Bagaimana bila seseorang yang selama ini kamu cinta, pergi begitu saja?
Meninggalkanmu sendiri, tanpa kau mengerti dimana letak kesalahan?
Saat semua telah tersusun indah dalam sebuah harapan, dengan mudahnya dia menghancurkan susunan harapan dan anganmu bersama dirinya?
Setiap manusia pasti pernah berada di posisi tersebut, namun mereka semua memiliki cara yang berbeda untuk melewatinya.
Namun, jika semua itu terjadi pada hidupku... Aku belum tau harus memilih jalan yang seperti apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zubi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 "Dufan"
"Wow keren juga suara lo, powerful. Ayo duduk lagi." ucap Arka.
"Biasa aja kak, orang lain banyak yang lebih bagus." ucap Mega dengan logat Yogyakarta miliknya.
"Lo tuh kalo ngomong lucu ya, medok gitu... Tapi kok pas nyanyi engga ya?" tanya Arka sambil melangkah menuju kursinya.
"Hahaha, butuh perjuangan buat nahan ga medok itu..." jawab Mega.
"Ciee... Yang langsung akrab." potong Amanda dengan wajah malas.
"Owalah... Mba ku cemburu iki, pie iki mas Arka?" ucap Mega menggoda kakaknya.
"Masa cemburu, itu kan calon adik iparku." sahut Arka yang juga menggoda Amanda.
"Ih... Ngapain juga cemburu. ga jelas," ucap Amanda kesal.
"Hahaha.... Oke,balik lagi ke masalah kerjaan kita. Mungkin kita bisa ketemu sam Awan dan latihan bareng buat yang pertama kali, mungkin di hari jumat malem. Nah untuk besok masih ada hari rabu dan kamis, kita latihan di studio gue ya." ucap Arka.
"Oke, ga masalah." jawab Amanda.
"Terus hari ini kalian mau kemana?" tanya Arka.
"Rencananya mau ngajak Mega jalan-jalan, mumpung dia lagi libur kuliah. Nnti kalo udah mulai masuk dia bakal balik ke jogja." ucap Amanda.
"Emm, gimana kalo kita main ke Dufan. Yah itung-itung mengulang waktu itu." saran Arka kemudian memainkan alisnya sambil menatap Amanda.
"Ia, aku mau mau mau..." sahut Mega dengan penuh semangat.
"Nah, Mega mau tuh. Oke gue persen taksi online dulu." ucap Arka.
Flash back*
"Kita udah naik semua wahana yang seru, tinggal rollercoaster aja nih." ucap kuncen.
"Ayo naik yang rollercoaster, lo naik juga ya man, masa ke Dufan nonton doang?" ajak Arka
"Engga deh, gue masih mau hidup." jawab Amanda.
"Hahaha... Lo mati kalo ga pake sabuk pengaman" sahut Akim.
"Udah lah, ayo ikut. Terakhir nih, abis ni kita main ke pantai." ucap Maman.
"Lo deket gue duduknya, nanti kalo takut peluk gue aja." ucap Kuncen.
"Wooooh... Ngarep lo, dasar sendok sayur." ucap Akim sambil mengusap wajah kuncen dengan kasar.
Di tengah kegaduhan antara Kuncen dan yang lainnya, tiba-tiba Arka menggenggam tangan Amanda dan masuk ke antrian wahana.
"Eh... Stop udah. Mana si Manda?" Ucap Kuncen.
"Wah, ia... Si Arka juga ga ada." timpal Maman
"Wah, si kampret nyolong start noh..." ucap Dio menunjuk kearah Arka dan Amanda yang sudah berada dalam antrian.
"Sialn, kita di tinggal coy..." ucap Akim
"Ya udah, ayo baris... Akh, mana mereka naik duluan lagi," gerutu Kuncen.
"Arka lebih ganteng dari lo Cen, hahahah..."
Ucap Akim.
"Rese lo..." ucap kuncen.
