Airell Miranda baru saja menerima kenyataan bahwa ia telah menjadi selingkuhan sang kekasih bernama Bram Smith yang telah dipcarinya selama hampir 3 tahun. Istri Bram yang datang ke apartemen Airell bersama seorang pria yang Airell tidak tau siapa. Perempuan yang mengaku sebagai istri dari Bram memberi peringatan berupa ancaman dan pelajaran untuk tidak lagi mendekati suaminya, Bram.
Berita Airell yang merebut suami orang kini sudah tersebar di rumah sakit tempat di mana Airell bekerja sebagai seorang psikiater. Tidak hanya itu, Airell dipecat dari pekerjaannya dan nama Airell dikasih tinta hitam agar rumah sakit, biro ataupun perusahaan tidak menerima Airell sebagai pekerja. Selain Airell kehilangan pekerjaannya, Airel juga dijauhi dan ditinggalkan teman-temannya.
Kemalangan Airell masih berlanjut saat Airell tiba-tiba diculik oleh orang suruhan pria yang datang ke apartemennya bersama istri Bram yang Airell baru tau nama pria tersebut adalah Max Alexanders Wu. Max memperkosa Airell yang saat itu masih suci dan memberikan ancaman untuk tidak lagi mendekati Bram suami dari adiknya.
Airell menatap penuh dendam kepada pria yang merenggut kesuciannya. Namun, Airell tidak bisa melakukan apa-apa. Hingga akhirnya setelah kejadian itu Airell memutuskan untuk pindah keluar negeri.
Bagaimana perjuangan Airell setelah menghadapi kemalangan-kemalangan yang menimpa dirinya. Yuk, ikuti novel ini!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunar Sirius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Noel, Call Dadda. Please!
Max yang melihat Airell mendelik kepadanya hanya memasang wajah senyum tanpa dosanya lalu matanya beralih ke arah Noel yang sedang menatap dadanya di mana luka tembakan tersebut berada di balik baju pasiennya.
“Noel, dadda tidak apa-apa jangan khawatir hmm. Luka ini akan cepat sembuh jika Noel memanggil dadda.” Ucap Max membuat Noel melihat ke arah mata Max.
“Bohong, kata momma luka itu bisa sembuh jika meminum obat dan makan yang banyak.” Ucap Noel, hal itu tentu saja membuat Airell terkekeh mendengarnya.
“Anak pintar.” Puji Airell, sedangkan Max yang mendengarnya menghela nafas melihat kecerdasan anaknya.
“Tapi, obat dadda itu adalah sayang Noel dan cinta momma.” Ucap Max yang tidak menyerah karena ingin sekali Max mendengar Noel memanggilnya dengan sebutan dadda. Setiap Noel memanggilnya dadda pasti ada kalimat yang menyakitnya dan penolakan yaitu diusir.
“Noel nggak mau.” Ucap Noel hal itu membuat Max sedih dan mulai merasakan perutnya yang bergejolak untuk minta dimuntahkan.
“Sayang momma tidak ada mengajar Noel untuk bersikap kasar seperti itu. Panggil dadda sayang.” Nasehat Airell karena ia merasa tidak tega melihat wajah Max menahan sakit di dadanya dan mulutnya untuk muntah, “kamu tidak maukan membuat dadda muntah di atas ranjang.” Lanjut Airell dengan lembut hal itu membuat Max tersentuh dan rasa ingin muntahnya berkurang.
Noel melihat ke arah Max dengan segera Max membuat wajahnya semelas mungkin dengan sedikit dilebai-dilebaikan. “Noel, panggil dadda.” Ucap Max dengan lirih.
Noel mengerjapkan kedua matanya untuk melihat kesungguhan di mata Max kemudian matanya beralih ke arah Airell yang tersenyum dan mengangguk.
“Dadda.” Ucap Noel dengan malu kemudian ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Airell hingga membuat Airell terkekeh melihat sikap malu-malu Noel yang menggemaskan.
Max menatap tidak percaya ke arah Noel dan Airell, “sayang bisakah lebih keras lagi.” Pinta Max namun mendapatkan gelengan dari Noel karena Noel masih merasa malu namun Noel tersenyum karena ia merasa lega dan setelah ini leluasa memanggil dadanya.
