Novel ini menceritakan kisah Putri Mahkota Lyra ael Alar dari Kerajaan Elara, seorang penyihir Moon Magic (Sihir Bulan) yang kuat namun terikat oleh sebuah misteri kuno. Di tengah ancaman perang dari Kerajaan Utara Drakonia, Lyra dipaksa menjadi alat politik melalui pernikahan damai. Ironisnya, ia menemukan bahwa kutukan keluarga kuno menyatakan ia ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaannya sendiri pada ulang tahun ke-25, kecuali ia menikah dengan "Darah Naga" yang murni.
Calon suaminya adalah Pangeran Kaelen Varrus, Pangeran Perang Drakonia, seorang Shadow Wyrm (Naga Bayangan) yang dingin, sinis, dan tertutup, yang percaya bahwa emosi adalah kelemahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Malam Dingin di Menara Naga
Udara di Menara Barat tidak lagi sekadar dingin; ia terasa hampa, seolah-olah segel obsidian di pintu benar-benar menghisap setiap partikel kehidupan dari ruangan itu. Aethela duduk di lantai batu, bersandar pada kaki tempat tidurnya. Tubuhnya terasa berat, dan sihir bulannya—yang biasanya mengalir seperti sungai perak yang tenang—kini terasa seperti genangan air yang mengering.
Kata-kata Lady Seraphina berputar di kepalanya seperti burung pemakan bangkai. Apakah Valerius benar-benar sedang menegosiasikan nyawaku? Setiap detik yang berlalu tanpa kehadirannya terasa seperti bukti atas pengkhianatan itu. Namun, di sisi lain, ia teringat bagaimana tatapan Valerius saat ritual tadi—sebuah tatapan yang tidak mungkin bisa dipalsukan oleh seorang prajurit sedingin apa pun.
Tiba-tiba, segel hitam di pintu bergetar. Suara dengung rendah memenuhi ruangan, diikuti oleh suara retakan halus yang memekakkan telinga. Aethela waspada, tangannya gemetar saat ia mencoba memanggil sisa-sisa sihirnya.
Bayangan di sudut ruangan tiba-tiba memanjang dan memadat. Dari balik kegelapan itu, muncul sesosok pria dengan napas yang memburu.
Valerius.
Zirah hitamnya dipenuhi goresan, dan tangan kanannya bersimbah darah, seolah-olah ia baru saja meninju dinding batu atau memaksakan tangannya melewati penghalang sihir yang tajam. Matanya yang emas berkilat dengan kepanikan yang jarang terlihat, namun segera berubah menjadi kelegaan yang luar biasa saat melihat Aethela masih bernapas
Valerius melangkah maju, hampir terjatuh, sebelum ia berlutut di depan Aethela. Ia tidak peduli pada protokol. Ia tidak peduli jika ayahnya atau Dewan sedang mengawasinya melalui sihir pengintai.
"Aethela," suaranya parau, kering seperti debu gunung.
"Kau datang," bisik Aethela. Suaranya kecil, dan Valerius merasakan hatinya seperti diremas melihat pucatnya wajah wanita itu.
Ia telah berjanji untuk melindunginya, namun ia justru membiarkan ayahnya menyegel Aethela dalam menara penguras sihir ini. "Maafkan aku. Aku butuh waktu untuk mengalihkan perhatian para pengawal. Dewan... mereka sedang gila. Mereka ingin menggunakan ritual kita sebagai bukti bahwa kau merusak jiwaku."
"Apakah itu benar, Valerius?" Aethela menatap matanya, mencari kejujuran di balik emas cair itu. "Apakah kau sedang menegosiasikan takhtamu dengan nyawaku?"
Valerius membeku. Tangannya yang berdarah terulur, ragu-ragu sejenak sebelum menyentuh pipi Aethela yang dingin. "Siapa yang memberitahumu omong kosong itu?"
"Seraphina. Dia datang ke sini."
Valerius menggeram rendah, sebuah suara naga yang dalam. "Seraphina adalah ular. Dia bekerja untuk faksi yang ingin perang tetap berlanjut. Aethela, dengarkan aku baik-baik." Ia memegang kedua bahu Aethela, memaksanya untuk fokus. "Aku tidak akan pernah memberikanmu pada mereka. Takhta tanpa seseorang yang bisa menstabilkan kegelapanku hanyalah kursi kematian bagiku. Dan setelah ritual tadi... kau bukan sekadar penstabil. Kau adalah bagian dari jiwaku."
Mendengar pengakuan itu, beban yang menghimpit dada Aethela seolah terangkat. Namun, ia bisa merasakan ketegangan yang luar biasa dari tubuh Valerius. Pria ini sedang mempertaruhkan segalanya.
