Bandhana memiliki makna hubungan yang mengikat satu hal dengan hal lainnya. Disini Anindita Paramitha memiliki hubungan yang sangat rumit dengan Zaverio Kusuma yang merupakan mantannya namun sekarang jadi kakak iparnya.
Vyan Syailendra, merupakan sahabat Anindita namun permusuhan dua keluarga membuat mereka saling membenci. Namun, hubungan mereka tidak pernah putus. mereka saling melindungi, meskipun membenci.
Dan waktu kelam itu terjadi, Anindita tewas ditangan keluarga suaminya sendiri. Vyan yang berusaha melindungi sahabatnya pun tewas. Zaverio pun membalas keluarganya sendiri dengan cara sadis dan saat semuanya selesai, dia berniat mengakhiri diri sendiri. Namun, dia malah terlempar ke tempat dimana dia bertemu dengan Anindita kecil yang berusia 5 tahun. Akankah, takdir Anindita Paramitha dapat diubah oleh Zaverio? Dan akankah rahasia kelam dapat terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Mansion Paramitha - Pagi Hari
Matahari pagi menyinari taman belakang mansion Paramitha dengan cahaya emas yang seharusnya hangat dan menenangkan. Tapi untuk Anindita Paramitha yang duduk sendirian di ayunan tua di bawah pohon mangga, cahaya itu terasa dingin.
Gadis kecil berusia 6 tahun itu mengayunkan kakinya pelan, memeluk boneka kelinci putih berbulu halus dengan erat ke dadanya. Matanya yang biasanya berbinar kini redup, menatap kosong ke hamparan rumput hijau di depannya.
Dia sudah tidak menangis lagi. Air matanya sudah kering sejak semalam. Yang tersisa hanya kekosongan—perasaan hampa yang terlalu berat untuk anak seusianya.
"Dita?"
Suara yang familiar membuat Anindita tersentak dari lamunannya. Dia menoleh cepat dan melihat Zaverio Kusuma berdiri tidak jauh darinya—anak laki-laki berusia 11 tahun dengan mata hijau zamrud yang tajam tapi ada kehangatan tersembunyi di sana.
"Kak Zav..." Anindita turun dari ayunan dengan cepat, bonekanya masih dipeluk erat.
"Apa yang kamu lakukan di sini sendirian?" tanya Zaverio lembut, melangkah mendekat. "Semua orang mencarimu di dalam. Aku hampir panik saat tidak menemukanmu di kamar."
Anindita menunduk, jemari kecilnya memainkan telinga boneka kelinci. "Aku... aku sedang menunggu malam dengan Sisi, Kak. Agar bisa berbicara dengan Papa kepada bintang seperti yang Vyan bilang."
"Sisi?" Zaverio menatap boneka di pelukan Anindita.
"Iya, ini Sisi." Anindita mengangkat bonekanya, memperlihatkannya pada Zaverio dengan senyum tipis—senyum yang terlihat memaksa. "Papa memberikannya saat ulang tahunku yang ke-6. Papa bilang... kalau aku kesepian, aku bisa bicara sama Sisi. Papa bilang Sisi akan selalu menjagaku."
Sesuatu di dada Zaverio terasa diremas. Dia ingat boneka ini. Di kehidupan sebelumnya, boneka ini adalah satu-satunya barang yang Anindita simpan dari ayahnya sampai dewasa—bahkan di hari pernikahannya dengan Hardana, boneka ini dipelukannya.
Dan saat Anindita meninggal di pelukan Zaverio, boneka ini tergeletak berdarah di sampingnya.
Zaverio menggelengkan kepalanya, mengusir memori mengerikan itu. Tidak. Itu tidak akan terjadi lagi. Aku tidak akan membiarkannya.
Dia mengulurkan tangannya ke Anindita. "Apa kamu mau jalan-jalan dengan Kakak? Sampai menunggu malam tiba?"
Anindita menatap tangan Zaverio, ragu. "Kemana, Kak?"
Zaverio tersenyum—senyum tipis yang jarang dia tunjukkan. "Rahasia. Ini kejutan untukmu."
Mata Anindita berbinar sedikit—untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal. "Kejutan?"
"Kejutan," Zaverio mengangguk. "Tapi kamu harus ikut Kakak sekarang. Dan jangan bilang siapa-siapa dulu, oke? Nanti kejutannya tidak special."
Anindita menggigit bibirnya, berpikir sejenak, kemudian mengangguk. Tangannya yang kecil meraih tangan Zaverio—genggaman yang hangat dan percaya.
"Oke, Kak. Aku ikut."
Tanpa sepengetahuan siapapun—tanpa memberitahu Darma, tanpa memberitahu pelayan, bahkan tanpa memberitahu bodyguard—Zaverio membawa Anindita keluar dari mansion melalui pintu samping yang jarang digunakan.
Sebuah sedan hitam Mercedes sudah menunggu di sana—mobil pribadi Zaverio yang dia beli dengan uang tabungannya sendiri (uang yang dia "investasikan" dengan pengetahuan masa depan).
