✏ Season 1: Pernikahan Yang Tak Diinginkan (Ainsley)
Ainsley terpaksa menjalani pernikahan wasiat, menikah dengan suami kakaknya sendiri. Dia yang tidak tau penyebab kematian kakaknya harus bekerja sama dengan sang suami untuk mengusut kematian. Bisakah mereka menemukan pelaku di balik rencana pembunuhan? Lalu, bagaimana akhir dari kisah pernikahan wasiat?
✏ Season 2: Pernikahan Yang Tak Diinginkan (Gavin)
Kisah cinta pertama Gavin harus kandas ketika dia melanjutkan pendidikan di luar negeri. Beberapa tahun setelah itu mereka bertemu lagi dan membuat harapan muncul untuk kembali bersama. Sayangnya pengganggu kecil muncul di tengah itu semua, wanita dengan segudang kecerobohan. Pada siapa hati Gavin akan berlabuh?
___
Semoga novel ini satu selera denganmu 😊
Cek istagram @justrenko untuk informasi novel lainnya~
Terima kasih atas support readers dan NovelToon/MangaToon terhadap novel ini 💛
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menahan Diri
Beberapa hari kemudian Juni mengemasi seluruh barang-barang. Dibantu Lewis dan Lexa mereka mengangkut barang bawaan, begitu pula dengan Ainsley. Mereka akan pergi ke bandara diantar oleh mobil Lewis.
Keluar dari Casa Felise Juni tampak lesu. Keberangkatan hari ini membuatnya tidak bersemangat dan Ainsley tau alasannya. Sebenarnya Juni juga tidak sampai hati meninggalkan kehidupan nyamannya di sini dan menggantinya dengan kehidupan yang belum tentu nyaman baginya di sana.
"Hey! Kau tidak tau sekarang aku adalah orang kaya? Kau harus menyiapkan jamuan untukku saat aku mengunjungimu nanti." berusaha menyemangati.
Juni tampaknya terpancing oleh ucapan yang terkesan sombong. Tidak bisa menahan untuk segera membantah perkataan yang bertolak belakang itu. Dagunya terangkat dan memutar kepala menoleh pada Ainsley di sampingnya kini.
"Kau bertingkah seolah harta itu adalah milikmu. Berbicara dengannya saja kau masih takut." ledek Juni.
Serangan mendadak menjatuhkan telak kesombongan. Diledek mengenai bagaimana hubungannya di depan Lewis dan Lexa membuatnya sangat malu, "S-siapa bilang?!"
"Aku menginap di rumahmu dan kau tidak berani berbicara dengan suamimu. Tidakkah kau ingat ketika kita menonton film romantis? Kalian tidak berbicara sama sekali. Aku yakin kau sangat takut padanya."
"H-hentikan, Juni. Aku tidak takut. Waktu itu aku hanya sedang menikmati filmnya saja, makanya tidak berbicara padanya."
"Kau menikmati film romantis itu?" menyipitkan mata.
Semakin gugup Ainsley kalau mengingat kejadian waktu itu. Berkilah beberapa kali pun dirinya tidak bisa lari dari mulut cerewet Juni. Benar dirinya tidak berani berbicara dengan Zack dan tidak bisa disanggah lagi kebenaran itu. Ainsley sampai kehabisan ide bagaimana menyudahi percakapan yang dipilihnya sendiri.
Sudah memancing Juni berbicara, Ainsley yang berniat menyemangati sebaliknya diledek oleh Juni. Hubungannya dengan Zack adalah bahan utama dari ledekan itu. Alhasil perjalanan bandara dipenuhi oleh ocehan Juni saja. Sedangkan yang lainnya hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Sesampainya di dalam bandara, berulang kali Juni bersorak mengatakan akan mencari pasangan yang tidak kalah tampan dari Zack dan Lewis. Juni juga menambahkan jika mereka tidak boleh iri nantinya. Selain itu Juni akan hidup dengan baik di tempat tinggal barunya.
Senyuman mengembang di wajah. Juni melambaikan tangan sembari berjalan ke pintu penerbangan. Punggung Juni semakin lama tidak terlihat lagi. Rasa haru menyelinap di hati mereka masing-masing.
Ainsley berjongkok menutupi wajah yang kini sudah berurai air mata. Perginya Juni menyisakan dirinya seorang diri. Orang yang paling dekat dengannya adalah Juni seorang. Semua kegiatannya juga dihabiskan bersama Juni. Wajar jika berat melepaskan Juni pergi jauh darinya.
Sepanjang perjalanan pulang mereka menghibur Ainsley. Melemparkan guyonan menarik agar sisa kesedihan semakin memudar. Entah mengapa mereka saling bekerjasama seolah sedang menenangkan bayi yang sedang menangis.
