Aera, seorang anak perempuan yang kehilangan ibunya karena meninggal. Setelah ibu tirinya datang, hidup Aera berubah total. Ayahnya yang dulunya sangat mencintainya, kini tidak peduli lagi. Aera merasa sendirian dan terkucil, seperti bawang yang terlupakan. Aera hanya ingin satu hal: mengembalikan kasih sayang ayahnya. Tapi, dia menemukan kebenaran yang mengerikan: ibu tirinya lah yang membunuh ibu kandungnya. Aera merasa marah dan sedih, tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Suatu hari, datanglah Leonar, seorang laki-laki muda. Dia ramah dan baik, serta peduli pada Aera. Aera merasa bahagia, tapi kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama. Leonar membantu Aera untuk membongkar kasus meninggalnya ibu kandungnya, tapi mereka tidak tahu bahwa ibu tirinya akan melakukan apa saja untuk menyembunyikan kebenaran. Bagaimana Aera dan Leonar akan menghadapi bahaya yang mengancam mereka? Apakah mereka akan berhasil membongkar kebenaran dan mengembalikan kasih sayang ayah Aera? Ataukah mereka akan gagal, dan Aera akan tetap menjadi bawang yang terlupakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teringat Kembali
Di sisi lain, Belva dan Luxas sedang ada di privat room salah satu club malam terkemuka. Mereka sedang menikmati berbagai minuman alkohol yang mereka pesan.
"Jadi kapan kamu mau tinggalin Reno?"
Belva yang sedang meminum Whiskey pun menoleh, "Belum saatnya."
"Terus kapan?"
"Nanti setelah anak laki-laki itu mati dan semua harta peninggalan laki-laki itu jatuh ke tangan aku."
"Maksud kamu Aera?"
"Ya."
"Berarti semua aset yang Reno miliki masih atas nama gadis itu?"
Lagi-lagi Belva mengangguk mengiyakan.
"Itu sebabnya aku harus secepatnya membuat anak itu mati sebelum semuanya kembali normal, aku takut Reno kembali menyuruh anak itu untuk tinggal bersama lagi."
"Bukannya Aera sudah kalian usir dari rumah?"
"Aera sudah Reno usir. Tapi tidak kemungkinan besar kalau Reno benar-benar membenci nya. Kamu kan tahu sendiri Reno itu sangat menyayangi anak kandungnya itu."
Luxas menganggukkan kepalanya, ia sekarang mengerti mengapa Belva ingin cepat-cepat membunuh anak kandung Reno.
"Apa kamu nggak kasihan? Dia anak kandungnya Reno sekaligus Anak sambung kamu juga, Belva?"
Belva tertawa, "Kasihan? Gara-gara anak itu, saya jadi gagal menjadi pewaris keluarga Agatha."
"Jadi apa rencana kamu selanjutnya, Belva?"
"Membuat anak itu mati secara tragis seperti ibu kandungnya. Sepertinya menyenangkan," seringai iblis keluar dari wajahnya.
Luxas mendekat kearah Belva yang sepertinya sudah mabuk berat.
Ia menyentuh dada perempuan itu dengan lihai ia membuka dress sexy dan satu persatu tali bra yang perempuan itu pakai. Dengan sekali tarik tali bra itu berhasil terlepas dari tubuh perempuan itu.
Luxas yang melihat dada besar dari Belva langsung menerjang dengan dia yang sudah berada di sampingnya.
Di lumutnya bibir Belva dengan rakus, sama-sama bau alkohol mendominasi mulutnya.
Belva yang mendapat serangan dari Luxas menerimanya dan terus melumat, ia juga meraba seluruh tubuh bagian atas dari Luxas.
Tak puas hanya disitu, dengan gerakan cepat ia memegang dada bidang laki-laki tampan di sampingnya, melepas satu persatu kancing kemeja yang laki-laki itu pakai.
Luxas yang melihat itu langsung melayangkan tatapan lapar, ia membalas ciuman Belva yang sangat brutal.
Ia mendorong wanita itu untuk berbaring diatas sofa, dengan segara ia melepaskan celana yang malah menempel pada tubuhnya.
Kini keduanya sama-sama nekad, mereka bermain dengan sangat liar sampai botol-botol di atas meja berjatuhan karena dorongan dari keduanya yang mengenai meja.
Tubuh mereka saling menyatu, keringat bercucuran dengan diiringi suara desahan dan erangan yang memenuhi ruangan.
Ini bukan pertama kalinya Belva dan Luxas melakukan hubungan intim. Mereka melakukannya lagi dan lagi seperti tidak ada kata lelah, bahkan mereka melakukannya dengan berbagai gaya dan berpindah-pindah tempat.
