Dara adalah gadis cantik berusia 22 tahun. Dia harus terjebak dalam situasi yang sangat rumit di mana dia harus menghadapi dua pria yang sama-sama mencintainya. Yang satu sebagai tunangannya, sedangkan yang satu adalah adik dari tunangannya.
Dara selalu dihadapkan dalam sebuah situasi yang sulit dan rumit karena sang calon adik ipar begitu pemaksa dan suka mengambil keuntungan darinya. Namun siapa yang menduga jika akhirnya Dara malah terjebak dalam perasaan tak wajar itu.
Akankah dara bisa lepas dari jerat cinta calon adik iparnya, atau dia tetap menikahi calon tunangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jessica_226, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebaiknya Kau Tanggung Jawab
"Dara, tunggu!!" Seru Ken menghentikan langkah Dara. Pemuda itu menahan pergelangan tangan wanitanya membuat Dara mau tidak mau harus berhenti. "Ada apa, kenapa kau terlihat sangat kesal? Apa karena wanita itu?" Tanya Ken memastikan.
"Lalu menurutmu? Jujur saja, Ken. Aku tidak tahan wanita itu ada di sini, bukan apa-apa, hanya saja keberadaannya membuatku merasa muak!!"
"Lalu kau ingin bagaimana?" Tanya Ken sambil mengunci sepasang manik Hazel nya.
"Bisakah kita pindah saja dari rumah ini dan hidup mandiri? Bukankah kau sudah menyiapkan rumah untuk masa depan kita.", Ujarnya.
Ken menatap Dara, kemudian mengangguk setuju. Dia menyetujui untuk pindah rumah seperti yang istrinya inginkan. "Kalau begitu aku akan membicarakan ini dengan, Mama. Sebaiknya sekarang kita turun. Mungkin Mama sudah menunggu kita." Dara mengangguk.
"Baiklah!!"
-
-
-
Dara dan Ken berjalan beriringan menuruni tangga. Makan malam hampir saja tiba dan mereka tidak ingin sampai melewatkannya lagi, apalagi makan malam mereka sudah tertunda selama lebih dari 20 menit.
Tatapan Kai yang baru saja keluar dari kamarnya terlihat tajam dan penuh intimidasi ketika melihat pasangan pengantin baru itu berjalan beriringan layaknya anak muda yang masih sedang di mabuk cinta. Apalagi ketika melihat senyum Dara untuk Ken.
Gyuttt..
Tangan Kai terkepal kuat melihat Dara dan Ken bergandengan tangan. Dan hatinya semakin terasa terbakar mana kala dia melihat senyum manis wanita itu untuk sang suami.
Kai marah, sangat marah. Bagaimana tidak? Karena seharusnya yang bersama Dara itu dirinya, bukan Ken. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, karena sang adik-lah yang kini bersama wanita itu.
Dan dia tidak bisa menerimanya begitu saja, seharusnya wanita itu menjadi miliknya, bukan milik Ken.
"Ken, lihatlah. Sepertinya Kai ingin menelan kita hidup-hidup." Ucap Dara sedikit terkekeh. Wanita itu merasa geli sendiri dengan tatapan Kai.
"Hn, aku tidak peduli." Jawab Ken acuh tak acuh.
Ken menghentikan langkahnya membuat Dara ikut berhenti juga. "Kau duluan saja ke meja makan. Aku akan memanggil Mama terlebih dulu." Ucap pria itu yang kemudian di balas anggukan oleh Dara.
Dara berjalan menuju meja makan dengan tenang. Namun langkahnya langsung dihentikan oleh Kai. Kai menarik pergelangan tangannya dan menghimpit wanita itu di tembok.
"Kai, apa yang kau lakukan?!" Tanya Dara sedikit membentak.
"Berani sekali kau bermesraan dengan bajingan itu di depanku setelah menghianati pertunangan kita?!" Ucap Kai dengan nada menusuk.
Dara menyentak tangan Kai dari bahunya."Apa hakmu melarang ku sekarang? Ingat, Kai. Kita bukan siapa-siapa lagi!! Terima saja kenyataan jika kita memang tak berjodoh."
"Lagipula sejak awal aku memang tidak setuju dengan perjodohan itu, jika bukan karena Papa, pasti aku sudah menolak mu dari awal!!"
"Dan dari pada kau sibuk mengurusi rumah tanggaku dengan Ken, sebaiknya kau tanggung jawab pada wanita yang telah kau hamili!!" Dara menghempaskan tangan Kai dan pergi begitu saja.
"Aarrkkhh!!" Kai mengeram dan meninju tembok di samping kanannya dengan keras.
Kedatangan Dara di meja makan di sambut kurang baik oleh Anna. Wanita itu jelas sekali menunjukkan rasa tidak sukanya pada wanita bermarga Jung tersebut.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apakah kau ingin menelanku hidup-hidup?!" Tanya Dara tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Sebaiknya kau diam dan tidak usah banyak bicara, jal*ng!!" Bentak Anna marah.
