Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia, tapi nyatanya tidak.
Hari yang seharusnya berganti status menjadi seorang istri dari lelaki bernama Danish, kini malah berganti menjadi istri dari lelaki bernama Reynan, tetangga barunya. Yang katanya Duda.
Dia adalah Qistina Zara, bagaimana kisahnya? kemana Danish? kenapa malah menjadi istri dari lelaki yang baru dikenalnya?
yuk, ikuti kisah Zara di sini😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perih dan Mengganjal
Reynan dan Zara saat ini tengah berada di jalan menuju Tangerang. Tepatnya pukul empat sore.
“Jangan gini. Bahaya,” kata Zara, seraya melepaskan tangannya dari genggaman Reynan. Pasalnya Reynan menyetir dengan tangan satu.
“Aku mau kita terus seperti ini, Za. Jangan pernah lepaskan genggaman tangan ini ya, entah sedang susah atau senang. Temani aku dalam keadaan apapun,” kata Reynan seraya mengecup punggung tangan Zara.
Zara diam. Namun kepalanya ia angguk-anggukan.
“Selagi kamu tidak macam-macam, insya Allah aku selalu ada bersamamu, Mas.”
“Mas?” ulang Reynan.
“Iya … aku manggil kamu Mas, apa kamu keberatan?” tanyanya.
Reynan tersenyum. “Jelas nggak sayang,” jawab Reynan.
Zara membuang muka ke arah kiri. Bibirnya tersungging simpul, dengan pipi yang memerah.
Sedangkan di tempat lain. Danish sedang merasa kesal dan kecewa.
Bagaimana tidak, orang yang ia tunggu di Kafe tidak kunjung datang. Sampai ia menunggu selama tiga jam.
Danish kembali membaca ulang pesan dari Zara.
(Jam satu saya ke sana)
Setelah itu, ia berdecak keras. “kamu bohong, Za. Kamu sengaja buat aku nunggu? Apa ini salah satu rencana kamu untuk membalas perbuatanku?” batinnya.
“Mas!” Lea membentak Danish. Sontak Danish terkejut.
“Aku gak budek, Lea. Gak perlu teriak gitu,” kata Danish.
“Gak budek? Gak budek kamu bilang?” Lea bertanya dengan senyum getirnya. “AKU MANGGIL KAMU UDAH LEBIH DARI TIGA KALI, MAS. KAMU GAK RESPON SAMA SEKALI. KALO BUKAN BUDEK, APA NAMANYA?” Lea bicara dengan setengah berteriak. Sungguh ia kesal pada Danish.
“O-oh … ya, ya maaf. Aku mungkin gak denger, aku lagi banyak pikiran.”
Lea memutar bola matanya. “Mini Cooper buatku, gimana? Kapan ajak aku ke Showroom?” tanyanya.
Danish menghela napas dengan panjang. “Lea … kamu ‘kan tau, gaji aku berapa. Uang aku gak cukup buat beli mobil kayak gitu,” ucapnya.
“Kredit juga gak apa-apa,” jawab Lea dengan gampang.
“Sama, kalo kredit pun nanti kita mau makan apa?”
“Ya nasi-lah.”
“Iya … tau. Meskipun kredit, tapi tetap besar bayar per bulannya. Aku gak bisa, aku gak sanggup Lea.”
Lea langsung menatap tajam Danish. “Kamu mau anak kita ileran? Karena ngidamnya gak diturutin,” ucapnya.
“Ngidam itu yang wajar aja-lah, Lea. Umumnya ibu-ibu hamil. Kaya rujak mangga muda, kue atau apapun itu yang masih dalam tahap wajar dan mampu. Kalo ngidam Mini Cooper, aku angkat tangan. Aku gak bisa, aku gak mampu. Jangankan aku, Ayah kamu pun, belum tentu menuruti ngidam seperti itu,” kata Danish.
“Lagian … aku rasa itu bukan ngidam. Tapi itu mau kamu, karena kamu gak mau kalah dari Zara ‘kan?” lanjut Danish.
Prang!
Lea melempar botol parfum berbahan kaca itu ke lantai. “Jangan bawa-bawa wanita itu,” ucapnya.
Danish kembali menghela napas. Lekas ia bangkit dari duduknya lalu keluar dari kamar.
“Mau ke mana kamu?” tanya Lea.