“Ayo sayang.” Pinta Max
“Tidak mau wleee.” Ucap Noel penuh penolakan dan suara gelak tawanya hingga Airell terkekeh dibuatnya. Aksi Noel yang jahil dimulai kembali sekarang giliran dadda-nya yang diusili.
Max cemberut mendengarnya lalu tersenyum senang saat melihat wajah Airell dan Max yang terkekeh. “Mulai usilnya.” Ungkap Airell sambil menyatukan keningnya dengan kening Noel.
Airell juga merasa sangat bahagia dan berterimakasih kepada Tuhan karena Noel bisa kembali menjadi anak yang ceria dan periang. “Momma sudah.” Pinta Noel saat Airell yang terus mencium wajahnya. “Dadda tolong Noel, momma nakal.” Ucap Noel hal itu membuat kedua orang dewasa itu terkekeh hingga aksinya terhenti mendengar seorang pria yang terbaring meringis.
“Ups, maaf dadda pasti sakit. Maafkan Noel, soalnya momma nakal.” Ucap Noel hal itu membuat Airell menggelengkan kepalanya.
“Udah pintar ya mirip siapa sih?” Tanya Airell dengan gemas.
“Mirip momma.” Pekik Noel dengan suara tawanya karena ia berhasil mengusili momma dan dadda-nya.
Di luar sana seorang wanita melihat kebersamaan Airell, Noel dan Max yang tersenyum penuh bahagia ikut merasakan kebahagiaan tersebut. “Bahagia selalu.” Ucap wanita tersebut kemudian pergi karena tidak mau mengganggu momen kebersamaan Airell, Noel dan Max layaknya sebuah keluarga yang berpisah jauh dan baru disatukan kembali tersebut.
Di negara F
Dokter Adam mendapatkan notifikasi pesan di ponselnya segera membuka pesan tersebut dan melihat video kebersamaan Airell, Noel, dan Max layaknya sebuah keluarga merasa sangat sedih dan terluka.
“Aku sudah memperingatkanmu seorang Airell Miranda bukanlah milik keluarga Maynard tapi ia adalah miliki keluarga Alexanders Wu. Jadi, sebelum patah hatimu terluka lebih dalam segera hentikan itu. Ikhlaskanlah, kamu adalah pria yang baik seorang Airell Miranda tidak pantas untuk mendapatkanmu karena ia hanya pantas milik Max Alexanders Wu. Akan banyak perempuan yang lebih baik dari Airell. Jadi, ikhlaskan saja.” Ucap sang pengirim pesan tersebut kepada dokter Adam.
Dokter Adam menghela nafasnya dengan kasar untuk menetralkan dadanya yang sesak, terlebih lagi Airell tidak memberitahunya bahwa Noel sudah ketemu dan ia dengar Noel sempat diculik lagi dan Airell tidak mengabarinya dengan cepat seperti biasanya. Apakah dengan mudahnya posisinya tergantikan oleh seorang Max Alexanders Wu itu.
Haruskah ia merelakan Airell Miranda dan Kalle Jaani Oiva buat pria dari keluarga Alexanders Wu itu rasanya sangat berat bagi dokter Adam karena sudah 6 tahun lamanya ia berusaha mendekati Airell sampai mereka sedekat ini harus sia-sia begitu saja.
Siang harinya di negara K terjadi keributan karena suara protes Noel yang tidak suka melihat mommanya begitu dengan dadanya. Hal itu membuat Diego memijat kepalanya pusing melihat tingkah laku Noel yang posesif kepada Airell.
“Noel, bolehkan dadda minta disuapi momma.” Izin Max dengan lembut namun mendapat gelengan kepala keras oleh Noel hingga membuat Max menghela nafas dengan lelah. Sedangkan Airell keluar untuk membeli makanan buat Noel dan dirinya karena Noel tidak mau Airell dekat-dekat terus dengan dadda-nya hingga mau tidak mau Airell menuruti kemauan putranya yang terus merengek agar dirinya saja yang membelikan makanan buat mereka berdua.
