NovelToon NovelToon
CINTA KEDUA DI RUMAH MEWAH

CINTA KEDUA DI RUMAH MEWAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Fantasi Wanita
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cumi kecil

Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.

Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.

Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 KETEGASAN AMMAR.

Keesokan harinya, langit pagi tampak cerah. Namun suasana hati Ammar sama sekali tidak secerah cuaca di luar jendela ruang kerjanya.

Ammar duduk di balik meja besar dari kayu gelap, menatap layar laptop tanpa benar-benar fokus. Berkas-berkas penting terbuka, laporan keuangan berjalan, grafik proyek naik stabil semua yang selama ini menjadi pusat hidupnya.

Namun pagi itu, pikirannya tertinggal di rumah.

Pada wajah kecil Queen yang tertidur. Pada pertanyaan polos yang menusuk jantungnya lebih dalam dari pisau mana pun.

Dan pada keheningan istrinya yang bahkan hingga pagi ini belum menghubunginya. Ponsel di atas meja bergetar.

Nama yang muncul di layar membuat rahang Ammar mengeras.

Melinda.

Ia menatap layar itu beberapa detik, sebelum akhirnya menekan tombol terima. “Ya,” ucapnya singkat.

Belum sempat ia melanjutkan kata lain, suara di seberang langsung meledak.

“Dasar menantu tidak tahu diuntung!” teriak Melinda tanpa basa-basi. “Berani sekali kamu melangkah sejauh itu, Ammar! Kamu pikir kamu siapa sampai berani memutus kontrak kerja Sabrina?!”

Ammar menutup mata sesaat, mencoba mengendalikan napasnya. “Ibu,” katanya pelan namun tegas, “saya tidak ingin ribut denganmu.”

“Jangan sok tenang!” bentak Melinda. “Kamu sudah lancang! Karier Sabrina kamu rusak hanya karena ego kamu sebagai laki-laki!”

Ammar membuka mata, tatapannya mengeras. “Saya ini suami sekaligus ayah,” ucapnya jelas, satu per satu katanya ditekan. “Jika dengan permintaan baik-baik tidak didengar oleh istriku, maka saya harus bersikap tegas.”

“Tegas?” Melinda tertawa sinis. “Kamu menyebut ini tegas? Ini penindasan!”

“Sabrina adalah seorang istri,” lanjut Ammar tanpa peduli, “sekaligus seorang ibu. Tapi di mana tanggung jawabnya? Anak kami sampai meminta adik kepada orang lain, Bu. Apakah itu normal?”

Sejenak, Melinda terdiam. Namun hanya sesaat.

“Jangan jadikan anak sebagai alasan!” sahutnya keras. “Queen baik-baik saja. Dia hidup mewah. Apa kurangnya?”

“Yang kurang adalah ibunya,” jawab Ammar dingin.

Suasana di seberang langsung memanas.

“Kamu benar-benar sombong, Ammar,” ucap Melinda dengan suara tajam penuh kebencian. “Merasa berkuasa hanya karena kamu kaya!”

Ammar berdiri dari kursinya. “Saya tidak sombong,” katanya menahan emosi. “Saya hanya menuntut hak anak saya.”

“Hak?” Melinda tertawa mengejek. “Kamu pikir Sabrina hidup dari belas kasihanmu? Jangan lupa, dia juga bekerja!”

Ammar mengepalkan tangan. “Uang bulanan yang saya berikan padanya jauh lebih besar,” katanya tegas, “daripada pendapatannya dari menjadi model. Saya tidak pernah melarangnya bekerja saya hanya ingin dia ingat rumah.”

“Cukup!” teriak Melinda. “Jika sampai karier Sabrina hancur karena ulahmu siap-siap saja kalian bertemu di persidangan!”

Ancaman itu meluncur begitu saja. Tanpa ragu. Tanpa rasa sungkan. Ammar terdiam. Bukan karena takut. Melainkan karena kecewa.

“Jika itu yang ibu inginkan,” ucap Ammar rendah,

“maka silakan.”

Tut...

Sambungan terputus. Ammar menurunkan ponselnya perlahan. Dadanya naik turun. Matanya memancarkan kemarahan yang tertahan.

“Persidangan…” gumamnya. Ia tertawa kecil tawa pahit yang tidak mengandung humor sedikit pun.

“Semua selalu berakhir seperti ini.”

Ammar meraih jas hitamnya, mengenakannya dengan gerakan cepat dan kasar. Pintu ruangannya terbuka ketika ia melangkah keluar.

Betrand, orang kepercayaan sekaligus tangan kanannya, langsung berdiri dari kursinya.

