Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.
Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.
Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 DI TERIMA DENGAN BAIK.
Langkah Ammar terhenti tepat di ruang tamu rumah besar itu. Aroma kayu tua dan wangi teh hangat menyeruak, membawa kenangan yang selama bertahun-tahun ia kubur rapat di sudut hatinya.
Di hadapannya, Daddy dan Mommy duduk berdampingan.
Tatapan mereka tertuju lurus padanya.
Tidak ada pelukan. Tidak ada senyum. Hanya keheningan yang sarat makna rindu yang tertahan dan kecewa yang belum tuntas.
Ammar menunduk sopan. “Daddy… Mommy…”
Mommy menggenggam jemarinya sendiri erat-erat di atas pangkuan. Matanya berkaca-kaca, namun wajahnya tetap tenang. Daddy justru menatap Ammar tajam, seolah ingin membaca setiap perubahan di wajah putranya.
“Kamu,” ucap Daddy akhirnya, suaranya berat dan tegas.
“Ikuti Daddy ke ruang kerja.”
Ammar mengangguk tanpa membantah. “Baik.” Ia menoleh sekilas ke belakang.
Queen berdiri di samping Sari, memeluk lengan gadis itu erat-erat. Mata kecilnya menatap sekeliling dengan waspada, jelas merasa asing dan takut.
Ammar ingin berkata sesuatu menenangkan, menjanjikan namun langkah Daddy sudah lebih dulu bergerak.
Dengan napas panjang, Ammar mengikuti ayahnya masuk ke lorong panjang menuju ruang kerja.
Pintu tertutup.
Kini, tinggal Mommy, Queen, dan Sari di ruang tamu.
Mommy mengalihkan pandangannya pada Queen.
Anak kecil itu begitu cantik. Rambutnya hitam lembut, wajahnya mirip Ammar kecil hanya saja sorot matanya lebih lembut, lebih polos.
Mommy menelan ludah.
Ini cucuku… Darah dagingku…
Namun Queen justru makin merapat ke Sari. Tangannya mencengkeram kain baju Sari, tubuhnya sedikit bersembunyi di balik gadis itu.
Sari merasakan getaran kecil di lengan tangannya.
Ia menunduk, berbisik lembut, “Nona… ini Oma.”
Queen mendongak, matanya besar dan ragu. “Oma galak?” bisiknya lirih.
Sari tersenyum tipis. “Oma baik. Cuma kelihatannya saja serius.”
Mommy mendengar itu. Dadanya terasa nyeri sekaligus hangat. Ia bangkit perlahan dari duduknya. Gerakannya tenang, tidak tergesa, seolah tak ingin menakuti.
“Kemarilah,” ucap Mommy lembut, suaranya jauh berbeda dari ekspresi wajahnya yang dingin.
“Oma tidak galak.” Queen menelan ludah. Ia menoleh pada Sari.
Sari mengangguk kecil, menenangkan. “Tidak apa-apa, nona. Kak Sari di sini.”
Dengan langkah ragu, Queen maju setengah langkah… namun kembali berhenti.
Mommy tidak memaksa. Ia justru berjongkok agar sejajar dengan Queen.
“Nama kamu Queen?” tanyanya lembut.
Queen mengangguk pelan. “Iya…”
Mommy tersenyum. Senyum yang lama tak muncul di wajahnya. “Nama yang indah.”
Queen menatap Mommy lebih lama. Ketakutannya perlahan luruh.
“Oma…” panggilnya pelan, hampir tak terdengar.
Mommy menutup mulutnya, menahan isak yang nyaris lolos.
“Iya, sayang.”
Queen memberanikan diri melepaskan pegangan Sari dan maju satu langkah lagi.
“Oma…” ulangnya.
Mommy membuka kedua tangannya. “Boleh Oma peluk?”
Queen menoleh lagi ke Sari.
Sari tersenyum sambil berlutut di sampingnya.
“Kalau Queen mau.”
Akhirnya, Queen mengangguk kecil. Ia melangkah maju dan masuk ke dalam pelukan Mommy.
Tubuh Mommy menegang sejenak lalu melemas. Tangannya memeluk Queen erat, seolah tak ingin melepaskannya lagi.
“Maaf…” bisik Mommy lirih. “Seharusnya Oma yang datang lebih dulu.”
Queen tidak mengerti sepenuhnya, tapi ia merasa nyaman.
“Oma... ” katanya polos.
Mommy tersenyum di sela air mata.
Sari berdiri mematung, hatinya terasa sesak. Pemandangan itu begitu indah dan begitu menyakitkan.
Queen akhirnya punya Oma… Mommy mengusap rambut Queen dengan penuh kasih.
“Queen sudah makan?”
“Sudah… tadi sama Kak Sari,” jawab Queen jujur.
Mommy melirik Sari. Tatapan mereka bertemu.
“Terima kasih,” ucap Mommy tulus. “Sudah menjaga cucu Oma.”
Sari menunduk hormat. “Itu sudah kewajiban saya, Nyonya.”
“Panggil Oma saja,” potong Mommy lembut.
“Kamu bukan orang lain.”
