Apa jadinya jika yang berada di sisimu ternyata bukan suamimu tetapi wajah mereka sangat mirip bagai pinang dibelah dua tidak ada bedanya?
Yasmin (27 tahun) yang tengah berbadan dua sungguh bahagia dan kembali ceria saat suaminya, Aldavi Wiyono (30 tahun), kembali pulang setelah mendadak hilang tanpa kabar selama dua pekan lamanya. Akan tetapi bagaimana kelanjutan pernikahan Yasmin dan juga nasib buah hatinya ketika dia mengetahui fakta mencengangkan bahwa suami yang berada di sisinya ternyata bukan suaminya namun kembaran suaminya yang bernama Aldava.
Apa yang terjadi dengan suaminya hingga kembarannya menggantikan posisinya?
Simak kisah mereka yang penuh liku dan tabir💋
Karya ini telah menandatangi kontrak eksklusif dengan NovelToon dan hanya boleh dipublikasikan di platform ini. Segala bentuk pelanggaran hak cipta akan dikenakan sanksi hukum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 - Sarung Antena
Wujud daster berwarna pink yang sebelumnya dipakai Yasmin entah nasibnya sekarang ada di mana dan kondisinya utuh atau sudah terbelah menjadi tidak jelas juga othor tidak tahu. Padahal daster tersebut masih cicilan belum lunas.
Yasmin mencicil pada tetangganya membeli daster ibu hamil itu ketika sang suami pergi ke Jakarta satu minggu yang lalu. Dengan harga delapan puluh ribu rupiah dicicil empat kali pembayaran.
Kini baru membayar satu kali cicilan mungkin daster tersebut sudah tak bisa ia gunakan lagi karena dirobek paksa oleh sang suami yang dilanda rasa yang tengah bergejolak membutuhkan tempat penyaluran yang baik. Tentu saja hanya dirinya tempat terbaik menyalurkan segala rasa yang berkecamuk saat ini.
Rasa ingin mencicipi, rasa ingin meneguk, rasa ingin menggigit dan rasa ingin mengintip di dalam lapis legit ada apa gerangan. Yang pasti bukan rasa mantan yang hanya numpang lewat doang dalam hidup kita.
Saat membuka daster milik sang istri, Aldava begitu tertohok membuat desir pej@ntannya makin meningkat tajam tapi bukan setajam silet. Ternyata Yasmin sudah tak memakai pembungkus atas bawah aset krusialnya. Seakan si utun merasa Ayahnya akan menjenguknya hari ini sehingga memberi kontak batin ke ibunya agar tidak memakai penutup aset berharganya.
"Nakal ya Bunda,"
"Ah...Aa. Nakal apaan sih," elak Yasmin dengan pipi merona merah dan tak berani menatap wajah suaminya yang tersenyum sumringah meledeknya.
"Ini kenapa gak ditutup? Nanti kalau kemasukan semut atau digigit nyamuk nakal gimana Bun? Kan antenanya belum masuk jenguk utun," bisik Aldava mesra di telinga Yasmin seraya tangannya sudah jahil masuk pada lapis legit yang mendadak basah terkena rintik-rintik hujan dari dalam.
Dan tangan satunya sudah melakukan gerakan memutar menarik ulur seperti mau tarik tambang saja pada salah satu melon yang siap panen milik Yasmin.
"Tadi gerah Aa jadi sengaja enggak pakai. Biar kalau mau pipis ke kamar mandi gampang," jawab Yasmin yang sedikit terbata-bata sebab jari jemari suaminya semakin nakal membuatnya mendongak ke atas hingga kepalanya menekan bantal yang sudah terpojok di ujung sandaran kasurnya.
"Ini Bunda sudah pipis sekarang. Bunda nakal ih pipis di kasur bukan di kamar mandi, hem."
Aldava terus meledek Yasmin seraya mengobrak-abrik pertahanan ibu hamil menggemaskan satu ini. Sebagai lelaki ia wajib memberikan pelayanan terbaiknya pada sang istri sebelum ia yang dipuaskan. Seperti kata pepatah ladies first.
Dahulukan wanitamu sebelum kenikmatan dirimu. Jarang sekali lelaki di luaran sana begitu sebab inginnya selalu menuntut dipuaskan bukan memuaskan pasangan. Inginnya menjadi raja yang selalu berkuasa penuh bukan menjadi satu kesatuan jiwa raga bersama yang saling bahu membahu membuat rumah tangga menjadi utuh dan nyaman.
