Kisah cinta pandangan pertama seorang pria dewasa kepada gadis muda, yang merupakan anak dari teman baiknya, dan berakhir menjadi obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhahra Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Mabuk, Dan Menggila
Bastian tanpa ragu mengusir Haikal pergi. Dia membawa Keisya pergi dari ruangan tersebut menuju tempat yang jauh lebih sepi dari sebelumnya.
"Om, lepasin. Pelan pelan, aku susah jalannya" Keisya mengenakan sepatu dengan hak cukup tinggi. Belum lagi rok dari gaunnya yang panjang, sangat menghambat langkahnya. Ditambah kakinya yang tidak terlalu panjang membuatnya seperti terseret oleh Bastian yang memiliki sepasang kaki panjang.
Bastian berhenti, namun bukan karena perkataan Keisya. Dia melakukan itu karena memang sudah berniat untuk berhenti disana.
Bagian belakang tempat acara, dimana biasanya para pelayan berlalu lalang memasuki ballroom.
Dan karena ada mereka berdua, terlebih Bastian lah orangnya, dengan seorang wanita pula, semua pelayan enggan untuk lewat. Mereka putar badan dan kembali ke arah mereka berasal.
"Sedang apa kamu tadi Keisya?" Bastian bertanya dengan nada rendahnya. Tatapannya begitu mengintimidasi, seolah Keisya adalah tersangka.
"Lepas dulu, sakit" Keisya menggerakan tangannya yang masih dalam cengkraman pria tersebut.
Bastian sadar, dan langsung melepaskannya.
"Sekarang jawab pertanyaan saya"
Keisya mengusap pergelangan tangannya, "Jawab apa?" dia tahu maksudnya, tapi dia bingung harus mengatakan apa.
Tidak mungkin kan dia mengatakan yang sebenarnya?
Bastian pasti akan menganggapnya aneh.
"Jangan berbelit belit Keisya. Kenapa kamu diam saja? Kamu lupa ada di acara siapa? Lupa kalau kamu di tempat umum? Dan lupa ada Papa kamu disini?"
Bastian melangkah maju. Sedangkan Keisya mundur.
"Kalau saya tidak datang, kamu mau berciuman dengan anak saya?" lanjut Bastian masih dengan kakinya yang terus bergerak.
"Jawab Keisya!" nada suara Bastian semakin tinggi. Bukan berteriak, namun terkesan membentak.
Dengan wajah dan pembawaan Bastian. diamnya pun sudah membuat orang terintimidasi. Apalagi sekarang?
Keisya tersentak. Selain punggungnya baru saja terbentur tembok, suara Bastian dan caranya berbicara sangat menyeramkan. Itu membuatnya takut.
Ini kali pertama dia melihatnya.
"B-bukan gitu" Keisya tergagap, dia menggeleng keras, "Aku ga gitu" suaranya mulai serak.
Raut wajah Bastian berubah, sadar akan perbuatan yang baru saja dia lakukan. Kedua mata Keisya tampak memerah.
Gadis itu menangis.
Dan itu karenanya?
Sial.
"Saya minta maaf. Saya tidak bermaksud membentak kamu. Saya hanya tidak suka melihat kamu bersama anak saya"
"Om jahat. Om marahin aku" Keisya merajuk, pelupuk matanya sudah tergenang oleh air mata. Berkedip sekali saja akan langsung keluar membasahi pipinya.
Namun itu tidak terjadi, karena Bastian langsung memeluknya. Air matanya tidak mengalir di pipinya, melainkan mengenai jas mahal pria tersebut.
"Iya, saya salah. Maaf yah?" Bastian mengusap lembut surai bergelombang Keisya.
"Ga mau. Aku ga mau maafi.n Om. Om Bas jahat" dia semakin merajuk seperti anak kecil. Tangannya bergerak liar dengan mencubiti pinggang keras pria tersebut. "Om nyebelin. Aku ga suka di marahin. Papa aja ga pernah marahin aku"
Bastian diam.
Apa katanya?
Om Bas?
Tak ada yang spesial dari panggilan tersebut, tapi efeknya sangat luar biasa. Di dalam sana, Bastian merasa geli. Entah apa namanya, tapi yang pasti itu membuatnya tersenyum.
Dia suka dengan panggilan itu. Terutama karena gadis inilah kata itu berasal.
"Kamu marah sama saya?"
"Iya!" Keisya mendorong Bastian hingga pelukannya terlepas. Area mata gadis itu sudah basah dan semakin memerah. Isakan kecil keluar dari mulut mungilnya. Namun tatapannya begitu menusuk pada Bastian.
Telunjuknya bahkan tersangka ke arah wajah pria matang itu, "Om marah gara-gara aku sama laki-laki lain, tapi Om sendiri sama banyak wanita lain. Itu ga adil buat aku!"
