Kesempurnaan adalah ilusi.
Dan Tasya Andarini hidup dari ilusi itu.
Sebagai mahasiswi teladan dengan masa depan yang sudah tersusun rapi, Tasya percaya bahwa disiplin dan kendali adalah segalanya. Sampai dosen pembimbing memaksanya berpasangan dengan Dimas Ramadhan—playboy kampus dengan reputasi buruk, kecerdasan tersembunyi, dan masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan—untuk mengerjakan skripsi eksperimental yang menentukan kelulusan mereka.
Sejak awal, mereka saling membenci.
Tasya muak dengan sikap Dimas yang sembrono, tatapan tajam yang terlalu berani, dan cara bicaranya yang selalu menguji batas.
Dimas, sebaliknya, terganggu oleh sikap Tasya yang dingin dan perfeksionis—namun tak bisa mengabaikan ketegangan yang muncul setiap kali ia berdiri terlalu dekat.
Di antara deadline, aturan, dan hasrat yang tak lagi bisa disangkal, Tasya harus memilih: mempertahankan kesempurnaan yang rapuh, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta tanpa izin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Paksa
"Tasya... Bapak harap kamu bisa menyelesaikan tugas akhir ini dengan baik," ucap Pak Sasongko, Dosen mata kuliah penelitian, suaranya berat namun penuh wibawa. Tatapannya tampak seperti menuntut kepastian, seolah menyiratkan betapa pentingnya tugas itu bagi masa depan Tasya.
"Tapi, Pak... kenapa harus dengan Dimas sih?" Tasya bertanya, nada kesalnya tak bisa disembunyikan. Ia berusaha tetap sopan meskipun rasa kecewanya menggumpal. Bagaimana mungkin ia dipasangkan dengan Dimas, si berandal kampus yang terkenal bengal dan tak bisa diatur?
Pak Sasongko tersenyum tipis, namun tatapan matanya bergeser menjadi sesuatu yang membuat Tasya bergidik. "Bapak cuma nggak mau," katanya pelan. Jemarinya, tanpa diundang, mulai merayap ke tangan Tasya yang bertumpu di meja. "Kamu dekat dengan orang lain," bisiknya, nada suaranya berubah menjadi sesuatu yang asing-dan menjijikkan.
Tasya terperanjat, matanya melebar. Ia menarik tangannya cepat, seperti tersentuh bara. Sudah sering ia mendengar desas-desus tentang Pak Sasongko, namun kini dia mengalaminya sendiri dan terasa lebih menjijikkan daripada yang ia bayangkan.
"Kalau begitu, saya pamit dulu, Pak," katanya dengan nada tegas, berusaha menutupi getaran emosinya. Ia berdiri, menghentakkan kakinya dengan sengaja, lalu berjalan keluar ruangan tanpa menoleh lagi.
Wajahnya memerah, baik karena marah maupun malu. Segala sesuatu tentang hari itu terasa salah, terlebih saat ia tahu harus bekerja sama dengan Dimas Handoko-kakak kelasnya yang selalu membawa masalah di kampus Permata Negeri.
"Hei, Sya... kok mukamu kusut banget?" Nina, sahabatnya, langsung menegur saat mereka berpapasan di lorong.
"Bete, gue, Na," keluh Tasya sembari terus melangkah menuju kantin. "Masa gue harus satu kelompok sama Dimas, sih." Ia merogoh tasnya, mengambil lap kacamata, lalu membersihkan lensa dengan gerakan penuh emosi. "Udah gitu, si tua bandot itu sempat-sempatnya megang tangan gue lagi. Ih, najis!" Suaranya meninggi di akhir kalimat, jelas mencerminkan rasa muaknya.
Tasya mempercepat langkah, meninggalkan gedung jurusan sosial politik, seakan ingin segera menjauh dari semua hal yang membebani pikirannya.
Nina hanya menggelengkan kepala sambil memperhatikan punggung sahabatnya. Ia tahu Tasya adalah tipe yang perfeksionis-selalu ingin segalanya berjalan sesuai rencana, termasuk memilih teman yang sejalan dengannya. Sayangnya, hari ini jelas bukan harinya.
Sesampainya di kantin, Tasya langsung memesan mi goreng kesukaannya. Aromanya yang menggoda sedikit membantu meredakan kekesalan di hatinya. Sementara itu, Nina duduk di hadapannya, sibuk memperbaiki riasan yang mulai memudar, menggunakan cermin kecil di tangannya.
"Terus, rencana kamu gimana, Sya?" tanya Nina tanpa melepaskan pandangan dari cermin, alisnya terangkat sedikit seperti ingin memastikan eyeliner-nya rapi.
"Nggak tahu deh..." Tasya menghela napas, kedua tangannya mengacak rambutnya sendiri, frustrasi. "Gue agak ngeri aja kalau ujung-ujungnya malah nggak bisa seminar." Matanya menatap jauh, seperti membayangkan ancaman yang tak terelakkan. "Bisa digantung sama nyokap kalau gue nggak ngajuin judul bulan depan," lanjutnya, suaranya mulai melemah.
Nafasnya terasa berat saat membayangkan wajah ibunya yang penuh tekanan-wajah yang tak pernah bosan mengingatkan soal skripsi, soal kesempurnaan.
"Sya!" bisik Nina tiba-tiba, suaranya berbisik tajam sambil menyikut lengan Tasya. Pandangan Nina tertuju pada seorang pria berambut ikal yang berjalan mendekat, tato bunga dahlia menghiasi lengan kanannya.
Dimas Handoko.
