Ini masih cerita tentang anggota keluarga Nikolai. Siapkan mental gaesss karena petualangan baru akan segera dimulai.
"Malyshka!!!!" Daryl selalu berteriak setiap kali dia bangun di pagi hari. Atau ketika tak menemukan Nania di dalam rumah.
Tiba-tiba saja semuanya berubah, dan mereka tak mengira akan memiliki hubungan seperti ini. Karena semuanya begitu jauh dari bayangan.
Dan bagi Nania, dialah sebaik-baiknya perlindungan.
"Lalu apalagi yang aku harapkan, jika segalanya ada pada dirimu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemotretan
💖
💖
"Pak Daryl ada ngabarin nggak sih ke Kakak?" Nania menghampiri meja kasir di mana Amara berada.
"Nggak, emangnya kenapa?" Amara menjawab.
"Hari ini aku kirim makan siang nggak ya? Kok ke aku nggak ngabarin sih? Biasanya pagi-pagi udah rewel minta dibikinin makan siang yang macem-macem." Nania berkali-kali memeriksa aplikasi chat di ponselnya.
"Hari Sabtu kan biasanya nggak kirim makan siang? Fia's Secret libur."
Nania tertegun.
"Kamu lupa ya? Cieeee … Nania lupa? Hahaha." Perempuan itu tertawa.
"Tapi minggu kemarin Pak Daryl kerja kok."
"Ya kali ada kerjaan dadakan."
"Kalau gitu kenapa dari semalam nelponin terus ya? Mana nggak ke angkat lagi gara-gara aku charge pas waktu ngerjain clossingan. Pagi-pagi juga biasanya nelfon ini malah nggak? Huh, bikin khawatir aja nih orang." Lalu gadis itu pun berlalu sambil menggerutu.
"Apa?" Amara tampak keheranan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Lho, kenapa kamu ke sini?" Dinna hampir saja naik ke mobilnya ketika Nania muncul.
"Mau antar makan siang." jawab gadis itu yang memutuskan membuatkan makanan dan mengantarkannya ke Fia's Secret meski tak mendapat kabar dari Daryl.
Tiba-tiba saja dia merasa khawatir kepada pria itu yang sering kali menunggu kiriman makanan darinya meski sambil menggerutu.
"Makan siang buat siapa?" Dinna bertanya lagi.
"Ya buat pak Daryk lah, siapa lagi? Masa buat kang sapu?" Gadis itu menjawab.
"Memangnya Pak Daryl nyuruh? Mau siapa yang makan?"
"Lho? Pak Daryl?"
"Pak Darylnya pergi ke Bogor, ke resortnya Pak Arfan."
"Mau ngapain?"
"Ada pemotretan."
"Sama model?" Tiba-tiba Nania teringat kepada Bella.
"Iya."
"Siapa? Banyakan apa cuma berdua?" Gadis itu penasaran.
Dinna terdiam untuk mengingat.
"Berlima." Jawabnya kemudian.
"Oh, banyakan ya? Kirain …." Nania terkekeh sementara Dinna mengerutkan dahi.
"Iya, sambil jalan-jalan katanya."
"Hah? Jalan-jalan?"
"Ya, udah lama nggak jalan-jalan. Jenuh."
"Gitu ya?" Nania sedikit murung. Mengapa rasanya dia tak rela mendengar hal ini? Dalam pikirannya ada banyak hal yang akan pria itu lakukan selain jalan-jalan.
"Namanya juga bawa anak-anak, harus sambil main nggak boleh terlalu serius kerja. Biar moodnya baik." Dinna melanjutkan kalimatnya.
"Hah? Anak-anak?"
"Iya. Anya sama Zenya itu kan super aktif. Jadi biar fokus gitu."
"Anya sama Zenya?" Nania menjengit.
"Iya. Ada Pak Satria sama Bu Sofia juga. Jadi ini judulnya Pak Daryl bawa keluarganya kerja sambil refreshing gitu."
"Umm … Kakak bilang tadi lima orang?" Nania mengingat ucapan Dinna di awal.
"Iya lima orang. Pak Daryl, Bu Sofia sama Pak Satria, terus Anya sama Zenya." Sekretaris Fia's Secret itu menjelaskan.
"Oh, … aku kirain … hehehe." Gadis itu terkekeh, merasa konyol dengan pikirannya sendiri.
"Apaan?"
"Nggak." Lalu dia menggelengkan kepala.
"Terus ini makanannya gimana?" Nania mengankat tote bag dalam genggamannya.
"Isinya apa?"
"Nasi, capcai, rendang sama tahu isi. Ada puding sama kopi juga."
"Sini buat aku aja dari pada mubadzir!" Lalu Dinna merentangkan tangannya.
"Mau Kakak bawa?"
"Iya."
"Oke. Tapi ini Kakak yang bayar ya? Hahaha …."
"Itu bisa diatur. Nanti aku masukin ke anggaran kantor."
"Dih, kkn dong?"
"Makanan doang."
"Tetep aja."
"Diamlah, ini rahasia kita."
"Yeah, terserah Kakak deh."
"Hmm …."
"Aku pamit."
"Oke." Kemudian Nania pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Jadi, bagaimana jawaban Nania?" Sofia memulai percakapan saat mereka makan siang tak jauh dari lokasi pemotretan.
"Tidak bagaimana-bagaimana." Daryl menjawab.
"Maksudmu?"
"Tidak ada jawaban."
"Nanianya tidak mau?"
"Tidak tahu."
"Lho?"
"Aku belum bertemu dia lagi sejak semalam." Daryl mengunyah makanannya cepat-cepat.
"Lalu semalam kamu pergi ke mana? Mama pikir kembali ke kedainya Ara untuk menemui Nania dan bicara? Kenapa kamu lambat sekali?" Sofia bereaksi.
