Tama datang dengan satu tujuan: menjaga Lengkara.
Bukan untuk dimiliki, apalagi diperebutkan—cukup memastikan gadis itu baik-baik saja.
Namun mendekati Lengkara tak sesederhana rencananya.
Saat Tama sibuk mencari cara supaya selalu ada di dekat Lengkara, justru Sasa muncul tanpa aba-aba. Terlalu berisik, terlalu berani, dan terlalu sering menyebut namanya seolah mereka sudah sedekat itu.
Ironisnya, Sasa adalah adik dari laki-laki yang terang-terangan disukai Lengkara.
“Bang, 831 gimana? Yes or no?” Sasa menatapnya penuh harap.
Tama mendengus, menahan senyum yang tak seharusnya ada. “Apaan sih, nggak jelas banget!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keterusan
Tama membuka mobilnya, belum sempat masuk ia sudah dibuat menghela nafas panjang melihat Sasa yang tengah mengambil jajanan di kursi belakang. Aneka makanan ringan yang minggu lalu di beli untuk Kara dan teman-temannya malah berakhir ia ditinggal pergi. Rok yang dikenakan Sasa sedikit terangkat membuat pahanya sedikit terekspos.
Tama segera menarik bahu gadis itu, "duduk yang bener. Biar gue ambilin!"
"Padahal udah mau keambil semua. Malah jadi pada jatuh kan jadinya." gerutu Sasa.
Tama mengambaikan ucapan Sasa, ia memilih mengambil semua jajanan di belakang dan meletakan di pangkuan Sasa. "Kalo ngapa-ngapain tuh di pikir jangan langsung pecicilan gitu. Lo kagak liat itu rok pendek? paha lo kemana-mana!"
Sasa nyenggir tanpa merasa bersalah. "nggak apa-apa deh, Bang. Sodakoh dikit."
"Heh! masa aja nyaut lo lagi dibilagin juga. Lama-lama gue lakban itu bibir, biar diem bentar aja."
"Boleh aja bang, dengan senang hati, asal pake bibir abang aja ngelakbannya."
"Bener-bener lo yah!" Tama memilih tak meladeninya. Ia terbiasa merayu cewek, tak jarang juga dirayu dan semua ia tanggapi. Tapi Sasa? entalah. Jangan menanggapi, mendengarnya saja sudah membuatnya kesal.
Tama hendak memakai sabuk pengamannya, tapi melihat Sasa yang masih sibuk memandangnya dengan gemas membuat Tama segera menarik sabuk pengaman gadis itu dan memasangnya dengan cepat.
"Ih cepet banget." protes Sasa, "minimal kayak di drama-drama dong bang. Mau masang sabuk pengaman aja pake tatap-tatapan terus-" lanjutnya menggantung kalimat sambil menautkan jari-jarinya.
Tama menoyor kening Sasa. "Terus apa? otak lo tuh isinya apa sih? heran gue."
"Ya terus jalanin mobilnya lah bang. Kayaknya otak abang yang mikir aneh-aneh deh."
"Heh!"
"Apa Bang?"
"Tau lah. Cape gue nanggepin ocehan lo. Nggak ada abisnya." pungkas Tama yang kemudian melajukan mobilnya.
Meskipun sudah diabaikan, Sasa masih saja terus mengoceh.
"Gimana bang? jadi nggak ngelakban bibir Sasa?"
"Kalo diem berati abang setuju besok buat jemput Sasa yah?"
"Bang!"
Tama hanya meliriknya sekilas kemudian kembali fokus ke jalan. Tak habis pikir juga, bisa-bisanya ia malah berakhir bersama adik orang yang tak ia sukai. Dari sekian banyak gadis, kenapa mesti adiknya Dirga?
"Turun di sini aja yah? rumah lo tinggal masuk dikit lagi." ucap Tama begitu mereka tiba di mini market depan perumahan Sasa.
"Justru tinggal dikit lagi, kenapa nggak dianterin sekalian sih?"
"Males gue. Ntar ketemu Abang lo. Ntar dia ngira gue lagi ngedeketin adeknya, padahal adeknya yang kecentilan ngikutin gue mulu." jelas Tama.
Sasa mengubah duduknya menghadap Tama.
"Satu, Sasa nggak ngikutin bang Tama. Kita kebetulan ketemu. Dan emang mungkin karena takdir kita nih berjodoh."
"Dua, Sasa nggak kecentilan yah. Sasa cuma minta tolong dan Bang Tama yang ganteng dan baik hati dengan suka rela mengantar Sasa."
Tama langsung memutar bola matanya mendengar jawaban Sasa. Suka rela dari mana, jelas-jelas gadis di depannya itu yang maksa.
"Tiga, ini yang paling penting nih. Kak Dirga nggak ada di rumah. Sekarang pasti belum pulang soalnya lagi acara nraktir temen-temennya. Tadi Kaleng juga ngajak Sasa, tapi Sasa nggak mau."
"Nggak ada alesan lagi kan? anterin Sasa lah. Sampe depan rumah boleh, atau mau masuk sekalian ngelamar juga boeh banget." lanjutnya.
Tama bergidig ngeri mendengarnya. Ocehan Sasa makin gila. Semalam masih masih memanggilnya calon pacar, sekarang tanpa jadian tiba-tiba nawarin lamaran? Aneh. Pacaran dengan Sasa saja tak pernah terlintas dalam pikirannya apalagi melamar? membayangkannya saja sudah membuat Tama takut.
"Bang?"
"Lo diem! gue anterin sekarang!"
"Nah gitu dong." Sasa langsung diam saat Tama menatapnya, "iya Sasa diem." lanjutnya.
Begitu sampai depan rumah, Sasa segera turun. "mampir dulu bang." ajaknya.
"Nggak, makasih." tolak Tama.
"Ya udah deh kalo hari ini nggak mau mampir, kali aja besok abang mau mampir. Besok jemput Sasa yah."
"Ogah. Ngelunjak banget lo jadi bocah." ketus Tama yang kemudian berlalu pergi.
Mobil Tama sudah menjauh, menyisakan debu tipis dan suara mesin yang makin mengecil. Sasa masih berdiri di depan rumah, tangan kanannya melambai-lambai, senyumnya nggak luntur sedikit pun, seolah omelan barusan bukan penolakan, tapi janji yang tertunda.
“Dasar Bang Tama,” gumamnya sambil berbalik masuk ke halaman. “Ngelak bilang nggak peduli, tapi dianterin juga.”
Sementara itu, Tama memegang setir lebih kencang dari biasanya. Entah kenapa kepalanya penuh suara, bukan klakson atau radio, tapi ocehan Sasa yang harusnya bikin pusing, malah nyangkut. Senyum gadis itu, cara ngomelnya, sampai kalimat absurd soal lamaran yang jelas-jelas bikin dia ngeri. Semuanya kebayang ulang tanpa izin.
“Bocah nyebelin,” desisnya, kali ini tanpa emosi kesal yang meyakinkan.
beat aja dah bagus micin
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
yang senyam senyum
ke tawa ngakak
geleng-geleng kepala
senyum lagi
ngakak lagi
ampe aku baca pagi-pagi depan paksu, malah di curigai 🤣🤣🤣🤣
ini semua karena micin, yang gurih, gemes dan genes🤣
awas aja kalau bang tam tam hanya becandain anak orang🙄
sabar ya sa