Kamu punya segalanya dalam dirimu. Kamu punya hal paling mulia, yaitu "Perasaan Bahagia". Tak usah berharap pada seorang laki-laki untuk membuat hidupmu bahagia. Karena itu banyak wanita melakukan kesalahan. Temukanlah kebahagiaan pada dirimu sendiri #A.C
"Sekarang yang paling Aku benci adalah diriku sendiri. Terhadap pria sepertimu, Kenapa Aku menyerahkan seluruh hati dan jiwaku hanya untuk dipermainkan berkali-kali. Padahal sepatah katapun, Aku tidak pernah mendengar Kau berkata mencintaiku" (Fani, 21 Tahun, mahasiswa tingkat akhir)
"Dasar, Bodoh ! Kau selalu bilang pada siapapun kalau Aku tidak mencintaimu ya ? Bagaimana bisa, setiap orang mengetahui kalau Aku mencintaimu, tetapi Kau sendiri tidak menyadarinya" (Rendi, 29 Tahun, Presiden Direktur)
Disini ada dua cerita. Jadi, kalau enggak suka season 1 boleh langsung loncat baca ke season 2.
Novel begenre romantis komedi ini, mengangkat kisah tentang dua insan yang saling membenci, seiring berjalannya waktu mereka saling memberi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Citoz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Memancing
Akhirnya hari libur yang ditunggu para pegawai setelah lelah penat bekerja selama lima hari penuh dalam satu minggu tiba.
Akhir pekan ini ingin sekali fani habiskan dengan bersantai - santai dirumah tetapi apa daya dia ingat dia mempunyai janji dengan papanya rendi.
********
Flashback On
Dirumah keluarga Mandala.
"Fani, sabtu ini libur ngga kerjanya ?" tanya papa rendi.
"Libur Pak" ucap fani.
"Kan sudah papa bilang jangan panggil pak !" ucap papa rendi.
"Eh iya pa, libur" ucap fani.
"Sabtu ini temani papa mancing ya. Nanti rendi ikut juga !" ucap papa rendi.
"Siap pa !"ucap fani.
"Kenapa rendi juga ikut pa ? kan papa tau rendi paling benci yang namanya memancing" ucap rendi.
"Siapa tahu kamu jadi mau mencoba yang namanya memancing kalau pacarmu ikut. Lagipula mana mungkin papa dan fani aja yang mancing berdua ntar kalau tiba - tiba ada wartawan yang liput gimana ? timbul gosip nanti !" ucap papa rendi.
"Loh ? memang kenapa mama ga ikut ma ?" tanya fani.
"Mama geli sama cacing. Papanya rendi kan selalu pakai umpan yang aneh - aneh buat mancing. Lagipula bau ikan yang madih hidup kan amis, mama ga tahan fan" ucap mama rendi.
"Ooh.." ucap fani.
*********
Tiin...
Suara klakson mobil rendi membuyarkan lamunan fani. Fani segera bersiap - siap keluar rumah.
Rendi yang turun dari mobil meminta izin pada nenek untuk pergi mengajak fani memancing.
"Kami pergi ya nek" ucap rendi usai meminta izin.
"Iya hati - hati, salam buat mama dan papamu ya" ucap nenek.
"Baik nek" ucap rendi.
Merekapun bergegas pergi.
******
Fani bingung mendapati hanya ada dirinya dan rendi didalam mobil.
"Loh ? papa mana ren ?" tanya fani.
"Papa sudah duluan berangkat ke sana. Kita disuruh nyusul" ucap rendi.
"Oohh.." ucap fani.
*********
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, Merekapun tiba di suatu kolam yang sangat besar yang berada dipinggiran kota. Kolam itu bukanlah sebuah kolam pemancingan khusus. Tetapi sebuah kolam yang berasal dari aliran sungai yang mengalir. Tidak heran banyak ikan disana.
