Queen adalah anak seorang pengusaha kaya, tapi kehidupannya tidaklah bahagia saat kedua orangtuanya lebih sayang kepada adiknya dikarenakan sang adik menderita penyakit.
Queen pun memilih tinggal di desa bersama Neneknya, dan di sanalah awal Queen bertemu dengan seorang polisi tampan yang sederhana.
Akankah cinta tumbuh diantara mereka dengan kehidupan sosial yang sangat jauh berbeda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Akibat Dari Keegoisan
Queen tidak sengaja lewat ruangan rawat Alfa, Queen melihat kalau kedua orangtuanya masih setia menunggu anaknya itu.
Queen pun memutuskan untuk ke ruangan Dr.Lisna, dokter yang menangani Alfa.
Tok..tok..tok...
"Masuk."
"Pagi menjelang siang Dr.Lisna!" sapa Queen.
"Eh Dr.Queen, silakan masuk dan silakan duduk."
"Terima kasih."
Queen pun duduk di hadapan Dr.Lisna...
"Ada apa Dr.Queen? apa ada yang mau anda tanyakan?"
"Begini Dr.Lisna, bagaimana keadaan Alfa?"
"Pasien yang tadi diantar pak polisi?"
"Iya."
"Kondisi fisiknya sehat-sehat saja, tapi sepertinya kondisi mental pasien yang agak terganggu."
"Maksud dokter, apa?"
"Pasien mengalami depresi, dan tadi aku sudah ngobrol dengan Dr.Lingga spesialis kejiwaan, memang pasien untuk saat ini jiwanya sedang terguncang akibat masalah yang terlalu besar dan dia tidak bisa mengatasinya, hingga akhirnya kejiwaannya sedikit terganggu."
"Astagfirullah."
"Makanya pasien harus segera di obati, mumpung masih tahap awal takutnya kalau dibiarkan terlalu lama, bisa-bisa mentalnya akan semakin parah."
Tiba-tiba...
Seorang suster dengan napas yang terengah-engah masuk ke dalam ruangan Dr.Lisna.
"Maaf, permisi dok, apa dokter melihat Dr.Lingga? saya sudah mencarinya ke mana-mana tapi tidak ketemu."
"Memangnya ada apa?" tanya Queen.
"Saya cuma mau memberi tahukan kalau pasien yang bernama Alfa, saat ini sedang mengamuk bahkan pasien mengancam akan bunuh diri."
"Apa?"
Dr.Lisna dan Queen pun segera berlari menuju ruangan rawat Alfa, sesampainya di sana, ternyata benar saja Alfa sedang mengamuk bahkan Papanya saja kewalahan menenangkan anaknya itu.
"Dr.Lisna tolong hubungi Dr.Lingga, biar aku berikan suntikan penenang dulu," seru Queen.
"Baiklah."
Queen segera mengambil suntikan dan memasukan obat penenang.
"Al, ini aku Queen."
"Queen."
Alfa yang dari tadi berontak, tiba-tiba terdiam bahkan saat ini Alfa sudah meneteskan airmatanya.
"Maafkan aku Queen, aku salah, aku tidak berniat membuat mu terluka."
"Iya, aku sudah maafkan kamu, kok."
Tiba-tiba Alfa mencengkram tangan Queen dengan erat membuat Queen kaget.
"Ayo Queen, kita kawin lari saja aku tidak sanggup kalau harus berpisah denganmu," seru Alfa dengan mata yang memerah dan airmata yang terus saja mengalir di pipinya.
"Nak, sudahlah kalian memang sudah tidak berjodoh," bujuk Papa Tanu.
"Tidak Pa, Queen adalah belahan jiwaku."
Queen meringis kesakitan, semua orang berusaha melepaskan cengkraman Alfa tapi cengkeramannya begitu kuat sampai-sampai Queen pun sudah meneteskan airmatanya saking sakitnya.
Dr.Lingga pun datang, dan dengan cepat Dr.Lingga mengambil suntikan di tangan Queen dan menyuntikkannya kepada Alfa. Tidak membutuhkan waktu lama, cengkraman Alfa mulai melemah dan Dr.Lingga segera merebahkan tubuh Alfa di atas ranjang pasien.
"Queen, aku mencintaimu," lirih Alfa hingga akhirnya Alfa mulai memejamkan matanya.
"Ya Allah, maafkan Mama Nak, maafkan kami yang sudah memaksakan kehendak kami," seru Mama Vina dengan deraian airmata.
"Anak Ibu dan Bapak, saat ini sedang mengalami depresi dan tekanan batin yang sangat luar biasa, jadi saya harap anak Ibu dan Bapak harus menjalani pengobatan serta jangan lupa minum obat secara teratur," seru Dr.Lingga.
"Dok, kami akan membawa anak kami pulang ke Jakarta."
