Pelakor adalah korban bukan salah dia mencintai lelaki yang sudah memiliki seorang istri tapi karena sebuah perasaan yang mempermainkannya.
Untuk menyelamatkan nyawa sang nenek, Vivian Cambriella terpaksa menikah dengan lelaki tampan yang tak lain adalah seorang CEO , atasannya sendiri.
Setelah dua tahun menikah Ia baru mengetahui suaminya telah memiliki seoarang istri.
Alasan Keanu mau menikah dengan Vivian adalah untuk menyewa rahimnya , supaya Ia memberikannya seorang anak.
Bagaimana nasib Vivian ?
Akankah Ia mendapatkan cinta dan kebahahiaan dari suami yang telah membohonginya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mora Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 : ANAK KU
...ANAK KU...
Wanda menatap ketiga anak Vivian dengan mata yang berbinar-binar, tangannya menyentuh kaca dengan gemetar.
" Anak ku, sayang ku " Ucap Wanda berulang kali tidak peduli orang-orang yang berlalu lalang memperhatikan tingkahnya.
Lalu tiba-tiba saja air matanya menetes ke pipinya, dengan bibir yang bergetar, dan napas yang tidak teratur.
" Ibu mau melihat bayi itu ? " Kata Seorang suster mendekati Wanda.
" Mau " Jawab Wanda sangat cepat.
Suster mengajak Wanda masuk kedalam ruang bayi, ada banyak bayi di sanak, mereka semua sedang tertidur pulas.
Wanda mengambil salah satu bayi dari boxnya, lalu menggendongnya dengan penuh kasih sayang, tertera keterangan sang bayi di pergelangannya yang mungil.
Ketiak Wanda mengendong salah satu bayi, suster menceritakan sesuatu yang memilukan.
" Anak itu kembar, lho " Kata suster dengan wajah yang ceria.
" Oh...ia ? beruntung sekali ibu sang bayi " pekik Wanda dengan tatapan nanar.
" Tapi nasibnya sungguh malang " Ucap Suster.
" Kenapa ? " Tanya Wanda.
" Salah satu saudara kembarnya, mengalami kelainan jantung, dan sekarang masih di ruangan yang steril " Kata Suster dengan wajah yang berempati.
" Bayi Ny Vivian "
" Bayi ini milik Vivian " Gumam Wanda mencengkeram pergelangan tangannya, sehingga membuat bayi itu menangis kesakitan.
" Oooeeee.......ooooeeeee......"
Wanda menimang-nimang bayi Vivian sambil menyanyikan sebuah lagu, tapi tangisnya tidak berhenti, malah sebaliknya suara bayi semakin melengking.
Suster merebut bayi itu dari tangan Wanda, dan menimangnya dengan penuh kasih, barulah tangis sang bayi tidak terdengar lagi, Ia sudah tertidur pulas dalam gendongan suster.
" Bayi ku " Ucap Wanda menatap tajam bayi Vivian.
Vivian masih tertidur karena pengaruh obat, tidak menyadari ada seseorang yang menatapnya dengan pandangan membeku.
Dari matanya memancarkan kobaran api yang begitu besar, tiba-tiba saja tangannya mengusap rambut Vivian, Ia berbicara dengan suara yang pilu.
" Vivian, kamu sangat beruntung. Tuhan memberikan kamu tiga orang anak, sementara aku ? " Terdengar suara isakkan dari mulutnya.
Lalu dari dalam pikirannya, ada suatu dorongan yang menyuruhnya untuk mengambil salah satu anak Vivian.
" Vivian, sayang "
" Kalau aku mengambil salah satu anakmu, kamu tidak keberatan kan ? toh, kamu masih memiliki dua anak " Gumam Wanda sambil berseringai.
" Kamu sendiri yang bilang, kalau anak kamu, anak ku juga "
" Lagipula di dalam darah anak itu, mengalir darah suamiku, otomatis anak itu milik Mas Keanu " Kata Wanda sambil menggenggam tangan Vivian.
" Jadi.....kamu harus merelakan kehilangan satu anak demi aku, dan Mas Keanu. " Bisik Wanda di telinga Vivian sebelum Ia pergi keruangan bayi.
Entah ini adalah takdir atau suatu keberuntungan bagi Wanda, saat Ia mau menuju ruangan bayi untuk menculik anak Vivian, Ia mendengar percakapan salah satu suster.
" Baik, saya akan segera mencari uangnya " Kata suster sambil menutup sambungan teleponnya.
Suster itu menghela napas panjang, dari raut wajahnya terlihat kebingungan. Ia bingung harus mencari kemana uang sebanyak itu dalam waktu dua puluh empat jam.
Wanda memperhatikan tingkahnya yang mondar mandir sambil menggigiti jari telunjuknya.
" Hmmm " Wanda mendekati suster yang akan menjadi penolongnya.
" Maaf kalau saya lancang. saya tidak sengaja mendengar percakapan suster, tadi di telepon " Kata Wanda basa basi.