Nyatanya mereka berhasil membuat Ainsley berhenti menangis, tetapi bukan tertawa mendengar candaan. Justru Ainsley diam berusaha menghentikan isakan. Menguatkan hati akan kepergian Juni yang kini tidak bisa sering ditemuinya lagi.
Sesampainya di Casa Felise, setelah mengucapan terima kasih Ainsley pergi begitu saja. Tidak ingin menunjukkan muka yang sembap. Memilih untuk segera membalikkan badan dan pergi. Rasa sedih tentu saja masih melingkupi dirinya.
"Lexa, apa yang harus aku lakukan ketika seorang wanita bersedih?"
"Memeluknya."
"Aku tidak berada dalam posisi pria yang bisa sembarangan memeluknya."
"Kalau begitu biarkan dia menenangkan diri."
Kata memeluk terdengar mudah namun entah mengapa ketika ditujukan pada Ainsley sangat berbeda. Lewis tidak ingin membuat ketidaknyamanan tercipta di antara mereka. Meski dirinya sangat ingin memeluk dan menenangkan wanita itu sekarang.
"Aku sedih." membentangkan tangan seperti meminta untuk dipeluk.
Wajah dan perkataan tidak mencerminkan hal yang sama. Apalagi permintaan Lexa yang tiba-tiba kedengaran sangat aneh. Pikirannya menolak bahwa Lexa tidak mungkin meminta pelukan mendadak seperti itu padanya atau mungkin ada sesuatu yang salah sehingga Lexa meminta untuk dipeluk.
"Apa seseorang memukulimu?" masih fokus menyetir.
Lexa seketika menurunkan tangannya. Wajahnya terlihat sangat kesal sekarang karena tidak digubris. Sampai detik itu pun pertanyaan dari Lewis masih tidak dijawab. Lexa lengah seolah tidak mendengarkan.
Sikap lesu menjawab sedikit pertanyaan. Lewis berubah khawatir, "Hey! Jawab aku! Benarkah? Seseorang sudah memukulimu?"
Mobil ditepikan mendadak sehingga suara gesekan ban dengan jalan terdengar nyaring. Beruntung jalan itu sepi dan tidak ada yang mengira bahwa ada kecelakaan yang terjadi.
Langsung tangan Lexa diraih dan diperiksa segala sisinya seksama. Lewis tentunya sangat khawatir jika terjadi apa-apa pada orang yang selama ini menemani hidupnya. Beruntung tidak ada luka atau bekas luka baru yang terlihat di sana.
"Kau mengkhawatirkan aku?"
"Tentu saja! Kau adalah orang yang berharga di hidupku. Aku tidak rela jika ada hal buruk terjadi padamu."
Sudah diucapkan secara gamblang bahwa dirinya adalah orang paling berharga dan Lexa tau bahwa maksud Lewis hanya sebatas teman saja. Tetapi perkataan yang juga terdengar berharga itu membuat wajahnya bersemu merah.
***
"Kau butuh tisu?" menyodorkan tisu.
"Terima kasih." berbicara dengan hidung yang tersumbat.
Juni menghapus air mata dan menyeka hidungnya. Tidak peduli jika ada orang yang memperhatikan atau terusik karenanya. Juni juga merasakan hal yang sama, meninggalkan teman yang paling dekat dengannya selama ini sungguh kesedihan yang tidak dapat dibendung.
Setelah itu Juni bangkit dan memakai toilet pesawat. Mencuci muka dan menenangkan diri. Berusaha melupakan kesedihan semnetara waktu dan fokus dengan perjalanannya saat ini. Ada sang ibu yang menantinya, tidak mungkin pertama bertemu wajah sedihnya yang diperlihatkan.
Kembali ke tempat duduknya semula, Juni memejamkan mata berharap bisa tertidur agar waktu 18 jam perjalanan tidak terasa panjang. Berkali-kali menukar posisi mencari yang ternyaman. Tetap saja keningnya mengerut dalam, Juni sama sekali tidak bisa terlelap.
Tampaknya ketidaknyamanan Juni membuat pria di sebelahnya sedikit terganggu. Bahkan di setiap helaan napas panjang yang terdengar membuatnya menoleh berulang kali. Meskipun begitu pria itu tidak menegurnya.
"Ah, maaf. Perjalanannya sangat panjang." menyunggingkan senyum polos, bisa terlihat gigi rapinya di sana.
Pria itu terdiam dan seperti sedang memikirkan sesuatu. Tidak lama setelah itu sebuah music player dikeluarkan dari sakunya dan disodorkan. Berharap Juni mau mendengarkan lagu untuk mengatasi kebosanan.
