NovelToon NovelToon
Terlahir Lemah, Tapi Otakku Dewa

Terlahir Lemah, Tapi Otakku Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: YeJian

Terlahir dengan bakat rendah dan tubuh lemah, Ren Tao hanya dianggap sebagai murid sampah di Sekte Awan Hitam. Ia dihina, dimanfaatkan, dan diperas tanpa henti. Di dunia kultivasi yang kejam, orang sepertinya seharusnya mati tanpa meninggalkan nama.

Namun tak ada yang tahu Ren Tao tidak pernah berniat melawan dengan kekuatan semata.

Berbekal kecerdasan dingin, ingatan teknik kuno, dan perhitungan yang jauh melampaui usianya, Ren Tao mulai melangkah pelan dari dasar. Ia menelan hinaan sambil menyusun rencana, membiarkan musuh tertawa… sebelum satu per satu jatuh ke dalam jebakannya.

Di dunia tempat yang kuat memangsa yang lemah, Ren Tao membuktikan satu hal
jika bakat bisa dihancurkan, maka otak adalah senjata paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YeJian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 – Mata yang Mengamati

Bentrok itu tidak berlangsung lama.

Dari tempatnya bersembunyi, Ren Tao melihat kilatan Qi beradu di kejauhan. Dua kelompok saling menghantam tanpa ampun. Teriakan kemarahan berubah jadi jeritan kesakitan, lalu satu per satu meredup.

Ia tidak mendekat.

Ia tahu, setelah darah tumpah, selalu ada yang datang terlambat dan itulah saat paling berbahaya.

Ren Tao berpindah posisi, menuruni lereng perlahan. Di tengah jalan, ia berhenti mendadak.

Ada yang salah.

Udara di sekitarnya terasa… tertekan.

Bukan aura pembunuh.

Bukan Qi liar.

Melainkan rasa diawasi.

Ren Tao menunduk, berpura-pura kelelahan, bahkan sengaja tersandung ringan. Tapi inderanya bekerja penuh.

Arah atas. Jarak jauh. Tidak bergerak.

Bukan peserta.

Penguji.

Di luar lembah, di atas tebing tinggi, beberapa tetua sekte berdiri diam. Di antara mereka, sebuah cermin batu besar memantulkan gambaran lembah dari berbagai sudut.

Seorang tetua berjubah abu-abu menyipitkan mata.

“Anak itu… aneh.”

Tetua lain tertawa kecil. “Yang mana? Banyak yang mati hari ini.”

“Yang ini,” jawabnya sambil menunjuk bayangan Ren Tao di cermin. “Dia tidak kuat. Tapi selalu berada di tempat yang tepat.”

"Keberuntungan."

“Keberuntungan tidak membuat dua kelompok bertabrakan dengan rapi.”

Keheningan jatuh sejenak.

Di dalam lembah, Ren Tao bergerak lagi, seolah tak menyadari apa pun.

Ia mendekati lokasi bentrokan.

Empat mayat.

Satu masih bernapas.

Murid itu merangkak, tubuhnya penuh luka. Matanya menangkap bayangan Ren Tao dan langsung membelalak.

"J-jangan... aku—"

Ren Tao berlutut di hadapannya.

Ia menatap luka-luka itu, lalu wajah si murid.

“Kau bertarung melawan siapa?” tanyanya tenang.

“Kelompok… Wei Kang…” suara itu serak.

Ren Tao mengangguk pelan.

Ia mengangkat pisau.

Lalu berhenti.

Di kejauhan, suara langkah lain terdengar.

Ren Tao bangkit, menyembunyikan pisaunya.

Tiga sosok muncul.

Wei Kang.

Dan dua pengawalnya.

Wajah Wei Kang dingin, matanya tajam menyapu sekitar. Begitu melihat Ren Tao, alisnya terangkat tipis.

“Menarik,” katanya. “Kau masih hidup.”

Ren Tao menunduk cepat. “Aku cuma bersembunyi.”

Wei Kang melangkah lebih dekat. Auranya ditekan, tapi cukup untuk membuat murid biasa gemetar.

“Orang-orangku mati,” katanya pelan. “Dan kau selalu ada di sekitar kekacauan.”

Ren Tao mengangkat kepala sedikit. Wajahnya tampak takut, tapi matanya kosong.

"Apa itu salahku?"

Pengawal di belakang Wei Kang bergerak satu langkah maju.

Ren Tao langsung jatuh berlutut.

“Aku cuma ingin lulus,” katanya cepat. “Aku nggak punya musuh.”

Wei Kang menatapnya lama.

Terlalu lama.

Lalu ia tersenyum tipis.

"Bunuh dia," katanya tipis

Pengawal itu mengangkat pedang.

Di detik yang sama—

Jeritan melengking terdengar dari sisi lain lembah.

Binatang buas.

Raungan keras mengguncang udara.

Tanah bergetar.

Wei Kang mengerutkan kening.

"Apa itu?"

Sebuah bayangan besar menerobos kabut. Mata merah. Taring panjang. Binatang iblis tingkat rendah tapi cukup untuk mematikan.

“Kita mundur!” perintah Wei Kang.

Pengawal ragu sejenak, lalu mengikutinya.

Ren Tao masih berlutut saat mereka pergi.

Ia tidak bergerak sampai suara itu benar-benar menjauh.

Lalu ia bangkit.

Wajah takut itu menghilang sepenuhnya.

Ia menatap murid sekarat di tanah.

"Kau dengar tadi?" kata Ren Tao.

Murid itu menangis pelan.

Ren Tao menusukkan pisaunya.

Cepat. Tanpa suara.

Ia berdiri, membersihkan tangan.

“Kadang,” gumamnya, “hidup itu ditentukan oleh suara yang lebih keras.”

Di luar lembah, salah satu tetua menghela napas panjang.

"Dia bukan beruntung."

Tetua berjubah abu-abu mengangguk.

"Dia berbahaya."

Cermin batu memperlihatkan Ren Tao berjalan menjauh, kembali tenggelam dalam kabut.

Dan untuk pertama kalinya—

Namanya dicatat.

1
Zan Apexion
salam sesama penulis novel Kultivasi.☺️👍

semangat terus ya...
YeJian: siap terimakasih bro atas dukungan nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!