Alana Pattinson harus menelan pil pahit, setelah lulus strata dua, perusahaan yang didirikan ayahnya mendadak bangkrut, terlilit hutang.
Mencari pekerjaan di luar tidaklah mudah, apalagi dengan gaji tinggi untuk membiayai rumah sakit ayah serta hidup kedua adiknya.
Alana terpaksa menerima tawaran menikah dari pria tua kaya raya, yang menjamin perusahaan ayahnya bangkit kembali, tentu dengan syarat dan ketentuan berlaku.
Namun tidak seindah yang dibayangkan, karena sosok lain datang dan mengganggu kehidupan Alana. Bahkan berani melawan untuk mengambil kedudukan Alana.
Lewis Jansen tidak terima pada kenyataan, bahwa ayahnya menyerahkan posisi pimpinan utama perusahaan kepada ibu tirinya yang masih sangat muda. Segala upaya dia lakukan demi merebut semua haknya.
Ikuti terus kisahnya hanya di Noveltoon
Trap My Stepmother
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maciba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 Jangan Tinggalkan Aku
Debby Jansen tidak sabaran untuk menyelesaikan inseminasi buatan, dia ingin adik iparnya menanggung malu akibat hamil anak yang tidak jelas asal usulnya.
Berulang kali Debby keluar masuk mencari dokter yang dia bayar mahal, tetap saja hasil lab belum keluar dan membutuhkan waktu minimal satu jam agar hasilnya sempurna.
“Apa tidak bisa dilakukan sekarang juga? Kenapa harus nanti? Kalau dia bangun bagaimana?” cemas Debby, sebab jarum jam terus berjalan. Dia takut para pengawal di rumah menyadari Nyonya mereka yang menghilang dan mencarinya.
“Tidak bisa Nyonya, ini sama saja seperti Anda mengambil keputusan bisnis. Tidak bisa sembarangan. Mohon Anda sabar.” Dokter mendengus sebal, kerjanya pun tidak bisa dilakukan tergesa-gesa.
“Lamban” gerutunya kembali masuk ke ruang tunggu, tetap setia menanti hingga laboratorium selesai.
Debby merasa mengantuk pun terlelap tidur sembari duduk.
**
Sementara di dalam mobil
Lewis gelisah karena Alana hingga larut malam belum kembali ke rumah, sopir dan mobil milik keluarga Jansen menghilang secara mendadak. Alat pelacak yang tertanam di mobil rusak, tidak bisa terdeteksi. Lewis sudah memerintahkan anak buahnya mencari keberadaan Alana.
“Di mana kamu Alana? Kenapa tiba-tiba menghilang.” Lewis mengutuk dirinya sendiri karena tidak menjaga Alana hingga selesai menjenguk James.
“Liam, Alvaro temukan sopir pribadi yang bertugas menjemput Alana, lacak ponselnya. Alana dalam bahaya. Cepat lakukan sekarang juga.” Perintah Lewis kepada dua orang asisten pribadi yang terpaksa mengikutinya hari ini.
Ya semua memang rencana Debby Jansen, membuat Alana lemah tanpa pengawasan satu orangpun.
“Baik Tuan Muda.” Keduanya serempak menjawab, sibuk dengan ponsel masing-masing.
Setelah mencari, mereka pun menemukan sopir dan mobil, tas Alana tertinggal di dalamnya dengan ponsel yang kehabisan daya.
“Sial, di mana Alana? Sekarang juga lacak di mana Patricia dan Tante Debby, dapatkan kurang dari 30 menit.” Lewis memerintah tim IT di perusahaan miliknya. Pria ini yakin Debby atau Patricia sedang melakukan sesuatu yang merugikan.
Berselang 15 menit Lewis mendapat seluruh informasi yang diinginkan, dia tercengang karena Debby berada di luar rumah, tepatnya di luar kota dengan lokasi yang sulit di dapat pada map.
“Apa yang dia lakukan? Liam gunakan kemampuanmu mengendarai mobil. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan Alana!” Perintah Lewis benar-benar terkuras tenaganya.
Menempuh perjalanan lebih dari 45 menit, akhirnya Lewis tiba di klinik kecil. “Aborsi?” gumam Lewis, dia tahu bahwa Alana tidak hamil untuk apa melakukan hal semacam itu.
Lewis Jansen berhadapan dengan beberapa orang bertubuh besar yang menjaga lokasi tersebut.
“Br3n9sek. Katakan di mana wanitaku? Jawab! Di mana Alana?” teriak Lewis sudah kehilangan kesabaran, dia nyaris membunuh seorang penjaga dengan tangannya sendiri.
Alvaro dan Liam segera mencegah karena tujuannya ke sini untuk menyelamatkan Nyonya Besar Jansen. “Tuan Muda mohon kuasai diri Anda. Saya yakin Bu Alana ada di dalam.” Alvaro menahan tangan Lewis.