"Tuan Muda," Pak Hadi—supir pribadi Zaverio yang sudah bekerja untuknya sejak kehidupan sebelumnya—membukakan pintu dengan senyum. "Semuanya sudah siap seperti yang Anda minta."
"Terima kasih, Pak Hadi," Zaverio mengangguk, membantu Anindita masuk ke kursi belakang sebelum dia ikut masuk.
Mobil meluncur halus keluar dari area mansion Paramitha, melewati gerbang besar, menuju ke bagian lain Jakarta.
Di kursi belakang, Anindita menatap keluar jendela dengan mata berbinar—untuk sejenak melupakan kesedihan, fokus pada misteri kejutan yang Zaverio janjikan.
Zaverio mengamati gadis kecil itu dari sudut matanya. Aku akan melindungimu, Dita. Apapun yang terjadi. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu lagi.
...****************...
30 Menit Kemudian - Pinggiran Jakarta
Mobil berhenti di depan sebuah rumah bergaya kolonial yang indah—dua lantai dengan taman yang terawat rapi, pagar putih, dan aura yang sangat... damai.
"Ini... dimana, Kak?" tanya Anindita saat Zaverio membantu dia turun dari mobil.
Zaverio menatap rumah itu dengan ekspresi yang sangat lembut—ekspresi yang biasanya tidak pernah dia tunjukkan.
"Ini rumah peninggalan Mama untukku, Dita." Suaranya pelan, penuh memori. "Saat Mama meninggal... asisten pribadinya memberitahuku tentang rumah ini. Mama membelinya secara diam-diam, tanpa Papa atau Kakek tahu. Mama bilang di suratnya... ini adalah tempat di mana aku bisa menjadi diriku sendiri."
Di kehidupan sebelumnya, rumah ini adalah sanctuary Zaverio—tempat dia melarikan diri dari keluarga Kusuma yang toxic, tempat dia berkomunikasi dengan mamanya, tempat dia menangis sendirian saat kehilangan Anindita.
Tapi di kehidupan ini, dia ingin mengubah itu. Dia ingin tempat ini menjadi tempat kebahagiaan—untuk dirinya dan Anindita.
"Mama Kakak pasti baik sekali," kata Anindita lembut, menggenggam tangan Zaverio lebih erat.
"Ya," Zaverio tersenyum pahit. "Mama adalah satu-satunya orang di keluarga Kusuma yang benar-benar mencintaiku. Bukan karena aku pewaris. Bukan karena aku jenius. Tapi karena aku adalah anaknya."
Mereka berjalan memasuki rumah. Begitu pintu terbuka, Anindita terpesona.
Dinding-dinding ruang tamu dipenuhi dengan foto-foto—foto seorang wanita cantik dengan senyum hangat. Mama Zaverio. Di beberapa foto, ada Zaverio kecil digendongan, tertawa ceria—ekspresi yang sekarang sudah tidak pernah ada lagi di wajahnya.
"Mama Kakak cantik sekali..." bisik Anindita, matanya berbinar melihat foto-foto itu.
"Ya, dia sangat cantik," jawab Zaverio. "Dan dia pasti akan sangat menyukaimu kalau dia masih hidup."
Zaverio menggenggam tangan Anindita lembut. "Kemarilah. Kakak ingin menunjukkan sesuatu padamu."
Dia membawa Anindita naik ke lantai dua, berjalan melewati koridor dengan karpet lembut, berhenti di depan sebuah pintu kayu dengan ukiran bunga mawar.
Zaverio membuka pintu perlahan.
Dan Anindita tercekat.
Kamar itu... kamar itu seperti kamar princess di dongeng. Dinding berwarna pink lembut, tempat tidur kanopi dengan kelambu putih, boneka-boneka beruang besar di sudut ruangan, dan yang paling membuat Anindita tidak bisa bicara—
Seluruh dinding sebelah kiri dipenuhi dengan foto-foto.
Foto Anindita bersama ayah dan ibunya.
"Ini... dari mana Kakak mendapatkan ini?" Suara Anindita bergetar, air matanya mulai menggenang.
Foto-foto itu menunjukkan momen-momen yang Anindita tidak pernah alami. Foto "keluarga" di taman bermain—di mana Anindita kecil digendongan ayahnya sementara ibunya tersenyum di samping. Foto di pantai—ketiganya membuat istana pasir. Foto saat ulang tahun—Anindita meniup lilin dengan ayah dan ibu di sampingnya.
Semua itu... di-edit. Zaverio menghabiskan semalam penuh bersama graphic designer terbaik untuk membuat foto-foto palsu ini—menggunakan foto Anindita, foto Aditya dan foto ibu kandung Anindita yang dia curi dari album keluarga Paramitha.
Tapi untuk Anindita? Ini nyata. Ini adalah momen-momen yang dia sangat inginkan tapi tidak pernah punya.