Seorang kakak laki-laki, harusnya menjadi pelindung bagi keluarganya, khususnya adik perempuannya. Tapi, hal itu dilupakan oleh Gildan. Demi mimpinya, Gildan nekat pergi bersama calon istri, seorang tuan muda. Hingga tuan muda itu marah, dan membalas dendam pada adik perempuan Gildan.
Rashita sangat tahu, pernikahan ini adalah awal kegelapan dalam hidupnya, namun dia harus menikah dengan tuan muda itu, demi menyelamatkan kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Undangan Digital
Shita yang sedari tadi melamun dalam kamarnya di kejutkan oleh bunyi ponsel yang berdering. Matanya seketika melotot, melihat nama pemanggil yang tertera di layar ponselnya. Shita masih mematung memandangi layar ponselnya. Hingga panggilan itu terputus karena tidak kunjung dia jawab. Ponsel itu berdering kembali dengan identitas pemanggil yang sama. Shita menarik nafasnya begitu dalam dan menghempaskan semuanya dengan begitu kasar dan menggeser icon bewarna hijau pada layar ponselnya.
"Ada apa?! Kenapa kau menelpon!" Ucapan Shita begitu kasar.
"Shita ...." nada suara dari orang yang menelpon begitu berat.
"Kenapa kau melakukan ini pada kami semua? Kau egois!" Tidak terasa air mata Shita menetes, mengingat bagaimana kehidupan dia dan kedua orang tuanya karena kepergian Gildan yang menoreh luka di hati dua keluarga.
"Shita, aku tidak pantas mendapat maaf dari kalian semua, aku menelpon ingin bertanya satu hal. Aku mendengar kabar ini dari teman istriku, apa benar kau akan menikah dengan tuan muda Mark?"
"Istri? Kau hidup bahagia rupanya setelah membuat kami semua menderita."
"Shita, tolong jawab aku, apakah kabar itu benar? Kalau benar, aku mohon batalkan Shita, jangan buang-buang waktu untuk hidup bersama Mark, Mark bukan laki-laki baik! Shita, aku mohon, tolong cari laki-laki lain."
"Aku tau! Dia laki-laki buruk dan bej*t persis seperti kamu bambang!" Air mata Shita terus menetes, dia sangat membenci kelakuan Gildan, selama ini berpakaian panjang menutup bentuk tubuhnya, dengan harapan agar laki-laki seperti Gildan tidak tergoda dengannya, kini ketakutannya dari dulu terjadi, dia akan memiliki suami yang prilakunya sama seperti Gildan.
"Kalau kau tau, kenapa kau mau menikah dengannya?"
"Ini semua gara-gara kamu bambang! Setelah kepergian kamu papa sakit, perusahaan dan rumah di ambil oleh bank, kami tidak tau apa salah kami, setelah kamu pergi, kami tinggal di rumah kecil dan aku bekerja sebagai pelayan di sebuah Club malam, sekarang aku harus jadi istrinya."
Tidak ada lagi suara di seberang telepon sana. Hanya dera nafas yang begitu berat yang terdengar.
"Jangan pernah kembali! Kami semua membenci kamu!" Perasaan yang berkecamuk di dada Shita, membuatnya langsung memutuskan panggilan telepon.
Shita melempar ponselnya ke atas tempat tidurnya. Dia segera keluar dari kamarnya. Karena hari pernikahan semakin dekat, maka hari-hari kebersamaan bersama kedua orang tuanya juga akan ber akhir. Karena papa mamanya akan pindah ke luar kota, sedang dia akan ikut Mark, entah di mana dia tinggal nantinya.
***
Shita mematung melihat Sammy melamun di kursi tamu menatap layar ponselnya. Perlahan dia mendekati Sammy. "Papa …." sapa Shita begitu lembut.
"Sayang." Sammy berusaha tersenyum. Namun Shita tahu, ada kepedihan yang dirasa Sammy, namun dia sembunyikan.
"Papa, kenapa papa sedih memandangi ponsel papa?" Shita duduk di samping Sammy.
Sammy menarik nafasnya dalam, terdengar begitu berat. "Gildan menelpon," ucap Sammy.
"Owh!" Jawab Shita sambil membulatkan bibirnya.
"Gildan bilang kalau Mark---"
"Jangan dengarkan kak Gildan, selama ini kita mendengarkan kak Gildan, tapi apa yang kita dapat?" Shita langsung memotong kata-kata Sammy.
"Shita, kenapa tuan muda Mark memilihmu? Setau papa, sangat banya wanita-wanita bangsawan di sekelilingan tuan muda Mark itu."
"Mungkin karena aku special," jawab Shita dengan mengukir senyuman manis di wajahnya.
Sammy terdiam memandangi wajah putrinya begitu lekat. "Kamu benar, kamu memang special," seru Sammy sambil membelai pipi Shita begitu lembut.
"Iya, special untuk dia siksa!" Gerutu hati Shita.
****
Di rumah Abi.
Abi menghabiskan waktunya di rumahnya. Dia sangat malas keluar, karen malas bertemu dengan orang-orang Emanuel Group. Wajah Abi sangat terkenal, keluar dari rumah itu hanya membuat Mark mudah mendatanginya. Pekerjaan yang dikirim Gimar sudah selesai dia kerjakan. Pikirannya entah kemana, dia sangat ingin mencegah pernikahan Mark dan Shita, namun keberadaan Panti lebih penting baginya.
