Nareya, anak sulung bermimpi meniti karir di dunia fashion, harus merelakannya demi menjadi tulang punggung keluarga. Terlahir untuk berjuang sejak dini membuat dia tidak tertarik soal pernikahan.
Tidak menikah, berkecukupan, dan bisa membahagiakan keluarganya adalah keinginan sederhana Nareya. Tapi siapa sangka, dia justru menyetujui perjanjian pernikahan dengan mantan Bosnya?
Kala terlahir berdarah campuran membuatnya dicap sebagai noda. Demi pengakuan para tetua, dia menyeret Nareya dalam sebuah perjanjian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oryelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Nareya juga Berhak Bahagia
Ana melihat Kala pulang dalam keadaan cedera, tapi hal pertama yang dia lakukan justru menenangkan Nareya. Sementara Kala sudah langsung diperiksa dokter. “Sudah sayang, suamimu ditangisi terus besar kepala dia.” ucap Ana
“Tapi itu terjadi karena aku tidak mendengarkan nya mom.” ucap Nareya dengan lirih.
Dokter segera berpamitan setelah menjelaskan keadaan Kala. Bukan cedera parah, hanya dislokasi namun sementara Kala tidak bisa banyak bergerak.
“Sebenarnya kenapa bisa kamu jatuh? Kamu biasanya selalu paling hati-hati dalam hal apapun.” tanya Ana sambil membuatkan teh hangat untuk Kala dan Nareya.
Kala malah terkekeh, “Iseng aja mommy.” ucap Kala singkat.
“Nggak mommy.” Nareya menggeleng.”Itu karena kamu yang ngeledek selalu meremehkan aku. Makanya aku mau coba buktikan,” tunjuk Nareya ke arah Kala,
Kala setuju,“Iya tentu saja itu salahku mom. Caraku jatuh memang keliru, saat menyelamatkan Reya.”
Ana menahan senyumnya, melihat mereka saling melengkapi. Nareya yang tadinya mengaku salah jadi berubah menunjuk suaminya. Kala yang jahil malah berubah mengakui kesalahanya.
“Ya sudah mungkin itu takdir agar kalian saling bekerja sama.” ucap Ana.
“Selama penyembuhan kamu membutuhkan bantuan istri kamu untuk mandi atau lainya. Jadi kurangi sifat menyebalkanmu itu!” lanjut Ana kepada Kala.
Kala menaikan alisnya, menatap Nareya.“Pasti mom, Kala membutuhkan bantuan Nareya sekali.”
Benar saja, Kala jadi lebih sering memanggil Nareya. Seperti sekarang bahkan dia diminta menemani Kala. Bahkan sampai Nareya ketiduran.
“Bangunlah.” Kala membangunkan Nareya dengan mengusap kepalanya.
“Kenapa lagi sih.” kesal Nareya diganggu tidurnya
“Sebentar saja, bantu aku ke kamar mandi.” pinta Kala.
Dengan mata yang masih mengantuk Nareya memapah Kala lalu membantunya duduk di closet.
“Kamu tidak mau membantu saya mandi?”
“Kamu cedera kaki, bukan tangan. Mandi lah sendiri.”
Nareya segera keluar dan menutup pintu kamar mandi.
Kala benar–benar mengambil kesempatan untuk membuat Nareya selalu memperhatikanya. Bahkan selama penyembuhan Nareya tanpa diminta selalu membantu Kala. Tak butuh waktu lama, pembengkakan di kakinya sudah menghilang. Karena memang bukan cedera parah. Hanya saja Kala berperilaku seolah itu sangat sakit.
***
Nareya mulai menikmati dengan kegiatanya di sana. Belajar banyak sekali masakan baru dari Ana. Kerap kali mereka berdua juga membahas Kala juga adik nya Kirana. Bonding Nareya dan Ana sangat berhasil
Kala malah sibuk dengan urusan pekerjaan. Ada masalah di perusahaan, Ratna kembali berulah. Dengan terpaksa rencana nya untuk pindah lokasi lagi tertunda.
