Bagaimana rasanya ketika suami yang Aurel selalu banggakan karena cintanya yang begitu besar kepadanya tiba-tiba pulang membawa seoarang wanita yang sedang hamil dan mengatakan akan melangsungkan pernikahan dengannya? Apakah setelah ia dimadu rumah yang ia jaga akan tetap utuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian Tiga Puluh Lima
'bruk'
Aurel terjatuh begitu ada seseorang yang menabrak punggungnya dari belakang, kejadian ini membuat ingatan Aurel kembali kepada beberapa bulan lalu saat ia ditabrak oleh mantan suaminya.
"Maaf mbak, saya tidak sengaja, biar saya bantu bangun," pria yang menabrak itu mengulurkan tangannya untuk membantu Aurel berdiri tapi Aurel mengabaikannya dan bangun sendiri.
"Tidak apa-apa," balas Aurel membersihkan bagian pakaiannya yang terkena debu di jalanan.
"Ada yang sakit mbak?" tanya pria itu masih berdiri di tempatnya untuk memastikan jika wanita yang ditabraknya tidak apa-apa.
Aurel menggeleng, "Saya tidak apa-apa," balas Aurel.
"Saya benar-benar minta maaf, saya sedang di kejar waktu, jadi saya tidak memperhatikan depan saya," ucap pria itu sekali lagi.
Aurel menoleh dan mengangguk, "Tidak apa-apa," balasnya, Aurel tidak mungkin memarahinya karena kejadian itu mengingatkannya pada kejadian ia harus melahirkan caesar secara mendadak karena perutnya terbentur sangat keras. Jujur Aurel masih belum bisa melupakan kejadian menyakitkan itu, bahkan sampai saat ini pun pria itu tidak sudi melihat anak kandungnya sendiri, lihat saja akan Aurel buat pria itu tidak bisa bertemu dengan anak-anaknya.
"Mbak," panggil pria itu karena dirinya hanya diam saja dengan pandangan menerawang.
Aurel langsung melangkah menjauhi pria itu, tidak lagi memperdulikannya walaupun ia sudah berkali-kali memanggilnya dengan panggilan 'mba, mbak, mbak'
"Mbak, dompetnya terjatuh," teriak pria itu seraya berlari menghampirinya.
Aurel menghentikan langkahnya dan berbalik, "Terima kasih," ucap Aurel mengambil dompet yang ada di tangan pria itu lalu langsung melanjutkan langkahnya yang tertunda.
Pikiran Aurel langsung bercabang, ia membenci isi pikirannya sendiri, mengapa ia selalu teringat perbuatan buruk Erven kepadanya, ia bahkan sering kali terbangun tengah malam karena memimpikan hal yang sama.
Aurel bahkan hampir gila rasanya ketika mimpi itu terasa sangat nyata, dimana mimpi itu memperlihatkan jika Erven selalu datang untuk membunuh dirinya karena ia tidak pernah berhasil mendapatkan anak dari rahim Jihan, ketika pisau itu mengarah kepadanya Aurel langsung terbangun dengan keringat membanjiri dahinya.
"Awas mbak!" teriak pria itu langsung menarik kencang lengan Aurel yang akan melangkah menyebrang jalanan yang masih padat dengan mobil yang melaju kencang.
Mendapati dirinya yang ditarik kencang sampai ia membentur tubuh yang menariknya membuat Aurel tersadar, ia mengontrol napasnya yang tidak teratur, ia terkejut ketika menatap jalanan yang masih dipenuhi kendaraan yang melaju kencang.
"Mbak sebaiknya duduk disini dulu, biar saya belikan minum untuk mbak!" perintah pria itu membawa Aurel duduk di bangku yang ada di di samping trotoar.
Aurel yang masih terkejut pun hanya diam menurut, dan menatap gamang jalanan di depannya. Jika saja pria itu tidak menolongnya mungkin saja dirinya sudah tertabrak dan membuat anak-anaknya kehilangan sosok ibunya.
"Mbak, minum dulu!" pria itu menyodorkan air mineral dingin di depan wajah Aurel agar Aurel tidak lagi menatap kosong jalanan.