Mereka seperti tidak memiliki beban apapun, yang mereka pikirkan hanya kenikmatan dan kesenangan belaka.
...----------------...
Sedangkan Aera kini telah berada di pinggir jalan, ia sedang memesan seporsi nasi goreng kesukaannya.
"Nasi gorengnya tinggal satu porsi, Neng."
Terdengar desahan kecewa yang meluncur dari bibir Aera. Meskipun begitu, dia tetap menganggukkan kepalanya. "Ya udah, nggak apa-apa, mang. Sepiring berdua juga oke."
Di belakangnya, Leo mengerutkan alis bingung ketika mendengar jawaban Aera. Di tambah lagi, dia masih kaget karena ternyata Aera mengajaknya berhenti di sebuah warung nasi goreng lesehan yang berada di tikungan jalan. Mulanya, tempat ini terlihat ramai oleh pelanggan. Namun, sekarang berangsur sepi karena bersamaan dengan habisnya makanan mereka.
"Jadi ini yang di maksud tempat mewah?"
Leo kira, Aera akan mengajaknya pergi ke sebuah restoran bintang lima yang harganya lumayan menguras dompet.
"Kamu kenapa? Nggak pernah ke tempat beginian?" Tanya Aera saat menyadari kerutan bingung di wajah Leo.
"Alaxtar sering nongkrong di pinggiran," jawab Leo seraya mendudukkan dirinya di karpet yang di gelar.
Aera mengangguk-angguk. Jika melihat dari cara berteman mereka Aera memang yakin kalau Alaxtar bukanlah gerombolan remaja yang hobi menghabiskan duit orang tua.
"Bagus kalau gitu," jawabnya.
Saat Aera ikut mendudukkan dirinya di sebelah Leo, cowok itu langsung menggeser tubuh agar berjauhan dengannya. Hal itu tentu membuat Aera merasa tersinggung. "Kenapa sih? Aku bukan kuman kali!" Protesnya.
"Iya, bakteri." Balas Leo yang membuat Aera melemparkan tatapan tajam ke arahnya.
"Jelek, nyebelin, songong lagi!" Gerutu Aera.
Leo berdehem pelan. Kata pertama yang cewek itu lontarkan cukup mengganggu pikirannya. Selain anak-anak Alaxtar, hanya Aera yang berani mengatakan ejekan itu. Bagaimana kalau apa yang di katakan mereka memang benar adanya? Gue jelek?
Hah?
Leo refleks menggelengkan kepalanya, mencoba untuk mengusir pemikiran aneh di kepalanya. Lagi pula, sejak kapan dia peduli dengan penilaian orang lain terhadap dirinya?
"Sering makan di sini?" Tanya Leo, mencoba untuk mengurangi banyaknya pertanyaan yang berserang di otaknya.
"Dulu aku nggak pernah makan di tempat kaya begini. Baru sekarang-sekarang sejak..." karena tersadar dengan sesuatu, Aera lebih memilih untuk menggantung kalimatnya. Hampir saja dia keceplosan dan membeberkan nasib malangnya kepada Leo.
"Sejak apa?" Tanya Leo, lagi.
Aera memandang cowok itu dengan tatapan Aneh. "Sejak kapan kamu banyak tanya?"
"Aku atasan. Nggak ada salahnya buat nanya."
"Tapi itu hal pribadi."
"Nggak maksa buat jawab." Leo mengambil satu saset tisu basah dari saku jaket kulitnya. Dibuka nya bungkus yang membalut tisu itu, lalu mulai mengusapkan. Ke tangannya yang dia yakini di penuhi banyak kuman.
"Mangga Neng, Akang. Nasi goreng Mang Ujang di jamin bikin langgeng hubungan," ucap Mang ujang kidal seraya meletakkan nasi goreng di meja panjang yang berada di hadapan Leo dan Aera.
Pria berusia empat puluh tahun itu memang di juluki Mang Ujang Kidal karena untuk melakukan kegiatan sehari-hari, tangan kirinya lebih dominan di banding tangan kanan, alias kidal.
"Pacaran aja nggak," gumam Aera setelah Mang Ujang Kidal pergi dari hadapannya.
"Kita pacaran," celetuk Leo, mengkoreksi perkataan Aera.
"Iya, tapi pacarannya bukan berdasarkan hati, tapi hitam di atas putih. Alias surat perjanjian," seloroh Aera, memperjelas kenyataan yang ada.
Leo mengangkat pandangannya untuk menatap Aera. "Mau pakai hati?" Tanyanya dengan suara yang lumayan terdengar serak.
