NovelToon NovelToon
IQ 278: Jejak Yang Disembunyikan

IQ 278: Jejak Yang Disembunyikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Karir / Kehidupan alternatif / Persaingan Mafia / Trauma masa lalu
Popularitas:597
Nilai: 5
Nama Author: woonii

Hani Ravenna Arclight memiliki IQ 278 dan hidup dengan dua wajah. Di balik layar dunia digital, ia dikenal sebagai The Velvet Phantom, hacker profesional yang bergerak tanpa jejak. Di dunia nyata, ia menyembunyikan identitasnya dan menjalani hidup sederhana di sebuah kampung, menutupi masa lalu dan nama besar keluarganya.

Pertemuannya dengan Darren Maximilian Vireaux mengguncang ketenangan yang ia bangun. Darren memaksanya kembali menghadapi dirinya sendiri bukan sebagai bayangan, melainkan sebagai Hani Ravenna Arclight yang sesungguhnya.

Di antara rahasia dan pilihan, Hani harus menentukan: tetap bersembunyi, atau berani kembali ke cahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon woonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Terakhir

"Tidak perlu melakukan persiapan sayang, cukup bawa saja barang-barang yang kamu perlukan, aku sudah mempersiapkan kebutuhan mu disana" ucap Darren.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Hani memutar malas bola mata nya mendengar penuturan Darren. "Terserahmu saja, lebih baik kau pulang sekarang karena aku akan istirahat." ucap Hani

"Aku akan menginap disini sampai besok baby" jawab Darren santai.

"Eh tidak tidak, kau akan tidur dimana jika menginap disini. Aku tidak ingin tidur bersamamu, lebih baik aku tidur dengan Mutia saja" tolak Hani tegas.

"Setuju atau tidak setuju aku akan tetap menginap disini" bantah Darren.

Hani menghirup nafas dalam dalam, sangat menyebalkan sekali. Ia melirik ke arah Mutia yang sedari tadi hanya diam.

"Ayo mut kita perlu bicara berdua" ucap Hani menarik tangan Mutia untuk keluar dari ruang bawah tanah itu.

Hani tetap menarik lengan sahabatnya itu menuju tempat favorit nya, yang tak lain adalah diatas pohon mangga belakang rumah. Ketika para anak buah Darren akan melarang Hani mereka mendadak tidak berani karena mendapatkan tatapan maut dari sang nyonya kecil itu.

"Huh malem malem kenapa ngajak naik ke atas sini sih" gerutu Mutia pada Hani ketika mereka sudah duduk diatas ranting pohon mangga.

"Satu satu nya tempat aman untuk membicarakan hal penting hanyalah ini." jawab Hani datar.

"Oke oke, rupanya sekarang kamu menjelma jadi seorang Eleara ya" tebak Mutia ketika melihat gaya bicara dan juga tingkah laku Hani.

Hani tersenyum tipis mendengar itu. "Mungkin mulai malam ini dan seterusnya kau tidak akan melihat seorang Hani lagi pada diriku, dunia ini terlalu serius jika kita hanya bermain-main maka dari itu kini saatnya aku kembali" jawabnya.

Mutia hanya mengangguk saja meskipun dia belum terbiasa akan sikap Eleara yang semestinya. "Jadi?" tanya nya.

"Besok aku akan terbang ke Amerika dengan Darren dan kemungkinan besar nya aku tidak akan kembali lagi ke negara ini, jadi aku hanya ingin berterima kasih padamu yang selalu bersikap baik padaku bahkan kau menganggap ku sebagai saudara mu sendiri. Jika suatu saat kau membutuhkan bantuan jangan segan untuk menghubungi ku, aku akan selalu membantu apapun yang kau lakukan" ucap Hani sedikit sedih dan lirih.

Mutia menatap mata Eleara sahabat nya itu dengan berkaca-kaca, ia tidak siap berpisah jauh dengan teman yang selama ini selalu dianggap nya sebagai keluarga.

