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Antara Hujan dan Sisa Perasaan

Kadang hujan bukan datang untuk mendinginkan, tapi untuk mengingatkan siapa yang belum benar-benar pergi.

...Happy Reading!...

...*****...

Jam kerja kantor sudah selesai sejak beberapa menit lalu. Jam operasional hari Sabtu memang hanya setengah hari. Seharusnya langit terasa cerah di siang hari. Tapi hari ini berbeda. Hujan mengguyur seluruh kota, deras dan sabar, seperti ingin menahan semua orang tetap di tempat masing-masing.

Sebagian besar karyawan yang tidak membawa mobil memilih berteduh di dalam gedung. Ada yang duduk di lobi. Ada juga yang ngopi di pantry sambil menunggu reda. Tapi tidak dengan Saka. Walau ia datang dengan mobil, ia belum bisa pulang. Bukan karena jalan tergenang. Bukan karena macet. Tapi karena satu sosok menahannya sejak ia keluar dari ruang meeting tadi.

Rania Auliani. Pendiri Nebula Creatives. Usianya tiga puluh dua tahun. Dikenal sebagai Mbak Rania oleh para staf. Ia juga sahabat dari kakak kedua Saka, Tari. Maka wajar jika interaksi mereka terlihat lebih akrab dibanding relasi klien dan mitra bisnis biasa.

Begitu Saka keluar dari ruang meeting, Rania yang sedang melintas langsung memanggilnya. Ia meminta Saka masuk ke ruangannya. Saka menurut. Tidak sepenuh hati. Tapi cukup sopan untuk menghormati status lamanya sebagai adik dari sahabat Rania.

Percakapan mereka berlangsung cukup lama. Saka akhirnya menggunakan alasan bahwa ia dihubungi oleh Gilang, COO perusahaannya. Rania mengangguk. Tapi tetap menawarkan untuk ikut turun ke lobi. Katanya sekalian karena ia juga mau pulang.

Saka sempat merasa itu agak berlebihan. Tapi ia tidak menolak. Toh, hanya turun beberapa lantai.

Di lift dan sepanjang lorong menuju lantai dasar, Rania terus mengobrol. Suaranya mendominasi. Pertanyaan demi pertanyaan ia lontarkan, diselingi komentar yang terlalu santai untuk ukuran pertemuan profesional. Saka menjawab tenang. Seperlunya. Sesuai kapasitasnya sebagai tamu.

"Kamu kok baru sekarang kepikiran kerja sama sama Nebula?"

Saka menatap lurus ke depan. Ia butuh beberapa detik sebelum menjawab.

"Mungkin karena sebelumnya saya masih percaya pada tim marketing internal."

Ia menahan napas sejenak sebelum melanjutkan.

"Walau pada kenyataannya, brand saya dikenal juga karena nama keluarga."

"Udah. Enggak usah merasa bersalah begitu. Kamu tuh punya privilege. Jadi manfaatin aja."

Saka mengangguk sedikit.

"Kadang saya merasa enggak enak, Mbak. Pasti ada aja yang mikir saya numpang nama Papi."

Mereka memang baru dekat secara profesional. Tapi Saka tidak keberatan bicara terbuka.

"Mereka cuma iri. Enggak usah dipikirin."

Rania menjawab enteng. Bibirnya tersenyum seperti biasa.

"Oh iya. Tadi meeting-nya gimana? Lancar?"

"Lancar."

Jawaban Saka terdengar menggantung.

"Gimana Cayra? Kerjaannya perfect kan dia?"

Langkah Saka melambat.

"Cayra." Nama itu menampar memorinya seperti kaca pecah. Sejenak, wajah remaja perempuan berseragam putih abu-abu itu muncul di benaknya. Ia mengedip cepat, seolah bisa mengusir bayangan itu dengan logika.

"Iya. Cuma ada beberapa hal yang menurut saya kurang."

"Kurang apa? Orangnya profesional. Kerjanya bagus. Cantik pula."

Saka hampir tersedak oleh air liurnya sendiri. Jantungnya berdebar lebih cepat. Tubuhnya kaku beberapa detik. Ia tahu betul, reaksi seperti itu tidak wajar. Tidak semestinya muncul hanya karena satu nama.

"Saka?"

Rania menoleh, bingung melihat ekspresinya.

Saka menggeleng pelan. Tapi sebelum sempat memberi jawaban, pintu lift terbuka. Mereka melangkah keluar, berjalan menuju lobi.

"Enggak apa-apa. Cuma..."

Ucapannya terpotong. Matanya menangkap sosok yang berdiri di sudut kanan lobi.

Cayra.

Perempuan itu sedang bicara dengan seorang lelaki muda. Dari gestur dan ekspresi mereka, tampak jelas ada ketegangan. Dan meski jaraknya cukup jauh, Saka bisa menebak siapa lelaki itu. Elan. Adik Cayra. Wajahnya familiar. Pernah ia lihat beberapa hari lalu.

Sebelum sempat ia ambil keputusan, seseorang memanggil Rania dari arah berlawanan.

"Permisi, Mbak Rania. Bisa minta waktunya sebentar?"

"Boleh. Saka, Mbak pamit dulu ya. Hati-hati di jalan."

Rania tersenyum singkat lalu pergi bersama perempuan itu.

Saka hanya mengangguk kecil. Tatapannya tidak lepas dari dua kakak adik yang terlihat makin intens berdebat. Cayra bersedekap. Wajahnya keras. Elan menunjuk-nunjuk sesuatu di tangannya. Seperti jas hujan.

Rambut Cayra yang sedikit basah menempel di pipinya. Seolah menegaskan bahwa ia lebih keras kepala dari cuaca.

Saka tahu ia tidak punya alasan untuk ikut campur. Tapi langkahnya terasa berat. Ia berjalan perlahan ke arah kiri. Menuju lobi parkiran. Sedangkan Cayra dan Elan berada di sisi kanan. Dekat pintu masuk utama.

Jarak itu tidak cukup jauh untuk membuatnya tidak mendengar. Suara mereka sayup-sayup terbawa angin. Masih terdengar adu argumen tentang jas hujan.

"Gak bisa pake jas hujan itu, Lan. Ukurannya kekecilan. Gue bisa basah kuyup."

"Ya terus mau gimana? Nunggu hujannya reda?"

"Bisa kali lo beli jas hujan baru dulu. Gue bisa flu kalau kehujanan."

Percikan emosi itu sampai ke telinga Saka. Bahkan saat ia sudah makin jauh.

Sesampainya di depan mobil, Saka berhenti sejenak. Hujan tak kunjung reda. Tapi yang lebih mengganggu bukan suara hujan. Melainkan kalimat terakhir yang keluar dari pikirannya.

"Andai aku tidak mengenalnya. Mungkin aku tidak perlu merasa seperti ini."

Gumam itu lahir dari keraguan yang selama ini coba ia kubur. Tapi saat nama itu muncul lagi. Saat wajah itu terlihat nyata. Ia gagal berpura-pura.

Saka menghela napas saat mencapai mobilnya. Tangannya sempat menyentuh gagang pintu mobil. Tapi hatinya tertinggal di sisi lobi yang lain.

Ia masuk ke dalam kabin. Ruang itu langsung terasa sunyi. Tapi pikirannya tertinggal. Pada suara Cayra dan Elan. Pada hujan yang semakin deras.

Dan pada detak jantungnya. Yang terus memburu tanpa aba-aba. Seperti ingin mengingatkan. Hujan bisa reda. Tapi perasaannya belum.

Jarak itu tidak cukup jauh. Tapi luka mereka terlalu dalam untuk disembuhkan oleh hujan sore ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!