"Bolehkah?" sudah melihat pria itu mengangguk, langsung saja Juni memakainya. Mencari lagu yang dirasa cocok untuk dimainkan. Kemudian mencari posisi santai menopang dagu di tangan kursi. Perlahan mata menutup menikmati aliran musik yang merasuki telinga.
Sedang asyik menikmati musik tiba-tiba salah satu earphone di telinga dilepaskan. Juni langsung menoleh dan tidak dikira keterkejutannya bertambah. Pipi kiri pria itu sangat dekat jaraknya dengan wajahnya. Juni menelan ludahnya sendiri dan tubuhnya terasa kaku tidak bisa digerakkan.
"Hmm.. Seleramu bagus juga." menoleh juga pada Juni sehingga bibir mereka tidak sengaja bersentuhan. Mata yang bertemu saling membuka lebar. Seketika mereka sama-sama mendorong tubuh lawan masing-masing.
"Apa yang kau lakukan?!"
Teriakan itu terdengar sampai ke berbagai penjuru. Para penumpang memperhatikan mereka sekarang. Juni tersenyum menyelipkan kebersalahannya. Lalu menoleh kembali pada pria pembuat masalah menurutnya, sambil berbisik mengatakan, "Kau yang menciumku."
"Apa maksudmu? Aku melihatmu seperti ini." meniru Juni yang baginya tadi sedang mengerucutkan bibir.
"Aku tidak melakukannya!" menarik kedua tangan pria itu agar berhenti menutupi kedua dada. Ekspresi yang seperti membuat benteng pertahanan dari serangan pelecehan menambah kekesalan. Seharusnya Juni lah yang memasang tampang itu sekarang.
Sedangkan pria itu semakin merasa bahwa Juni yang berusaha menyingkirkan tangannya sangat ingin melecehkannya. Padahal niatnya sudah baik memberikan tisu dan juga music player tadi. Namun, entah mengapa perlakuan buruk itu sampai diterima olehnya, "Kau wanita mesum!"
"Kau gila?! Aku hanya tidak ingin ada yang salah paham dengan gayamu yang menutupi dadamu itu!" tidak sadar telah menciptakan suara kekacauan.
Seorang pramugari yang berpikir ada yang tidak beres dengan penumpang segera datang menghampiri. Benar saja ada dua penumpang yang terlibat dalam pertengkaran, "Mohon maaf. Apa ada yang bisa saya bantu?"
Seakan kesadarannya muncul kembali. Seperti seorang siswa yang sedang kepergok makan di kelas, Juni berangsur duduk ke tempat semula. Pertengkaran mereka sudah menyebar luas. Para penumpang memperhatikan mereka daritadi. Pun pramugari yang berdiri mempertanyakan keadaan pada mereka sekarang.
"Ah, tidak. Maafkan kami sudah membuat kegaduhan." ujar Juni menyingkirkan segala kekesalan.
"Kami harap anda bisa mengecilkan suara agar penumpang lainnya tidak terganggu."
"Baiklah." tersenyum kecut.
Pesawat transit di Doha selama dua jam. Masih butuh waktu tujuh jam lagi agar bisa sampai. Juni segera beranjak meninggalkan pria aneh itu, lalu di bandara membeli burger untuk mengisi perut yang sedaritadi sudah keroncongan.
Saat membayar pesanan makanan, Juni menyadari sesuatu yang terlupakan olehnya. Music player pria tadi masih ada bersamanya. Sementara waktu Juni akan melupakan kekesalan yang seakan kembali diingatkan. Lebih baik melahap makanan ketimbang harus memikirkan yang lain.
Ketika membalikkan badan, tidak sengaja Juni menabrak seseorang. Kedua bahunya dicengkeram kuat sehingga dirinya tidak ikut terjatuh bersama burger yang kini berserakan di lantai. Lebih tidak disangkanya lagi pria yang menabraknya adalah pria menjengkelkan di pesawat tadi.
Sungguh pemandangan yang malang melihat burger tidak bisa dimakan lagi. Hanya satu gigitan yang didapatkan untuk mengatasi perutnya yang masih keroncongan. Bahkan belum sampai masuk ke dalam perut.
Air mata berlinang memungut burger yang telah menjadi sampah. Semua orang memperhatikan mereka, khususnya pada pria yang kini terlihat jahat di mata orang-orang. Membuat seorang wanita menangis dan menjatuhkan pula burger yang baru saja dibeli oleh wanita tersebut.
"Hey! Jangan menangis. Maafkan aku. Aku akan menggantinya." sangat panik.