"Hallo beib," sapa Jane yang datang membawa banyak barang belanjaan. Jane heran melihat wajah Abi yang muram.
"Beib," sapa Jane sambil meletakkan barang belanjaannya.
"Jane, mau bantu aku?"
Pertanyaan Abi malah membuat Jane tertawa terbahak.
"Aku serius."
Seketika Jane berhenti tertawa melihat raut wajah Abi.
"Baiklah, maafkan aku," Jane langsung duduk di samping Abi.
"Jane, aku mengundurkan diri dari Emanuel Group karena ingin melindungi kamu dan ingin melindungi orang yang ingin kamu lindungi."
"Apa maksud kamu?" Jane masih belum mengerti.
"Abi ingin menikahi Shita, tapi ingin menyiksa gadis itu dalam ikatan pernikahan, karena dia adik Gildan."
Jane langsung berdiri, karena terkejut mendengar penuturan Abi. "Itu tidak boleh terjadi! Kasian Shita, dia anak yang baik, harusnya Mark memilih Ara yang sama buruknya dengan dia!"
"Itu juga karena ide dari Ara, mereka berdua kompak untuk menyakiti Shita."
"Beib, kita harus cegah beib! Jangan sampai ini terjadi, kasian Shita. Hidupnya akan menderita jika bersama iblis itu!"
Abi menarik tangan Jane. "Mark mengancam mengusir anak panti jika pernikahannya dengan Shita gagal."
Jane langsung mematung mendengar bentuk ancaman Mark, dia sangat sadar, Panti Asuhan itu sangat berharga bagi Abi.
Wajah Jane yang penuh ambisi, seketika berubah dengan raut wajah yang penuh keputus asaan. "Kita harus apa?" Jane menghempaskan dirinya kembali di samping Abi.
"Buat Mark jatuh cinta pada Shita, kamu beri Shita kekuatan dan bantu Shita untuk bermetamorfosis menjadi wanita cantik, dia sudah cantik, hanya saja belum terlihat, tapiii"
"Tapi apa?" Sela Jane, karena Abi tidak meneruskan ucapannya.
"Tapi tidak sebanding dengan kecantikan kamu," seru Abi.
Seketika wajah Jane merona memerah karena perkataan Abi.
"Apalagi sekarang, kamu makin cantik," seru Abi sambil membelai lembut wajah Jane. Hingga wajah keduanya semakin mendekat bagai magnet yang menarik besi.
Tlink!!
Bunyi ponsel Abi membuat keduanya tersadar. Jane langsung berpindah posisi .sedang Abi langsung meraih ponselnya.
"Sial!" Upat Abi.
"Ada apa?" Tanya Jane. Dia heran melihat raut wajah Abi.
"Pernikahan Mark dan Shita akan di langsungkan sebentar lagi, semua persiapan juga sudah rampung ini undangan digital yang aku dapat." Seru Abi sambil memperlihatkan pesan pada ponselnya.
"Aku harus menemui Shita, aku tahu Shita seperti apa, aku harus mempersiapkan mental dia, semoga dia kuat menghadapi tuan mudamu yang sombong dan tidak punya perasaan itu!" Gerutu Jane yang sambil meraih tas nya dan pergi dari rumah Abi.
"Jane …."
Seketika langkah kaki Jane terhenti, dia berbalik kearah Abi yang memanggilnya. "Ada apa?" Tanya Jane.
"Shita itu bagaikan berlian yang masih didalam sebuah batu, bantu dia memancarkan kilauannya."
Jane tersenyum mendengar ucapan Abi. "Baiklah, aku akan berusaha membantu dia, semoga Shita bisa membantu ke inginanmu yang selama ini belum terwujud, menyalakan kembali pelita dalam hati Mark yang padam."
"Sana berangkat, kalau masih di sini ku gigit kau!" Seru Abi.
"Bukan kau yang menggigitku, tapi aku yang menerkammu, Arggg!" Seru Jane dengan mengeratkan gigi-giginya. Membuat Abi tertawa dengan polahnya.
***
Setelah masuk kedalam mobilnya, Jane segera meraih ponselnya dan mengirimi Shita pesan lewat aplikasi hijau.
[Shita, aku pengen ketemu, bisa nggak kamu datang ke caffe tempat biasa aku nongkrong.] Jane.
Jane memainkan ponselnya sambil menunggu balasan dari Shita.
Tlink!
Senyuman mengambang di wajah Jane saat melihat balasan pesan dari Shita.
[Bisa kak, kapan??] Shita.
[Sekarang, aku tunggu ya, bye Shita.]
[Bye kak Jane.]
Jane segera tancap gas ketempat yang dia janjikan pada Shita.
Sedang Shita di sudut lainnya langsung bersiap untuk bertemu dengan Jane.
*****
Mohon maaf ya ceritanya masih belum bisa di balap, mohon maaf juga up nya cuma bisa 1 atau 2 eps perhari.
Terima kasih atas dukungan kalian semua pada karya ini.
Jangan lupa jempolnya sobat 😅😅😅😅😉👍
oneng kau mark...bayi disitu lahir hrs menangis
aura pembunuh Gimar membuat Shita mau muntah...kecian calon anak Mark