“Ada masalah di perusahaan?” tanya Nareya, sambil menyuguhkan kopi.
“Terima kasih.”ucap Kala. “Ada yang harus aku tangani sendiri, tapi tidak perlu khawatir.”ujar Kala.
“Hem, baiklah. Kamu tidak lupa kan, soal Hp baru?”
“Yah, tentu saja. Karena sering badai salju kemungkinan memang pengirimannya jadi lebih lama.”
“Kala…”
“Ya…”
“Mas,”
“Ya sayang.”
Kala sungguh tidak menoleh sedikitpun ke Nareya. Kesal karena diabaikan, Nareya keluar lalu mengajak Ana untuk berjalan-jalan di luar.
***
Tak banyak yang bisa dilakukan. Karena penduduk di Montana termasuk sedikit sehingga tidak banyak hal bisa dilakukan. Hanya berfoto dan membeli beberapa sayuran fermentasi.
“So beautiful.” ucap pemuda itu setelah memberikan kembalian uang
“Are you singgle?” tanya nya lagi
“No, sorry.” ucap Nareya singkat.
Ana tersenyum, siap mengadukan hal itu kepada Kala. Agar tidak sibuk sendiri dan mengabaikan istrinya.
Kala yang mendapat informasi itu langsung mengurung Nareya seharian di dalam kamar. Kedekatan mereka sudah tidak terelakan. Bahkan Nareya pun tak segan meminta perhatian ketika mulai diabaikan.
Tidak ada pernyataan apapun, hanya batas yang semakin kabur. Tidak ada pengakuan hanya penerimaan.
Kebahagiaan begitu nyata, keraguan pun tidak muncul. Mungkin itu lah yang membuat Nareya tidak lagi melakukan penolakan. Bukankah dia memang berhak bahagia.
Tengah malam yang sunyi, hanya ada suara hembusan angin. Namun dinginya udara di luar sama sekali tidak mengganggu kehangatan mereka berdua. Dengan tirai terbuka dan dinding kaca yang besar disana. Banyak sekali bintang yang terlihat, tampak lebih terang.
“Bagaimana perasaan kamu selama di sini?” tanya Kala sedikit menundukan kepalanya.
Nareya yang berada di pelukan Kala mendongak, “Bahagia, aku mengharapkan memiliki keluarga seperti ini selamanya. Tapi aku takut terluka dengan harapanku sendiri.” ucap Nareya.
Pernyataan Nareya itu seolah memberi sinyal positif untuk Kala. Namun Kala tidak secepat itu menyimpulkan, karena dia mengetahui Nareya memang suka tiba-tiba saja berubah dalam sekejap.
“Harapan yang sama. Bahagia tidak datang begitu saja tapi diusahakan. Bahkan saya harus membawa kamu terbang jauh sekali untuk bisa membuatmu bahagia.”
Desir halus terasa di perut, seperti ada kupu-kupu yang berterbangan, Nareya menatapnya lekat. Tidak menangkap sebuah kebohongan di matanya. Bahkan Kala begitu tenang. Padahal jantung Nareya sudah sangat berisik, sampai takut ketahuan sedang berdebar.
“Ini kalau pipi kamu merah tandanya kenapa?” tanya Kala
Nareya langsung tersadar, lalu menyembunyikan wajahnya.
Kala terkekeh, lalu melanjutkan kalimatnya, “Saya sebenarnya mau minta maaf, karena kita tidak bisa satu bulan penuh liburan, karena besok harus kembali di Indonesia.”
“Masalah perusahaan sangat serius ya?” tanya Nareya kembali menatap Kala dengan wajah datar.
“Iya. Apa kamu kecewa? Kamu bisa tetap disini beberapa hari jika mau. Kamu bisa pulang ke Indonesia bersama mommy.” ujar Kala
“Tidak aku tidak kecewa. Aku ikut kamu pulang, kita hadapi dulu masalahnya.”
Kala tersenyum lebar, lalu memeluk erat Nareya.