"Apapun keputusan mu aku dukung Eleara, jangan pernah lupa persahabatan kita ya" ucap Mutia sembari merangkul pundak sang sahabat nya itu.

Hani membalas ucapan itu dengan anggukan kecil dan tak lupa mata indah nya yang turut berkaca-kaca, bagaimanapun Mutia memanglah sahabat nya yang paling lama dan setia.

"SAYANG TURUNLAH, INI SUDAH MALAM" teriak seseorang diujung sana yang tak lain adalah pria kutub menyebalkan.

Hani menghela nafas malas, lagi dan lagi momen haru nya selalu dirusak oleh Darren menyebalkan. Hani menatap ke arah bawah, dan tampak Darren beserta asisten Jack yang sedang mendongak memperhatikan nya.

"Tangkap aku" ucap Hani datar, sejujurnya ia bisa menuruni pohon itu tetapi ia sangat malas sekali.

Grep

Hani jatuh tepat kedalam gendongan Darren. "Kau membuatku khawatir baby" bisik Darren disebelah telinga Hani.

Hani sedikit merinding mendengarkan ucapan itu, ingin sekali rasanya ia muntah sekarang juga. "Turunkan aku" ucapnya dingin.

Dengan perlahan Darren menurunkan Hani dari gendongan nya, dan tepat saat itu juga...

Brukk

"Akhh" pekik Mutia dan asisten Jack secara bersamaan, karena ketika Mutia ingin menuruni pohon mangga itu kaki nya terpeleset dari ranting pohon sehingga menyebabkan ia jatuh tepat menindih Jack yang berada dibawah.

Darren dan Hani sontak menoleh ke arah Jack dan Mutia, Hani langsung tertawa melihat posisi Mutia yang menindih Jack.

"Hei cepat menyingkirlah dari atas ku nona, tubuhmu berat sekali" ucap Jack kesal karena wanita yang menimpanya ini tidak segera bangkit.

Mutia langsung cepat-cepat berdiri menahan malu nya, walaupun dalam hati ia sangat gembira sekali karena jatuh tepat diatas pria tampan.

Cletak

Hani menyentil kening sang sahabat karena tahu pikiran Mutia sekarang sedang berkeliaran keliling dunia. "Jangan berfikiran sampai kemana mana, atau kau akan ku nikahkan sekarang juga dengan asisten Jack" ancam Hani.

Mutia mengusap usap kening nya yang terkena sentilan maut dari Hani. "Tentu saja aku mau akan ancaman mu itu" jawab Mutia tak tahu malu.

Sedangkan Jack segera bangkit lalu mengusap usap pakaian nya seperti menghilangkan debu. "Saya sama sekali tidak setuju nyonya" balas Jack.

"Sudahlah ayo kita masuk" ucap Hani lalu melangkah meninggalkan mereka semua termasuk Darren.

"Eleara sayang kau selalu meninggalkan ku" protes Darren yang berhasil menghentikan langkah Hani.

Hani berbalik sejenak menatap ke arah Darren. "Aku tidak akan menunggu orang seperti mu tuan Darren, itu sangat membuang waktuku" balasnya dan kemudian berbalik pergi menuju rumah.

Darren hanya bisa pasrah akan itu, dia pun mengikuti Hani untuk masuk ke dalam rumah itu. Dan sekarang menyisakan Jack dan Mutia yang masih berada tak jauh dari pohon mangga.

Jack memandangi punggung tuan nya yang sedang melangkah pergi sembari berfikir. ' Kenapa tuan mejadi sedikit aneh dan manja ketika sudah mulai jatuh cinta pada gadis kecil seperti itu, aku tidak habis fikir akan tingkah lakunya '

Jack melangkah meninggalkan Mutia seorang diri didekat pohon itu, pemikiran nya saat ini sedang kebingungan akan sikap tuan nya walau setiap kali bertemu dengan Hani, Darren akan bersikap seperti itu.