“No, dadda. Momma hanya milik Noel.” Tegas Noel, hal itu membuat Steffy terkekeh mendengarnya. Lihat saja kakaknya yang kerasa kepala dan posesif itu kalah dengan Noel yang masih kecil pastinya sikap posesif itu diturunkan dari kakaknya.
“Seleksi alam.” Ungkap Steffy hal itu membuat Max mendelik melihat adiknya yang tertawa sambil berpura-pura memainkan ponselnya.
“Benar banget Steffy, makanya bos kalau sikap posesif itu dikurangi lihatlah anakmu tanpa sadar mengikutimu.” Ucap Diego dengan puas mengejek Max yang menatap tajam dan kesal ke arah dirinya.
“Diam kamu.” Ucap Max dengan suara tertahannya menahan kesal dan marah kepada sahabatnya yang tidak punya akhlak.
“Uncle biarkan Queeny saja yang menyuapi uncle mau?” Tanya Queeny yang melihat percakapan dan perdebatan yang terjadi menatap Max dengan kasihan.
Noel yang mendengar hal itu merasa kesal, “tidak boleh Queeny.” Ucap Noel dengan tegas hal itu membuat Queeny menatap tajam ke arah Noel.
“Kenapa tidak boleh, kasihan uncle Max terluka. Kakak Noel tidak boleh jahat seperti itu kata mommy nanti jika jahat kakak Noel juga dibalas dengan kejahatan juga iyakan mommy?” Tanya Queeny sambil menatap ke arah Disha yang mengangguk dan tersenyum.
"Queeny putri daddy yang cantik Queeny tidak bisa menyuapi uncle Max karena Queeny masih kecil. Queeny saja masih diminta suapin sama daddy dan mommy." Jelas Diego kepada Queeny sambil mengeluskan kepala Queeny dengan sayang.
"Iya, Queeny lupa." Kata Queeny dengan cengengesan sambil memukul jidatnya hal itu membuat Disha, Diego dan Steffy tertawa karena kegemasan Queeny.
Tak lama kemudian Airell datang dan melihat orang-orang yang berada di dalam ruangan dengan wajah kesal, cemberut, tajam, dan ceria semuanya berbeda-beda. Bisa ditebak pasti masih memperdebatkan dirinya yang akan menuruti permintaan Max yang minta disuapi dan sikap posesif Noel terhadap dirinya.
“Masih?” Tanya Airell dengan lembut, “Noel sini sayang duduk di atas ranjang bersama dadda.” Pinta Airell dengan segera Noel mendekat dan merentangkan kedua tangannya untuk didudukkan di ranjang dadda-nya.
“Anak momma tidak boleh cemberut nanti mukanya cepat keriput benarkan Queeny sayang?” Ucap Airell membuat Queeny mengangguk dengan cepat.
“Iya, nanti Queeny nggak mau sama kak Noel jika sudah jadi kakek-kakek ihhhh.” Hal itu membuat gelak tawa Diego, Disha, Steffy dan Airell mendengar perkataan gadis centil tersebut.
“Sudah sekarang momma suapi Noel dan dadda bersamaan jadi tidak ada yang boleh protes.” Hal itu membuat Max tersenyum senang dan Noel yang memasang wajah datarnya namun ia menuruti perkataan Airell jika Airell sudah berkata seperti itu.
“Setelah ini momma tidak akan menyuapi Noel dan dadda lagi karena sudah besar begitu kan Noel.” Ungkap Airell yang menekankan kata besar agar mengingatkan kepada Noel bahwa Noel sering kali mengatakan bahwa Noel sudah besar jadi tidak perlu disuapi, dimandiin, dan dinina bobokkan.
Noel yang mengingat perkataannya memajukan bibirnya dengan kesal hal itu membuat Airell tersenyum dan mencium bibir Noel sekilas. Hal itu membuat Max iri dan ingin juga tapi ia tidak berani karena sejauh ini hubungan mereka tidak sampai seperti itu apalagi Airell baru membukakan dirinya biarlah waktu yang akan menjelaskan nanti. Tapi, yang pasti ia tidak akan menyerah terhadap Airell dan Noel.
*Bersambung*