Ini adalah kisah Kanina, gadis 20 tahun yang harus kehilangan masa depannya. Di tengah malam yang gerimis, seseorang menyeretnya dengan paksa. Memperlakukan gadis itu bagai binatang.
Alung, putra dari orang ternama di kota itu. Anak badung yang selalu membuat masalah. Kali ini, masalah yang ia buat bukan main-main.
Anggara Kusuma Dinata, pria 35 tahun yang sudah didesak sang ibu untuk segera mengakhiri masa lajang. Pria terpandang di kampung sebelah, dambaan para gadis desa dan mantu idaman.
Mana yang akan melangkah bersana Kanina?
Bagaimana kisah Kanina, setelah sebulan kemudian ia dinyatakan hamil?
Hai, selamat datang di novel terbaru Sept. Jangan lupa baca juga novel Sept yang lain.
1. Rahim Bayaran
2. Suamiku Pria Tulen
3. Istri Gelap Presdir
4. Dea I Love You
5. Wanita Pilihan CEO
6. Kesetiaan Cinta
7. Menikahi Majikan
Ig : Sept_September2020
Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAH
Mencari Daddy Bag. 32
Oleh Sept
Rate 18 +
"Suaminya ganteng ya, Mbak," seru Mua yang kala itu sedang merapikan riasan Kanina.
Kanina hanya tersenyum tipis, kemudian berdiri saat semua sudah selesai.
"Cantik sekali kamu, Nin. Pantes Gara gak mau sama yang lain," canda calon mertua Kanina tersebut. Yang membuat Kanina jadi tambah malu dan canggung.
"Cantik sama ganteng, Bu ... cocok!" komentar Mua sembari membereskan beberapa alat make up. Ia memasukkan semua alat itu ke dalam wadahnya.
"Sudah perfect ya, permisi ... Saya keluar dulu."
"Terima kasih," ucap Kanina dan bu Sadewo secara bersamaan.
Setelah dirasa sudah siap, bu Sadewo lantas menuntun Kanina ke luar menuju tempat acara ijab kabul. Acara yang sangat sederhana, selain menghindari dari gunjingan tetangga dan kasak-kusuk, ini karena permintaa Kanina. Yang tidak ingin pernikahan yang besar, jujur, Kanina malu. Tidak percaya diri pada tatapan orang-orang nanti pada dirinya.
Sementara itu, bagi Gara, mau besar apa kecil acara pernikahan mereka. Itu tidak penting. Asal sah di mata hukum dan agama, itulah yang utama. Sampai mereka sepakat menikah di sebuah masjid. Hanya beberapa keluarga inti yang datang.
***
Saat Kanina duduk di sebelah Gara, ada sepasang mata yang memerah. Sejak semalam Gendis menangis. Ia tidak mau kakaknya menikahi Kanina. Yang baru ia ketahui gadis dengan satu anak. Rasanya ia tidak rela sang kakak mendapat pendamping seperti itu. Harusnya Gara mendapat jodoh yang lebih baik. Bukannya malah Kanina. Pokoknya ia tidak setuju. Namun, teriakan hatinya bagai angin lalu, lewat tanpa membekas.
Sedangkan ekpresi lain ditunjukkan oleh mbak Roh yang duduk di sebelah bu Lastri. Keduanya menatap haru pada pemandangan yang syahdu tersebut. Melihat Kanina duduk di sebelah seorang pria yang akan kadi imamnya. Bu Lastri tidak pernah menyangka, bahwa putrinya akan dinikahi pria seperti Anggara.
Di mata keduanya, Anggara adalah sosok pria langka. Mana ada pria dengan banyak kelebihan malah memilih meminang gadis macam Kanina? Seperti sesuatu yang sangat mustahil. Tapi, mungkin inilah takdir Kanina. Dan mereka bersyukur serta berdoa. Agar pernikahan nanti berjalan lancar sampai selesai.
"Sudah siap?" tanya Pak penghulu setelah memeriksa berkas keduanya.
Gara pun mengangguk pasti. Ia nampak tenang di luar. Tapi, di dalam hatinya merasa deg-degan. Ini adalah moment penting, moment sakral sekali seumur hidup. Setelah ia menghela napas dalam-dalam, ia kemudian meraih uluran Pak penghulu tersebut.
"SAUDARA ANGGARA KUSUMA DINATA BIN KUSUMA HANGGARA SAYA NIKAHKAN DAN SAYA KAWINKAN ENGKAU DENGAN KANINA FAJRANA BINTI ALMARHUM SETIAWAN DENGAN MASKAWINNYA BERUPA SEPERANGKAT ALAT SHOLAT DAN EMAS SEBERAT 21 GRAM, TUNAI."
"SAYA TERIMA NIKAHNYA DAN KAWINNYA KANINA FAJRANA BINTI ALMARHUM SETIAWAN DENGAN MASKAWINNYA YANG TERSEBUT DIBAYAR TUNAI."
Dengan memantapkan hati, satu kali tarikan napas. Akhirnya Gara bisa mengucapkan ijab kabul lancar tanpa kendala apapun, tidak sia-sia ia belajar tutorial di internet.
"Bagaimana saksi?"
SAH ...
SAH ...
SAHHH ...
Kata sah pun menggema dalam masjid tersebut. Semua rasa campur aduk. Kanina dengan kaku meraih tangan Gara, dengan pelan ia letakkan tangan itu pada dahinya. Tidak berhenti di situ, Gara langsung saja memberi stempel tepat di dahi Kanina.
Malu menjadi pusat perhatian, Kanina memilih menunduk saat tamu yang sedikit itu menatap mereka. Sedangkan Gara, ketika kata sah sudah terucap, kini tanpa malu-malu ia mengengam tangan Kanina yang terasa dingin tersebut.
"Tanganmu kenapa dingin sekali?" bisik Gara.
Wanita muda itu lalu mendongak, menatap bola mata yang juga menatap dirinya. Ia kemudian menggeleng pelan. Melihat hal itu, Gara kemudian mengusap kepala Kanina. Dan mengecupp kepala Kanina.
"Terima kasih ... terima kasih karena sudah mau menjadi bagian dari hidupku."
***
Di tempat lain, ketika Kanina dan Gara sedang menikmati hari bahagia mereka, di rumah lama Kanina, sebuah mobil mewah berhenti tepat di halaman rumah tanpa penghuni tersebut. Bersambung.
"Cari siapa, Mas?"
Pria itu mengulurkan selembar foto yang ia dapat dari Dita beberapa waktu lalu. Rekan kerja Kanina dulu saat kerja di toko kue.
"Oh ... Kanina ..."