"Halo, Nerd!" sapa Dimas dengan nada tengil, senyum khasnya yang memancing emosi langsung muncul. "Akhirnya gue bisa satu kelompok juga sama lo." Dengan santai, dia menjatuhkan tas lusuhnya ke atas meja, membuat dentuman keras yang tak terhindarkan.
"Brengsek!" Tasya langsung berteriak, wajahnya memerah karena kesal. "Lo nggak lihat gue lagi ngapain?" katanya, tangannya dengan sigap mendorong tas Dimas yang nyaris menimpa proposal penelitian miliknya.
"Jiah... marah," sahut Dimas sambil terkekeh, matanya menyipit seolah menikmati kemarahan Tasya. "Oh ya, sampai jumpa besok di kelas, ya." Tanpa menunggu balasan, dia melangkah pergi dengan santai, menuju sekelompok teman wanitanya yang sedang duduk di sudut kantin.
"Lo lihat sendiri kan... betapa menyebalkannya dia," Tasya menggerutu sambil menggigit bibir bawahnya, mencoba meredam kemarahan yang terus membuncah.
"Tapi kalau aku lihat... Dimas ganteng juga ya," celetuk Nina sambil menopang dagunya dengan satu tangan, matanya berbinar nakal. "Aku mau deh jadi pacar semalemnya dia," tambahnya, bibirnya melengkung membentuk senyum menggoda.
"Nina!" seru Tasya, matanya melotot sambil kedua tangannya mencengkeram rambutnya sendiri. Wajahnya berubah cemberut, tak habis pikir dengan celoteh sahabatnya itu.
Keesokan paginya, sepuluh mahasiswa sudah duduk rapi di depan kelas, menunggu kedatangan Pak Sasongko. Suasana kelas hening, semua menanti pembagian tugas akhir yang akan menentukan langkah berikutnya menuju seminar.
Pak Sasongko, pria berusia 55 tahun dengan rambut memutih di sisi pelipisnya, masuk membawa setumpuk proposal skripsi. Matanya menyapu ruangan di balik kacamata plusnya. "Ayo, masuk ke dalam semua. Bapak mau absen satu per satu," katanya dengan nada tegas.
"Ini kok cuma sepuluh orang ya?" gumamnya sambil memeriksa daftar hadir. "Dimas Handoko ke mana dia?" Matanya mendelik dari balik kacamata, mencari-cari sosok mahasiswa yang terkenal sering terlambat itu.
"Maaf, Pak. Saya terlambat," suara Dimas muncul dari ambang pintu. Nafasnya tersengal-sengal, keringat membasahi dahinya.
"Ini sudah jam berapa, Dimas?" tegur Pak Sasongko, mengangkat lengan untuk memperlihatkan jam tangannya. "Kuliah jam 11 saja masih kesiangan. Terus jas almamater kamu mana?" nada suaranya meninggi, jelas tidak puas dengan penampilan Dimas yang hanya mengenakan kaos putih lusuh dan celana jeans robek.
"A-anu, Pak... ketinggalan di motor," jawab Dimas dengan nada lesu, melangkah masuk ke dalam ruangan.
"Gimana mau lulus kalau kelakuan kamu masih begini?" gerutu Pak Sasongko sambil menggelengkan kepala.
Setelah itu, pembagian kelompok dimulai. Pak Sasongko membagi mahasiswa menjadi empat kelompok, masing-masing terdiri dari dua hingga tiga orang. Semua berjalan lancar sampai Tasya mengangkat tangannya dengan wajah penuh protes.
"Maaf, Pak... saya bisa bertukar dengan kelompok satu?" tanyanya, melirik ke arah dua pria yang duduk di kelompok lain.
"Bapak sudah sampaikan kemarin, Sya. Kamu dengan Dimas Handoko," jawab Pak Sasongko tegas sambil membuka proposal milik Dimas. "Judul kalian hampir mirip, dan pembahasannya sama-sama soal dampak sosial kawula muda." Dia mengangkat proposal Dimas berjudul Pengaruh Teknologi terhadap Masyarakat di Kota Besar.
"Haduh!" gerutu Tasya sambil melirik kesal ke arah Dimas yang duduk santai di sebelahnya.
"Kalau kamu mau naik judul, bisa mulai penelitian besok dengan Dimas. Tapi kalau mau semester depan, silakan. Saya tidak memaksa," tegas Pak Sasongko sambil merapikan daftar hadirnya.
"I-iya, Pak," jawab Tasya akhirnya, nada suaranya terdengar berat, menandakan ketidaksukaan. Dia tahu ini akan menjadi ujian berat baginya.
Setelah pembagian kelompok selesai, Pak Sasongko meninggalkan ruangan, memberikan waktu bagi mahasiswa untuk berdiskusi dengan kelompok masing-masing. Namun, Tasya justru sibuk dengan laptop yang ada di pangkuannya, menghindari interaksi.
"Sst!" bisik Dimas dari samping, mendekatkan wajahnya. "Lo mau kerja sendirian?" tanyanya sambil menaikkan sebelah alis.
"Berisik!" sahut Tasya ketus tanpa menoleh.
Tak kehilangan akal, Dimas langsung menarik laptop dari pangkuan Tasya. Namun, tangan Tasya dengan cepat menepisnya. Tidak berhenti di situ, Dimas tiba-tiba meraih tangannya, menggenggamnya erat.
Mata mereka bertemu, saling menatap dalam beberapa detik yang terasa seperti selamanya.
"Jangan kurang ajar lo ya!" ucap Tasya akhirnya, dan dalam sekejap, telapak tangannya melayang ke pipi Dimas. Bunyi tamparan bergema di ruangan, membuat semua mata tertuju pada mereka