Lusiana mengakhiri hidupnya karena sangat kecewa dengan Sang Mama yang tidak pernah mengerti akan perasaannya.
Lusiana mengira setelah kematiannya adalah akhir dari rasa sakitnya, tetapi, justru arwah yang penuh luka dalam dendam itu membawanya harus terjebak di dalam boneka.
Lusiana yang berada di dalam boneka memuaskan dendam dan mencari siapapun yang pantas mendapatkan hukumannya.
Lusiana, dialah boneka yang akan menghasut siapa pemiliknya untuk melakukan kejahatan.
Cerita ini hanya fiktif, bagi yang menyukainya, jangan lupa untuk like dan komen setelah membacanya, ya.
Dukung karya author, ya. 💙
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilema Karin
Melihat itu, Karin memilih pulang dan Arion yang sudah mendapatkan pertolongan itu mencarinya, ia bertanya pada Melodi dan Melodi menjawab kalau dirinya tidak tau.
Dan Karin yang sekarang sedang duduk di tepi ranjang kecilnya itu menatap lemari yang terus berisik, ya, itu Lusiana yang meronta agar bisa keluar.
Namun, bukannya berhasil, tapi itu membuatnya semakin kehabisan energi dan karena Lusiana terkurung, bagaimana tubuh wanita itu.
Wanita itu membuka mata dan bertanya-tanya, kenapa dirinya ada di gedung kosong dan gedung itu terlihat sangat menyeramkan. Wanita itu bangun dari berbaringnya dan kembali ke gubuk suaminya, di sana, ia tak menemukan suaminya atau anaknya yang sudah ada di panti asuhan.
Wanita itu pun menjadi linglung.
****
"Karin," lirih Hendru yang ada di balik pintu kamar Karin.
Karin pun bangun dari duduk, ia membukakan pintunya dan mempersilahkan Hendru untuk masuk.
"Iya, ada apa, Pa?" tanya Karin.
"Di depan ada tamu, dia keluarga almarhum ayah tirimu."
Karin menduga kalau keluarga itu akan meminta haknya dan benar saja, saat Karin sudah ikut bergabung, mereka tidak basa-basi lagi.
Adik Bram meminta Karin untuk menandatangani sebuah surat di atas materai dan Karin akan mendapatkan uang yang cukup.
Karin tak mau menandatangani dan juga tak mau uang itu.
"Kalau kalian merasa itu bukan hakku, maka ambilah," kata Karin dan adik Bram tetap membutuhkan tanda tangannya untuk memegang ucapan Karin.
Karin yang tak ingin meributkan harta pun menandatanganinya.
Setelah mendapatkan itu, keluar Bram yang bersifat sombong dan angkuh itu pergi.
Setelah melepaskan harta tersebut, Karin merasa lega dan Hendru mengusap punggung Karin.
"Karin, kalau kamu melepaskan warisan kamu, bagaimana kita akan menjalani hidup?" tanya Hendru seraya menatap Karin.
"Itulah Papa, dari dulu selalu bergantung dan sekarang untuk hidup sendiri pun bingung uang dari mana," jawab Karin tanpa melihat wajahnya.
Hendru menarik nafas dalam.
Karin sendiri harus memutar otaknya, karena orang yang membiayai hidupnya kini telah tiada dan Karin memutuskan untuk berjualan, bermodalkan sisa uang pemberian Bram.
****
Di rumah sakit, Arion merasa kesal pada Karin yang tidak datang menjenguknya dan Arion masih dengan perbannya itu turun dari brangkar.
"Kamu mau kemana, Arion?" tanya Melodi yang baru saja datang, Melodi datang dengan membawa Cila digandengannya.
"Urusan, sebentar," jawab Arion yang tak menoleh, Arion juga melewati dua temannya yang datang untuk menjenguk.
Sesampainya di rumah Karin, Arion melihat gadis itu membuka warung kelontong dan Arion yang masih berdiri sedikit jauh dari rumah Karin itu mendekat.
Arion yang tidak dapat bersikap romantis itu sedikit menarik rambut Karin yang di kuncir kuda.
"Kenapa kamu tidak datang untuk menjengukku?" tanya Arion dan Karin mengerucutkan bibirnya.
"Apa lagi, di sana ada mantan istrimu, setiap aku datang, dia pasti ada," jawab Karin yang kemudian melanjutkan pekerjaannya yaitu merapikan warungnya dan Hendru yang sedang membantu Karin itu memilih untuk masuk, ia tak ingin mengganggu Karin dan Arion.
"Ayo kita menikah," ajak Arion dan Karin menatapnya datar.
"Kamu lagi ngajak nikah apa ngajak main petak umpet?"
"Aku serius," jawab Arion seraya meraih tangan Karin dan tetangga Karin yang sedang melintas melihat itu, "Terima saja Mbak Karin," kata tetangga Karin.