Mutia menghela nafas kasar karena keberadaan nya sama sekali tidak dianggap oleh pria tampan pemikat hatinya itu. "Sabar Mutia, jatuh cinta itu butuh perjuangan. Semangat!" gumam Mutia memberikan motivasi pada dirinya sendiri.

...----------------...

Kini mereka semua sudah berada diruang tamu, dimana Hani duduk disebuah sofa single yang mencerminkan sang pemilik rumah. "Mutia...aku butuh bantuan mu untuk memberi tahu pada Joko bahwa aku akan terbang ke Amerika Serikat besok, aku ingin dia tetap merawat hewan-hewan ternak milik ayahku. Masalah biaya jasa nanti akan ku kirimkan kepadanya setiap satu bulan sekali" ucap Hani.

Mutia mengangguk, tak masalah akan permintaan kecil sahabat nya itu. "Laksanakan nyonya Eleara" ucap Mutia sembari bangkit dari duduknya dan memberikan hormat.

Hani menggeleng pelan, lagi dan lagi sahabat nya itu tidak bisa diajak serius saat memulai pembicaraan. Hani menoleh ke arah Darren, lalu tersenyum penuh kemenangan sebelum akhirnya berkata. "Aku sudah memperkirakan total kerugian yang dialami oleh Steven, dan aku rasa 2 milyar itu lumayan untuk membuat ku puas." ucap Hani.

Darren mengangguk kecil. "Ya, sampai sekarang dia masih tidak terima ketika para investor perusahaan nya menjual saham kepadaku dan terus mendesak ku agar mengembalikan saham saham yang dijual oleh investor itu" balas Darren serius.

"Bagus, aku sangat senang karena kau sudah membantuku Darren. Dan untuk malam ini kau boleh menginap disini asalkan kau harus tidur dikamar mending ayah dan ibuku karena aku tidak ingin tidur berdua dengan mu" ucap Hani datar.

Darren hanya mengangguk sebagai jawaban. "Kita akan berangkat besok pagi, kau bisa sebutkan apa saja yang kau perlukan selama di perjalanan agar aku bisa memerintahkan anak buah ku untuk menyiapkan nya."

"Aku tidak butuh apa pun, aku hanya ingin selama diperjalanan aku tidak merasa kelaparan. Itu saja." balas Hani cepat.

Mutia masih sedikit sedih menerima kenyataan bahwa sahabatnya itu akan pergi meninggalkan nya di Indonesia. "Malam ini aku tidur disini juga boleh?" tanya Mutia ke arah Hani.

Hani tersenyum mendengar pertanyaan dari Mutia. "Tentu saja, rumah ini sudah seperti rumahmu juga, aku tidak akan melarang mu untuk menginap disini." ucap Hani sedikit semangat walau dibalik itu ia merasa sedikit kekhawatiran akan jalan yang ia ambil untuk hidupnya.

Mutia mendadak sedikit bahagia karena diperbolehkan untuk menginap dirumah sahabatnya. "Malam terakhir" ucap Mutia kemudian berhambur untuk memeluk Hani.

Hani membalas pelukan dari Mutia dengan senang hati, bagaimanapun mereka telah berteman sejak Hani tinggal dikampung ini.

"Aku akan sangat merindukan setiap momen kebersamaan kita Mutia, aku tidak akan pernah melupakan itu" ucap Hani sembari mengelus elus punggung sahabatnya.

Perlahan butiran air mata jatuh membasahi pipi kedua gadis itu, anggaplah malam ini menjadi yang terakhir kalinya untuk menikmati waktu bersama teman lama sebelum akhirnya fokus pada kehidupan masing-masing.

Darren dan Jack memperhatikan dengan seksama momen haru yang tepat berada dihadapan mereka itu, keduanya memiliki fikiran yang sama bahwa persahabatan antara Hani dan Mutia memang terjalin dengan tulus tanpa adanya sebuah maksud tertentu, meskipun Mutia sekarang sudah mengetahui siapa jati diri sahabat nya itu.

1
ni.crypt
bantu dukungan guys
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!