Pemandangan sekitarpun masih sangat asri. Pepohonan hijau yang rindang berjejer teratur rapi sehingga membuat suasana memancing teduh. Mungkin ada sekitar 6 orang pemancing pagi itu yang sudah duduk manis di depan stick pancingnya. Salah satunya papa rendi. Disampingnya berdiri seorang laki - laki yang berbadan tegap yang juga sibuk memegang stick pancing. Sepertinya itu sekretaris pribadinya.
Fani dan rendi menghampiri papa rendi yang sedang asyik memancing.
"Sudah dapat berapa pa ikannya ?" tanya fani.
"Eh, fani sudah datang ya. Belum dapat satupun nih. Kan papa juga belum lama datang" ucap pap rendi.
"Ini stick pancing kamu fan, yang satu lagi ini punya rendi" ucap papa rendi.
Rendi dan fani mulai memancing menggunakan umpan dari papan rendi. Yaitu roti yang telah dicampur sejenis pelet makanan ikan.
Satu jampun berlalu, tetapi satu ikanpun belum didapat oleh rendi dan fani. Sedangkan papa rendi sudah dapat 2 buah ikan yang lumayan besar.
"Aishh !! aku sangat kesal ! dari tadi kita duduk melamun menghabiskan waktu mengapa belum ada satu ikanpun memakan umpan kita !" ucap rendi kesal.
"Namanya juga memancing, ya harus sabar. Itulah seninya memancing" ucap papa rendi.
"Papa kok bisa dapat dua sih ? besar - besar lagi. Kenapa ikan tidak ada yang mau memakan umpan kami ya pa ?" tanya fani.
"Sebenarnya papa pakai umpan cacing tanah. Itu boby lagi sibuk mencongkel tanah untuk menemukan cacing" ucap papa sembari menunjuk sekretaris pribadinya yang sibuk mencari cacing.
"Ah, pantes papa dapat ikan. Kalau gitu, ayo ren kita cari cacing juga disekitar sini" ucap fani yang menarik paksa tangan rendi.
Mereka berjalan cukuo jauh dari tempat mereka semula.
"Hei, kita mau kemana lagi sih ? berapa jauh lagi kita harus berjalan ?" ucap rendi yang mengikuti fani berjalan dibelakang.
"Kita harus mencari tanah yang benar - benar lembap. Baru banyak cacing didalam sana" ucap fani.
Tiba - tiba fani menghentikan langkahnya. Dia melompat - lompat di atas tanah yang diinjaknya.
Apa yang dilakukan oleh siceroboh ini !
Tiba - tiba bibir tipis rendi tersenyum menyaksikan tingkah fani yang melompat - lompat.
"Sampai kapan kau akan melompat seperti kodok ?" ucap rendi.
"Apa ? siapa yang kau bilang kodok ? aku sedang mengecek tingkat kesuburan dan kelembapan tanah yang kuinjak ini. Semakin gembur dan lembap tanahnya, semakin banyak cacing di bawahnya" ucap fani.
"Oh ya ? belajar dari mana kau bahwa cara mengecek tingkat kesuburan tanah seperti ini ? Sewaktu sekolah atau kuliah ? " tanya rendi.
"Ini teknik yang aku bikin sendiri" ucap fani.
"Heh !" ucap rendi jengah.
Fani mulai duduk jongkok untuk menggali tanah. Dia mendapatkan 2 cacing yang lumayan besar. Sedangkan rendi hanya berdiri di sampingnya.
"Hei, mengapa kau hanya berdiri. Ayo ikut aku menggali tanah" ucap fani.
"Tidak mau ! Kurang kerjaan !" ucap rendi.
"Astaga kau ini kan laki - laki ! harusnya kau yang menggali tanah dan menangkap cacing - cacing ini. Atau jangan - jangan kau takut pada cacing ?" ledek fani.
Rendi yang tidak terima dibilang takut pada cacing langsung menarik sekop yang dipegang fani dan mulai menggali tanah. Dia langsung menangkap cacing - cacing yang menggeliat itu dengan tangan kosong dan memasukkannya ke ember kecil. Mungkin ada sekitar 5 cacing yang berhasil rendi dapatkan.