"Mereka saja tau, kalau kamu harus menerimaku," kata Arion yang seolah mendapatkan dukungan.
****
Malam ini, Karin yang sudah berbaring itu menatap langit-langit kamarnya, ia bertanya pada dirinya sendiri.
"Apakah aku harus menerimanya?"
Dan Karin yang sedang memikirkan Arion itu menatap arah lemarinya yang selalu berisik.
"Lusi... Lusi, lebih baik kamu diam, tidak perlu menghabiskan banyak tenagamu," kata Karin dan Lusiana yang mendengar itu mencoba sekali lagi untuk memecahkan kaca tersebut dan Lusiana sama sekali tak dapat keluar.
"Kariiiiin!" teriak Lusiana dan Karin tidak mendengar teriakan itu, ia hanya mendengar suara berisik dari kotak itu yang terus bergerak.
****
Melodi yang baru saja putus dengan kekasihnya itu berharap kalau Arion akan melihatnya lagi, apalagi di tangan Melodi ada Cila yang sama sekali tak mendukung Arion dan Karin.
Sementara Arion, ia yang sudah diperbolehkan pulang itu sedang menatap fotonya bersama Karin.
"Melodi masa laluku, dia pergi dengan pria lain dengan alasan aku yang terlalu sibuk, padahal aku sibuk mencari nafkah, aku menjalankan tugasku dan di sendiri tidak mau meninggalkan pekerjaannya, apa itu salahku?" tanya Arion pada dirinya sendiri.
Arion tak berhenti memikirkan gadis tomboi yang belakangan ini selalu ia pikirkan.
****
Beberapa hari berlalu, sekarang, Arion sudah kembali bertugas dan kali ini Arion mendapat kasus dari seorang pria gendut yang jazadnya di temukan di kali dan jazad itu sudah membengkak dan hampir busuk.
Dari penyelidikan, pria itu adalah korban pembunuhan terbukti dari adanya bekas luka memar di wajahnya dan luka tusuk di pinggangnya.
Dan mayat tanpa identitas itu sudah biasa bagi Arion dan timnya.
Lalu, Arion dan timnya bekerja sama mencari anggota keluarganya lebih dulu.
Sementara Arion bekerja, Karin tengah kedatangan tamu, tamu itu adalah Melodi dan Cila.
Melodi yang masih berdiri di depan toko Karin itu mengatakan kalau dirinya dan Arion akan kembali bersatu.
Karin hanya menatapnya datar dan Karin baru merasakan cinta yang sesakit ini.
Cinta yang tanpa ikatan jelas dengan Arion, tanpa sebuah ikatan yang jelas entah itu pacar Arion atau calon istri Arion.
Karin sendiri tidak tau statusnya bersama pria itu, lalu, Karin yang berdiri dari balik etalasenya itu mengusap cincin Arion yang masih melingkar di jari manisnya.
Karin yang sangat kecewa mendengar kabar kembalinya Arion dan Melodi itu melepaskan cincin tersebut dan berniat untuk mengembalikannya.
Karin menitipkan toko pada Hendru yang sedang menonton televisi.
****
Singkat cerita, Karin sudah ada di rumah Arion, duduk manis di ruang tamu seraya mengingat waktu kebersamaannya waktu lalu.
Karin melihat jam di dinding ruangan itu dan ternyata Karin sudah menunggu lama dan Karin yang lelah menunggu itu memutuskan untuk pulang.
Karin baru saja keluar dari pagar rumah Arion dan Karin yang berbalik badan itu melihat Arion yang sudah berdiri di sana.
Karin sedikit terkejut.
"Aku Arion, bukan hantu, jangan takut!" kata Arion yang melihat Karin ketakutan.
Setelah itu, Karin kembali masuk dan Karin dimintai untuk menunggu karena Arion yang merasa sangat gerah itu ingin mandi.
Tetapi, Karin yang tak dapat menunggu itu menghentikan langkah kaki Arion.
"Aku hanya ingin mengembalikan ini," kata Karin seraya mengulurkan tangannya, memberikan cincin yang sempat melingkar di jari manisnya.
"Apa ini?" tanya Arion seraya menatap Karin.
Apakah Arion akan melepaskan Karin begitu saja?
Jangan lupa like dan komen setelah membaca, ya. Dukung juga author dengan cara Vote/giftnya.
Dukungan kalian adalah semangatku 💪
Thanks 🙏
kunti pula,lain perangai kok suka anak manusia...tpi untung bisa di atur juga...menurut orgtua2...kunti klo di paku cantik amat.....gimana klo kunti laki2 pasti ensome ya thor...🤣🤣
gimana menghapus kn lusi itu....gercep amat...brandal loh
jgn kmu coba2 lepas kn kalung cincin itu cilla...klo nggk mau kluarga mu mampus oleh lusi...dgn kau sekali mampus lohhh...
ada aja kelakuan.ny..
buruan cariin..