Hi teman, ini adalah karya pertama aku di noveltoon.
Disini saya hanya belajar menulis, dan saya hanya ingin sedikit bercerita, tentang perjalanan kehidupan, seorang Aditya Koesdiansyah.
Seorang pemuda tampan, yang menjadi tulang punggung keluarganya, setelah Dokter memvonis Ayahnya sakit.
Bagaimana kelanjutanya, tetep mampir di karya Author yang baru ini.
Karena insya Alloh Author akan rajin Update tiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GANTENG KALEM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SIAPA ADIT
Sesampainya di halaman rumah, Adit di kejutkan dengan sebuah mobil yang rasanya tak asing di dalam ingatannya.
"Mobil siapa itu?" Adit keluar dari mobil dan menghampiri sebuah mobil yang terparkir lebih dulu sebelum kedatanganya.
"Rasanya aku pernah lihat ini mobil, tapi dimana ya?" Adit mengelilingi mobil tersebut sambil terus berpikir dan mengingatnya.
"Oh, aku ingat sekarang. Kalau tidak salah, mobil ini adalah mobil yang di gunakan bawahan Ayah Luna, ketika Bapak masih di rumah sakit." Adit yang baru mengingatnya.
Tak ingin berpikir lebih lama lagi, Adit bergegas masuk kedalam rumahnya.
"Asalamu Alaikum ...," Adit membuka pintu rumah dan memasukinya.
"Wa'alaikum salam," Ucap Herman beserta orang orang yang telah menunggu Adit sedari tadi.
Di dalam rumah, sudah berkumpul keluarga Herman dan seorang bawahan Baron Alfonso yang tiada lain dan tiada bukan adalah Cody.
"Dit, cepat duduk disini nak!" titah Herman yang baru melihat Adit masuk.
Adit mengangguk dan duduk di sebelah Cody yang sedang memegang sebuah surat perjanjian Alfonso dulu dengannya ketika masih di rumah sakit.
"Ini ada apa ya?" Adit memulai percakapanya.
"Jadi begini Tuan Aditya, apakah anda masih memegang copyan surat perjanjian ini?" tanya Cody sambil memperlihatkan surat perjanjianya pada Adit.
"Masih, Pak. apa perlu saya ambilkan sekarang?" tanya Adit yang di balas anggukan oleh semua orang di hadapannya.
"Baik, tunggu sebentar." Adit bangun dari duduk dia berlalu menuju kamar dan tak lama kemudian ia telah kembali membawa copyan surat perjanjian Alfonsonya.
Cody meminta copyan surat perjanjian tersebut dari tangan Adit dan memperlihatkan pada semua anggota keluarga Herman.
"Mulai hari ini, surat perjanjian tuan Alfonso yang dulu telah di buat, kini sudah tidak berlaku lagi." Cody menyobek surat perjanjian tersebut menjadi serpihan serpihan kecil.
Semua orang memanjatkan doa dan mengusap pada wajahnya sebagai ungkapan rasa syukur, kecuali Adit yang masih terlihat bingung tak mengerti dengan semua ini.
"Ada apa ini sebenarnya, kenapa tiba tiba surat perjanjian ini di batalkan?" tanya lagi Adit pada Cody.
"Mungkin Pak Herman, bisa menjawab semua kebingungan anda Tuan Adit." ucap Cody yang berani berkata lebih lagi.
Adit masih mencari kebenaran, menatap Ibunya yang terus menunduk dan dia beralih memandang Ayahnya yang kini terlihat tak sanggup memandang pada Adit.
"Ini ada apa sebenarnya?, adakah seseorang yang bisa menjelaskanya padaku?" Pinta Adit yang kini makin terlihat bingung tak menentu.
"Pak, Bapak harus cerita semuanya sama Adit Pak." Mak Siti dengan suara yang kini terasa berat.
Herman mendongak memandang Aditya, dia menghela nafas sebelum menjelaskan semuanya.
"Dit, sebenarnya Bapak takut menceritakan semua ini pada kamu nak," Herman menunduk dengan mata yang kini mulai meneteskan air mata.
Sementara Cody mencoba menguatkan Herman dengan memegang bahu dan memijat mijat kecil.
"Pak Herman harus menjelaskanya pada Tuan Adit, karena ini semua demi kebaikan Tuan Adit juga." ucap Cody.
Herman mengangguk dan kembali membenarkan posisinya.
"Dit, Bapak mohon, jangan pernah membenci kami semua disini, apabila kamu sudah mengetahui segalanya." Herman memohon sambil melipat tangan menangis di depan Adit.
"23 tahun yang lalu ....," ucap Herman seraya memijat pelipisnya yang mulai terasa pusing dan sakit.