Pada akhirnya mereka duduk di lobi bandara. Untuk mengembalikan nama baik di depan orang-orang tentu lah pria itu mau tidak mau harus bertanggung jawab. Mengganti burger dan juga menawarkan minuman pada Juni.
Juni merogoh benda yang harus dikembalikan dalam sakunya dan menukarnya dengan botol minuman itu, "Terima kasih."
"Kau harus berterima kasih padaku untuk dua hal lainnya. Burger ini dan ini." menunjuk burger yang sudah masuk ke perut Juni dan bibirnya kemudian.
Seketika wajah bersemu merah dan terbata-bata Juni berkata, "Ke-kenapa kau membahasnya lagi?! Itu hanya kecelakaan!"
"Setelah berniat menciumku, kau bilang itu kecelakaan?"
"Sudah aku bilang, aku tidak melakukannya!"
"Ciuman pertamaku sangat berharga."
"Kau pikir aku berciuman dengan setiap pria? Itu juga ciuman pertamaku!"
Your attention please, passengers of Qatar Always on flight number QA3 to Edinburgh please boarding from door B3. Thank you.
*Mohon perhatian, penumpang Qatar Always penerbangan nomor QA3 ke Edinburgh silahkan naik dari pintu B3. Terima kasih.
Suara yang menggema di bandara menyita perhatian. Sejenak mereka yang ada di sana berhenti bersuara. Pengumuman tadi adalah penerbangan yang harus dilalui oleh Juni. Meninggalkan pria itu Juni pun beranjak sesuai intruksi.
***
Kesedihan masih melingkupi diri. Di atas sofa Ainsley memeluk lutut dan membenamkan kepalanya di sana. Masih tersedu dan seakan-akan menghabiskan air mata di seluruh hidupnya. Dan baru kali ini dirinya sangat merindukan celotehan Juni.
Bagaimana tidak bersedih? Juni adalah satu-satunya orang yang paling dekat dengannya setelah kepergian Emily, bahkan sebelumnya. Mustahil tidak ada tangisan di dalam perpisahan mereka.
Klek..
Hanya ada dua orang yang akan masuk ke apartemen. Ainsley yang sedang menangisi temannya dan Zack yang baru saja pulang dari perjalanan bisnisnya. Melangkah semakin dalam memasuki apartemen, lampu yang tidak dihidupkan dan seseorang yang samar-samar terlihat di sofa mengejutkan siapa saja yang merasakan situasi itu.
"Kau membuatku terkejut! Apa yang kau lakukan di dalam kegelapan?!" segera beranjak ke saklar dan menyalakan lampu.
Tap tap tap..
Sebuah pelukan melingkar di pinggangnya. Zack terkejut untuk yang kedua kalinya, "Kau! Apa yang kau lakukan?!"
"Sebentar saja.. Juni sudah pergi.. Perasaanku sangat sedih. Izinkan aku memelukmu sebentar saja.." terputus-putus oleh tangisan.
"Kau memang anak kecil yang merepotkan!" mendengkus kesal.
Akhirnya Zack membiarkan pelukan melingkar di pinggang. Masih dalam posisi berdiri dan dengan Ainsley di belakangnya. Suara tangis membumbung tinggi dalam ruangan itu. Bahkan Zack bisa merasakan air mata menembus kemejanya.
Baru pulang ke apartemen dan perasaannya sudah dinetralisir oleh pekerjaan namun sekarang harus terkontaminasi lagi. Pelukan di malam yang membuat dirinya menjadi berhasrat untuk melakukan sesuatu pada Ainsley. Apalagi dirinya sangat lelah saat itu dan membutuhkan hiburan kesibukannya.
Sayangnya keinginan itu hanya angan-angan saja. Ainsley sedang bersedih dan benteng pertahanannya tidak boleh rubuh. Zack sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk melepaskan Ainsley meraih impian. Terlebih lagi dalam jangka waktu kurang lebih satu tahun lagi mereka sudah harus berpisah. Sebelum perpisahan hubungan mereka haruslah baik dan perasaan mereka haruslah bersih tanpa ikatan yang hanya akan merugikan mereka di masa depan.
Lagi-lagi Zack harus menahan hasratnya dan berharap kesedihan itu cepat berakhir. Sehingga dirinya bisa lepas dari gejolak yang sudah memenuhi dirinya. Membuang jauh-jauh pikiran untuk memiliki Ainsley.
Padahal di dalam hati dirinya mengutuk ketidakberdayaan. Ainsley adalah sasaran kutukan itu. Banyak cara untuk menghilangkan kesedihan. Tetapi Ainsley memilih pelukan yang begitu erat dan dekat sekarang, sangat sulit untuk dihadapinya.
Ainsley sialan!
bagaimana menurutmu tentang ini kk?