"Boleh Pak, nanti saya akan membuat surat rujukan supaya Bapak dan Ibu bisa membawa pasien berobat. Kalau begitu, saya pamit dulu dan saya pastikan nanti sore Bapak dan Ibu bisa langsung membawa pasien kembali ke Jakarta."
"Terima kasih dokter."
"Sama-sama, Pak."
Dr.Lingga dan Dr.Lisna pun keluar dari ruangan rawat Alfa, sedangkan Queen masih berada di sana.
"Maafkan Alfa ya Queen, kamu tidak apa-apa kan?" seru Mama Vina.
"Tidak Tante, Queen tidak apa-apa."
"Queen, mungkin ini terakhir kali kami bisa melihat kamu karena kami akan membawa Alfa ke Malaysia. Di sana masih ada Nenek Alfa dari pihak Mamanya Alfa, jadi kami akan membawa Alfa ke sana mudah-mudahan dengan Alfa jauh denganmu, Alfa bisa cepat melupakanmu dan sembuh juga," seru Papa Tanu.
"Maafkan Queen, Om, Alfa menjadi seperti ini karena gara-gara Queen."
Papa Tanu menghampiri Queen dan memeluk Queen.
"Ini bukan salah kamu atau pun Alfa, tapi ini murni kesalahan kami yang memaksakan kehendak kami dan mengorbankan perasaan kalian berdua. Kami sudah jahat memisahkan kalian yang saling mencintai, maafkan Om dan Tante."
Queen membalas pelukan Papa Tanu, sungguh ini kali pertamanya Queen di peluk oleh seorang Ayah.
"Inikah rasanya dipeluk oleh seorang Ayah?" gumam Queen.
Papa Tanu terdiam, dia tahu bagaimana sikap Daddy Darwis kepada Queen. Papa Tanu semakin mengeratkan pelukannya dan Mama Vina pun ikut memeluk mereka berdua.
"Tante dan Om sudah menganggap kamu seperti anak kami sendiri, jadi kami do'akan semoga kamu selalu bahagia dan kamu bisa mendapatkan jodoh yang bisa menyayangi dan menjaga kamu," seru Mama Vina.
"Amin."
Mereka bertiga untuk sesaat saling berpelukan satu sama lain, meluapkan emosi masing-masing hingga kedatangan Suster membuat semuanya tersadar dan melepaskan pelukan mereka.
"Dr.Lingga menyuruh Bapak dan Ibu untuk menemui beliau di ruangannya."
"Baik Sus."
"Kalian pergilah, Alfa biar Queen yang jaga."
Kedua orangtua Alfa pun pergi menuju ruangan Dr.Lingga, Queen duduk di samping Alfa dan menggenggam tangan Alfa.
"Al, aku yakin kamu kuat dan aku do'akan kamu akan segera sembuh."
Queen kembali meneteskan airmatanya, bagaimana pun Alfa adalah orang pertama yang membuat Queen semangat dalam menjalani hidup. Alfa adalah pria baik yang selalu ada untuknya dan selalu menjadi penghibur di saat Queen merasa terpuruk.
Queen mengusap kepala Alfa, pundaknya bergetar hebat dan airmatanya yang tidak henti-hentinya keluar dari matanya.
Queen bangkit dari duduknya dan mencium kening Alfa.
"Kamu orang baik Alfa, aku yakin ke depannya akan ada kebahagiaan untukmu," seru Queen.
***
Sementara itu di Jakarta, Putri baru saja siuman.
"Mommy, Daddy," lirih Putri.
Mommy Vivian dan Daddy Darwis yang sedang melamun, langsung tersentak mendengar suara Putri. Keduanya pun segera menghampiri Putri.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sudah sadar juga sayang," seru Mommy Vivian.
"Kak Alfa mana Mom?" lirih Putri.
Mommy Vivian dan Daddy Darwis saling pandang satu sama lain, mereka tidak tahu harus menjawab apa.
"Alfa ada di kantornya," dusta Daddy Darwis.
"Kak Alfa memang keterlaluan, istrinya sakit bukanya dijagain malah sibuk kerja," kesal Putri.
Mommy Vivian mengusap kepala Putri. "Sudahlah jangan banyak pikiran, sekarang yang terpenting kamu sembuh dulu. Apa kamu mau makan? biar Mommy suapin kamu."
Putri menganggukkan kepalanya dan Mommy Vivian pun langsung menyuapi Putri, sementara itu Daddy Darwis hanya bisa menatap anaknya dengan tatapan sendu.
"Maafkan Daddy Nak, karena setelah kamu sembuh nanti, kamu harus rela menerima kenyataan kalau kamu dan Alfa harus bercerai," batin Daddy Darwis.
Darwis akhirnya mengaku kalah, dan akibat dari keegoisan satu orang, berakibat fatal untuk orang-orang di sekitarnya.