Aera di buat tidak bisa menjawab. Ntah karena apa, tiba-tiba rasa panas menjalar di kedua pipinya. Perasaannya pun mendadak tidak nyaman. Ntahlah, dia sudah lama tidak merasakan ini semua.
"Nggak usah di bahas," ujar Aera, menghentikan topik pembicaraan mereka. "Makan. Sepiring berdua."
Leo menatap ke arah piring nasi goreng di hadapan mereka. Kalau boleh jujur, nasi goreng itu memang kelihatannya sangat enak. Di tambah lagi hari yang sudah larut dan udara yang lumayan dingin membuat nafsu makannya terpancing. Namun, sangat di sayangkan karena hanya tersisa satu porsi saja. Tidak mungkin juga, kan, dia harus kongsi dengan Aera?
"Cobain, " Aera tersenyum tulus. "Ini nasi goreng paling enak yang pernah aku Cobain."
Leo menghela nafas gusar. Dia paling tidak suka mendengar suara orang yang terus mendesak nya. "Satu sendok," ucapnya.
Dengan wajah yang sangat terpaksa, Leo pun mulai menyendok sedikit nasi goreng lalu memasukkan nya ke mulut. Dua kunyahan kemudian, dia tersadar kalau apa yang di katakan Aera memang benar. Nasi goreng itu terasa sangat enak meskipun terlihat sederhana.
"Enak, kan." Tanya Aera antusias. Dia memandang Leo dengan mata yang berbinar-binar.
"Biasa aja." Leo segera menormalkan ekspresinya.
Aera langsung merengut. Dengan kasar, dia menarik piring nasi goreng itu ke hadapannya. Mungkin, lidah Leo memang tidak cocok untuk di ajak kulineran bersamanya.
"Kalau nggak mau, biar aku yang ngabisin!"
Baru kali suap, ekspresi wajah Aera mendadak berubah. Bukannya senang karena cinta rasa nasi goreng yang enak, cewek itu justru terlihat ingin menangis. Leo sendiri bingung melihat itu. Mengapa Aera terlihat sangat aneh di matanya?
"Kenapa?" Tanya Leo seraya memegang pundak cewek itu.
Air mata di pelupuk mata Aera akhirnya meluruh begitu saja. Dengan segera dia mengusap kedua pipinya yang basah menggunakan jari tangannya. Seharusnya, Aera tidak menunjukkan sisi lemahnya ketika tengah bersama Leo. Namun, ntah mengapa, dia selalu ingin menangis ketika makan nasi goreng buatan Mang Ujang Kidal yang mengingatkan nya pada seseorang.
"Kenapa?" Tanya Leo, kali ini nada suaranya terdengar lebih khawatir.
Aera terkekeh ringan sembari terus mengusap kedua matanya yang tidak berhenti meneteskan air mata. "Nggak apa-apa. Terharu aja karena nasi gorengnya enak."
Leo menegakkan tubuhnya lagi. Kedua mata masih menatap lamat ke arah Aera. Dalam lubuk hatinya, dia tahu kalau cewek itu tengah berbohong. "Cerita aja," cetusnya.
Aera memilih untuk tetap bungkam.
"Kalau kamu takut aku ikut campur, aku bakalan dengerin doang," kata Leo.
Pertahanan Aera untuk tetap diam akhirnya runtuh begitu saja. Cewek itu menarik nafas nya dalam-dalam sebelum memulai cerita. "Nasi goreng ini... selalu mengingatkan aku sama ibu."
Aera memainkan sendok di tangannya. Ingatannya melayang ke masa lalu.
"Dulu, ibu sering banget masakin nasi goreng di malem minggu. Makan bareng di taman belakang sama Ayah juga. Kami benar-benar harmonis waktu itu. Tapi..."
Aera menggantung kalimatnya.
"Sekarang kami hancur. Ibu meninggal karena kecelakaan. Dua bulan setelah ibu meninggal Ayah menikah lagi. Aku pikir dengan Ayah menikah lagi akan menggantikan posisi ibu yang sudah meninggal. Tapi nyatanya aku salah. Ibu tiriku tidak pernah menganggap aku anaknya. Dia hanya mencintai Ayahku saja." Leo menatap penuh rasa iba kearah Aera. Malam ini, untuk pertama kalinya dia melihat sisi lain dari cewek itu. Ketika melihat Aera mengeluarkan air mata seperti ini perasaannya campur aduk. Ada rasa sesak yang sulit di jabarkan. Ntahlah, saat melihat mata bermanik hitam pekat itu menyodorkan luka, ada keinginan kuat di hatinya untuk melingkar cewek itu.
"Kenapa gue nggak pernah tahu kalau keluarga lo ternyata hancur?"