5 perempuan dengan keturunan setengah Dewa Dewi yang sangat kuat dan darah mereka yang mengalir dengan kekuatan yang melumpuhkan dan petualangan yang akan mereka hadapi di negeri ajaib Euthopia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bsf10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Lift Gravitasi
Sebelum mereka melangkah masuk ke lift gravitasi yang akan membawa mereka ke titik nadir Menara Mageia, kelima gadis itu berhenti di sebuah lorong gelap yang hanya diterangi oleh pendar biru samar dari dinding kristal.
Suasananya berat. Bukan hanya karena misi ini adalah pengkhianatan terhadap akademi, tetapi karena sosok yang berdiri di depan mereka—Azzura—terasa seperti orang asing.
Vera menghentikan langkahnya, tangannya mencengkeram sisa patahan perisainya yang kini dibalut kain kasar. "Tunggu."
Semua berhenti. Rachel menurunkan busur kayunya, menatap Vera dengan alis berkerut. "Vera, kita tidak punya waktu. Patroli Paladin akan lewat setiap lima menit."
"Aku tahu," suara Vera berat, matanya tertuju pada punggung Azzura. "Tapi aku tidak bisa jalan satu senti pun lagi sebelum kita bicara jujur. Azzura... balikkan badanmu."
Azzura terdiam sejenak, lalu perlahan berbalik. Di kegelapan lorong, mata kirinya yang berwarna abu-abu redup tampak berdenyut pelan, kontras dengan mata kanannya yang biru safir.
Olivia menutup mulutnya, tangannya gemetar. "Cahaya di matamu... itu bukan Mageia, kan?"
Azzura menatap mereka satu per satu. Suaranya terdengar lebih dalam, seperti ada gema dari jurang yang jauh. "Bukan. Itu adalah Void. Sesuatu yang seharusnya tidak ada di dunia ini, tapi justru menjadi pondasi tempat kita berdiri sekarang."
"Dan kau ingin kita masuk ke sana untuk apa?" potong Luna dingin. Ia menyilangkan tangan di dada, embun beku mulai merambat di lantai di bawah sepatunya. "Untuk menghancurkan akademi? Atau untuk mencari cara menyembuhkan matamu itu?"
Azzura menggeleng pelan. "Bukan tentang mataku, Luna. Di bawah sana... aku melihat 'kita'. Bukan sebagai pahlawan, tapi sebagai filter. Kita dilatih di akademi ini hanya untuk menyaring kotoran dari energi gelap agar para elit bisa hidup abadi. Aku melihat jutaan wajah yang menderita di balik cahaya yang kita puja."
"Mustahil," bisik Rachel, suaranya retak. "Ayahku bilang Mageia adalah berkah alam..."
"Ayahmu berbohong, Rachel. Sama seperti ayahku," sahut Azzura tajam.
Vera melangkah maju, berdiri tepat di depan Azzura. Ia jauh lebih tinggi, namun Azzura tidak mundur. "Jika kita turun ke bawah sana, tidak ada jalan kembali. Kita akan dicap sebagai pemberontak. Kita akan diburu oleh teman-teman kita sendiri. Kau sadar itu?"
Azzura menatap mata Vera dengan sisi mata abu-abunya. "Aku sadar. Tapi jika kita diam, kita adalah bagian dari mesin penyiksa itu. Apakah itu 'keadilan' yang kau banggakan dengan perisaimu, Vera?"
Vera terdiam. Ia melihat perisainya yang hancur—perisai yang gagal menahan serangan di Jembatan Cahaya karena memang sistemnya sudah korup. Ia menghela napas panjang, lalu menghantamkan kepalan tangannya ke telapak tangan satunya.
"Sialan. Aku benci kau selalu benar," gumam Vera.
Olivia mendekat, menggenggam tangan Azzura yang terasa dingin. "Aku takut... sangat takut. Tapi aku lebih takut hidup dalam kebohongan. Jika tanaman di taman akademi tumbuh dari darah dunia lain, aku tidak ingin merawatnya lagi."
Luna menghela napas, uap dingin keluar dari mulutnya. Ia menatap lift gravitasi di ujung lorong. "Satu menit di Jembatan Cahaya tadi adalah taruhan nyawa. Sekarang, kita bertaruh nyawa untuk sisa hidup kita. Rachel?"
Rachel menarik napas panjang, lalu mengangguk mantap sambil memperbaiki posisi busurnya. "Aku lebih suka mati mencari kebenaran daripada hidup sebagai pemanah yang buta arah. Ayo. Sebelum aku berubah pikiran."
Azzura menatap keempat sahabatnya. Untuk sesaat, kehangatan biru di mata kanannya menguat, mengalahkan kegelapan di mata kirinya.
"Terima kasih," bisik Azzura. "Ingat... jangan percaya pada cahaya yang tidak memiliki bayangan. Karena cahaya murni di tempat ini adalah racun.
"Ayo berangkat," perintah Vera. "Sentinel... formasi bayangan."
Mereka berhasil mencapai lift gravitasi menuju lantai paling bawah—area yang bahkan tidak ada dalam peta resmi akademi. Saat pintu terbuka, pemandangan di depan mereka membuat Olivia menutup mulutnya karena terkejut.
Bukan buku atau dokumen yang mereka temukan.
Melainkan ribuan tabung kristal besar yang berisi cairan hitam pekat yang sama dengan yang ada di dimensi bawah. Cairan itu dipompa keluar dari tabung, disaring melalui mesin raksasa, dan berubah menjadi cahaya biru murni yang selama ini mereka kenal sebagai Mageia.
"Jadi ini sumbernya..." Olivia menyentuh salah satu tabung dengan gemetar. "Aether kita... bukan hadiah dari alam semesta. Ini adalah hasil dari penyiksaan dimensi lain."
"Lihat itu," Rachel menunjuk ke sebuah prasasti di tengah ruangan.
Di sana terukir nama-nama pendiri Euthopia. Dan di urutan paling atas, ada sebuah nama yang membuat jantung Azzura berdegup kencang.
"Veronica Adam—Sang Penenun Pertama."
"Nama keluargamu, Azzura," bisik Luna sambil menatap Azzura tajam. "Leluhurmu bukan pahlawan yang menutup gerbang. Dia adalah orang yang pertama kali membuka luka ini untuk mendapatkan kekuatan."