"Easy Mom! Semalam aku kembali ke sana, tapi kedainya sudah tutup. Lampu di kamar atas juga sudah gelap. Apalagi pas aku telfon Nania tidak menjawabnya sama sekali. Aku pikir mungkin dia sudah tidur. Masa aku harus memaksanya bangun hanya untuk bicara?"
"Ah!" Sofia tampak kecewa.
"Masih ada besok."
"Kenapa tidak hari ini? Lebih cepat kan lebih baik?"
"Mama bercanda ya? Kita saja masih di sini. Anak-anak belum selesai dan kemungkinan kita sampai di Jakarta sore atau malam. Lalu aku harus menghadiri undangan di PIK. Tidak ada waktu, Mom. Besok saja lah."
"Oh …."
"Atau Mama mau menginap di sini saja? Kelihatannya anak-anak suka di sini?" Daryl menatap dua keponakannya yang tengah asyik bermain di taman resort ditemani Satria disela istirahat pemotretan merk pakaian mereka.
"Tidak. Kami akan ikut pulang denganmu."
"Mama yakin?"
"Yakin."
"Tidak mau liburan dulu? Di sini menyenangkan untuk bulan madu." Daryl tergelak.
"Bulan madu apanya?"
"Siapa tahu Mama mau bula madu lagi dengan Papi?"
"Dasar tidak sopan!" Sofia mendelik mendengar tawa putranya.
"Ayola, aku beri kalian kesempatan berduaan, sementara anak-anak aku bawa pulang. Kasihan pengasuh mereka tidak ada kerjaan kalau terlalu lama kita bawa."
"Oh, tidak bisa. Mama akan tetap ikut pulang denganmu. Dan Mama yakin Papi juga."
"Serius tidak mau bulan madu dulu?"
"Diamlah! Kenapa kamu jadi ngelunjak begitu?"
Daryl tertawa lagi.
"Om Der, Oma!!!" Anya dan Zenya berlari ke arah mereka.
"Iya sayang? Mau makan sekarang?" Sofia menyahut.
"Nggak!"
"Kenapa? Kalian belum makan dari tadi."
"Aku nggak laper, nggak tahu kalau Zen." jawab anya.
"Aku juga nggak. Nanti aja."
"Terus mau apa?" Sofia bertanya.
"Wanna see something? ( mau melihat sesuatu?)" Anya menunjukkan kedua tangannya yang ditangkupkan.
"Apa?"
"Just answer. Did you wanna see something? (jawab aja, mau lihat sesuatu?)" Anya mengulang pertanyaan.
"Iya apa sayang?"
"Promise me!"
"Apa?"
"Don't be scared!"
"Kenapa harus takut? Memangnya apa yang mau kamu tunjukkan."
"Something cute, Om Der."
"Apa? Show me."
"Are you sure?"
"Yeah."
"Oke." Kedua anak itu kemudian membuka kedua tangannya di hadapan nenek dan pamannya.
Mereka menunjukkan apa yang ditemukan dalam petualangan di sekitar resort yang dipenuhi tanaman dan pepohonan besar.
"Look! Ini kaki seribu Om Der!" Anya mendekatkan apa yang ada dalam tangannya kepada Daryl.
Seekor binatang melata dengan kaki kecil yang begitu banyak dan merayap di telapak tangan Anya.
"Dan ini ulat daun!" Lalu di gengaman Zenya terdapat seekor ulat berwarna hijau dengan ukuran yang cukup besar.
Yang tentu saja membuat Daryl begitu terkejut. Dia tak pernah melihat binatang dengan jenis itu sebelumnya, dan hal tersebut terlihat mengerikan baginya.
"Astaga! Anya! Zenya! Singkirkan mereka!!" Pria itu melompat ke belakang ibunya.
"This is cute, Om! See?" Anya membiarkan binatang itu merayap-rayap di tangannya.
"Me too!!" Zenya juga melakukan hal yang sama.
Dan mereka berdua tertawa senang akan hal itu.
"Apa yang kalian lakukan! Singkirkan! Buang binatang itu sekarang juga!" Daryl berteriak.
"No! I like them. Aku mau bawa dia pulang!" Anya mendekapnya dalam dada.
"Aku juga. Boleh kan Oma?"
"Tidak boleh!" Daryl kembali berteriak di belakang ibunya.
"Oma, please!"
"Pokoknya tidak boleh! Mama, janga izinkan mereka membawa hewan menjijikan itu!!!"
"Kenapa sih, kamu jangan begini! Kamu menyakiti Mama!" Sofia berusaha melepaskan cengkeraman anaknya.
"Aku tidak mau mereka membawa itu! Hii!! Menjijikan sekali!" Daryl bersembunyi.
"Om takut ya?" Anya mendekat dan kembali menyodorkan binatang itu kepada pamannya, dan banyak ide muncul di kepalanya.
"Tidak! Singkirkan!"
"Masa udah gede takut sama beginian? Ini lucu loh Om!" Zenya mengikuti kakaknya.
"Lucu apanya? Cepat buang!"
"Noo! I'm gonna take them home!" Dua anak itu mendekat dengan seringaian di wajah.
"Anya! Zenya!" Daryl terus berteriak sementara Sofia menutup kedua telinganya sambil tertawa.
"Mama! cepat suruh mereka membuangnya!!"
"Om takut? Om kan udah gede?" ucao Anya lagi.
"Tidaaakk!!!" Pria itu berlari menjauh, sementara orang-orang di sana hanya tertawa.
💖
💖
💖
Bersambung ...
Umm ... Jadinya gimana? Malah ngasuh bocah? 🙄
Like, komen, hadiah, vote!!😜
semangat terus kak Fit, tambah sukses dan selalu bahagia 🤲