Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.
Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.
Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.
Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.
Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.
Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?
Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Ejekan yang Kembali
Setelah beberapa botol anggur berpindah tangan, suasana menjadi lebih ramai. Nada bicara orang-orang mulai mengendur, obrolan pun semakin terbuka.
“Hei, Kakak Kedua, akhir-akhir ini ke mana saja?” seseorang menyapa sambil tersenyum.
“Benar. Kudengar kau mendirikan perusahaan sendiri. Bagaimana perkembangannya?”
Renan belum sempat menjawab ketika sebuah suara menyela dengan nada mengejek.
“Apa memang ada yang bisa dia lakukan?” Silvia mengangkat gelasnya, senyum sinis terukir di bibirnya.
“Memangnya semua orang bisa jadi seperti Revan?” Ia menatap Renan tatapan mengejek.
“Belajarlah setinggi apa pun, tanpa otak tetap saja sia-sia,” lanjutnya ringan, seolah sedang bercanda.
“Kita ini siapa? Anak-anak kaya yang hidup dari uang keluarga. Bukankah lebih enak ke luar negeri, mabuk, balap mobil, dan bersenang-senang?” Silvia tertawa kecil.
“Aku benar-benar tak menyangka orang paling santai di antara kita sekarang sok serius ingin bekerja.”
“Lucu sekali.”
Namun, tidak ada yang ikut tertawa.
Suasana di meja mendadak membeku.
Kata-kata itu mungkin diarahkan pada Renan, tetapi yang tersinggung jelas bukan hanya satu orang.
Silvia melirik sekeliling. Ketika mendapati wajah-wajah kaku dan pandangan dingin, ia justru mengangkat alis dengan sikap menantang.
“Apa? Kalian pikir aku salah?” Ia berdiri, botol anggur masih digenggam.
“Ayo jujur saja. Siapa di antara kita yang benar-benar akan mewarisi perusahaan keluarga?”
“Adrian?” Ia mendengus. “Keluargamu memang ketat, tapi apa kamu cukup cakap?”
“Kamu,” jarinya menunjuk ke arah yang lain, “punya kakak-kakak yang sudah menguasai perusahaan. Lalu kamu sendiri apa?”
Dan akhirnya, ia menoleh ke Edric. “Kakak-kakakmu hampir saling bunuh demi kekuasaan, sementara kamu santai merayakan ulang tahun di sini. Kamu mungkin yang paling naif di keluargamu.”
Ekspresi semua orang berubah-ubah, antara marah, malu, dan tidak nyaman.
Adrian menahan senyum. Dalam beberapa kalimat saja, Silvia berhasil menyinggung semua orang di meja itu, prestasi yang bahkan jarang terjadi.
Pandangan Silvia kembali tertuju pada Renan. “Dan kamu, Renan." Nada suaranya merendah, penuh penghinaan.
“Kamu mendirikan perusahaan di luar, tapi tetap saja tak bisa masuk ke inti bisnis keluarga Morris, bukan?”
Ia menyeringai. “Jujur saja, jarakmu dengan kakakmu itu terlalu jauh.”
Tatapan matanya kemudian meluncur ke arah Ayuna, dari ujung rambut hingga ujung gaunnya. “Lihatlah wanita-wanita di sekitar kita,” lanjutnya dengan nada meremehkan.
“Mereka berkencan dengan pewaris besar atau bintang ternama.”
“Dan kamu?”
“Kamu malah pergi ke tempat kumuh untuk mencari pasangan.”
Kata-kata itu jatuh seperti pisau.
Sejenak, udara di sekitar meja terasa menebal, seolah setiap orang menahan napas pada saat yang sama.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, senyum Renan benar-benar menghilang.
Tak seorang pun di ruangan itu berani bersuara.
Ruangan seakan kehilangan udara.
Semua orang hanya berpikir satu hal, perempuan ini terlalu berani.
Beberapa orang menunduk ke gelas mereka, berpura-pura tidak mendengar. Yang lain melirik cepat ke arah Renan, lalu segera mengalihkan pandangan, seolah takut tertangkap basah menyaksikan sesuatu yang tidak seharusnya mereka lihat.
Ayuna merasakan jemarinya digenggam lebih erat. Tidak menyakitkan, hanya cukup untuk membuatnya sadar bahwa Renan menguatkannya.
Ia tidak menunduk. Tidak pula membalas tatapan Silvia.
Diamnya bukan karena takut, melainkan karena ia tidak perlu berbicara.
Apakah Silvia benar-benar mengira, hanya karena ia seorang wanita, Renan akan menahan diri?
Renan tetap tenang. Tangannya menggenggam jemari Ayuna yang sedikit lembap, seolah memastikan ia baik-baik saja. Baru kemudian ia menatap Silvia, sorot matanya dingin, tanpa emosi berlebihan.