Aurel yang sudah sepenuhnya sadar menepis air mineral itu lalu ia bangkit dan hendak melangkah menjauhi pria yang tidak dikenal itu. Bukannya Aurel tidak ingin menerima kebaikan pria itu, hanya saja ia sedang merasakan perasaan takut jika menerima kebaikan dari seorang pria sekecil apapun kebaikan itu. Aurel tidak akan lagi termakan oleh kebaikan seorang pria, karena dulu pun begitu, Erven menolongnya padahal mereka tidak saling mengenal, lalu tiba-tiba pria Erven mengejarnya sampai dua tahun lamanya, ia luluh, mereka pun menikah dan lihatlah belum sampai lima tahun mereka menjalani kehidupan rumah tangga, Erven sudah jatuh cinta dengan wanita lain.
Pria itu menggelengkan kepalanya, lalu pergi menuju gedung di sebrang jalan, karena ia juga sudah sangat telat untuk masuk meeting hari ini.
***
Aurel menghela napas lega begitu ia sampai di sebuah toko buku yang sudah lama ingin ia datangi, karena katanya toko buku ini menjual sangat banyak buku-buku yang Aurel ciptakan.
Penjaga kasir yang sedang berjaga langsung berteriak heboh begitu melihat Aurel yang melangkah memasuki toko itu, ia bahkan tidak menjawab salah dari Aurel dan tidak bergerak dari tempatnya begitu Aurel melangkah mendekatinya.
"Halo, mbak!" sapa Aurel melambai-lambaikan tangannya di hadapan wajah perempuan berhijab putih itu.
"Mbak," panggil Aurel sekali lagi sehingga gadis itu langsung tersadar dan lagi-lagi berteriak heboh sembari menatap Aurel.
"Kak Aurel, ya?" tanya gadis itu.
Aurel mengangguk lalu tiba-tiba wanita itu berteriak membuat Aurel terkejut.
"Ya Allah Terima kasih sudah mengabulkan doa Zara untuk bisa ketemu kak Aurel,"
Aurel tertawa melihat bagaiman tingkah Zara yang sama persis dengan mantan adik iparnya, karena Sheila pun dulu sampai berteriak heboh waktu dirinya mengadakan meet and greet dengan para penggemar novelnya.
"Ya Allah ini enggak mimpi, kan?" tanya gadis itu sembari mencubit lengannya, dan berakhir mengaduh sakit karena ia terlalu kencang mencubit lengannya.
"Kak, aku boleh minta foto sama kakak enggak, soalnya aku fans berat novel kakak, aku suka genre yang kakak buat, boleh ya kak, aku udah lama banget pengen ketemu sama kakak, tapi kakak enggak pernah ngadain meet and greet lagi," ucap gadis itu sembari melangkah mendekati Aurel dengan sampai hampir membuatnya terjatuh karena terserimpet rok yang di pakainya.
"Hati-hati, kalau sampai kamu jatuh enggak jadi dong kita foto berdua," canda Aurel yang malah membuat gadis itu malu.
Lalu mereka pun berfoto bersama, untungnya toko sedang tidak ada pengunjung, bisa dipastikan jika ramai pengunjung, Aurel tidak akan selamat berada di dalam sana, karena ia sendiri tidak sadar jika banyak orang yang mengetahui novel yang ia tulis.
Setelah selesai dengan sesi foto, gadis itu dengan hebohnya menunjukkan novel-novel koleksi di tokonya yang satu rak penuh berisi novel karya Aurel Yasmine.
Bahkan dengan suka rela Aurel menandatangi salah satu novel yang memang milik penjaga toko pribadi.
"Siapa yang punya toko buku ini?" tanya Aurel.
"Aku kak, aku yang punya toko ini, aku sengaja membangun toko ini karena sangat mencintai novel, jadi di sini aku khususkan hanya menjual novel-novel," jawab gadis itu.
"Setelah kita berbincang panjang aku masih belum tahu nama kamu loh,"
"Ya ampun, kakak serius nanya nama aku?" tanya gadis itu tidak percaya sambil menutup mulutnya karena terkejut.
"Iya dong, masa kamu doang yang boleh tau nama aku, aku juga mau tau nama kamu, apalagi kata kamu ini toko pribadi kamu, kan,"
"Nama aku Aruna Zara, Orang-orang sih biasanya manggil aku Zara," ucap Zara dengan senyum lebarnya.
Energi positif yang ada pada diri Zara menular pada Aurel yang berada di dekatnya, gadis itu sangat antusias dan apapun akan ditanggapinya dengan ceria.
"Ya Allah kak, sebentar ada tamu," teriak Zara heboh saat melihat pria yang sudah berlangganan di tokonya.