Danish dia..
“Danish, mau ke mana?” tanyanya lagi.
“Keluar,” jawab Danish singkat.
“Ada apa? Suara apa tadi?” tanya Hanung pada Danish.
“Oh … itu botol parfum jatuh,” kilahnya. Mana mungkin ia menjawab yang sesungguhnya.
Hanung menganggukan kepalanya, ia percaya-percaya saja pada menantunya itu.
***
“Resign aja ya,” kata Reynan. Mereka masih di perjalanan.
“Kenapa lagi? Bukannya kita udah bahas masalah ini?” tanya Zara.
“Rasanya aku gak mau jauh dari kamu, Za.”
Zara berdecak pelan. “gak usah ngawur. Kita udah bahas ini dan udah ada titik terangnya. Jangan bikin pusing lagi,” kata Zara.
“Iya … tapi kalo aku pengen gimana?” tanyanya dengan wajah dibuat sendu.
Zara mengerutkan dahinya. “pengen apa?” tanyanya.
“Pengen kayak tadi,” jawab Reynan.
Zara mengulum senyum. Pipinya kembali memerah. Ia pun jadi teringat dengan permainan tadi yang membuatnya terbang melayang.
“Kan udah. Lagian seminggu sekali ketemu,” ucapnya.
“Iya … ketemunya Sabtu sama Minggu. Kalo aku mau hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, gimana?”
Pluk!
Zara memukul pelan lengan Reynan.
“Aku serius, Za. Kita pengantin baru dan kita baru melakukan itu, tadi. Ya wajar kalo aku mau terus ‘kan?” tanyanya. “Apa kamu gak mau?” lanjutnya.
Sontak Zara menoleh ke arah Reynan. “Kalo gitu … berarti kamu juga mau ‘kan?” tanyanya dengan senyum yang menggoda.
“Nggak mau, masih perih,” jawab Zara.
“Hah perih? Sakit?” tanya Reynan khawatir, dengan reflek mengelus bagian inti Zara.
“Mas …” pekik Zara. Ia terkejut, tiba-tiba tangan Reynan berada di sana.
“Sakit? Sekarang masih sakit?” tanyanya lagi.
“Sekarang nggak. Tapi kalo pipis sakit, sama jalan agak sedikit ngeganjel,” ucapnya.
“Kasian … maaf, ya.” Reynan bicara seraya mengelus pucuk kepalanya.
Zara merasa tersentuh. Suaminya ini begitu perhatian dan pengertian.
Tidak lama, mereka sampai di rumah Tangerang.
“Mau apa?” tanya Reynan, kala Zara mengambil koper.
“Katanya mau pindah ke rumah Ayah. Aku mau beresin baju dulu.”
“Nanti saja. Sini.” Reynan mendudukan Zara di pangkuannya.
“Jangan nakal. Ya,” lanjutnya.
“Nakal. Memangnya aku anak kecil apa,” ucap Zara. Ia sedikit tidak terima dengan perkataan Reynan.
“Nakal anak kecil, sama nakal orang dewasa itu beda.”
“Terus kamu gak percaya gitu sama aku?” Suara Zara sedikit naik.
Reynan tersenyum. “Bukan aku gak percaya sama kamu. Tapi sama orang lain. Aku gak mau istriku ini dilihat sama pria lain, apalagi dengan penuh nafsu. Jadi … kalo dandan, jangan cantik-cantik, ya.”
Zara menggigit pipi dalamnya.
Entah… bersama Reynan ia mudah sekali untuk tersenyum, meski dalam keadaan kesal.
Reynan membawa Zara pada pelukannya. Ia menghirup dalam-dalam aroma dari tubuh Zara.
Wangi dan terasa menenangkan.
“Mas … tangannya,” kata Zara. Di mana tangan Reynan sudah menyelinap masuk ke dalam bajunya.
“Suka ini. Pas banget di tangan aku,” ujar Reynan.
“Hem …” Zara menjawab dengan gumaman. Apalagi selain itu, bukan?!
Setelah itu, entah apa yang dilakukan Reynan. Tapi yang pasti, saat ini Zara sudah berada dibawah kendalinya.
***
Setelah Magrib, Reynan dan Zara pergi ke rumah Budi.
“Assalamualaikum,” ucap keduanya.
“Waalaikum salam. Rey, Za, kapan kalian pulang?” tanya Lia.