Arka dan Amanda pun menaiki rollercoaster itu bersama. Arka melihat wajah Amanda yng sangat cemas, kemudian Arka menggenggam tangan Amanda dengan kuat.
"Kalo takut, pegangan aja yang kenceng tangan gue." ucap Arka berebisih di telinga Amanda.
Yang sebelumnya Amanda sangat gugup dan cemas, kini berubah menjadi sebaran yang berbeda.
"Mand, siap ya ... Woohoooo!!!" ucap Arka dan kemudian mulai berteriak ketika rollercoaster mulai bergerak cepat.
Amanda pun ikut berteriak, yang tadinya takut, entah mengapa semua jadi terasa menyenangkan baginya.
"Amanda!!! Gue sayang sama lo!!!" teriak Arka tersamar diantara teriakan orang-orang yang ikut menaiki rollercoaster tersebut.
"Apa!!!" tanya Amanda meyakinkan.
Rollercoaster pun berhenti, mereka berdua pun segera turun. Amanda berhasil melawan rasa takutnya. Bahkan ia merasa bila wahana tersebut menyenangkan.
"Tadi lo ngomong apa Ka?" tanya Amanda yang sebenarnya mendengar ucapan Arka.
"Ah, ngomong apa emang?" ucap Arka berpura-pura bingung.
"Salah denger kali gue ya?" ucap Amanda.
"Emang lo dengernya apa?" tanya Arka.
"Gatau , ga jelas kaya orang kumur-kumur suaranya." ucap Amanda berbohong.
"Hahaha..." tawa Arka yang dipaksakan.
'padahal gue bilang sayang sama lo Manda, bukan kumur-kumur, ah elah....' gumam Arka dalam hati.
'Padahal kalo Lo bilang sekarang, gue bakal jawab, kalo gue juga sayang banget sama lo ka' gumam Amanda dalam hati.
*****
Setelah mendapatkan taksi online, mereka pun segera pergi bersama menuju Dufan. Ketika berjalan menuju taksi online, Mega pun berjalan didepan kakaknya dan memutuskan untuk duduk di kursi depan, sedangkan Amanda dan Arka duduk di belakang.
"Dek kok kamu didepan? Neng mburi karu aku (di belakang bareng aku)" ucap Amanda.
"Emoh, aku neng ngarep ae wes (ga mau, aku di depan aja deh)." jawab Mega.
Lalu Amanda pun menatap Arka. Arka hnya tersenyum dan membukakan pintu untuk Amanda.
...----------------...
Di kediaman pak Yadi.
"Gimana kata om Bimo pa? Ada bang Awan?" tanya Mayang pada ayahnya.
"Katanya udah 2 hari dia ga liat si Awan. Ya ampun... Kemana sebenarnya anak itu?" jawab pak Yadi.
"Coba tanya bang Arka pa, dia kan temen bang Awan di cafe. Kayanya mereka deket." ucap Mayang.
"Ga punya nomernya dia bapa." ucap pa Yadi.
Mayang dan ayahnya pun sudah mulai putus asa harus mencari Awan dimana, sedangkan kondisi pak Yadi sendiri belum sepenuhnya pulih. Mereka hanya bisa berharap jika Awan akan baik-baik saja.
Saat Mayang dan ayahnya sama-sama termenung memikirkan Awan, tiba-tiba terdengar suara pintu yang diketuk.
"Coba kamu lihat, siap yang ketuk pintu." ucap pak Yadi.
Mayang pun segera membukakan pintu. Betapa terkejutnya mayang melihat seseorang yang tengah ia khawatirkan akhirnya pulang.
"Bang Awan!!!" ucap Mayang kemudian memeluk Awan dengan erat.
"Abang pulang..." jawab Awan dan membalas pelukan Mayang.
"Abang kemana aja, kita hampir gila mikirin abang." ucap Mayang yangasih memeluk dn membenamkan wajahnya di dada Awan.
"Ceritanya panjang, nanti abang ceritain." ucap Awan.
