Kisah ini lanjutan dari KEMBALI-NYA SANG ANTAGONIS seasons 1
Banyak adegan kasar dan umpatan di dalam novel ini.
Cerita akan di mulai dengan Cassia, si Antagonis yang mendapatkan kesempatan terlahir kembali, di sini semua rahasia akan di ungkap, intrik, ancaman, musuh dalam selimut dan konflik besar, kisah lebih seru dan menegangkan.
Jangan lupa baca novel KEMBALI-NYA SANG ANTAGONIS season 1 agar makin nyambung ceritanya. Happy reading!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Nafisha terus gelisah, hatinya tak tenang saat melihat tatapan Liam yang seperti mengulitinya tadi.
"Sial!" rutuknya marah.
Nafisha meremat pelan selimut yang ia genggam seolah itu adalah harapan yang hampir hancur berantakan.
TOK
TOK
TOK
Hingga ketukan pintu menyentak Nafisha dari lamunannya tentang Amelia dan Liam.
Nafisha menarik napas pelan, sesak menghimpit dadanya yang nyeri oleh tatapan Liam yang menghancurkan hatinya.
"Masuk!" serunya pada akhirnya.
Pintu terbuka, Nafisha melihat Olivia datang membawa sesuatu yang tak bisa ia tebak. Sebuah paperbag hitam bermotif menjadi sesuatu yang membuat Nafisha penasaran.
"Mom, ada apa?" tanya Nafisha, suaranya lembut dengan tatapan polos yang memikat.
"Ini hadiah untukmu di hari natal," kata Olivia.
Nafisha menerima dengan senang. Namun, ia yakin Liam belum memberitahu tentang keadaan Amelia pada kedua orang tuanya.
"Kenapa? Tak suka?" tanya Olivia dengan mata memandang Nafisha penuh tanya.
"Suka, Terima kasih!" jawab Nafisha yakin.
"Bagus lah, Mommy keluar ya!" pamitnya.
Olivia berlalu dari kamar Nafisha dan itu meninggalkan rasa tak nyaman dalam hati Nafisha saat mengingat kalau Olivia dan Lucas tahu akankah ia di hukum?
Malam semakin larut.
Nafisha belum bisa memejamkan matanya dia gelisah dan bangun lagi untuk beberapa kali sebab perasaan tak nyaman itu menjerit hatinya agar terus merasa cemas.
"Bagaimana keadaan Amelia?" gumam Nafisha, dia kesal sebab ia tak tahu jika Amelia bisa senekat itu, dan dirinya pun tak percaya jika gadis yang terlihat polos nyatanya tak lebih berbahaya juga licik darinya.
BRAK!
Pintu di dobrak, Nafisha menoleh dan matanya mendelik saat melihat Liam datang wajahnya jelas menunjukkan ketidaksukaan sejak awal pertemuan mereka.
Derap langkah dari sepatu Snikers yang Liam gunakan menggema di kamar Nafisha yang luas, suasana terasa menegangkan dengan hawa gelap yang di bawa Liam.
"Kak, ada apa?" tanya Nafisha tanpa tahu situasi.
Tak ada jawaban, Liam masih menatap Nafisha dengan datar dan terkesan menyimpan kemarahan yang begitu menyesakkan.
"Bangun!" suara Liam serak dan penuh intimidasi.
"Tapi kenapa?" wajah polos Nafisha tak akan berpengaruh pada Liam.
"Bangun!" sekali lagi.
Nafisha tak ada pilihan lain selain ia membuka selimut dan segera turun dari ranjang besarnya.
"Ada apa, Kak?"
Liam mengulurkan tangannya, dia menarik Nafisha kasar hingga gadis itu terhenyak dengan jantung yang berdebar keras.
"Kak, kenapa?" tanyanya pelan.
"Kau mencelakai Amelia kenapa?" desak Liam.
"Kak, bukan aku!" elak Nafisha walaupun itu kenyataannya.
"Jelas aku melihat kamu di sana dengan mendorong Amelia dari tangga!" kemarahan Liam meledak, bibirnya berbisik benci pada sosok Nafisha.
"Benar, itu bukan salahku Kak, Amelia dia yng melakukannya sendiri!" tuduhan yang di lontarkan Liam dan pengelakan Nafisha membuat Liam meradang.
"Kau benar-benar," Liam mendorong Nafisha marah hingga tubuh gadis itu membentur tembok.
DUGH!
"Awwww!" ringis Nafisha.
Liam maju, tangannya akan menarik kembali Nafisha. Namun, suara dari Olivia menghentikan Liam.