“Tuan?” panggil Betrand terkejut melihat raut wajah Ammar. “Anda mau ke mana?”

Ammar terus melangkah tanpa menjawab. Langkahnya panjang dan cepat, seolah ia sedang mengejar sesuatu atau melarikan diri dari sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.

“Tuan Ammar!” Betrand menyusul. “Ada rapat dengan investor satu jam lagi!”

Ammar berhenti mendadak. Ia menoleh. “Batalkan.”

“Semua?” tanya Betrand ragu.

“Semua,” jawab Ammar tegas. “Hari ini aku tidak bisa berpura-pura menjadi CEO yang tenang.”

Betrand terdiam, lalu mengangguk. “Baik, Tuan.”

Ammar melangkah menuju lift. Begitu pintu tertutup, ia menyandarkan tubuhnya ke dinding, mengusap wajahnya kasar.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama Ia merasa lelah. Bukan oleh pekerjaan. Melainkan oleh pernikahan yang terasa seperti medan perang.

Di rumah produksi, Sabrina berdiri di depan kamera dengan wajah sempurna. Make-up flawless, senyum profesional, dan sorot mata penuh percaya diri.

“Cut! Perfect!” seru sutradara iklan.

Semua orang bertepuk tangan. Namun di sela kegembiraan itu, manajer Sabrina mendekat dengan wajah pucat.

“Sa—Sabrina,” bisiknya. “Beberapa kontrak… dibatalkan.”

Sabrina mengernyit. “Apa maksudmu?”

“Pihak sponsor menarik diri. Katanya… keputusan dari pemegang utama.”

Wajah Sabrina menegang. Pemegang utama.

Ia tahu siapa itu.

Tangannya gemetar saat meraih ponsel. Puluhan panggilan tak terjawab dari Ammar memenuhi layar.

Amarah perlahan menggantikan keterkejutannya.

“Dia benar-benar berani…” gumamnya.

Di tempat lain, mobil Ammar melaju cepat membelah jalanan kota. Tujuannya satu.

Rumah.

Bukan rumah mewah yang selama ini sunyi melainkan tempat di mana putrinya menunggu.

Ammar menatap ke depan dengan rahang mengeras.

Jika harus bertarung... maka kali ini ia tidak akan mundur.

Karena yang ia perjuangkan bukan harga diri.

Melainkan seorang anak kecil yang hanya ingin merasakan kehadiran orang tuanya. Dan Ammar bersumpah ia tidak akan kalah.

1
Reni Anjarwani
terlalu bodoh ammarrt
Felycia R. Fernandez
Makanya jadi laki laki itu yang tegas,bukan hanya nafsu doank.di ajak hiha hiho langsung melempem.gak ingat apa yang udah terjadi ma Sari.bukannya cepat2 dinikahi.
ollyooliver🍌🥒🍆
gak usah peduliin, nanti ammar malah kesenangan..merasa direbutkan dua wanita😒
Felycia R. Fernandez: setuju
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
ibu SETAN!
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
kamu kenap gak tegas sebagai kepala keluarga Ammar,masa istri durhaka begitu masih dipelihara..
Nurminah
wanita tidak tahu diri plus tidak bersyukur
Felycia R. Fernandez
ya sakit donk... karena Ammar juga sudah memperkosa mu
Apriana Suci
bagus ammer kamu harus tegas💪💪
Felycia R. Fernandez
firasat seorang ibu gak akan pernah salah 🥺
Felycia R. Fernandez
Harus...Ammar harus bisa bertanggung jawab...
ceraikan Sabrina,nikahi Sari...
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
kasihan Sari🥹
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
bagus Ammar kamu harus tegas jadi laki² apalagi kamu kaya jangan mau disetir sama istrimu🥹
ollyooliver🍌🥒🍆
suaminya gak tegas pdhl kepala RT, pantas istri dan mertua semena" ..banyak mengalah, orng suaminya kek kue lapis.


lembek🙃
ollyooliver🍌🥒🍆
rumah tangga siapa yg punya? siapa.yg menjalani?...

kaulah ,...bodoh!
ollyooliver🍌🥒🍆
kerja keras apaan..lo dari jalur orng dlm njirrr😒
ollyooliver🍌🥒🍆
tdk sopan🙄
Sweetie blue
queen anak yang manis😍
Sweetie blue
Sari semangat💪
Felycia R. Fernandez
jiaaaah...
Ammar salting nih... ya Queen,papa mu hampir saja membuatkan kamu adik dengan Sari...
untung papa mu cepat waras lagi...
Felycia R. Fernandez
😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!