"Siapa yang kau sebut, Jal*ng?!" Sahut seseorang dari arah belakang. Jia datang bersama Ken. Tatapannya terlihat dingin dan berbahaya.
Mata Anna membelalak. "Bi..Bibi, kau salah dengar mungkin. Aku tidak menyebut kata ******, tapi~"
"Aku masih belum tuli, Nona muda!!" Jia menyela ucapan Anna. Membuat wanita itu langsung terdiam dan tidak mampu lagi berbicara.
"Aku tidak suka ada benalu di rumah ini!! Sebaiknya kau pergi dan tinggalkan rumah ini sebelum aku sendiri yang menyeretmu keluar. Pergi sekarang, KELUAR!!"
Anna menatap marah Dara dan Jia. Dia bersumpah pasti akan membalas perbuatan mereka padanya malam ini puluhan kali lipat, dan membuat mereka menyesal karena telah memperlakukannya dengan sangat buruk.
"Ini belum berakhir, lihat saja nanti. Bagaimana aku akan membalas kalian berdua. Ingat saja itu!!"
"Dan dengan tanganku sendiri aku akan menghabisimu jika kau sampai berani mengusik ketenangan keluargaku!!" Sahut Dara dengan sorot mata yang begitu tajam dan berbahaya.
Dara adalah cucu seorang Mafia, dia terlahir dan besar di tengah-tengah keluarga Mafia. Kekejaman sang kakek menurun dan mengalir dalam darahnya. Hanya saja Dara tidak pernah memperlihatkannya apalagi sampai menunjukkannya di depan semua orang.
"Kau gila!!" Anna meninggalkan kediaman keluarga Lu begitu saja sambil membawa sebuah dendam kesumat di hatinya.
Ken menghampiri ibu dan istrinya. Pemuda itu tersenyum dan menatap Dara dengan bangga, bagaimana dia tidak bangga, Ken memiliki seorang istri yang begitu pemberani dan tangguh.
"Sudah, sebaiknya sekarang ayo kita makan malam." Keduanya mengangguk. Sedangkan Kai baru bergabung beberapa saat kemudian. Tentu dengan menahan emosi dan amarah melihat kemesraan Dara dan Ken.
-
Kesabaran Devan benar-benar di uji oleh Tuhan. Bagaimana tidak, ponselnya masih berada di tangan sang ayah, dia mau pergi keluar tiba-tiba mobilnya mogok, ingin berjalan menuju halte malah hujan lebat.
Devan tidak tau kenapa Tuhan begitu kejam dan tidak pernah adil padanya.
Bosan..
Itulah yang Devan rasakan saat ini. Bagaimana tidak, dia hanya bisa diam tanpa melakukan hal apapun yang menyenangkan selain berbaring di sofa sambil menyaksikan acara televisi yang tidak ada bagus-bagusnya.
Brakkk...
"Aaahhh... Pinggangku!!"
"Ponselku!!"
Devan melompat turun dari atas tempat tidurnya setelah mendengar sesuatu mirip terjatuh di susul teriakan sang ayah. Bukannya memanggil 'Papa' dan mengkhawatirkannya. Dia malah mencemaskan ponselnya.
Setibanya di dalam kamar sang ayah. Devan melihat pria setengah baya itu berusaha menepuk-nepuk ponsel miliknya yang mati supaya bisa hidup lagi.
Pria setengah baya itu tersenyum kaku sambil menunjukkan ponsel itu pada Devan. "Mati, dan gak mau nyala lagi." Ucapnya penuh sesal.
"Apa?!" Devan mengambil ponsel itu dari tangan sang ayah dan mencoba menghidupkannya. Tapi tetap tidak bisa."Aarrrkkhh, bagaimana Papa bisa merusakkannya?! Ini ponsel baru dan kreditnya juga belum lunas!!" Teriaknya frustasi.
"Hah!! Kredit? Papa tidak salah dengar? Bagaimana bisa anak orang kaya, pengusaha sukses dan cucu seorang Bos Mafia ponselnya malah kredit, bikin malu keluarga saja."
"Aku kalah taruhan," jawabnya setengah berbisik.
"Kau bilang apa? Papa tidak dengar,"
"AKU KALAH TARUHAN!!"
"Oh, kalah TAR~ UAPAAA!!"
"YAKK!! TIDAK USAH BERTERIAK JUGA, PAPA SENGAJA INGIN MEMBUATKU TULI YA?!" bentak Devan emosi.
"Sudahlah, lama-lama di sini membuatku gila. Lebih baik aku cari angin segar lagi saja." Dengan dongkol, Devan meninggalkan ayahnya begitu saja.
-
Bersambung.
Mohon tinggalkan like dan koment setelah membaca 🙏🙏🤧🤧🤧 Ini cerita sepi banget