Kang Ji-hoon, seorang editor webnovel yang hidupnya biasa-biasa saja, tewas dalam sebuah kecelakaan. Namun, alih-alih mati, ia terbangun di tubuh Kang Min-jae, seorang pemuda di dunia paralel di mana "Gerbang" ke dimensi lain telah muncul, dan "Hunter" dengan kekuatan khusus bertugas menghadapi monster di dalamnya.
Terjebak dalam identitas baru dengan misteri ayah yang hilang dan tekanan untuk menjadi Hunter, Ji-hoon harus beradaptasi dengan dunia yang berbahaya. Dibantu oleh "sistem" misterius di dalam benaknya dan kekuatan telekinesis yang mulai terbangun, ia memasuki Hunter Academy sebagai underdog. Dengan pengetahuan editornya yang memahami alur cerita dan karakter, Ji-hoon harus menguasai kekuatannya, mengungkap konspirasi di balik transmigrasinya, dan bertahan di dunia di mana setiap Gerbang menyimpan ancaman—dan rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karma Danum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Latihan Pertarungan Pertama – Kalah Telak dari Min-hyuk
Ruangan latihan berlapis baja itu terasa dingin, meski lampu sorot di langit-langit memancarkan cahaya terang. Udara berbau besi dan keringat. Di tengah arena bundar, Lee Min-jae—atau yang kini dikenal sebagai Kang Ji-hoon—berdiri dengan lutut sedikit gemetar. Di seberangnya, Song Min-hyuk tersenyum sinis, tangannya bersilang di dada.
“E-rank potential,” ucap Min-hyuk dengan nada merendahkan. “Apa kamu yakin ingin memulai ini? Aku tidak mau disalahkan kalau kamu patah tulang.”
Instruktur kelas, Guru Park, mengangkat tangan. “Ini latihan pengenalan, bukan duel mati. Tujuan kalian adalah mengenali gaya bertarung masing-masing. Batas waktu lima menit. Mulai!”
Sinyal elektronik berbunyi nyaring.
Min-hyuk langsung melesat. **Cepat.** Terlalu cepat. Dalam pikiran Ji-hoon, waktu seakan melambat—insting editornya aktif. Dia melihat postur Min-hyuk: kaki kanan di depan, bahu sedikit turun, tangan kiri siap menangkis sementara tangan kanan terkepal.
*Postur agresif,* pikir Ji-hoon sambil melompat mundur. *Dia akan serang dengan pukulan lurus ke kepala—*
Tapi Min-hyuk tidak menyerang seperti yang diprediksi. Alih-alih pukulan lurus, dia tiba-tiba berbelok, kakinya menyapu rendah ke arah pergelangan kaki Ji-hoon.
“Aduh!” Ji-hoon terjatuh, punggungnya menghantam lantai keras. Napasnya tersedak.
“Satu,” hitung Guru Park dengan datar.
Ji-hoon berusaha bangun, tapi Min-hyuk sudah di atasnya. Tinjunya meluncur ke arah wajah Ji-hoon. Insting memerintahkannya untuk mengangkat tangan—dia mencoba memusatkan pikiran, memanggil kekuatan telekinesisnya yang masih belum stabil. Sebuah tekanan psikis terbentuk di udara, mencoba menahan pukulan itu.
Tapi Min-hyuk hanya tertawa kecil. Tinjunya menembus lapisan telekinesis tipis itu dengan mudah, mendarat di pipi Ji-hoon.
**DOR.**
Ji-hoon terpelanting, kepalanya berdenyut nyeri. Mulutnya terasa seperti ada logam—darah. Dia meludah, melihat percikan merah di lantai abu-abu.
“Dua,” suara Guru Park lagi.
*Ini tidak masuk akal,* pikir Ji-hoon sambil merangkak menjauh. *Kekuatan telekinesisku masih terlalu lemah untuk pertarungan langsung. Harus cari cara lain.*
Dia bangkit, kaki masih goyah. Min-hyuk sudah berdiri beberapa meter darinya, senyumnya kini lebih lebar. “Apa sudah cukup? Kamu bahkan tidak bisa membuatku berkeringat.”
Ji-hoon menghela napas, mencoba mengingat semua yang dipelajarinya minggu lalu. *Telekinesis bukan hanya untuk mengangkat benda. Bisa untuk sensing.* Dia menutup mata sebentar, memusatkan energi psikisnya ke sekeliling.
Dan dia *merasakannya*.
Aliran udara di ruangan. Getaran kecil dari langkah Min-hyuk. Bahkan detak jantung lawannya—cepat, tapi stabil, penuh percaya diri.
Ji-hoon membuka mata. Kali ini, dia tidak menunggu. Dia melangkah ke depan, bukan mundur.