"Awan! Kemana aja kamu? Nak, udah meluk ya bukan muhrim." ucap pak Yadi kemudian memukul kepala Mayang.
"Aw... Maap, ga sadar Mayang bang, hehehe... Abis Mayang seneng banget liat Bng Awan pulang pa." ucap Mayang sambil memegangi kealnya.
"Alasan, mundur awas... Bapa juga mau meluk Awan." ucap pak Yadi yang kemudian juga memeluk Awan.
Terlihat Mayang yang tengah memaju-majukan bibirnya karena kesal. Pak Yadi pun segera mengajak Awan untuk masuk kedalam rumahnya. Mereka pun segera duduk di sofa yang sudah sedikit lusuh di ruang tamu milik pak Yadi.
"Hemh... Kamu itu dari mana nak? Habis dapat surat dari kamu, bapa malah jadi kepikiran terus. Kalo badan bapa sehat mungkin bapa udah keliling dunia cari kamu." ucap pak Yadi.
"Aku kira aku juga udah mati pa. Bapa ingat dengan Boni, preman yang pernah aku hajar hampir mati saat malam itu? ..." Awan pun menceritakan semua yang Ia alami selama tiga hari sejak ia meninggalkan rumah pak Yadi.
Pak Yadi beserta Mayang sangat iba sekaligus bersyukur dengan apa yang dialami Awan. Mereka bersyukur karena masalah dengan para preman yang meresahkan akhirnya selesai dengan baik.
"Oh ia nak, tadi pagi-pagi sekali temanmu si Nala itu datang kesini. Nyariin ka... Aduh!!!" ucap pak Yadi terpotong karena mayang telah mencubit ayahnya tersebut.
Seketika pak Yadi pun menoleh ke arah putrinya tersebut. Mayang pun melotot kearah ayahnya yang tengah menahan sakit pada bagian pahanya yang di cubit oleh Mayang.
"Sakit banget May, kamu pake kuku setan nyubitnya ya?" ucap pak Yadi.
"Sebentar, Nala? Dia dateng? Ngapain di nyari aku?" tanya Awan penasaran.
"Ah, bapa ngapain cerita soal di sih." ucap Mayang kesal.
"Mana bapa tau, sakit banget lagi nyubitnya." jawab pak Yadi yang masih memegang bekas cubitan di pahanya.
"Nala ngomong apa de?" tanya Awan pada Mayang.
"Dia nyariin abang aja, soalnya udah 2 hari abang ga masuk sekolah, soalnya sekarang kan lgi ujian. Udah gitu doang." ucap Mayang dengan wajah cemberut.
"Oh, ia abang lagi ada ujian akhir, kemarin katanya bang Arka udah izin ke walikelas pas abang di rawat dirumah sakit. Besok mungkin abang bakalan balik aga sore, soalnya mau ikut ujian susulan yang dia hari kemarin kelewat." ucap Awan.
"Kami emang udah sehat mau sekolah? Jangan maksain kalo ga kuat Wan." ucap pak Yadi.
"Tenang aja, kuat kok..." jawab Awan dengan nada sombong.
"Ya udah, kmu istirahat. Maksimalin buat besok." ucap pak Yadi.
"Makan siang dulu bang, minum obat baru istirahat. Jangan dengerin bapa." ucap Mayang.
"Oh ia, makan dulu, minum obat, bru istirahat. Kamu bisa ga, ga nyebelin?" ucap pak Yadi pada Awan kemudian mendorong sedikit kepala putrinya.
"Dih... bapanya aja nyebelin, masa anaknya kalem," ucap Mayang tidak terima kepalanya didorong.
"Hahahaha... Udh lm ga ketawa bareng kalian kaya gini, kirain aku ga bakal bisa begini lagi." ucap Awan senang.
Bersambung...
tebakanku kalau pak yadi meninggal awan suruh jagain mayang deh
perasaan nico ngintil mulu deh