"Liam, ingat dia adikmu juga!" tegas Olivia.
"Tapi dia mencelakai Amelia, Mom, dan sekarang gara-gara dia Amelia ketakutan," bentaknya marah.
"Mommy tahu, hanya saja ini tak bisa di selesaikan oleh kekerasan, kita akan bahas ini nanti, ya!" bujuk Olivia.
Liam hanya mendengus, walaupun tak setuju. Namun, ia tak bisa membangkang dan pada akhirnya ia berlalu meninggal Nafisha dengan kedua orang tuanya.
Ketegangan juga rasa canggung begitu terasa di dalam kamar, ia Nafisha sampai tak bisa bernapas dengan benar karena tatapan intimidasi yang di layangkan oleh Lucas dan Olivia.
"Kamu istirahat saja, karena besok darahmu di butuhkan oleh Amelia!" setelah mengatakan itu, Olivia dan Liam berlalu meninggalkan Nafisha dalam kemarahan yang membakar jiwanya.
"Aku ini putri kalian? Kenapa kalian lebih sayang Amelia dari pada aku?" tanya Nafisha dengan suara serak. Setelah Olivia dan Lucas keluar dari dalam kamar.
...****************...
Hari ini adalah hari yang telah Darian nantikan dengan penuh gelisah. Setelah berhari-hari tenggelam dalam tumpukan berkas yang menuntut kesempurnaan, harapannya mengerucut pada satu pintu kerjasama dengan perusahaan properti dari Italia.
Di depan cermin, Darian menatap bayangannya sendiri jas rapi yang membungkus tubuh tegapnya, dasi yang terikat sempurna, dan jam tangan mewah yang mengilap di pergelangan tangannya.
Sosok yang siap menghadapi medan pertempuran bisnis itu. “Semoga semuanya berjalan sesuai rencana,” bisiknya pelan,
jantungnya berdegup tak menentu saat tangannya membenarkan ikatan dasi di lehernya. Detik ini adalah pertaruhan hidupnya kunci yang membuka jalan atau jurang yang menghancurkan mimpi.
Dengan langkah penuh semangat, Darian keluar dari kamarnya, menyusuri koridor menuju ruang makan tempat orang tuanya menunggu.
Di sana, Noah dan Angela duduk berhadapan, menatap tangga seakan berharap putra satu-satunya segera muncul.
Di tengah keheningan yang dipenuhi obrolan ringan, suara Angela tiba-tiba pecah, menyayat udara pagi itu. “Kenapa Darian belum juga membawa perempuan untuk kita kenal? Apa dia masih terjebak dalam bayang-bayang Nafisha?” tanyanya, nada suaranya mengandung getar harap yang terpendam.
Noah menarik napas dalam-dalam, matanya menatap kosong sembari menggeleng pelan. “Aku juga tak mengerti. Dia tak pernah terbuka soal itu padaku.”
Angela menunduk, bibirnya mengerut penuh luka. “Seandainya saja Nafisha tak berbohong pada kita, mungkin aku bisa menerimanya menjadi menantu kita... meski itu terasa berat.”
Kata-kata itu terucap dengan berat, memenuhi ruang makan dengan kesedihan yang membakar hati mereka berdua sebuah luka lama yang tak kunjung sembuh, menggantung di antara harapan dan kenyataan yang pahit.
Tak lama kemudian, Darian sampai di meja makan, tapi ia fokus dengan ekspresi kedua orang tuanya yang terlihat murung di pagi hari.
Tangannya dengan sigap menarik kursi di samping ayahnya, lalu duduk dengan hati yang penuh tanya. "Ayah, Bunda... kenapa pagi ini wajah kalian suram dan murung begitu?" Suaranya tercekat, penuh kekhawatiran yang sulit disembunyikan.
Noah menghela napas panjang, mencoba menyembunyikan beban di dadanya. "Tidak apa-apa, Nak. Mari kita mulai sarapan. Hari sudah siang, dan waktu tidak menunggu kita."
Darian hanya mengangguk, menahan gelisah yang merayap di dalam dadanya. Dia tak berani bertanya lebih jauh, karena hatinya sudah gelisah di buru-buru waktu untuk pertemuan dengan orang dari perusahaan Italia yang sangat dinantikan.
Namun di balik ketenangan yang dipaksakan itu, kegelisahan tak pernah benar-benar pergi. Satu perasaan aneh membelit dada, menandakan ada sesuatu yang akan terjadi pada nya.
selalu d berikan kesehatan 😃