Min-hyuk terkejut sesaat, tapi segera menyiapkan diri. “Berani, ya.”
Ji-hoon tidak menyerang secara fisik. Dia mengulurkan tangan, dan dengan segenap konsentrasi, dia *mendorong* udara di depan Min-hyuk.
Bukan dorongan fisik yang kuat—hanya cukup untuk membuat Min-hyuk kehilangan keseimbangan sepersekian detik.
Tapi itu cukup.
Ji-hoon maju, mencoba pukulan sederhana ke perut. Tangan Min-hyuk dengan cepat menangkis, tapi Ji-hoon sudah mengantisipasi—dia menarik tangannya kembali, menghindari tangkapan, lalu mencoba tendangan samping.
“Hm!” Min-hyuk menahan tendangan itu dengan lengan, tapi wajahnya sedikit berubah. “Jadi kamu bisa bertarung.”
Mereka saling berhadapan lagi. Ji-hoon bernapas lega—setidaknya dia bisa membuat Min-hyuk sedikit terdesak.
Tapi itu tidak berlangsung lama.
Min-hyuk mengubah strategi. Alih-alih menyerang langsung, dia mulai bergerak melingkar, mengamati Ji-hoon dari berbagai sudut. Ji-hoon mencoba mengikutinya, tapi kemampuan fisiknya jauh di bawah. Dalam hitungan detik, Min-hyuk sudah ada di belakangnya.
Ji-hoon berputar, terlambat.
Tinju mendarat di tulang rusuknya.
**KRUK.**
Ji-hoon tertekuk, rasa sakit tajam menusuk sisi tubuhnya. Dia terbatuk, air mata keluar tanpa disengaja.
“Tiga,” Guru Park berkata, suaranya mulai terdapat sedikit ketidaksabaran. “Ji-hoon, pertahananmu kacau.”
Min-hyuk mendekat lagi. “Sudah cukup, kan? Tidak ada gunanya dipermalukan lebih lanjut.”
Ji-hoon menggigit bibir. *Tidak.* Dia tidak bisa menyerah. Bukan di sini. Bukan di pertarungan pertama.
Dia mengingat kembali malam di Seoul—kecelakaan itu, cahaya putih, suara-suara. Dia dihidupkan kembali di dunia ini untuk suatu alasan. Dia belum menemukan jawabannya. Dan dia tidak akan berhenti hanya karena seorang anak arogan menganggapnya lemah.
Dengan sisa tenaga, Ji-hoon berdiri tegak. Dia mengangkat tangan lagi, tapi kali ini, dia tidak mencoba menyerang Min-hyuk. Dia fokus pada sesuatu yang lain—debu di lantai.
Dengan konsentrasi penuh, dia mengumpulkan partikel-partikel debu itu, membentuk awan kecil di antara mereka berdua.
Min-hyuk mengerutkan kening. “Apa itu?”
Ji-hoon tidak menjawab. Dia menggerakkan tangan, dan awan debu itu menerpa wajah Min-hyuk.
“Ah—!” Min-hyuk menggosok matanya, terkejut.
Itu hanya gangguan kecil—tidak menyakitkan. Tapi itu memberi Ji-hoon kesempatan.
Dia melompat maju, mengarahkan telekinesisnya bukan pada Min-hyuk, tapi pada *bajunya*. Dia menarik kerah seragam Min-hyuk ke belakang, membuatnya tersandung.
Min-hyuk hampir jatuh, tapi dengan refleks luar biasa, dia berputar di udara dan mendarat dengan stabil. Wajahnya kini memerah—bukan karena lelah, tapi karena marah.
“Main kotor?” suaranya rendah, berbahaya.
“Ini pertarungan,” balas Ji-hoon, napasnya masih tersengal. “Tidak ada aturan harus bersih.”
Min-hyuk mengernyit. “Baiklah.”
Kali ini, dia tidak main-main.
Gerakannya menjadi blur. Ji-hoon bahkan tidak bisa mengikutinya dengan mata. Satu pukulan mendarat di perutnya, lalu di dada, lalu di bahu. Ji-hoon terjatuh lagi, kali ini tidak bisa langsung bangun.
“Empat,” kata Guru Park. “Satu lagi dan latihan selesai.”
Ji-hoon berbaring di lantai, melihat langit-langit tinggi ruangan latihan. Napasnya sakit. Tubuhnya berdenyut-denyut. Di sekelilingnya, dia bisa mendengar suara siswa lain yang berbisik—ada yang kasihan, ada yang mengejek.
*Ini memalukan,* pikirnya. *Tapi…*
Matanya menatap Min-hyuk yang berdiri di atasnya, menunggu dia menyerah.