“Liam kau ikat mereka dan pastikan jangan lepas!” Lewis Jansen segera melangkah masuk. Membuka satu per satu pintu. Di paling ujung pintu tertutup, Lewis mendobrak kuat. Matanya melotot, mendapati seorang tenaga medis tengah memegang alat yang Lewis sendiri bingung untuk apa.
“Apa yang kalian lakukan? Lepaskan sekarang juga!” Lewis panik dan marah, dia menyerahkan semuanya kepada Alvaro untuk menangani kejahatan ini. Kemudian membawa pergi Alana.
“Al … Alana bangun! Sayang? Bangun Alana!” Lewis melepaskan tinju ke udara, segera membawa ibu sambungnya keluar dari klinik ini.
Wajah Alana pucat pasi, persendiannya pun lemas akibat obat bius yang melebihi dosis.
Tanpa buang waktu Lewis menuju rumah sakit terdekat, karena ibu sambungnya ini membutuhkan bantuan secepatnya.
Lewis setia menunggu hingga Alana siuman, menurut dokter tidak ada luka dalam yang serius. Namun tetap saja Lewis cemas. Wanita yang dicintainya harus menjalani kehidupan yang sangat berat seperti ini.
“Maafkan aku Alana.” Lirih Lewis menggenggam tangan wanita berkacamata
Satu jam kemudian, Liam mengirimkan email berisi laporan penting atas kejadian malam ini. Semuanya bersih dari tangan Debby. Dokter serta perawat yang diintrogasi sama sekali tidak menyebutkan nama orang lain.
Lewis membaca perlahan semua laporan, kata per kata diamati, sangat terkejut karena Alana akan melakukan inseminasi. Namun hasil lab mengatakan bahwa rahimnya tidak dalam kondisi subur, hingga proses pun tidak bisa dilanjutkan.
“Aku tidak percaya jika Alana menginginkan ini secara sadar. Pasti ada seseorang yang sangat membencinya. Aku yakin Tante Debby. Kalau Patricia rasanya tidak mungkin, otaknya tidak akan sanggup berpikir jahat sejauh ini.” Geram Lewis. Seandainya dia tidak datang tepat waktu entah apa yang akan terjadi.
“Lewis … Lew … Lewis?” panggil Alana, terbangun dari tidurnya.
“Alana? Syukurlah kamu baik-baik saja. Maafkan aku Alana.” Lewis memeluk tubuh ringkih itu, menciumi puncak kepala Alana.
Demi cintanya kepada Alana, Lewis Jansen bersumpah akan melindungi dan selalu menjaga Alana.
“Lew, aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku takut.” Cicit Alana mengingat bagaimana para pria menyekapnya di dalam mobil.
“Tenang sayang, aku tidak akan pergi kemanapun. Sekarang apa yang kamu rasakan? Aku panggil dokter.” Lewis menekan tombol di sisi ranjang pasien.
Kemiripan antara mendiang Nyonya Jansen dan Alana membuat Lewis tidak bisa berpaling, tapi rasa sayang yang dimiliki lebih dari sekadar kepada ibu.
‘Nyonya Jansen boleh pulang. Selama tiga hari ke depan obatnya tetap di minum Nyonya, agar tubuh Anda cepat pulih.’
“Terima kasih dokter.” Jawab Alana kemudian memandangi Lewis yang tersenyum manis. Di ujung ranjang.
“Pulang sekarang? Aku gendong ya.” tidak peduli seisi rumah sakit memperhatikannya, Lewis tetap menggendong Alana, mencurahkan segala perasaannya.
**
Kediaman Jansen
Debby panik, tubuhnya banjir keringat. Untung saja dia parkir mobil dengan jarak aman hingga Lewis tidak menaruh curiga kepadanya.
Setelah melihat keponakannya tiba di klinik melalui CCTV, secepat kilat Debby melarikan diri, tubuhnya yang tidak muda lagi pun terpaksa memanjat pagar tinggi.
Sekarang kakinya terkilir akibat melompat dari ketinggian.
“Mom kenapa? Sakit? Aku antar ke rumah sakit ya.” Khawatir Patricia, tidak biasanya penampilan Debby Jansen berantakan dan penuh keringat.
“Patricia bantu Mommy, gunakan wajahmu yang polos ini.” Tegas Debby Jansen membisikan semua perintahnya. Karena hanya Patricia yang bisa membuat alibi kuat.
“Siap Mom.” Patricia tentu saja mau, apalagi berkaitan dengan hasil akhir yang mendapatkan Lewis.
Karena rencana Debby sudah gagal kini gadis muda nan cantik yang begitu menggilai kakak sepupunya akan melangkah maju. Patricia harus memiliki Lewis Jansen.
“Mommy terlalu jahat menangani Alana. Tapi aku tidak mau menyentuh Tante menyebalkan itu. Biar saja dia menjadi tanggung jawab Mommy. Aku akan mendapatkan Lewis lebih dulu.” Desis Patricia Jansen memandangi gelapnya langit.
TBC
***
ada yang bisa tebak gak rencana apa ya?
besok ya 🙏
semangat kak nulisnya 💪🏻🥰