“Tadi sore, Bu. Maaf baru ke sini,” ujar Reynan.
“Iya, gak apa-apa. Ayo masuk,” ajak Lia.
“Hidangannya udah siap semua, Bu?” tanya Zara pada Lia.
“Udah … Za.”
“Rey.” Budi menyapa sang menantu, ia baru pulang dari masjid.
“Yah.” Reynan pun langsung mencium tangan mertuanya itu.
“Yah … Rey mau bicara sama Ayah,” kata Reynan.
“Ya, mau bicara apa?” Keduanya pun duduk di kursi teras rumah.
“Rey mau nitip Zara di sini lagi, Yah. Kerjaan Rey disini udah beres, Rey mau fokus lagi ke kerjaan Rey di Jakarta.” Reynan menjeda ucapannya dan Budi masih menunggu apalagi yang akan Reynan ucapkan.
“Kontrak kerja Zara di sini masih lama dan Zara masih ingin bekerja. Jadi … kami ambil jalan tengahnya, Yah. Rey di Jakarta dan Zara di sini, seminggu sekali Rey ke sini, atau kalo lagi padat, Zara yang ke Jakarta.”
Budi mengangguk-anggukan kepalanya. “Kalo Ayah, ya terserah kalian saja. Yang penting, keputusan udah kalian dipikirkan dengan matang.”
“Insya Allah, Yah. Apa gak keberatan kalo Zara kembali tinggal sama Ayah dan Ibu?”
Budi tertawa. “Mana mungkin kami keberatan. Zara anak kami satu-satunya, malah kami senang.”
Reynan tersenyum. “Iya, Yah maaf. Bukan begitu maksud, Rey. Daripada Zara sendirian di rumah, lebih baik Zara tinggal sama Ayah dan Ibu. Dan … rumah itu, Rey suruh Hendri yang tempati. Biar kumpul dengan istri dan anaknya,” ucap Reynan. Ia menjelaskan supaya tidak ada kesalahpahaman.
Budi menepuk-nepuk pundak Reynan. “Terima kasih udah menikahi anak Ayah, terima kasih udah peduli. Ayah sangat-sangat berterima kasih padamu, Rey. Dengan perasaan kalian, Ayah tidak tau. Tapi Ayah harap, kalian terus bersama membina rumah tangga ini, sampai ajal menjemput. Terus pupuk perasaan itu ya, Rey. Supaya subur dan cepat tumbuh besar. Tapi ingat, pupuklah dengan kadar yang pas. Tidak kurang ataupun tidak lebih. Jika kurang, hasilnya tidak maksimal. Kalo lebih, akan overdosis.”
Reynan mengangguk-anggukan kepalanya. Ia mengerti dengan apa yang ucapkan mertuanya itu.
“Pasti, Yah. Tanpa Rey sadari. Rey udah jatuh cinta sama Zara. Entah mulai kapan, tapi yang pasti, Rey tidak mau berjauhan dengannya. Tetapi … untuk saat ini, harus sabar dulu,” ucap Reynan.
Budi kembali menepuk-nepuk bahu Reynan.
Tanpa mereka sadari, Zara mendengar semua itu dan Zara merasa sangat bersyukur dinikahi oleh pria seperti Reynan.
***
Selepas isa, keluarga Hanung datang untuk menghadiri tahlilan Sofa, ini hari keenamnya Sofa meninggal.
Tahlilan dimulai, Zara merasa kurang nyaman kala tatapan Danish terus tertuju padanya. Sampai dimana, tahlilan itu selesai.
Satu persatu, tamu mulai pulang.
Zara ke belakang untuk menaruh piring dan gelas yang sudah kotor.
Di depan, kedua orang tuanya masih bercengkrama dengan Hanung dan Reynan, turut ikut serta di sana.
“Om, ikut ke kamar mandi,” kata Danish.
Budi hanya menganggukan kepalanya.
Bohong, jika ia tidak merasa benci pada lelaki itu. Namun… ia mencoba untuk berdamai.
Danish melangkahkan kakinya dengan kepala celingukan.
Danish tersenyum, kala ia melihat Zara tengah mencuci piring dan gelas kotor di wastafel.
“Kenapa tadi siang gak datang? Aku nunggu kamu tiga jam.” Danish bicara seraya memeluk Zara.