Kalimat itu membuat dada Sari bergetar.
“Baik… Oma,” jawabnya lirih.
Mommy tersenyum.
Sementara itu, di ruang kerja…
Daddy berdiri membelakangi Ammar, menatap jendela besar. “Kamu tahu,” ucap Daddy tanpa menoleh,
“Daddy dan Mommy tahu semuanya.”
Ammar menelan ludah. “Maaf, Dad.”
“Kamu bercerai,” lanjut Daddy. “Dan kamu pikir kami tidak akan tahu?”
Ammar mengepalkan tangannya. “Itu keputusan saya.” Walaupun di perusahaan ammar tegas dan galak tapi ammar tetaplah seoarang anak di mata daddy nya.
Daddy berbalik. Tatapannya tajam menusuk. “Keputusan yang sejak awal kami tahu akan berakhir seperti ini.”
Ammar mengangkat wajahnya. “Saya salah, Dad.”
Daddy terdiam. “Saya memilih cinta tanpa mendengar orang tua,” lanjut Ammar, suaranya bergetar.
“Saya mengorbankan keluarga… dan sekarang saya menuai akibatnya.”
Daddy menghela napas panjang. “Kamu terluka?”
Ammar mengangguk. “Lebih dari yang saya kira.”
Daddy menatapnya lama. Lalu perlahan, amarah di wajah itu mereda.
“Keluar,” ucap Daddy akhirnya.
“Temui Mommy dan anakmu.”
Ammar terkejut. “Dad?”
“Kesalahanmu besar,” lanjut Daddy. “Tapi darah tetap darah.”
Ammar menunduk dalam-dalam. “Terima kasih.”
Ketika Ammar kembali ke ruang tamu, langkahnya terhenti.
Ia melihat Queen duduk di pangkuan Mommy, tertawa kecil. Mommy mengelus pipi Queen dengan penuh kasih, sementara Sari berdiri di samping mereka, tersenyum tenang.
Hatinya bergetar.
Mommy menoleh. “Ammar.”
Ammar melangkah mendekat. “Mom…”
Mommy menatapnya lama. “Kita bicara nanti.”
Ammar mengangguk.
Queen melihat Ammar dan melambaikan tangan.
“Papah!”
Ammar tersenyum, matanya berkaca-kaca.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, rumah ini tidak lagi terasa asing.
Dan untuk pertama kalinya, Ammar merasa…
ia mungkin masih punya kesempatan untuk ditebus.
Mommy masih mengusap rambut Queen ketika akhirnya ia mengangkat wajahnya menatap Ammar.
“Menginaplah beberapa hari di sini,” ucap Mommy dengan nada yang tak bisa dibantah namun sarat perhatian.
“Exsel sepupu kamu itu sangat antusias ketika mendengar kamu akan datang.”
Ammar sedikit terkejut. “Exsel?” ulangnya pelan.
Mommy mengangguk. “Iya. Dia bahkan menelepon Oma dua kali hari ini, memastikan kamu benar-benar datang.”
Ammar tersenyum kecil. Sudah lama sekali ia tidak bertemu sepupunya itu.
“Baik, Mom. Kalau itu keinginan Mommy.”
Queen yang duduk di pangkuan Mommy langsung mengangkat wajah.
“Kita nginep di sini, Papah?” tanyanya dengan mata berbinar.
“Iya,” jawab Ammar lembut.
“Kita nginep beberapa hari.”
“Yeay!” Queen bertepuk tangan kecil, lalu refleks memeluk leher Mommy.
“Oma… Queen boleh tidur di kamar mana?”
Mommy tertawa kecil, suara yang jarang sekali keluar beberapa tahun terakhir.
“Kamar Papa kamu dulu masih rapi. Oma suruh bi Tini menyiapkannya.”
Queen mengangguk antusias.
Sari berdiri sedikit di belakang, menahan senyum. Ia ikut bahagia melihat Queen begitu diterima. Namun di sudut hatinya, ada rasa sungkan yang tak bisa ia tepis.
Apakah aku pantas berada di sini?
Mommy menoleh pada Sari. “Kamu juga, menginaplah.”
Sari terkejut. “Saya, Oma?”
“Iya,” jawab Mommy tanpa ragu. “Kamu tidak mungkin bolak-balik. Lagi pula, Queen terbiasa denganmu.”
Sari menunduk sopan. “Terima kasih, Oma.”
Ammar melirik Sari sekilas. Tatapan mereka bertemu sesaat, lalu sama-sama mengalihkan pandangan.
Keheningan singkat itu tiba-tiba pecah oleh suara langkah tergesa dari arah depan rumah.
gak adil ya Mar...
semangat Mar...
jika sudah memiliki suami sebisa mungkin diam di rumah. ngurus suami, anak dan juga rumah. jangan banyak gaya ingin kerja di luar dan mengabaikan kewajiban seorang istri.
kalo semuanya harmonis maka semuanya akan berakhir bahagia terutama restu orang tua. 😍😍
Mudah-mudahan happy ending ya cerita nya thour.. semangat berkaya💪💪💪😍😍😍