*KHUSUS PEMBACA UMUR 17+*
Pertemuan mereka berdua membuat roda takdir berputar.
Hari – hari indahnya bermula saat Dion bersama dengannya, mengawali dan menutup hari dengan mengucap namanya yang sudah terukir didalam hati. Tak ada yang bisa memisahkan mereka berdua dari kebahagian itu, hingga suatu saat....
“Lebih baik aku tidak pernah bertemu denganmu.” Gumam Dion
Di malam hari, gelap, tanpa cahaya aku berdiri dan kembali menyesali perbuatanku. Awan besar menutupi rembulan, aku tak dapat berkata – kata lagi tanpa kusadari air mata telah mengalir.
“maafkan aku teman – teman....”
Disini, dikelas ini, diantara jasad seluruh sahabat2ku, aku menangis.
Dengan tatapan kosong dan tubuh bermandikan darah.
“anak iblis”
“Pembunuh”
“Penjahat”
Satu persatu sebutan itu terdengar ditelingaku hingga sampai membuatku lupa akan identitasku sendiri. 1 minggu kemudian Aku terbangun disebuah rumah sakit jiwa tanpa mengingat apapun dan langsung pindah ke kota Lando dan berseklah di SMA Violet
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahroni nurhafid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Season 2 Chapter 31 Sosok yang tidak terampuni
Setiap ku tutup mataku didalam kegelapan, bayang – bayang
itu selalu menghantuiku. Satu persatu kenangan manis itu menusukku dan ketika
saat itu tiba selalu saja kutemukan diriku terkurung dalam kelas itu.
Terjebak di malam keabadian,
Ruang kelas tempat kita bersama,
Meja tempat kita makan bersama,
Kursi yang selalu kita perebutkan setiap harinya,
Papan tulis dengan selalu di isi dengan ocehan guru kita,
Kilauan mentari yang menembus jendela di sisi kanan kelas,
Detakan jarum jam penuh penantian,
Hanya dalam kedipan mata semua telah sirna,
Di dalam mimpi buruk yang pernah kita sebut kelas,
Tak peduli seberapa kuat ku coba untuk melupakannya, namun
pemandangan itu tak pernah pudar dari kehidupanku.
“Apakah ini sebuah kutukan?” gumamku duduk memeluk kaki di
pojok kamar tanpa cahaya.
“Tidak.”
“Seharusnya aku sudah menyadarinya.”
“Ini bukanlah kutukan.”
“Tapi ini adalah........”
“Hukuman...”
Tak peduli sekeras apapun ku memutar lagu aku tetap tak bisa
kabur dari suara itu,
Tangisan sahabatku ketika diambang kematiannya,
Teriakan penuh amarah dan dendam dari teman sebangku ku,
Tetesan demi tetesan darah bercampur air mata yang jatuh
dari mereka yang tertancap di langit – langit,
Permohonan meminta pertolongan di bawah kaki ku,
Ku genggang erat pisau yang ada di tangan kiriku dan tanpa
pikir panjang......
*Srat.....Srat*
Darah segar bercucuran dari lenganku,
Terdengar tawa seram di dalam kamarku,
Baiklah saatnya pertanyaan,
Siapakah makhluk berambut kribo dengan sosok tubuh yang
dipenuhi jahitan duduk di pojok kamar yang tertawa sambil mengiris – iris
lengannya dengan pisau dapur ditangan kirinya?
Benar, itu adalah AKU, DION
Ku buka kedua mataku dan tersenyum lebar,
“Akhirnya kudapatkan kembali kesunyianku ini.”
“PERSETAN DENGAN KALIAN SEMUA! AKU TAK MEMBUTUHKAN KALIAN!
YANG KUBUTUHKAN DI DUNIA INI HANYALAH SATU........... Dan hanyalah dia.” Ku
peluk erat sebuah kotak musik yang sudah rusak,
“Kali ini pasti! Pasti! Aku tidak akan melupakanmu lagi! Aku
takkan melupakan kenangan kita bersama, kali ini aku yang akan mencarimu,
menemukanmu dan menepati janjiku padamu.”
Ku duduk di depan jendela menatap bulan bersama kotak musik tua
hingga malam berganti pagi,
“Ku pikir sudah saatnya.”
Setelah ku letakkan kotak musik berhargaku, aku langsung
meninggalkan kamar dan segera memulai hari.
Setelah hari itu,
Dalam sekian detik setelah kepalaku hancur aku mengingat
semuanya,
Iya,
Semuanya,
Ingatanku telah kembali sempurna,
Oleh karena itu aku menghabisi seluruh teman sekelasku yang
tersisa untuk ‘menebus’ kesalahanku padanya.
Dengan tubuh ini, tubuh teman baikku.
Ku akhiri setiap kenangan yang sudah kumulai bersama mereka.
Dengan kedua tangan ini, yang selalu ia pakai untuk menolong
teman, tangan yang begitu bersih ini kini sudah ternodai dengan darah.
Aku pun juga menyadarinya, setelah ku tarik pelatuk ini aku
akan kehilangan hari – hari tenang dan damaiku.
Tapi itu tak masalah, walaupun harus hidup di dalam bayangan
kota dan menjadi buronan semua itu harus kulalui.
Pengorbanan selalu dibutuhkan demi meraih kebahagiaan.
Aku sudah membulatkan tekad untuk semua itu.
Sampai akhirnya dia muncul,
Sebuah gadis kecil memakai pakaian gothic, muncul dari balik
rembulan dan turun didepanku sambil menghunuskan pedang ke leherku,
Yuris :”Jangan bergerak!”
Pada awalnya aku takkan menghiraukan anak kecil itu,
Membunuh anak kecil bukanlah hobiku,
Sampai ku tatap matanya,
Mata yang menatapku dengan tajam, tangan yang tak gentar
sedikitpun saat menghunuskan pedang ke arahku, kuda – kuda yang siap akan
bertarung.
Sesaat aku berubah pikiran,
Anak ini,
Dia sangat berbahaya,
Namun tak kusangka pertemuan itulah yang membuatku berada
disini,
Satu – satunya tempat teraman bagiku,
SMA Lotus, tempat dimana aturan dan hukum tak berlaku, tak
peduli seburuk apapun masa lalumu, dosamu, ataupun rencana mengerikan yang kau
punya. Selama menjadi siswa disini takkan pihak manapun yang akan mengganggu.
Hanya disini,
Kutemukan kembali kedamaian,
Mungkin ‘kedamaian’ bukan kata yang tepat,
Sebab,
Seluruh anggota kelasku bukanlah ‘orang biasa’
Atau lebih tepatnya semua hal disini tak ada yang bisa
disebut ‘biasa’
Semuanya,
Bukan hanya kelasku,
Namun Seluruh siswa disini bukanlah ‘orang biasa’
Tapi aku sama sekali tidak tertarik dengan semua itu, hal
terpenting bagiku sekarang adalah menemukanmu,
Walau hanya samar – samar, aku bisa merasakan kalau dirimu
berada disini.....
ISTRI MUDAKU MAFIA
kalo seru saya supor
kalo enda seru saya like
kalo seru saya supor
kalo enda saya like