Disarankan untuk membaca novel sebelumnya "Jodoh Sang Dokter Duda" karena disana ada silsilah seluruh keluarga ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon harsupi fakihudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
"Il, kamu nginep disini ? " Ucap Anand sambil berpelukan dengan Ilham
"Iya kak"
"Kamu nggak ajak ajak" Ucapnya sambil duduk. Anand mendongak "Sini nduk" Anand menepuk nepuk kursi kosong yang ada disebelahnya
Lis merasa diistimewakan oleh Anand. Anand selalu memberi tempat untuk Lis duduk disampingnya
"Ntar Hawa diajak ya pih" Ucap Hawa menggoda
Anand melirik Hawa "Kau ikut aja si Fariz, jangan ikut papi"
"Dih, yang punya pasangan cantik. Sekarang lupa sama Hawa" Protes Hawa yang dibalas oleh kejahilan Fatih
Fatih menarik hijab Hawa kedepan, hingga wajahnya tertutup hijab
"Abang!!" Teriak Hawa
"Apaan sih ribut" Fariz kaget, spontan memarahi Hawa
"Lihat nih bang. Mana ada Hawa pakai hijab modelnya beginian. Bisa nabrak iya" Aduhnya kesal sambil membenahi hijabnya
Hawa berdiri "Abang sini bang, kita tukeran duduk" Hawa meminta Fariz untuk tukaran tempat duduk
"Apa sih yang kalian diributkan" Ilham angkat bicara
"Tangan bang Fatih pah, kurang kerjaan" Aduh Hawa
"Lagian kamu sama orang tua nggak sopan" Elak Fatih
"Abang aja yang lebay. Papinya aja yang Hawa ejek nggak protes ya pih? " Hawa berantem dengan Fatih, tapi minta dukungan Anand, siapa tau didukung
"Sudah sini duduk" Fariz menarik Hawa untuk tukeran tempat duduk
Hawa duduk tapi tangannya masih sibuk membenahi hijabnya
Fariz yang melihat istrinya sibuk, tangannya mulai bergerak mendekati jilbab Hawa "Sini kubantu"
"Susah bang, jarumnya harus dilepas dulu. bang Fatih sih, tangannya jail" Kesal Hawa pada Fatih
"Sudah. Tinggal dibenerin, banyak orang ah malu" Lagi lagi Fariz tidak membelanya. Meskipun kesannya menyalahkan, Fariz ikut menata hijab yang sudah berantakan
"Is abang.. Selalu Hawa yang disalahin" Hawa menabok lengan Fariz. Daripada sakit hati karena tidak bisa membalas, Fariz yang jadi sasaran
"Ya bukan begitu. Kalau nyalahin mereka, mereka berdua loh, kamu bakalan kalah menghadapi mereka. Sudah ah"
Setelah perseteruan Hawa, Fatih, dan Fariz usai, Hanan angkat bicara
"Coba pih, papi sama papa kubelikan jam yang sama modelnya" Hanan menyerahkan dua couple jam tangan untuk pasangan papa dan papinya
Anand mengambil box, lalu membukanya. Begitupun Ilham
Mereka tersenyum
"Wah bagus ini, papi suka. Kembaran kita ya Il"
"Iya kak. Anggap aja kita kembar"
Ahahaha
"Foto dong foto, samaan loh kita" Ucap Husayn sambil mengarahkan kamera untuk berselfi "Tangannya keatas semua"
"Yang diangkat yang pakai jam kan bang" Ucap Hawa
"Iyalah, jangan kiri kanan, kebanyakan" Jawab Husayn "Yuk 1 2 3"
Cekrek cekrek cekrek
-
Para pria ngobrol sambil menyicipi oleh oleh lainnya yang dibelikan Hanan
Daripada nyrimbung tidak faham, Hawa mencolek Viviana dan Ratna untuk gabung dengan Alana yang sedang mengajari anak anak mereka mainan plastisin yang dibuatkan sesuatu menjadi bentuk hewan
Mereka bertiga sudah mendekati, penasaran apa yang mereka lakukan. Anak banyak kok semuanya diam
"Oh gajah, Fatiha sudah pegang gajah. Pantesan diam" Viviana mendekati putrinya "Hewan apa ini sayang?"