Bastian mengangkat sebelah alisnya, bingung dengan tingkah gadis di depannya.
Tapi itu tidak berlangsung lama, karena ekspresi Bastian berubah menjadi seringai kecil.
"Kamu cemburu saya sama wanita lain?"
Keisya berdecak. Dia mengusap matanya dengan kasar, meninggalkan jejak hitam memanjang akibat dari riasannya yang luntur.
"Enggak. Aku ga cemburu" dia kembali mendorong Bastian. lalu melangkah sempoyongan, "Awas, aku mau minum lagi" ujarnya sambil berlalu dari hadapan Bastian.
Minum?
Saat itulah Bastian sadar akan satu hal. Kecemburuannya membuat dia melupakan sesuatu yang penting.
Bastian ikut melangkah, menyusul Keisya yang masih sangat dekat dengan posisi mereka sebelumnya. Dengan sekali sentak, gadis itu sudah berada dalam gendongannya.
"Lepas, Om. Turunin aku" Kaki Keisya bergerak, dia memberontak. Tangannya bahkan memukuli tubuh Bastian yang dapat dijangkaunya.
"Ayo, saya ajak kamu minum. Saya traktir"
Gerakan tubuh Keisya langsung berhenti. Dia tersenyum sangat lebar, "Beneran Om? Janji yah traktir aku. Ga boleh bohong"
Bastian terkekeh geli. Gadis ini, sekalipun sedang dalam keadaan yang tidak sepenuhnya sadar, tapi tetap bersemangat setelah mendengar kata traktir.
"Janji" ucap Bastian.
"Oke! Ayo, kita minum" Keisya tampak kegirangan. Dia melingkarkan lengannya pada leher Bastian dan menyembunyikan wajahnya disana.
Bastian sempat berhenti melangkah. Karena Keisya tidak hanya melakukan itu, tapi juga dengan sengaja menciumi lehernya.
Bastian menggelengkan kepala. "Dasar gadis nakal"
Keisya cekikikan, "Iya, aku nakal. Om suka ga kalau aku nakal?"
"Saya selalu suka sama kamu" akunya jujur. Dia tidak khawatir, lagipula gadis ini tidak akan ingat apa yang terjadi malam ini.
Dia pastikan itu.
\=\=\=\=\=
Jika hari itu Keisya lah yang di buat kalang kabut karena tidak bisa menghubunginya,, kali ini keadaan itu berbalik padanya.
Gunawan sangat gelisah setelah tidak mendapati keberadaan putrinya dimanapun. Ini memang salahnya yang terlalu larut dalam perbincangan, sampai melupakan putrinya sendiri.
Semakin diperparah dengan ponselnya yang tidak aktif.
Selama itu dia tidak berhenti bertanya pada orang di sekitarnya. Namun tidak ada yang melihat Keisya setelah terakhir kali bersamanya.
Kemana sebenarnya Keisya pergi?
Dan saat itu Gunawan baru menyadari, dia juga tidak menemukan keberadaan Bastian.
Apakah Keisya bersamanya?
Tanpa menunggu lama, dia menghubungi temannya tersebut. Beberapa kali tidak mendapatkan jawaban, tidak membuatnya menyerah. Sampai akhirnya pada percobaan keempat, terdengar suara bergumam dari sebrang sana.
"Bas, kamu lihat Keisya? Dia hilang" ujarnya terburu buru.
Bastian terdengar berdehem, "Saya mengantarkannya ke kamar hotel. Dia sepertinya mabuk"
Gunawan menghela napasnya panjang.. Namun setelahnya dia mengerutkan dahinya. "Kenapa kamu tidak bilang?"
Bastian berdecak. "Kamu terlalu sibuk, sampai melupakan anak sendiri" sindirnya. "Sudahlah, anak kamu aman, dia sedang tidur"
"Tahu darimana kamu Keisya sedang tidur?" pertanyaan penuh curiga itu terlontar begitu saja dari mulut Gunawan. Jawaban Bastian terdengar seolah temannya itu sedang berada di ruangan yang sama dengan putrinya.
"Dari pelayan" Bastian menjawab malas. "Aku matikan. Besok aku antarkan Keisya pulang dalam keadaan utuh"
Tanpa menunggu jawaban Gunawan, Bastian segera mematikan panggilan. Dia melempar asal ponselnya dan kembali melingkarkan tangannya pada pinggang Keisya, yang tampak pulas dalam pangkuannya.
Gadisnya itu tertidur setelah menggila beberapa saat.
Dia sangat penasaran, bagaimana responnya besok pagi jika tahu apa saja yang dilakukannya sampai membuat hampir seluruh kulit lehernya meninggalkan bercak merah?