"Bunda pipis gegara siapa atuh?" tanya Yasmin lirih dengan nafas tersengal-sengal.
"Mau dilepas nih. Ikhlas dan yakin Bun?" tanya Aldava yang semakin gemas dengan istrinya.
"Jangan atuh Aa. Bunda kangen sama ini, udah enggak tahan."
Yasmin yang juga mulai menggapai sesuatu yang sudah menjulang tinggi sejak tadi. Benda tumpul yang sejak tadi masih bersemayam di dalam boxer hitam suaminya langsung ia keluarkan. Dengan kepiawaiannya ia langsung melakukan gerakan naik turun tangannya membelai antena yang sudah mirip jamur banteng yang ingin segera menyapa masuk ke lemb@h lapis legit miliknya yang telah lama tak di singgahi.
Aldava yang mendapat serangan balik dari Yasmin, segera ia melakukan manuver cepat sebab rasa baru yang tengah bergejolak dalam inti tubuhnya seakan sudah tak bisa dibendung lagi.
Aldava meng-ulum rakus, menyesap segala titik-titik sensitif Yasmin mulai dari atas hingga ke bawah. Pabrik nutrisi calon buah hatinya tengah ia cicipi dengan rakus seakan tengah berada di padang pasir yang berhawa panas.
Dilanda kehausan tingkat tinggi seakan buah melon kembar itu adalah oase baginya di gurun pasir yang mencapai tingkat kepanasan melebihi rebusan air mendidih di atas kompor. Keringat bercucuran membasahi kedua insan yang tengah b3rgumul mesra.
Saat tungkai jenjang putih mulus seputih kapas milik Yasmin ia buka lebar-lebar, dengan cepat kepalanya sudah berada di depan pintu lapis legit dengan m3n-cUcukk@n li-dahnya dan meny3sap dalam-dalam hingga membuat sang empunya sudah tak bisa menahan rasa indah yang melambungkan dirinya ke puncak nir-wana.
"Ah...Aa...oh..." jerit indah mengalun merdu di bawah rintik hujan syahdu.
"Byurr..."
P3lepasan yang sempurna pertama kali dirasakan oleh Yasmin. Sebab sebelumnya selama menikah, baru pertama kali ini ia mencapai hal ini di saat belum masuk pada inti acara. Baru pada menu pembuka ia sudah diberikan rasa yang spektakuler oleh sang suami.
Ia tak bisa membayangkan bagaimana nanti acara intinya. Apa dia dibuat hingga k3lojotan tak berdaya hingga merengek minta tambah akibat kecanduan atau berakhir dengan gangguan tak terduga. Hanya kalian yang tahu bukan othor apalagi si antena.
"Enak Neng?" tanya Aldava yang terkekeh melihat wajah Yasmin yang begitu sayu aduha! di matanya dengan cucuran keringat membuat basah peraduan mereka saat ini.
"Enak Aa. Mau lagi," pinta Yasmin manja.
"Aa enggak dikasih nih bagian enaknya. Tuh si antena sudah pengen dimanjain sama Eneng," bisik Aldava seraya menunjuk antena si jamur banteng yang semakin menjulang dan berurat.
"Sudah keras saja, habis di isi pompa angin apa pompa bensin Aa?" tanya Yasmin menggoda seraya melakukan gerakan alpukat kocok pada si antena yang sudah mirip banteng jantan mau mojok ka-win.
"Maunya di pompa sama ini," ucap Aldava lirih seraya jarinya mengopyok si lapis legit mirip ibu-ibu lagi kopyokan arisan.
Yasmin yang juga sudah tidak mampu menahan dahaga dari inti tubuhnya maka langsung ia mengambil posisi merangkak ke atas tubuh suaminya. Aldava pun langsung sigap memakaikan antenanya pembungkus ajaib agar tidak tumpah di dalam saat dia kebablasan mengopyok arisan bersama Yasmin.
Aldava telah mempersiapkan hal tersebut dengan matang. Selama Yasmin atau dirinya ingin menyatu kala si utun masih ada di dalam perut istrinya, ia akan menggunakan sarung ajaib tersebut untuk mengamankan antenanya.
"Kok antenanya di bungkus sarung? Aa kapan belinya? Kok gak ajak Yasmin beli itu!" tanya Yasmin pada suaminya dengan wajah terkejut dan mimik muka cemberut ditekuk melihat sarung pembungkus antena sudah melekat dengan cepat sebelum ia beraksi.
🍁🍁🍁