Suster mengkerut kan alisnya, hingga kedua alis itu menyatu. tiba-tiba dirinya di datangi oleh seorang wanita hamil.
" Ah....pasti kamu bingung, saya kesini bukan untuk mengejek kamu, melainkan mau mengajak kamu untuk kerja sama " Seru Wanda dengan suara yang pelan, sambil celingak celinguk takut ada orang lain yang mendengarnya.
" Kamu lagi butuh uang, kan ? " Kata Wanda dengan mata yang serius.
Suster menelan ludahnya sendiri, dan menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk sambil tersenyum.
" Bagus, kamu datang di orang yang tepat. Saya akan membantu kamu tapi.... "
" Kamu harus membantu, saya " Bisik Wanda mendekati telinga suster, suaranya terdengar serak seperti kuntilanak.
" Ba-bantuan, apa ? " Jawab Suster terbata-bata
Wanda membisikan sesuatu kepada suster yang membuatnya sampai menjauhi tubuh Wanda.
" Apa " Teriak Suster terkejut mendengar permintaan wanita yang berdiri di depan wajahnya. Ia tidak percaya, wanita yang tengah mengandung menginginkan anak orang lain.
" Tapi itu melanggar hukum, dan perbuatan yang tidak manusiawi " Seru Suster enggan untuk melakukan apa yang di inginkan oleh Wanda.
" Tawaran ini sangat menguntungkan, kita berdua. Kamu dapat uang, aku dapat anak " Ucap Wanda memprovokasi suster.
Suster terdiam sejenak, mempertimbangkan usulan tersebut. Saat ini, Ia memang sangat membutuhkan uang itu. Tidak ada alasan untuk menolak kesempatan yang di tawarkan oleh Wanda.
Suster menatapnya dengan serius, " Baik, aku menerimanya " Kata Suster pada akhirnya.
Saat hari sudah hampir gelap, dan rumah sakit menjadi sunyi, suster menjalankan tugasnya, untuk menculik bayi Vivian.
Dengan mengendap-endap Ia masuk kedalam ruangan bayi, lalu mengambil bayi berjenis kelamin laki-laki dari dalam box.
Bayi yang tengah tertidur pulas, tidak menyadari seseorang memisahkannya dari ibu, dan saudara kembarnya.
Wanda mengambil bayi dari tangannya, dan menyerahkan uang dalam bentuk cek senilai seratus juta kepada suster.
Suster sedikit sedih saat menatap bayi yang ada di genggaman Wanda, tapi Ia sungguh tidak berdaya, gak mempunyai pilihan lain.
Sosok Wanda hilang begitu saja di dalam kegelapan, seakan Ia menghilang ditelan bumi.
... ...
...♤♤♤♤♤♤...
Keesokan harinya, Radit baru datang ke rumah sakit menjenguk Vivian, karena kondisi Nenek yang kritis membuatnya tidak dapat menemani Vivian.
Padahal Radit sudah berjanji kepada Vivian untuk mendampingi dirinya. Tapi Radit percaya Vivian tidak akan kecewa dengan keputusan yang Ia ambil.
Vivian memandangi sekelilingnya tanpa ekspresi, seperti ada sesuatu yang hilang dari hidupnya, tapi Ia tidak tahu apa yang membuat hatinya menangis.
Lagi-lagi takdir seperti sedang mendukung Wanda, Dokter dan suster yang mengoperasi Vivian mengalami kecelakaan.
Suster yang menculik bayinya, yang mengambil alih pekerjaan suster sebelumnya, dan dengan mudah Ia mengganti data milik Vivian.
" Selamat pagi " Sapa Suster dengan senyum mengembang di bibirnya.
" Pagi " Jawab Vivian pelan.
" Selamat, ya Bu bayinya kembar, laki-laki dan perempuan " Kata Suster tanpa perasaan bersalah sudah mempermainkan hidup Vivian.
" Kembar dua, Sus ? " Tanya Vivian merasa ada yang aneh.
" Iya " Sahutnya dengan wajah yang serius.
" Perasaan saya tiga, saya melahirkan dua anak laki-laki dan satu anak perempuan " Kata Vivian.
Vivian sangat yakin dengan perasaannya, dan Ia masih mengingat dengan jelas wajah bayi-bayi mungilnya.
" Ah....jangan pakai perasaan, kalau tidak percaya bisa kok di cek di data, kami " Ucap Suster penuh meyakinkan Vivian.
Vivian masih ingin menyangkalnya, hatinya tetap mengatakan, Ia melahirkan tiga bayi kembar, tapi melihat ekspresi suster yang begitu meyakinkan, mau tidak mau Vivian terpaksa menerima pernyataan sang suster
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yuk baca terus, dan jangan sampai ketinggalan 😁😁
Tunggu di chapter selanjutnya 😉
TERIMA KASIH sudah membaca novel dari seorang yang amatir ini , semoga dapat menghibur dan menyenangkan kalian.
Jangan lupa dukung aku, seperti like , vote , dan share ato mau nampol pake bunga ****** juga boleh 😁😄😂🥰😍😍🤩