Meski sudah menikah, Nabila Rasmini tetap menjadi aktris ternama. Filmnya laku dan dia punya banyak fans. Namun tak ada yang tahu kalau Nabila ternyata memiliki suami toxic. Semuanya tambah rumit saat Nabila syuting film bersama aktor muda naik daun, Nathan Oktaviyan.
Syuting film dilakukan di Berlin selama satu bulan. Maka selama itu cinta terlarang Nabila dan Nathan terjalin. Adegan ciuman panas mereka menjadi alasan tumbuhnya api-api cinta yang menggebu.
"Semua orang bisa merasakan cemistry kita di depan kamera. Aku yakin kau pasti juga merasakannya." Nathan.
"Nath! Kau punya tunangan, dan aku punya suami. Ini salah!" Nabila.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 - Serius
Indy dan Zidan telentang bersebelahan. Keduanya benar-benar mabuk. Tanpa diduga, Indy tiba-tiba melepas jaketnya.
"Kenapa kau mau saling adu lagi? Mau lepas-lepasan baju, hah?! Siapa takut?" Zidan mendadak melepas sweaternya dan kini dia tampak bertelanjang dada.
"Adu lagi? Oke!" Indy lantas melepas bajunya. Dia terlihat hanya mengenakan branya. Karena begitu mabuk, dirinya menjatuhkan diri ke ranjang.
Zidan terpaku menatap Indy. Dia merasa gadis itu terlihat begitu seksi dan lebih cantik saat berpenampilan begitu. Hingga akhirnya Zidan memposisikan dirinya ke atas badan Indy. Dia cium bibir ranum gadis tersebut.
Indi sama sekali tak melawan, sentuhan Zidan justru membuat perutnya merasakan kupu-kupu yang beterbangan. Alhasil dia balas ciuman Zidan. Mereka pun berciuman dengan panas.
Di sisi lain. Nathan dan Nabila berjalan bersama. Berlin di malam hari terasa berbeda, lebih sunyi, lebih jujur. Setelah meninggalkan klub, Nathan dan Nabila memilih berjalan kaki, menyusuri jalanan yang masih basah oleh sisa hujan sore. Lampu-lampu kota memantul di aspal, menciptakan kilau keemasan yang lembut.
Nabila menarik napas panjang. “Aku jarang keluar malam begini… tanpa pengawalan ketat, tanpa jadwal.”
Nathan meliriknya sambil tersenyum. “Dan tanpa kamera.”
“Dan tanpa kamera,” ulang Nabila, lalu terkekeh kecil. “Rasanya seperti mencuri waktu.”
Mereka berhenti di depan Brandenburg Gate yang berdiri megah diterangi cahaya lampu. Malam membuat bangunan itu tampak lebih intim, seolah hanya milik mereka berdua. Nathan berdiri di samping Nabila, menjaga jarak sopan namun terasa dekat.
“Kau dingin?” tanya Nathan.
“Sedikit.”
Tanpa banyak kata, Nathan melepas jaketnya dan menyampirkannya ke bahu Nabila. Sentuhan singkat itu membuat Nabila terdiam sesaat.
“Terima kasih,” ucapnya pelan.
Mereka berdiri memandangi gerbang itu, berbagi keheningan yang nyaman. Angin malam berhembus pelan.
“Aku sering datang ke tempat-tempat indah,” kata Nabila akhirnya. “Tapi rasanya selalu sama. Kosong.”
Nathan menoleh. “Malam ini?”
Nabila tersenyum tipis. “Malam ini berbeda.”
Mereka melanjutkan langkah menuju tepi Sungai Spree. Air mengalir tenang, memantulkan cahaya kota yang berkilau. Nathan bersandar di pagar besi, Nabila di sampingnya.
“Boleh aku jujur?” tanya Nathan.
“Boleh.”
“Aku takut perasaan ini,” katanya lirih. “Bukan karena kau… tapi karena aku merasa hidup lagi.”
Nabila menatap air sungai. “Aku juga takut,” akunya. “Aku sudah terlalu lama mati rasa.”
Nathan menoleh, menatap wajah Nabila yang diterangi cahaya lampu jalan. “Sumpah! Jantungku dari tadi jedag jedug dari tadi kayak gendang yang ditabuh," ungkapnya.
Nabila terkekeh geli. "Sekarang kau agak berlebihan. Tolong sadarkan dirimu kalau ini adalah kenyataan!" balasnya.
Nathan tertawa kecil. "Oke, oke."
Tak ada yang berkata lebih jauh. Nathan perlahan mengulurkan tangannya. Nabila ragu sepersekian detik, lalu menyambutnya. Jari-jari mereka saling mengait, hangat di tengah dinginnya malam Berlin. Mereka berjalan memasuki Tiergarten yang tenang. Lampu taman menyala temaram, dedaunan bergoyang pelan. Langkah mereka seirama, seolah tak ingin malam ini cepat berakhir.
“Kalau aku boleh berharap,” ujar Nathan pelan, “aku ingin lebih banyak malam seperti ini. Sederhana.”
Nabila tersenyum, menoleh padanya. “Aku juga.”
Mereka berhenti di bangku taman. Duduk berdampingan, bahu bersentuhan. Nabila menyandarkan kepala sesaat, lalu kembali tegak, gerakan kecil yang tak luput dari perhatian Nathan.
“Terima kasih sudah mengajakku pergi,” kata Nabila.
“Terima kasih sudah datang,” balas Nathan. “Dan mempercayaiku.”
Waktu berlalu tanpa terasa. Saat jam mendekati dini hari, mereka akhirnya berjalan kembali ke hotel. Di depan pintu, mereka berhenti.
“Malam ini… akan aku ingat,” ujar Nabila.
Nathan tersenyum hangat. “Aku juga.”
"Tak mau menciumku?" tukas Nabila.
"Aku akan buktikan kalau cintaku padamu itu tidak hanya karena nafsu," sahut Nathan.
"Kau sepertinya sangat serius? Kalau begitu, kau juga harus siap meninggalkan tunanganmu bukan?" Nabila menyelidik.
"Ya, itulah bagian tersulitnya." Nathan mendengus kasar.
billa dipenjara tidak papa menyelamatkan semua korban lukman gak akan lama nanti para saksi akan muncul sendiri.
modelan lukman kalau gak dead gak akan berhenti