*Tapi aku belajar sesuatu.*
Ji-hoon menarik napas dalam, lalu dengan susah payah, dia berdiri lagi. Kakinya gemetar, tapi dia tidak jatuh.
Min-hyuk terkejut. “Kamu keras kepala juga.”
“Lima menit belum habis,” ucap Ji-hoon, suaranya parau.
Guru Park menganggap, sedikit terkesan. “Lanjutkan.”
Min-hyuk menghela napas, seperti kesal. “Aku akan akhiri ini cepat.”
Dia melesat lagi—tapi Ji-hoon sudah siap. Kali ini, dia tidak mencoba membaca gerakan Min-hyuk. Dia fokus pada *dirinya sendiri*.
Dia mengulurkan tangan, dan dengan sisa energi psikisnya, dia menciptakan bidang telekinesis tipis di depan tubuhnya—seperti perisai udara.
Min-hyuk menabrak perisai itu. Dia tidak terluka, tapi kecepatannya berkurang cukup bagi Ji-hoon untuk menghindar.
“Hah?” Min-hyuk melihat sekeliling, bingung. “Apa yang kamu lakukan?”
Ji-hoon tidak menjawab. Dia terus menjaga perisai itu, meski kepalanya mulai pusing. *Tidak bisa lama-lama,* pikirnya. *Konsentrasi mulai hilang.*
Min-hyuk mencoba menyerang dari samping. Ji-hoon memutar perisainya, berhasil menahan serangan lagi.
Tapi ketiga kalinya, Min-hyuk memahami polanya. Dia tidak menyerang langsung—dia menguji, mendorong dengan tangan, merasakan ketahanan perisai itu.
Lalu dia tersenyum. “Rapuh.”
Dia mengencangkan tinjunya, dan dengan gerakan cepat, dia memukul perisai telekinesis itu tepat di titik tengah.
Ji-hoon merasakan seperti sesuatu yang pecah di kepalanya. Perisainya runtuh, dan dia terlempar ke belakang, menghantam dinding arena.
**BRUK.**
Dia terpeleset ke lantai, tidak bisa bergerak.
“Lima,” suara Guru Park final. “Latihan selesai. Min-hyuk menang.”
Sorak-sorai kecil terdengar, tapi Ji-hoon tidak peduli. Dia berbaring di lantai, mata tertutup, mencoba mengatur napas. Setiap tarikan terasa seperti pisau di tulang rusuknya.
Langkah kaki mendekat. Dia membuka mata, melihat sepatu bersih Min-hyuk di dekat kepalanya.
“Kamu lumayan,” kata Min-hyuk, suaranya datar. “Untuk E-rank.”
Ji-hoon mencoba bicara, tapi hanya keluar suara serak.
Min-hyuk membungkuk, suaranya rendah. “Tapi jangan berpikir trik-trik kecil itu akan bekerja dua kali. Kekuatanmu lemah. Potensimu rendah. Lebih baik kamu tinggal di kelas remedial dan jangan bermimpi jadi hunter sejati.”
Setelah itu, dia pergi, bergabung dengan kelompoknya yang menyambutnya dengan tepuk punggung.
Ji-hoon tetap berbaring, menatap langit-langit. Pipinya bengkak, bibirnya pecah, dan harga dirinya hancur.
Tapi di balik rasa sakit dan malu itu, sesuatu yang lain tumbuh.
*Keinginan.*
Dan di sudut matanya, seperti kilas cepat, dia melihat sesuatu—sebuah gambar yang tidak seharusnya ada di sana. Gerakan Min-hyuk tadi, tapi diperlambat, dengan garis-garis merah menandakan titik-titik lemah, sudut-sudut yang bisa dieksploitasi, pola pernapasan yang tidak konsisten…
*47 kesalahan,* bisik suara di kepalanya—suara editor yang dulu menjadi dirinya. *Kamu melihat 47 kesalahan dalam pertarungan itu.*
Ji-hoon menutup mata, tersenyum tipis di balik bibir yang berdarah.
*Baiklah,* pikirnya. *Kalau begitu, aku akan edit pertarungan berikutnya.*
Guru Park mendekat, membantunya berdiri. “Kamu perlu ke klinik. Cedera ringan, tapi lebih baik diperiksa.”
Ji-hoon mengangguk, bersandar pada guru itu. Saat mereka meninggalkan arena, dia menoleh sekali lagi ke arah Min-hyuk.
*Lain kali,* janjinya pada diri sendiri. *Lain kali akan berbeda.*
Dan telekinesisnya, yang baru saja kalah telak, berdetak lembut di dalam dirinya—seperti hati yang bersumpah untuk tumbuh lebih kuat.
---