Valerius menarik Aethela ke dalam dekapannya. Pelukan itu tidak lembut; itu adalah pelukan yang putus asa, seolah-olah ia sedang mencoba menyalurkan kehangatan tubuhnya yang panas ke dalam tubuh Aethela yang membeku. Aethela menyandarkan kepalanya di bahu zirah Valerius, mencium aroma logam, darah, dan badai yang selalu melekat pada pria itu.
"Apa yang akan terjadi sekarang?" tanya Aethela dalam dekapan itu.
"Aku diperintahkan untuk mengawasimu malam ini," bisik Valerius di rambutnya. "Ayahku pikir ini adalah bentuk hukuman bagiku—untuk melihatmu perlahan melemah karena segel itu. Tapi dia salah. Aku akan menggunakan malam ini untuk memperkuat ikatan kita."
Valerius melepaskan pelukannya sedikit, hanya untuk menatap wajah Aethela. "Segel itu menghisap sihirmu, tapi ia tidak bisa menghisap apa yang sudah menyatu. Aethela, kita harus melakukan meditasi sinkronisasi lagi. Tanpa altar, tanpa perantara. Hanya aku dan kau."
Aethela Melakukan sinkronisasi langsung tanpa perantara kristal adalah hal yang sangat berbahaya. Jika mereka gagal mengendalikan arus energinya, pikiran mereka bisa hancur. Namun, saat melihat luka-luka di tangan Valerius yang ia dapatkan hanya demi bisa masuk ke kamar ini, Aethela tahu ia tidak punya alasan untuk ragu.
"Lakukan," kata Aethela tegas.
Valerius duduk bersila di depan Aethela, menggenggam kedua tangan wanita itu. Darah dari tangannya mengering, meninggalkan bekas kemerahan di jari-jari Aethela yang putih.
"Tutup matamu. Jangan cari bulan di langit, Aethela. Cari bulan yang ada di dalam darahmu. Dan aku akan membawakanmu bayanganku sebagai pelindungnya."
Saat mereka memejamkan mata, suasana ruangan yang dingin menghilang. Di dalam ruang batin mereka, Valerius melihat Aethelgar sebagai pilar cahaya perak yang megah, sementara ia sendiri adalah pusaran kegelapan yang mengepungnya. Namun kali ini, kegelapan itu tidak mencoba menelan cahaya; ia membentuk dinding pelindung di sekelilingnya, menangkis tarikan jahat dari segel obsidian di pintu.
Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar utuh. Kehadiran Aethela di dalam pikirannya memberikan ketenangan yang belum pernah ia rasakan dalam seratus tahun hidupnya. Ia melihat memori Aethela—taman-taman Solaria, rasa sakit karena kesepian di istana cahaya—dan ia merasa ingin menghancurkan siapa pun yang pernah membuat wanita ini bersedih.
Melalui ikatan itu, ia mengirimkan kekuatannya. Ia membiarkan Aethela "meminjam" vitalitas naganya agar ia tidak jatuh pingsan karena pengurasan sihir.
Mereka tetap dalam posisi itu selama berjam-jam. Di dunia luar, malam merambat pelan, dan para pengawal di luar pintu hanya mendengar keheningan. Mereka tidak tahu bahwa di dalam kamar itu, dua jiwa sedang menjahit diri mereka menjadi satu kesatuan yang tak terpatahkan.
Saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur Obsidiana, Aethela membuka matanya. Ia tidak lagi merasa lemas. Sebaliknya, ia merasa seolah-olah ada api yang menyala di dalam pembuluh darahnya—api naga yang dipinjamkan Valerius.
Valerius masih menggenggam tangannya, wajahnya tampak sangat lelah, namun matanya yang emas bersinar dengan kebanggaan.
"Kau bertahan," bisik Valerius.
"Kita bertahan," koreksi Aethela. Ia mengulurkan tangan, menyentuh luka di tangan Valerius yang kini mulai menutup berkat energi regenerasi naga yang dipicu oleh sihir bulannya.
Ada sebuah pengakuan yang tidak terucapkan di antara mereka. Malam ini bukan lagi tentang politik atau perjanjian damai. Ini tentang dua orang yang telah memilih satu sama lain di tengah dunia yang ingin memisahkan mereka.
"Mereka akan datang sebentar lagi untuk membawamu ke sidang Dewan," kata Valerius, suaranya kembali dingin dan keras seperti biasanya, topeng pangeran perangnya telah kembali. "Ingat apa yang kita rasakan semalam. Jangan biarkan mereka melihat kelemahanmu. Aku akan berada di sampingmu, Aethela. Sebagai suamimu, dan sebagai senjatamu."
Aethela mengangguk, berdiri dengan tegak saat mendengar suara kunci pintu yang dibuka dari luar. Ia bukan lagi putri yang ketakutan. Ia adalah bagian dari naga, dan naga tidak pernah sujud pada siapa pun.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca📖
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️