“Aku ingat,” katanya pelan namun jelas, “putri sulung keluarga Lubis punya beberapa adik, bukan?”
Silvia terdiam.
“Secara logika,” lanjut Renan santai, “adik-adikmu sudah masuk perusahaan. Tapi kamu sendiri justru sibuk keluar makan, minum, dan bersenang-senang.”
Ia sedikit memiringkan kepala. “Kenapa?”
“Karena kamu tidak ingin mengelola perusahaan?”
“Atau karena sejak awal… kamu memang tidak diberi kesempatan?”
Kalimat terakhir itu jatuh tepat sasaran.
“Pfft!”
"Hahaha..."
Tawa meledak di beberapa sudut ruangan.
Semua orang di sana tahu, Silvia memang anak sulung,
tapi bukan yang disayang.
Ia ditekan oleh ibu tirinya hingga bahkan tak bisa menyentuh urusan inti perusahaan. Berbeda dengan mereka yang duduk di meja ini. Meski tak semuanya cakap, setidaknya masing-masing masih memegang saham. Selama tidak dikeluarkan dari keluarga, posisi mereka tetap aman.
Tapi Silvia?
Ia tidak memiliki satu lembar saham pun.
Wajah Silvia langsung memucat.
Setelah semua orang selesai tertawa Renan berbicara lagi.
“Aku hanya bertanya,” lanjutnya ringan. “Karena biasanya, orang yang paling suka meremehkan kerja keras orang lain adalah mereka yang tidak pernah benar-benar diberi ruang untuk bekerja.”
Nada suaranya tetap datar. Tidak meninggi. Tidak menghina.
Justru itu yang membuatnya kejam.
Botol anggur di tangan Silvia terasa berat. Jarinya mengencang, lalu sedikit gemetar.
Ia ingin membantah. Ingin mengatakan sesuatu, apa saja, namun kepalanya mendadak kosong.
Semua yang ia banggakan selama ini, nama keluarga, kecerdasan, pesona, tiba-tiba terasa rapuh.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia menyadari satu hal yang tidak pernah ingin ia akui.
Ayuna tidak menang karena cantik.
Ayuna menang karena berdiri di sisi pria yang benar.
Adrian, yang sejak tadi menahan diri, akhirnya bersuara. Nada suaranya datar, tanpa sedikit pun basa-basi.
“Nona Silvia,” katanya, “sepertinya Anda kurang informasi.”
“Walaupun Renan saat ini tidak aktif di Morris Group, beliau memegang empat puluh persen saham.”
Ruangan mendadak hening.
“Sepuluh persen di antaranya,” Adrian melanjutkan,
“diberikan langsung oleh kakak tertuanya saat Renan lulus kuliah.”
Ledakan reaksi pun terjadi.
“Apa?!”
“Empat puluh persen?!”
Bahkan Edric membelalakkan mata.
“Bukankah itu berarti?”
Artinya jelas.
Saham Renan kini bahkan lebih besar daripada Revan.
Percakapan kecil bermunculan di sekeliling meja. Nada yang tadi santai kini berubah hati-hati.
Beberapa orang yang sebelumnya duduk bersandar kini menegakkan punggung.
Ada yang mulai menghitung ulang hubungan mereka dengan Renan. Siapa yang pernah menyepelekan, siapa yang masih bisa diperbaiki.
Di lingkaran ini, satu informasi saja cukup untuk mengubah peta kekuasaan.
“Kakak Kedua, kamu benar-benar luar biasa!”
“Di keluargaku, mengambil lima persen saja sudah dianggap terlalu banyak,” seseorang mengeluh.
“Kakak tertuamu benar-benar murah hati.”
“Ada rumor kalian bersaudara dekat,” timpal yang lain.
“Kami pikir Revan hanya keras padamu. Ternyata justru sangat melindungimu.”
Edric menghela napas pelan.
Dalam hati, ia sudah mengambil keputusan, hubungan dengan Renan harus dijaga sebaik mungkin.
Di lingkaran ini, sanjungan mungkin murahan, persahabatan bisa rapuh.
Tapi kekuatan nyata seperti ini, tak bisa diabaikan.
Sementara itu, Silvia berdiri terpaku.
Matanya terbelalak, wajahnya kehilangan warna.
Ia selama ini mengincar Revan.
Mengira menikah dengannya adalah jalan tercepat menuju kekuasaan.
Tapi sekarang ia sadar, Renan bukan bayangan kakaknya.
Ia adalah kartu truf keluarga Morris.
Dan Ayuna, wanita yang tadi ia hina justru berdiri di sisi pria yang memiliki segalanya.
Ayuna tidak mengatakan apa pun.
Ia hanya membiarkan jemarinya tetap berada di dalam genggaman Renan.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan arti berdiri sejajar.
Bukan sebagai bayangan.
Bukan sebagai pelengkap.
Melainkan sebagai pasangan.
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻
Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta