sepeninggal kekasihnya, Citra saat itu dalam kondisi hamil, siapa sangka Citra justru di lamar oleh pria tampan yang meminta Citra menjadi pendamping hidupnya.
karena sang ibu Fatimah tidak ingin putrinya melahirkan seorang anak tanpa suami. Fatimah memaksa Citra untuk menerima pinangan si pria misterius itu.
Pernikahan tanpa cinta, di kondisi Citra sedang mengandung benih cintanya bersama almarhum kekasihnya. Bagaimana kehidupan pernikahan mereka selanjutnya?
Apakah motif sebenarnya pria tampan yang mau menikahi wanita yang sedang hamil?
jangan lupa untuk mampir dan baca kelanjutan ceritanya ya....
jngan lupa juga untuk meninggalkan like dan Vote kalian ya 🥰🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon reinna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 tidak hilang
"Tidak perlu repot Bunda,
" Ayah dan Bunda cukup mempersiapkan Diri saja untuk menerima menantu dan cucu kalian dengan baik itu sudah cukup untukku.
"kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?
"Seminggu lagi Ayah.
"apa Ayah bisa meluangkan waktu untuk acara pernikahan ku nanti.
"Baiklah nak. Ayah akan mengosongkan jadwal untuk dua minggu ke depan.
" Terimakasih Ayah Daffa segera memeluk Bambang.
"Daffa segera persiapan berkas berkasnya untuk di daftarkan nak. setelah semuanya siap kita akan berangkat.
"Hemmm Besok akan aku urus Bunda.
Setelah menerima lamaran Daffa. citra melalui hari nya dengan rasa gelisah.
Pagi ini Citra pergi pagi pagi sekali ke makam kekasihnya. Setelah menerima lamaran dari Daffa, citra tidak di perbolehkan untuk keluar rumah oleh Ibunya. Fatimah khawatir akan terjadi hal hal buruk sebelum pernikahan di langsungkan. tapi citra memaksa untuk pergi tanpa sepengetahuan ibunya.
Citra membawa serangkai karangan bunga mawar merah, Bunga lambang percintaan itu letakan di depan Nisan yang tertulis nama kekasihnya.
"Hai Aa, kamu apa kabar hari ini?
"kabarku Hari ini, aku jauh lebih baik.
"Apa kamu bahagia sekarang?
"ku harap kamu akan bahagia dengan keputusanku,
" a.. aku.... suara citra tercekat di tenggorokan begitu sulit ia mengatakan nya, hingga air mata yang mengalir dengan sendirinya seperti mengatakan kalo citra tidak baik baik saja. dengan berderai air mata citra mencoba tersenyum.
senyum manis yang biasa terukir di wajahnya sekarang ia harus memaksakan untuk menampakkan senyum itu.
"Apa kamu tau setelah aku mendengar berita kepergianmu,
" ingin rasanya aku segera pergi untuk menyusulmu.
"Tapi aku teringat dengan janji kita untuk menjaganya..
"maka aku urungkan niatku untuk menyusulmu,
"aku akan menjaga anak kita seperti janji kita terlebih dulu,
"aku akan menjaganya hingga ia dewasa meskipun tanpa ada kamu di sisiku aku akan tetep menjaga dan menyayangi anak kita.
"Setelah tiba waktunya aku akan menyusulmu jadi kamu harus menunggu di sana sampai aku berada di sisimu lagi dan kita akan hidup bahagia di kehidupan berikutnya, di usapnya perut ratanya. Tunggu aku di sana ucap citra lirih.
"Aku juga ingin memberitahumu, aku sudah memutuskan dan setuju dengan keinginanmu, Aku akan menikahinya.
"Apa kamu Bahagia mendengarnya?
hiks hiks hiks citra terisak dalam tangisannya.
"Kenapa kamu meninggalkan aku begitu banyak pertanyaan yang tidak bisa aku tanyakan.
"Bahkan kamu meninggalkan dia untukku jaga tapi bukan dengan mu.
"kenapa kamu meminta laki laki lain untuk menjaga anak kita, kenapa bukan kamu yang menjaganya bersamaku. citra hanya dapat mengelus perutnya.
di satu sisi citra begitu bersedih karena kehilangan laki laki yang di cintainya. di sisi lain citra merasa bersyukur, tidak semua dari Agam hilang begitu saja tapi Agam masih memberikan seseorang anak yang akan hadir jadi tidak semuanya akan hilang. citra masih memeiliki janin yang akan menggantikan kepergian Agam.
Sekitar satu jam citra menghabiskan waktu di atas Nisan kekasihnya.
" A'Agam hari ini aku pamit pulang dulu ya, nanti aku akan kembali lagi.
di peluknya kayu bertuliskan nama Agam Abrisam bin Hasan Abrisam. di ciumnya Nisan itu seblum citra meningalkannya
Di rumah Ani Fatimah berjalan mondar mandir di depan pintu. tangannya berulang kali di satukan jemarinya dan saling menarik. ia begitu khawatir entah kemana perginya citra, bahkan tidak memberitahu dirinya akan pergi kemana.
Pikiran Fatimah kalut, ia memikirkan putrinya akan melakukan hal hal yang tidak di inginkan. ia takut kalo citra sampai melakukan hal bodoh pada dirinya sendiri apa lagi sampai melukai dirinya sendiri. keringat mulai nampak di dahi Fatimah,
ia cemas kalo citra terpaksa menerima keinginan Fatimah agar citra menikah dengan laki laki yang datang melamarnya lalu citra pergi meninggalkan rumah, saat semua persiapan pernikahan sudah mulai di lakukan.
"Ibu... suara citra
"Nak kamu dari mana saja, membuat ibumu cemas. apa yang kamu lakukan di luar sana sepagi ini nak?
"Ibu, citra tidak apa apa.
"hanya merasa sedikit bosan lalu jalan jalan sebentar. ucap citra berbohong. sudah ayo masuk ibu sudah menyiapkan sarapan untukmu.