Kehidupan yang enggan berpihak? atau pernikahannya yang salah? apakah takdir lebih senang mempermainkan hidupku? atau memang tidak ada sedikitpun kebahagiaan yang tersisa untukku?
Saat aku mulai membuka hati.
Saat aku mulai jatuh cinta padanya.
Dia mengkhianati dan mencampakkanku seperti barang usang dan pergi dengan wanita lain.
Bagaimana kisah selanjutnya? yuk simak. jangan lupa tinggalkan jejak.
Cover by pinteres.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuhan tolong
Proses mediasi di lakukan meski Pak Sardim memaafkan perbuatan Aleah telah mengganggu kenyamanan tapi tidak dengan Marisa. Aduannya terus berlanjut dan di proses pihak berwajib.
Sementara Raditya dan Dion menyiapkan pengacara untuk membantu Al dalam kasus penganiayaan berat yang bisa menyebabkan kebutaan akibat siraman cabai.
Di pengadilan, berdasarkan bukti dan kesaksian Marisa dan Samudra semakin memberatkan Aleah. Akhirnya pengadilan menjatuhkan hukuman dua tahun delapan bulan untuk Aleah. Keberatan di berikan pengacara dan naik banding, menurutnya Aleah tidak memiliki catatan kejahatan, Pengacara juga memberikan bukti berdasarkan kesaksian Raditya dan Barra kalau yang di lakukan Aleah bukanlah kejahatan berencana.
Setelah proses yang cukup lama, naik banding di setujui. Hukuman Aleah berkurang menjadi satu tahun empat bulan. Al di bawa ke penjara wanita. Raditya dan Dion tidak berhenti mengupayakan kebebasan Al. Mengingat kesehatan Aleah yang kapan saja penyakit jantungnya bisa merenggut nyawa Al.
Satu malam dua malam Al melewatinya di dalam penjara. Namun sedikitpun Al tidak merasa menyesal atau meratapi nasibnya. Namun yang ia pikirkan adalah Ansell.
Di dalam penjara Al selalu mendoakan yang terbaik buat semuanya termasuk Samudra bisa berbahagia dengan wanita itu, meski hubungan yang ia bina tak sampai kemana hanya sebatas bibir saja. Mahligai yang Samudrabbangun bersama wanita itu di bangun oleh air mata Aleah.
"Ya Rabb, aku tidak menginginkan apa apa. Pertemukanku dengan ketenangan, tabahkan hatiku. Jagakan Ansell anakku." Doa yang tersemat dalam hatinya dan berusaha memejamkan mata.
Sementara di rumah, Raditya dan Barra berusaha membujuk Ansell yang tertidur di lantai seraya menangis sesegukan. Namun usaha Radit dan Barra sia sia, Ansell tidak bisa di bujuk.
"Kenapa kamu tidak mau tidur di atas tempat tidur?" tanya Raditya duduk di lantai, memperhatikan Ansel tidur meringkuk di atas lantai tanpa alas.
"Bagaimana mungkin aku bisa tidur di kasur empuk, sementara momy di dalam penjara. Bagaimana mungkin aku bisa memejamkan mata sementara aku sangat merindukan momy!! ucap Ansel histeris menangis, bangun lalu memeluk Raditya dengan erat.
Tidak ada kata yang terucap, Raditya hanya bisa diam membalas pelukan Ansell. Begitu juga dengan Barra. Tidak hanya Ansell yang merasa kehilangan tapi Raka, Radit dan Barra sangat kehilangan. Kehadiran Al tidak hanya membantu pekerjaan sebagai seorang kakak. Namun kasih sayang, cinta, kehangatan dan sikap Al yang dewasa memberikan kenyamanan untuk mereka. Kini yang mereka rasakan hanyalah sepi dan kesedihan.
"Jangan khawatir sayang, momy kamu hanya sebentar. Besok atau lusa, aku akan membawa momy mu pulang." Kata Raditya
"Abang janji?" tanya Ansel terisak.
"Aku janji sayang," sahut Raditya hatinya ikut sakit dan patah.
***
Di malam yang sama, Hasby yang mendengar apa yang terjadi dengan Aleah. Malam ini, ia tidak dapat memejamkan matanya. Awal niatan Hasby ingin membalas dendam terhadap Samudra, namun kenyataan tidak sesuai harapan.
Ia duduk termenung di ranjang, di tangannya memegang surat pernyataan Samudra yang telah menjual anak istrinya menjadi tidak berarti apa apa lagi setelah mengenal siapa Aleah dan Ansell.
"Maafkan aku, Al. Seharusnya aku membantumu. Tapi hati kecilku masih merasakan sakit atas perbuatan suamimu." Gumam Hasby. "Aku juga minta maaf, belum berani berkata jujur siapa aku dan apa hubunganku dengan Marisa, wanita yang telah menghancurkan hidupmu Al."
Sementara di kediaman Dion.
Ia tak jauh beda dengan keluarga kecil Al. Setiap malam memikirkan cara untuk membebaskan Al, dia tidak berhenti memikirkan wanita yang dicintai meski ia sendiri tahu kalau Al tidak mencintainya bahkan rasa suka pun tidak ada.
Dion duduk di kursi balkon kamar, memeluk gitar kesayangannya, menatap langit yang terlihat gelap. Berharap suatu hari nanti keinginan besarnya akan terwujud menjadi nyata. Perlahan ia membenarkan posisi gitar, jari jemarinya mulai memetik senar dan mengalunkan sebuah nada.
Tuhan tolong lembutkan hati dia..
Untuk terimaku seadanya..
Karena kutak sanggup..
Karena ku tak mau hidup tanpa dia di sisiku..
Tuhan aku tahu banyak dosaku..
Hanya mengingatkanku dalam dukaku..
Namun hanya Engkau yang mampu,
Membuka pintu hatinya untuk cintaku..
Malam kau bawalah rinduku..
Untuk dirinya yang jauh dariku..
Agar dia tidak kesepian..
Selalu rasa ada cinta aku..
Hujan bawa air mataku yang mengalir
membasuh lukaku...
Agar dia tahu kutersiksa tanpa cinta dia di hatiku..
Hanya mampu berserah dalam cahaya
tiba nanti..
Tuhan tolong lembutkan hati dia untuk terimaku seadanya..
Karena ku tak sanggup..
Karena ku tak mampu hidup tanpa dia di sisiku..
Ombak rindu-hafiz
selamat buat dion dan al...
brasa masih gantung thor..
ditunggu undangannya bwt raka sm barra ya