FLASH BACK ON
Herman dulu adalah Supir pribadi dari keluarga Julian, tepatnya dia adalah Supir dari Frans Ayah dari Aditya.
Perseteruan yang terjadi di keluarga Julian, sebenarnya di picu karena perebutan saham keluarga Julian itu sendiri.
Abraham Julian adalah anak pertama dari Julian, sedangkan Frans adalah anak kedua atau bisa di katakan, masih adik kandung dari Abraham.
Sebenarnya, Julian sudah menuliskan surat wasiatnya pada pengacara kepercayaanya. Julian telah memerintahkan kepada pengacaranya agar semua harta warisan berikut sahamnya agar di buat 70% untuk Frans dan 30% untuk Abraham Kakanya.
Semua dilakukan Julian bukan tanpa alasan, karena semenjak perusahaan di kendalikan Frans, semua berubah pesat dan harga saham pun stabil di bawah naunganya.
Akan tetapi keserakahan Abraham telah membutakan mata hatinya. Dia kini sudah melupakan bahwa Frans adalah adik lelaki yang selalu mendukungnya.
Yang ada di pikiran Abraham saat ini adalah, bagaimana cara untuk menyingkirkan Frans dan merebut semua harta warisan yang ia rasa, Frans telah merebut dari tanganya.
Di usia Adit yang baru menginjak 1 tahun, Frans sangat menyayangi Adit lebih dari nyawanya. Adit dilahirkan tanpa tahu wajah Ibunya seperti apa, karena Ibunya meninggal setelah melahirkan Adit ke dunia.
Kesibukan dunia bisnis, benar benar membuat Frans tak memiliki waktu yang banyak berada di samping anaknya. sehingga ia memutuskan menitipkan putranya pada Baron Alfonso yang tiada lain adalah partner yang merangkap sebagai sahabat kental Frans.
Ketika itu Baron belum memiliki anak, dia sengaja menjadikan Adit kecil sebagai pancingan agar istrinya mendapat momongan.
Baron Alfonso juga disini menjabat sebagai sekretaris pribadi Frans menggantikan posisi istrinya dulu ketika memasuki masa kehamilan.
Kematian Julian, membuat Abraham kini makin berani dan menampakan sifat asli keserakahanya seperti Rahwana yang tak pernah puas dengan apa yang telah di dapatkanya.
Hingga pada suatu hari Abraham, memprovokasi semua nasabah yang menanamkan sahamnya pada Frans hingga berbalik mendukung dirinya.
Namun, Frans bukanlah orang bodoh. Sebelum semua terlanjur jauh. dia menyembunyikan seperempat kekayaan dan menitipkannya atas nama Baron Alfonso agar Abraham tidak mencurigainya.
Hingga 2 tahun kemudian, perusahaan yang di kelola Frans kini mulai goyah karena para nasabah pergi meninggalkanya dan bergabung dengan Abraham.
Belum puas dengan itu, Abraham menjebak Frans dengan embel embel ingin berdamai dan mengakhiri kemelut peperanganya.
Entah Bodoh atau bagaimana, Frans dengan mudahnya mengiyakan semua permintaan Abraham agar menemuinya di hotel.
Namun sebelum kepergiannya, Frans telah menulis surat wasiat dan memberikanya pada Baron Alfonso.
Ketika itu Luna sudah lahir, selisih usia antara Adit dan adalah 2 tahun. Istri dari Baron Alfonso sangat senang menjaga dan merawat Aditya yang kini sudah di anggap menjadi anaknya.
"Pi, kenapa terlihat gelisah sekali?" tanya Sarah Alfonso.
"Bagaimana Papi tidak gelisah mi, sekarang Frans sedang menuju hotel dimana Kakaknya menyuruhnya bertemu. Mungkin Mami tahu sendiri seperti apa liciknya Abraham itu." ucap Baron yang kini terlihat gusar di depan istri yang sedang menyusui anaknya.
"Terus apa yang akan Papi lakukan?" tanya Sarah yang kini duduk disamping Alfonso.
"Papi harus membantu Frans mi, walau bagaimanapun, jasa Frans terlalu besar padaku. Dia telah mengangkat Papi dari lumpur kemiskinan, dan menjadikan Papi seperti sekarang ini." ucap Baron dengan tangan mengeluarkan handphone dari sakunya.
Baron terlihat menghubungi seseorang agar menemaninya untuk menyusul Frans.
Dan tak berselang lama, datang seseorang bertubuh tinggi besar dengan wajah yang sedikit sangar menemui Baron.
"Ada apa, Bos?" tanya Cody yang baru saja datang.
Baron bangun dari duduk dan merapikan penampilanya.
"Ayo Cody, kita berdua harus menyusul Frans kesana." ajak Baron yang langsung di ikuti Cody melangkah dari belakang.
semanhat bang😊😊😊