"Elepen (Elepant)"
Begitupun Ratna. Ia mendekati putrinya yang sudah memegang plastisin yang sudah dibentuk kura kura
"Wah putri mommy pegang apa ini?" Tanya Ratna pada putrinya
"Tutle (Turtles) "
Ternyata Gozi dan Fawaz, mereka sama sama memegang platisin yang berbentuk hewan jerapa
"Eh Gozi, Fawaz, apa ini? " Hawa bertanya pada putra dan putrinya
"JIYEP (Giraffe) " Jawab mereka berdua
"Wow putra putri daddy Fariz pinter" Hawa tepuk tangan memberi semangat untuk putra putrinya
-
Setahun kemudian
Usia Imran menginjak usia ke 2 tahun. Fatih, Hanan, Husayn, dan Fariz, mereka berusia 31 tahun
Alana berusia 23 tahun, papa Ilham berusia 82 tahun, sedangkan papi berusia 87 tahun
Diusia setahun setengah pernikahan Alana dan Husayn, mereka belum dikasih keturunan
Begitupun bik Lis, keinginan ingin segera mempunyai keturunan, sampai sekarang belum dikasih kasih. Padahal Lis sudah minum jejamuan yang menyuburkan rahim.
-
Sesampainya dirumah, Lis kecapaian
Lis langsung masuk kekamar, melepas hijabnya, lalu tiduran diranjang dengan kaki yang menggantung disana
Anand mengekori masuk kekamar "Kenapa? capek? " Anand menekuk kemejanya, lalu melepas jam tangannya, dan menaruhnya diatas meja
"Hmm" Jawabnya dengan tengkurap
Anand kembali duduk disamping Lis yang masih tengkurap disana
Anand memijat kaki Lis yang putih dan masih mulus
Lis berbalik telentang, lalu merebahkannya kepalanya dipaha Anand "Pih, kapan aku punya anak ya pih. Lama nggak dikasih"
"Sabar, mungkin dari papi yang lemah, bisa jadi kan" Anand menunduk menatap Lis yang ada dipahanya
"Pih" Tangan Lis merayap didada Anand yang masih terhalang baju. Jari jemari milik Lis mulai melepas kancing satu persatu dari atas
Anand mulai menghela nafas dan terpejam matanya
"Pih, boleh ya siang ini. Aku ingin punya anak pih... Satu aja, ya pih" Ucapnya memelas
Anand membuka matanya "Baiklah, lakukan"
Lis duduk didepan Anand "Maksudnya, aku yang mimpin pih"
"Iya, lakukan"
"Papih nggak kebalik? "
"Tidak, lakukan"
Lis mulai salah tingkah, masa dirinya sudah meminta, sudah gitu disuruh mimpin
"Sini papi bantu" Anand melepas baju, dan celananya. Tapi, masih menyisahkan boxernya
Lis tersenyum berdiri didepan Anand, yang sama sama menyisakan dalemannya saja
Anand membantu melepaskan semua kain yang masih melekat ditubuh Lis, Lispun tidak kalah seperti Anand
Mereka polos
"Naiklah"
"Aku naik? "
"Iya ayo lakukan"
Lispun melakukan yang Anand mau.
Akhirnya, Lis yang memimpin permainan ini. Setelah Lis puas, gantian Anand yang memimpin dan berakhir encok
"Addaaa dadadada, punggung papi sakit nduk" Anand sudah pegangan punggung
"Tahan pih, rebahan dulu pih"
Anand sudah merebahkan badannya telentang "Selimut nduk selimut"
Lis langsung menyelimuti Anand yang sudah terkapar karena encoken
"Bersihkan dulu nduk tubuhmu. Jangan menggoda papi"
"Is papi begitu. Aku akan seperti ini, nggak mau pakai baju" Goda Lis sambil senyum senyum
"Bersihkan badanmu, lalu pakai pakaianmu"
Lis cemberut, lalu turun dari kasur. Dan berjalan cepat menuju kamar mandi
Tak menghabiskan waktu lama, Lis sudah mandi besar. Lis menghampiri Anand yang masih tertidur
Lis mengusap wajah Anand yang semakin hari semakin menua, sebenarnya kasihan, tapi sebagai wanita yang ingin segera hamil, iapun rela tak malu untuk meminta jatah nafkah batin.
Anand tidak pernah menolak jika Lis menagihnya. Meskipun ujung ujungnya, Anand harus terserang encok berkali kali, tapi tetap ia lakukan
Anand membuka matanya
Lis tersenyum disamping Anand "Papih minta dipijat?"
"Apa sayang tidak capek" Anand tidak menjawab pertanyaan Lis, dia malah balik bertanya
"Tidak, keselku hilang, jadi capeknya ikut hilang" Jawabnya jujur
Lis rela memakaikan boxer untuk Anand, lalu menyingkirkan selimut yang tadi membelit Anand
Anand seperti biasa, tengkurap dan kaki Lis naik kepunggung Anand
"Sini ya pih" Lis menginjak injak punggung Anand
"Iya situ enak nduk"
BERSAMBUNG.....
saya suka saya suka saya suka