Fani tertawa terbahak - terbahak tidak berhenti karena melihat tingkah rendi yang termakan omongannya.
"Hei, kau membodohiku ya ?" ucap rendi kesal.
Rendi yang kesal lalu melempar tanah yang habis digalinya ke arah fani. Tanah tersebut tidak sengaja mengenai lengan fani dan mengotori baju fani.
"Ooh, kau mau mengajak perang ya ? oke, aku ladeni. Kau kira mentang - mentang aku perempuan aku takut ?" fani melempari rendi bertubi - tubi dengan tanah bekas galian tadi. Rendi sampai melangkah mundur ke belakang akibat lemparan fani.
"Hei, aku bukan sengaja mau mengenaimu ! tapi karena kamu yang memulainya, aku tidak akan segan" ucap rendi yang membalas fani dengan lemparan tanah juga.
Mereka saling kejar -kejaran layaknya anak kecil yang saling membalas dan menghindari lemparan tanah.
Akhirnya mereka berdua terduduk lemas ditepi kolam karena kecapekan.
"Hahahhaa.. lihat kau seperti gembel yang ada dipinggir jalan" ucap rendi yang tak berhenti tertawa.
"Oh ya ? lucu sekali... tidak berkaca pada diri sendiri !" ucap fani yang menyindir rendi.
"Apa maksudmu ?" tanya rendi.
"Sekarang kau juga terlihat tidak jauh beda sepertiku" ucap fani.
Rendi melirik seluruh pakaian, tangan dan wajahnya yang berlumuran tanah. Rendi tersenyum.
"Hei, kau tersenyum lagi ! rasanya ingin sekali aku memotretmu dan memajang hasil jepretan fotomu yang tersenyum itu di lobby kantormu. Biar semua pegawaimu bisa tahu, kalau bosnya bisa tersenyum juga !" ucap fani yang tertawa sambil membersihkan tanah yang menempel dipakaian dan lengannya dengan air kolam.
"Coba saja kalau kau berani !" ucap rendi yang ikutan membersihkan dirinya dengan air kolam.
Setelah selesai membersihkan diri, mereka berdua memutuskan untuk kembali menemui papanya rendi untuk memancing.
Tapi, tiba - tiba fani menghentikan langkahnya didepan sebuah pohon jambu air yang sangat lebat.
"Kau tunggu disini ya !" ucap fani sambil memanjat pohon jambu itu.
"Hei, bisakah kau tidak bertingkah aneh sekali saja !" ucap rendi.
Fani tidak menghiraukan ucapan rendi.
"Hei, ayo turun !" teriak rendi.
Fani malah semakin tinggi memanjat. Dia berhasil mencapai puncak atas pohon jambu. Di melihat satu tangkai jambu air yang sangat merah yang mungkin berisi sekitar tujuh buah jambu air. Fani berhasil memetiknya, tetapi seketika dia memalingkan wajah dia sangat terkejut dengan apa yang dia lihat.
"Ahhh, ada sarang lebah !" teriak fani yang ketakutan melihat sekumpulan lebah yang berkerumun disarangnya yang jaraknya tidak jauh dari fani. Saking kagetnya fani terpeleset dari tempat pijakannya dan terjatuh ke bawah.
Rendi dengan sigap menangkap fani dengan kedua tangannya. Tetapi karena terlalu mendadak, fani dan rendi terhempas ke tanah. Untungnya mereka tidak terluka serius.
"Kau tidak apa - apa ? apa kau bodoh ? apa kau bisa melakukan pekerjaan yang lebih ceroboh lagi dari yang kau lakukan ini ?" ucap rendi panik bercampur kesal.
"Hmm.. aku tidak apa - apa. Hanya memar sedikit" ucap fani yang masih mengenggam jambu air ditangannya tadi.
"Tapi kau... lenganmu berdarah !" ucap fani yang melihat lengan rendi ya berdarah.
"Ini hanya luka kecil. Bantu aku membasahi ini dengan air" ucap rendi yang mengeluarkan saputangan dari kantong celana pendeknya.
Fani mengambil saputangan itu dan membasahinya dengan air kolam.
"Biar aku saja !" ucap fani yang mulai membersihkan darah dari lengan rendi.
Setelah lengan rendi bersih. Fani meniup - niup lengan rendi agar tidak terasa perih. Sesekali mata mereka bersitatap, lalu keduanya dengan cepat memalingkan pandangannya berlawanan arah. Fani masih sibuk meniup - niup lengan rendi yang terluka. Dia merasa sangat bersalah.
Deg !
Dada rendi berdebar. Perasaannya tak karuan saat fani meniup - niup lengannya. Tubuhnya menegang.
"Sudah, hentikan !" ucap rendi.
"Kau ini kenapa ?" tanya fani bingung.
"Aku sudah tidak merasa sakit lagi !" ucap rendi yang menarik paksa lengannya.
"Huft.. maafkan aku ya. Gara - gara aku, kau terluka. Tapi sungguh jambu ini sangat menggoda imanku !" ucap fani yang mengangkat satu tangkai jambu merah di tangan kanannya.
"Kau mau ? " ucap fani yang memetik satu buah jambu dari tangkai yang dipegangnya dan memberikannya ke rendi.
"Itu kan jambu yang ikut jatuh tadi dan kau memberikannya kepadaku. Aku tidak mau !" ucap rendi.
"Ini sudah aku cuci tadi sewaktu membasahi saputanganmu tadi !" ucap fani.
"Ayo makanlah ! Lihat aku memakannya juga !" ucap fani yang mulai menggigit jambu tersebut dan menelannya.
"Dan lihat, aku masih hidup kan ?" ucap fani sambil menaikkan salah satu alisnya.
"Hmm.. manisnya" sambung fani.
Akhirnya rendi ikut memakan jambu tersebut.
"Bagaimana manis kan ?" tanya fani.
"Lumayan !" ucap rendi.
Tiba - tiba handphone fani berdering. Fani mengangkatnya.
"Fani lagi dimana ?" tanya vino.
"saya lagi pergi memancing sekarang. Ada apa pak ?" ucap fani.
"Oh , maaf ya mengganggu waktu liburmu. Tadinya kalau kamu sedang tidak ada kerjaan, saya mau minta kamu temani saya ke Event Organizer untuk memilih dekorasi perayaan ulang tahun perusahaan. Tapi sepertinya kamu sibuk memancing ya? " ucap vino.
"Hmm.. iya pak. Maaf ya pak saya tidak bisa" ucap fani.
"Memancing sama pacarmu ya ?" tanya vino
"Hmm..iya dengan pacar saya" ucap fani lagi.
"Ooh.. maaf kalau mengganggu" ucap vino.
"iya tidak apa - apa pak" ucap fani mengakhiri telepon.
"Siapa ?" tanya rendi
"Atasanku. Dia bilang tadi kalau tidak ada pekerjaan dia mau minta aku menemaninya memilih dekorasi untuk perayaan ulang tahun perusahaan" ucap fani.
"Apa atasanmu gila ? apa dia tidak tahu ini hari libur ?" ucap rendi yang mulai kesal.
"Iya, aku sudah menolak ajakannya tadi kenapa kau masih marah - marah" ucap fani yang heran melihat tingkah rendi.
Raut wajah rendi sangat kesal. Ada amarah dimatanya. Dia merasa ada yang tidak beres dengan tingkah laku atasan fani yang terus - menerus mengajak fani pergi menemaninya di luar jam kantor.
Entah mengapa rendi merasa kesal, seakan - akan seseorang mencoba mengusik sesuatu miliknya.
#Jangan lupa memberi like, komen dan vote ya readers.. Jempolmu.. Semangatku 😘🙏
ITU MMG SENGAJA KEYLA LKUKAN BIAR LO GK RAYAIIN ULTAH FANI
PERLU MANDI KEMBANG 7 RUPA, 7 WARNA & 7 TAMAN NI FANI BUAT ILANGIN APESNYA..😂😂😂😂😂😊